NovelToon NovelToon
Bibit Kembar Cinta Masalalu

Bibit Kembar Cinta Masalalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.

Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.

“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”

Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Pintu ruang CEO terbuka dengan bunyi klik pelan. Langkah tegas Kay terhenti tepat di ambang ketika pandangannya menangkap sosok yang tidak ia duga akan berada di sana. Lampu utama ruangan dimatikan. Hanya lampu meja di sudut yang menyala redup, menciptakan bayangan hangat di sofa panjang dekat jendela.

Di sana, seorang gadis kecil terlelap, wajahnya masih menyisakan jejak air mata. Tubuh mungil itu meringkuk dalam pelukan Axlyn yang duduk bersandar, satu tangan mengusap lembut rambut anak itu dengan gerakan teratur dan menenangkan.

Entah mengapa, setiap kali melihat wanita itu, ada sesuatu di dada Kay yang terasa tertarik, seperti benang halus yang mengikat tanpa ia pahami ujungnya. Perasaan aneh yang ia rasakan, kecurigaan yang mulai tumbuh membuat Kay semakin memperhatikan wanita itu.

Tapi melihat Axlyn di sana… rasanya berbeda. Seolah-olah pemandangan itu bukan pertama kalinya ia lihat. Seolah-olah wanita itu memang seharusnya berada di ruangannya. Ingatan tentangnya kosong. Hampa, tidak ada satu pun potongan masa lalu yang bisa ia tarik keluar untuk menjelaskan perasaan aneh yang selalu muncul setiap kali Axlyn berada di dekatnya. Kecuali memori yang kembali ia dapatkan saat pertarungan tadi.

Namun hatinya pengkhianat yang menyebalkan yang selalu bergerak lebih dulu. Kay tidak bersuara. Ia hanya berdiri, memerhatikan dalam diam. Axlyn tampak kelelahan. Rambut panjangnya tergerai sedikit berantakan. Wajahnya pucat, tetapi sorot matanya lembut saat menunduk memandang gadis kecil itu. Tangannya tidak berhenti bergerak, mengusap, menepuk pelan, seolah ia sudah terbiasa menenangkan anak yang trauma.

Kay mengerutkan kening. Kenapa setiap melihat wanita ini, jantungnya berdetak seperti mengingat sesuatu yang tidak bisa dijangkau pikirannya? Kenapa rasanya seperti ia pernah kehilangan dia? Tanpa sadar, kakinya melangkah lebih dekat. Ia berdiri hanya beberapa meter dari sofa, menatap wajah Axlyn yang tertunduk.

Dan saat itulah Kay melihatnya. Tangan kiri Axlyn tidak sepenuhnya memeluk anak itu. Tangan itu mencengkeram bagian perutnya sendiri. Jemarinya memutih karena tekanan. Kay mencoba menajamkan pandangan. Benar, Kay tidak salah lihat Axlyn sedang menggigit bibirnya sendiri. Bahunya sedikit bergetar. Napasnya tertahan, bahkan terlalu pelan untuk disebut normal. Keringat tipis mulai muncul di pelipisnya. Wanita itu sedang menahan sakit.

Kesadaran itu menghantam Kay begitu keras hingga membuat dadanya sesak. Tanpa buang waktu Kay bergegas menghampirinya untuk memastikan lebih jelas apa yang terjadi pada Axlyn. Entah mengapa ketakutan seketika melanda hati dan pikirannya.

“Axlyn! Apa kau terluka?” Suaranya rendah, tapi tegang.

Axlyn tersentak kecil, seolah baru menyadari kehadirannya. Ia mencoba tersenyum. Terlalu dipaksakan, padahal raut wajahnya sudah tertulis jelas bahwa ia sedang tidak baik-baik saja. Kepanikan semakin Kay rasakan saat sentuhan pada wanita itu terasa sangat dingin.

“Saya tidak ingin membangunkan dia,” bisik Axlyn, menunjuk gadis kecil yang masih tertidur.

Kay tidak peduli, sebab yang ia khawatirkan dan ia takutkan adalah kondisi Axlyn saat ini. Kay berlutut di depan sofa, sejajar dengan Axlyn. Tangannya tanpa sadar terangkat, hampir menyentuh wajah wanita itu sebelum akhirnya beralih ke tangan yang mencengkeram perutnya.

“Kau sakit?” tanya Kay tajam, sudah sepenuhnya dilanda kepanikan.

“Tidak apa-apa. Hanya sedikit—”

Kalimat itu terpotong ketika wajah Axlyn memucat lebih jauh. Napasnya tercekat. Cengkeramannya makin kuat. Panik semakin menjalar cepat dalam tubuh Kay. Perasaan yang sama seperti saat seseorang hampir merenggut sesuatu yang sangat berharga darinya. Tanpa berpikir panjang, ia berdiri dan dengan hati-hati memindahkan gadis kecil itu ke posisi yang lebih nyaman di sofa. Setelah memastikan anak itu tidak terbangun, Kay berbalik pada Axlyn.

“Kita ke klinik. Kau harus segera mendapat pemeriksaan dan perawatan dokter.”

“Saya benar-benar tidak—”

Kay tidak memberi kesempatan untuk menolak. Ia menyelipkan satu tangan di punggung Axlyn dan satu lagi di bawah lututnya, mengangkatnya dengan mudah. Tubuh wanita Axlyn terasa ringan, bahkan terlalu ringan baginya.

Saat Axlyn refleks mencengkeram kerah jasnya, sebuah kilatan aneh melintas di benak Kay. Bayangan samar kembali terlintas dari tangan yang sama mencengkeramnya saat ini. Tangisan dan janji yang tak terdengar jelas. Kepalanya kembali berdenyut saat memori itu kembali menyeruak masuk dalam ingatannya, tapi ia mengabaikannya.

Yang penting sekarang adalah keadaan Axlyn. Kay berjalan cepat keluar ruangan menuju klinik perusahaan di lantai yang sama. Jantungnya berdetak keras, lebih keras dari yang pernah ia rasakan bahkan dalam rapat paling menegangkan sekalipun.

“Kenapa kau tidak pernah bilang kalau kau terluka,” gumamnya, lebih pada diri sendiri.

Axlyn menunduk, suaranya lemah. “Saya tidak ingin merepotkan Anda atau yang lainnya.”

Kata-kata itu membuat langkah Kay terhenti sepersekian detik. Merepotkan?Entah kenapa, kata itu terasa salah. Sangat salah bagi dirinya yang kini sepenuhnya dilanda kekhawatiran dan ketakutan karena Axlyn menahan rasa sakitnya sendirian.

“Jangan pernah mengatakan itu lagi,” ujar Kay pelan namun tegas, sorot matanya berubah gelap. “Apa pun yang terjadi padamu… bukan hal sepele bagiku.”

Axlyn terdiam seolah telah berhasil mendapatkan Kay kembali dalam hidupnya. Begitu juga Kay, ia terkejut sendiri begitu kalimat itu keluar begitu saja, tanpa ia rencanakan. Namun saat ia menatap wajah pucat wanita dalam pelukannya, satu hal menjadi semakin jelas. Meski ingatannya tidak menyimpan nama atau cerita tentangnya, hatinya tidak pernah benar-benar lupa.

Sebenarnya Axlyn sudah merasakan perutnya terasa seperti ditusuk dari dalam sejak pertarungan itu di mulai. Namun, ia memilih diam dan mengabaikannya berharap rasa sakit itu menghilang dengan sendirinya. Tapi siapa sangka setiap langkah yang Kay ambil membuat rasa nyeri itu bergetar, menjalar sampai ke punggung. Axlyn hanya mampu menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara. Apalagi Kay terlihat masih marah atas tindakannya yang ingin menerima tikaman itu demi melindungi Kay maupun Hezlyn.

Axlyn merasa tidak boleh lemah sekarang, mengingat ia adalah pengawal yang harus melindungi anak Kay. Meski ia sudah menahannya sejak tadi. Sejak pria besar itu mengayunkan pisau ke arah Kay dan Hezlyn.

Lampu koridor perusahaan terasa terlalu terang. Pandangan Axlyn mulai berkunang-kunang. Ia bisa merasakan darah hangat merembes dibagian bawahnya yang membuat hati dan pikirannya merasa tidak tenang.

Saat Kay mendorong pintu klinik perusahaan dengan bahunya, Axlyn akhirnya menyerah pada rasa lelah dan sakit yang sejak tadi ia tahan. Tangan Axlyn tanpa sadar mencengkeram jasnya lebih erat. Sampai tak lema kemudian, dokter yang bertugas menghampiri mereka.

“Apa yang terjadi padanya?” suara panik dokter menyambut mereka.

Bersambung ….

1
Desyi Alawiyah
𝘒𝘢𝘬 𝘈𝘶𝘵𝘩𝘰𝘳.. 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘷𝘪𝘴𝘶𝘢𝘭 𝘥𝘰𝘯𝘨.. 𝘠𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘵𝘬𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘫𝘦𝘭𝘢𝘴.. 😌

𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
Rani R.I
egois sedikit untuk merebut kay dari istri nya gituu 🤣🤣🤣🤣🤣🤣.. istri angin Kay 🤣🤣🤣🤣
Rani R.I
sebenarnya akuu sedikit kesel sama Axlyn,,yg slalu salah paham...bkn nya cari tahu atau bertanya sama, misalnya nanya sama anak atau Noah atau bodyguard nya kai,, padahal mantan detektif 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
Budhe Satryo
Noah kau ini seneng bngt mancing" pak mil y
Budhe Satryo
semoga nanti tau kalu axlyn wanita dipraha disaat yg tepat y Kay moga bisa memaafkan dispencer yg LBH dulu tau
Fahmi Ardiansyah
skrg gak perlu mencari wanita itu LG Noah Krn wanita itu udah ada di antara kalian semua.berkat Spencer udah di temukan.tunggu kejutannya selanjutnya😄😄
Fahmi Ardiansyah
pelan pelan Kay akan mengingatnya.
Ratna Sumaroh
tumben kekuatan Xavier kalah 🤔🤔
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
Desyi Alawiyah: 𝘐𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘬.. 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵, 𝘫𝘦𝘭𝘪... 𝘚𝘢𝘮𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘌𝘷𝘢𝘯, 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬𝘯𝘺𝘢... ☺

𝘊𝘶𝘮𝘢 𝘣𝘦𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵, 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘸𝘢𝘭𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘢𝘩𝘢𝘵 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘣𝘢𝘪𝘬.. 😁
total 1 replies
Fahmi Ardiansyah
iya maunya org itu bermusuhan terus n ingin menguasai dunia jadi ya gak mau menyerah.
Lisa Halik
semangat thor😍😍
Susi Susilawati
iya kay dulu axel jga manggil papah..
Desyi Alawiyah
𝘞𝘢𝘩, 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘪𝘩? 𝘈𝘱𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯-𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯?

𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
Desyi Alawiyah: 𝘚𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘒𝘢𝘬.. 𝘈𝘬𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘢 😝
total 2 replies
Desyi Alawiyah
𝘐𝘺𝘢... 𝘥𝘶𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘪𝘬𝘮𝘶, 𝘈𝘹𝘦𝘭, 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭𝘮𝘶 '𝘗𝘢𝘱𝘢𝘩' 𝘭𝘰𝘩.. 🤣
Desyi Alawiyah: 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘱𝘦 𝘤𝘦𝘸𝘦𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘪𝘬𝘪𝘵 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘭𝘦𝘮𝘣𝘶𝘵 𝘒𝘢𝘬, 𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘓𝘶𝘤𝘢 𝘥𝘶𝘭𝘶.. 😁

𝘋𝘪𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘨𝘦𝘵 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭, 𝘵𝘦𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘦𝘻𝘭𝘺𝘯 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘈𝘹𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘦𝘨𝘢...

𝘔𝘦𝘴𝘬𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘏𝘦𝘻𝘭𝘺𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬𝘯𝘺𝘢 𝘒𝘢𝘺.. 🤭
total 2 replies
Desyi Alawiyah
𝘔𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘛𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘬𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢...

𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..

𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌
Mulaini
Tunggu ingatan mu kembali tentang Axlyn, Kay.
Mulaini
Luca tidak langsung menyalahkan Kay justru ingin mendengar langsung dari Kay.
Mulaini
Noah kamu yang merasakan ngidam dan Axlyn yang hamil.
Shee_👚
bukan tak mau memikirkan tapi pikirannya yang menolak untuk memikirkan 🤭
Desyi Alawiyah: 𝘉𝘦𝘵𝘶𝘭.. 🤭🤭🤭
total 1 replies
Mulaini
Calon baby twins Axlyn ayahnya adalah Kay kakak Sherin.
🇦 🇵 🇷 🇾👎
dispencer❤❤❤❤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!