Huang Xuan dengan kekuatannya mengguncang dunia memimpin pemberontakan kepada Dewa. Disaat menuju kemenangannya, hal aneh terjadi hingga membuatnya kalah yang kemudian terjatuh kembali ke alam manusia. Disaat kejatuhannya, alam manusia telah memiliki peradaban maju yang ditandai dengan berdirinya dinasti Xia yang merupakan mandat dari alam Dewa untuk manusia. Setiap pemimpinnya memiliki garis darah Dewa membuatnya menjadi penguasa sejati alam manusia. Huang Xuan yang membenci para Dewa memulai perjalanannya dengan menggulingkan Dinasti Xia sebelum dirinya kembali memberontak ke alam Dewa.
"Dengan pedang sebagai pena dan darah sebagai tinta, aku Huang Xuan menulis sejarah dengan cara berdarah-darah. Tidak takut kepada Dewa, Setan dan Iblis karena aku lah penguasa sesungguhnya"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yogasurendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemarahan Sang Kaisar
Istana Kekaisaran Xia
Kabar tertangkapnya komandan kalvaleri langit serta terbunuhnya pasukan yang dibawa olehnya membuat murka Kaisar.
"Panggil Jendral Besar kemari!"perintahnya tegas membuat seisi ruangan hening.
Mereka semua bersujud tak ada yang berani menatap sang Kaisar begitu merasakan kemarahan yang menyelimuti junjungannya. Sedangka di kediaman klan Tang, hal yang sama terjadi ketika kepala keluarga mendengar kabar tertangkapnya Tang Shuyun.
"Jendral, Yang Mulia Kaisar meminta Anda untuk menghadap ke istana,"ucap salah satu bawahannya sekaligus anggota klan Tang lainnya.
"Baiklah..."balas Tang Weiran. Jendral Besar Xia sekaligus Kepala Keluarga Tang saat ini beranjak berdiri dari tempat duduknya.
Ia berjalan dengan tenang melewati seluruh anggota keluarganya bahkan tak mendengarkan panggilan putra nya yang lain. Langkah kakinya terhenti kemudian naik ke atas pelana melecutkan tali melesat meninggalkan kediaman Tang menuju istana kekaisaran. Sesampainya di istana, Tang Weiran langsung masuk ke dalam aula menghadap Kaisar Xia.
"Putramu disandera, kau ingin dia mati atau hidup?" tanya Kaisar Xia.
Tang Weiran diam tak bergeming membuat Kaisar berbalik untuk menatapnya.
"Lu Feng telah tewas di tangan Luo Qingyao ketika pengejaran Luo Qingyin. Sekarang putramu Tang Shuyun gagal dan menjadi sandera, maka aku memberi mu pilihan membiarkannya mati atau hidup. Jika kau ingin putramu tetap hidup maka runtuhkan benteng Wang Guan dan bawa dia kembali. Taklukkan Yinluo dengan pasukanmu sendiri,"
"Mengerti," balas Tang Weiran menundukkan kepalanya.
"Pergilah dan pikirkan baik-baik,"ucap Kaisar Xia.
Tang Weiran pergi meninggalkan aula kembali ke kediamannya merenungi perkataan Kaisar. Sesampainya di kediaman, para putra dan putrinya mendekat tatkala dirinya dilanda kegelisahan.
"Apa yang dikatakan oleh Yang Mulia Kaisar?" tanya Tang Zhanyue. Putra sulung Tang Weiran.
"Jika ingin adikmu hidup maka taklukkan benteng Wang Guan dan bawa dia sendiri. Ini adalah jebakan Kaisar mengerahkan kekuatan militer secara serempak sama seperti misi penaklukkan wilayah. Tidak boleh ada kegagalan karena ini sangat penting. JIka menang maka akan dapat prestasi dan pujian sekaligus kebanggan bagi Kekaisaran karena berhasil menyatukan seluruh daratan. Namun, jika gagal maka klan Tang akan musnah seluruhnya baik di medan perang ataupun di kota. Seumur hidupku aku berperang tiada henti menaklukkan wilayah-wilayah yang ingin melepaskan diri dari Xia, sekarang dihadapkan dengan pilihan sulit menaklukkan Yinluo maka misi bunuh diri baru saja di mulai,"jawab Tang Weiran.
"Apa yang membuat Yinluo begitu sulit ditaklukkan? Dari generasi kakek buyut hingga hari ini tak sekalipun wilayah Yinluo jatuh terlebih Raja Yinluo saat ini membuat benteng Wang Guan,"balas Tang Zhanyue begitu heran.
"Karena Yinluo adalah tanah suci yang dijanjikan pada saat zaman penciptaan. Tertulis dalam ramalan tulang kura-kura yang ada di paviliun langit istana kekaisaran,"ucap Tang Weiran.
"Kita harus mengerahkan seluruh pasukan untuk menggempur benteng Wang Guan membawa Tang Shuyun pulang sekaligus memulihkan martabat keluarga Tang dihadapan Yang Mulia Kaisar," ucap Tang Zhilan.
Tang Weiran menghela nafas menghela nafas panjang menganggukkan kepalanya setuju akan usulan putrinya..
"Perintahkan seluruh pasukan yang dimiliki klan Tang untuk bersiap berperang. Keluarga token masing-masing divisi yang kalian miliki untuk memerintah mereka semua. Aku akan memimpin secara langsung menjemput Tang Shuyun kembali pulang,"ucapnya dengan tegas.
"Mengerti!"ucap mereka berdua serempak segera melaksanakan perintah.
Kehebohan terjadi di ibukota ketika Jendral Besar Tang Weiran mengenakan zirah perang miliknya diikuti oleh putra dan putri nya ke luar dari kediaman mengendarai kuda diikuti oleh pasukan yang ada di bawah kepemimpinannya yang ada di ibukota. Jalanan kota dipenuhi para prajurit yang telah bersiap mengikuti sang Jendral Besar melakukan penaklukkan wilayah Yinluo. Semangat membara terlihat dari wajah mereka yang tak gentar akan peperangan yang ada di depan mata. Kaisar Xia memandang seluruh kejadian dimana para prajurit militer ke luar dari camp-camp militer yang ada di ibukota memenuhi jalan dimana Jendral Besar Tang Weiran secara langsung memimpinnya.
"Lapor Yang Mulia. Jendral Besar Tang Weiran mengeluarkan plakat militer tertinggi mengerahkan seluruh kekuatan militer,"ucap Komandan Prajurit Istana Gu Yanzhao.
"Hmph! Klan Tang adalah klan yang memandang kesetiaan terutama sesama anggotanya. Namun, dengan tindakan Tang Weiran mengeluarka plakat militer tertinggi maka dia tak yakin akan kemampuannya kali ini,"ucap Kaisar Xia mendengus dingin.
"Beruntungnya aku ketika putramu tertangkap hingga memaksamu sampai pada titik ini,"batin Kaisar Xia merasa puas akan rencana tak terduganya.
"Perintahkan prajurit untuk menjaga ketat istana!"ucapnya tegas.
"Mengerti Yang Mulia," balas Gu Yanzhao.
Kaisar Xia berjalan melewati lorong-lorong istana menuju bangunan bertingkat yang menjadi tempat pusat astronomi dikenal sebagai paviliun langit. Ia masuk ke dalam mengerutkan kening ketika tak menemukan orang yang dicarinya.
"Salam Yang Mulia," ucap Ji Yunhe. Murid resmi Pengawas Langit Penjaga Paviliun Langit.
"Dimana gurumu? tanya Kaisar Xia.
"Hamba dimari,"jawab Xuan Beiming menundukkan kepalanya memberikan hormatnya.
"Aku ingin bertanya kepadamu,"balas Kaisar Xia.
Xuan Beiming menganggukkan kepalanya memberikan kode kepada muridnya untuk menyiapkan teh. Mereka berdua duduk di depan bola armiler yang bergerak dan tak lama kemudian Ji Yunhe datang membawa nampan berisikan teh menyajikannya secara sopan kemudian pergi.
"Apa yang ingin Yang Mulia tanyakan,"ucap Xuan Beiming menuangkan teh untuk Kaisar Xia.
"Plakat militer tertinggi telah dikeluarkan. Sesuai dengan perjanjian Kaisar dengan pemimpin klan Tang dimana plakat militer tertinggi telah dikeluarkan maka Kaisar tak dapat mengintervensinya. Aku menginginkan penaklukkan wilayah Yinluo dan kebetulan Tang Shuyun tersandera dan Tang Weiran mengeluarkan plakat itu mengerahkan seluruh kekuatan militer. Apakah dia pulang membawa kabar baik?"ucap Kaisar Xia mengungkapkan niat aslinya.
Xuan Beiming menoleh ke arah bola armiler yang berputar kemudian menghitung dengan jarinya menatap Kaisar Xia dengan tatapan rumit.
"Jendral Besar berhasil menerobos masuk Jiuyin Tai dan menyelamatkan putranya. Namun ambisi api yang membara membakar dirinya membuatnya dihadapkan pada pilihan sulit. Dia tak pernah kembali setelah ini, Xia mendapatkan kemenangan menkalukkan wilayah Yinluo. Namun,"ucap Xuan Beiming membuat Kaisar Xia mengerutkan keningnya.
"Namun apa?"
"Wilayah Yinluo berhasil ditaklukkan kecuali satu wilayah kecil yakni Beiyue. Jika Yang Mulia memaksa menaklukkan maka seluruh Xia akan musnah dengan cepat. Sesuatu mengerikan ada di sana begitu terang, ambigu dan tidak dapat diprediksi,"jawab Xuan Beiming.
Kaisar Xia terdiam setelahnya memikirkan sesuatu yang tersembunyi di wilayah Beiyue yang dimaksudkan oleh Xuan Beiming. Iring-iringan telah ke luar dari gerbang ibukota, Jendral Besar Tang Weiran menoleh ke belakang menatap plakat ibukota Tianqi menghela nafas panjang lantas melecutkan tali kudanya diikuti oleh lainnya hingga tanah bergetar oleh suara gemuruh pasukan. Kekuatan militer Xia meninggalkan ibukota dan kota-kota besar lainnya menuju satu arah yakni benteng Wang Guan perbatasan negara Yinluo.