Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Pintu ruang CEO terbuka dengan bunyi klik pelan. Langkah tegas Kay terhenti tepat di ambang ketika pandangannya menangkap sosok yang tidak ia duga akan berada di sana. Lampu utama ruangan dimatikan. Hanya lampu meja di sudut yang menyala redup, menciptakan bayangan hangat di sofa panjang dekat jendela.
Di sana, seorang gadis kecil terlelap, wajahnya masih menyisakan jejak air mata. Tubuh mungil itu meringkuk dalam pelukan Axlyn yang duduk bersandar, satu tangan mengusap lembut rambut anak itu dengan gerakan teratur dan menenangkan.
Entah mengapa, setiap kali melihat wanita itu, ada sesuatu di dada Kay yang terasa tertarik, seperti benang halus yang mengikat tanpa ia pahami ujungnya. Perasaan aneh yang ia rasakan, kecurigaan yang mulai tumbuh membuat Kay semakin memperhatikan wanita itu.
Tapi melihat Axlyn di sana… rasanya berbeda. Seolah-olah pemandangan itu bukan pertama kalinya ia lihat. Seolah-olah wanita itu memang seharusnya berada di ruangannya. Ingatan tentangnya kosong. Hampa, tidak ada satu pun potongan masa lalu yang bisa ia tarik keluar untuk menjelaskan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali Axlyn berada di dekatnya. Kecuali memori yang kembali ia dapatkan saat pertarungan tadi.
Namun hatinya pengkhianat yang menyebalkan yang selalu bergerak lebih dulu. Kay tidak bersuara. Ia hanya berdiri, memerhatikan dalam diam. Axlyn tampak kelelahan. Rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya lembut saat menunduk memandang gadis kecil itu. Tangannya tidak berhenti bergerak, mengusap, menepuk pelan, seolah ia sudah terbiasa menenangkan anak yang trauma.
Kay mengerutkan kening. Kenapa setiap melihat wanita ini, jantungnya berdetak seperti mengingat sesuatu yang tidak bisa dijangkau pikirannya? Kenapa rasanya seperti ia pernah kehilangan dia? Tanpa sadar, kakinya melangkah lebih dekat. Ia berdiri hanya beberapa meter dari sofa, menatap wajah Axlyn yang tertunduk.
Dan saat itulah Kay melihatnya. Tangan kiri Axlyn tidak sepenuhnya memeluk anak itu. Tangan itu mencengkeram bagian perutnya sendiri. Jemarinya memutih karena tekanan. Kay mencoba menajamkan pandangan. Benar, Kay tidak salah lihat Axlyn sedang menggigit bibirnya sendiri. Bahunya sedikit bergetar. Napasnya tertahan, bahkan terlalu pelan untuk disebut normal. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Wanita itu sedang menahan sakit.
Kesadaran itu menghantam Kay begitu keras hingga membuat dadanya sesak. Tanpa buang waktu Kay bergegas menghampirinya untuk memastikan lebih jelas apa yang terjadi pada Axlyn. Entah mengapa ketakutan seketika melanda hati dan pikirannya.
“Axlyn! Apa kau terluka?” Suaranya rendah, tapi tegang.
Axlyn tersentak kecil, seolah baru menyadari kehadirannya. Ia mencoba tersenyum. Terlalu dipaksakan, padahal raut wajahnya sudah tertulis jelas bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Kepanikan semakin Kay rasakan saat sentuhan pada wanita itu terasa sangat dingin.
“Saya tidak ingin membangunkan dia,” bisik Axlyn, menunjuk gadis kecil yang masih tertidur.
Kay tidak peduli, sebab yang ia khawatirkan dan ia takutkan adalah kondisi Axlyn saat ini. Kay berlutut di depan sofa, sejajar dengan Axlyn. Tangannya tanpa sadar terangkat, hampir menyentuh wajah wanita itu sebelum akhirnya beralih ke tangan yang mencengkeram perutnya.
“Kau sakit?” tanya Kay tajam, sudah sepenuhnya dilanda kepanikan.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit—”
Kalimat itu terpotong ketika wajah Axlyn memucat lebih jauh. Napasnya tercekat. Cengkeramannya makin kuat. Panik semakin menjalar cepat dalam tubuh Kay. Perasaan yang sama seperti saat seseorang hampir merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan dengan hati-hati memindahkan gadis kecil itu ke posisi yang lebih nyaman di sofa. Setelah memastikan anak itu tidak terbangun, Kay berbalik pada Axlyn.
“Kita ke klinik. Kau harus segera mendapat pemeriksaan dan perawatan dokter.”
“Saya benar-benar tidak—”
Kay tidak memberi kesempatan untuk menolak. Ia menyelipkan satu tangan di punggung Axlyn dan satu lagi di bawah lututnya, mengangkatnya dengan mudah. Tubuh wanita Axlyn terasa ringan, bahkan terlalu ringan baginya.
Saat Axlyn refleks mencengkeram kerah jasnya, sebuah kilatan aneh melintas di benak Kay. Bayangan samar kembali terlintas dari tangan yang sama mencengkeramnya saat ini. Tangisan dan janji yang tak terdengar jelas. Kepalanya kembali berdenyut saat memori itu kembali menyeruak masuk dalam ingatannya, tapi ia mengabaikannya.
Yang penting sekarang adalah keadaan Axlyn. Kay berjalan cepat keluar ruangan menuju klinik perusahaan di lantai yang sama. Jantungnya berdetak keras, lebih keras dari yang pernah ia rasakan bahkan dalam rapat paling menegangkan sekalipun.
“Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau terluka,” gumamnya, lebih pada diri sendiri.
Axlyn menunduk, suaranya lemah. “Saya tidak ingin merepotkan Anda atau yang lainnya.”
Kata-kata itu membuat langkah Kay terhenti sepersekian detik. Merepotkan?Entah kenapa, kata itu terasa salah. Sangat salah bagi dirinya yang kini sepenuhnya dilanda kekhawatiran dan ketakutan karena Axlyn menahan rasa sakitnya sendirian.
“Jangan pernah mengatakan itu lagi,” ujar Kay pelan namun tegas, sorot matanya berubah gelap. “Apa pun yang terjadi padamu… bukan hal sepele bagiku.”
Axlyn terdiam seolah telah berhasil mendapatkan Kay kembali dalam hidupnya. Begitu juga Kay, ia terkejut sendiri begitu kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan. Namun saat ia menatap wajah pucat wanita dalam pelukannya, satu hal menjadi semakin jelas. Meski ingatannya tidak menyimpan nama atau cerita tentangnya, hatinya tidak pernah benar-benar lupa.
Sebenarnya Axlyn sudah merasakan perutnya terasa seperti ditusuk dari dalam sejak pertarungan itu di mulai. Namun, ia memilih diam dan mengabaikannya berharap rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Tapi siapa sangka setiap langkah yang Kay ambil membuat rasa nyeri itu bergetar, menjalar sampai ke punggung. Axlyn hanya mampu menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara. Apalagi Kay terlihat masih marah atas tindakannya yang ingin menerima tikaman itu demi melindungi Kay maupun Hezlyn.
Axlyn merasa tidak boleh lemah sekarang, mengingat ia adalah pengawal yang harus melindungi anak Kay. Meski ia sudah menahannya sejak tadi. Sejak pria besar itu mengayunkan pisau ke arah Kay dan Hezlyn.
Lampu koridor perusahaan terasa terlalu terang. Pandangan Axlyn mulai berkunang-kunang. Ia bisa merasakan darah hangat merembes dibagian bawahnya yang membuat hati dan pikirannya merasa tidak tenang.
Saat Kay mendorong pintu klinik perusahaan dengan bahunya, Axlyn akhirnya menyerah pada rasa lelah dan sakit yang sejak tadi ia tahan. Tangan Axlyn tanpa sadar mencengkeram jasnya lebih erat. Sampai tak lema kemudian, dokter yang bertugas menghampiri mereka.
“Apa yang terjadi padanya?” suara panik dokter menyambut mereka.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌