Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Galaunya Melodi
Melodi terperangah, netranya membelalak karena terkejut. Dadanya berdegup kencang, campuran antara bingung dan tak percaya mendengar apa yang baru saja Davin katakan padanya.
"Menjadi kekasih, Pak Dokter? Bagaimana mungkin?"
Ia bahkan tak berani ber-andai-andai. Ia sadar siapa dirinya yang hanya seorang gadis dari keluarga miskin. Dan Davin adalah sosok sempurna, tampan dan mapan. Yang pastinya menjadi idaman bagi banyak gadis-gadis di luaran sana.
Walaupun, memang tak dapat dipungkiri bahwa dirinya merasa kagum dengan kepribadian Davin yang ramah dan hangat. Namun, apakah itu bisa dikategorikan cinta?
Melodi menggeleng pelan, tak tahu harus menjawab bagaimana. Ia menundukkan kepala sejenak berusaha mengumpulkan keberanian.
"Pak Dokter, saya bingung harus menjawab apa," ucap Melodi. Ia menatap Davin sembari mengerjapkan matanya.
Davin terpana untuk kesekian kalinya oleh keindahan di depan matanya. Dia meraih tangan Melodi dan menggenggamnya hangat. "Saya tidak memaksa Mbak Mel harus menjawab sekarang. Tapi dengan menjadi kekasih saya, Mbak Mel bisa memanfaatkan saya, loh," ujar Davin dengan percaya diri.
"Maksudnya -- saya nggak ngerti, Pak Dokter."
"Begini ya, Mbak Mel. Saya ini kan, dokter bedah. Dengan keahlian yang saya punya, saya bisa mengusahakan Alvian untuk operasi, supaya dia bisa berjalan lagi." Davin terdiam sesaat sembari mengamati respon Melodi, yang tampak mulai tertarik.
"Tapi, tentu saja itu tidak gratis," Davin memancing reaksi Melidi berikutnya.
Benar saja Melodi terlihat kecewa. "Yaaah, kok gitu...?" desisnya seraya membuang napas dan meluruhkan sedikit bahunya.
"Ya makanya Mbak Mel harus mau menjadi kekasih saya!" tegas Davin.
"Emang nggak ada cara lain ya, Pak Dokter?"
"Nggak ada, cuma itu syaratnya."
Davin lantas duduk di samping Melodi, tangannya masih menggenggam jemari Melodi.
"Lagipula banyak kesempatan emas yang akan Mbak Mel dapatkan jika mau menjadi kekasih saya, kok."
Melodi langsung mengulum senyumnya sambil menutup mulut.
"Kenapa tersenyum, saya serius ini, sueeer." Davin mengacungkan kedua jarinya.
"Maaf, tapi ucapan Pak Dokter mengingatkan saya pada sales keliling yang menawarkan barang dagangannya." Usai berkata Melodi tak bisa lagi menahan tawanya.
Davin melongo, "Hahhh... Aku jelaskan panjang lebar ia malah samain aku sama sales keliling?" Davin menggeleng ringan. Namun tak urung diapun ikut tertawa. "Untung cinta..." gumamnya pelan.
"Tapi nanti kalau saya memanfaatkan Pak Dokter, pasti di bilang matre."
"Saya nggak keberatan asal orangnya itu Mbak Mel," sahut Davin cepat.
"Asal Mbak Mel bilang iya, maka saya akan segera memboyong ke Ibu Kota. Di sana Mbak Mel melanjutkan sekolah, dan Alvian bisa menjalani pengobatan dengan maksimal."
"Renungkan lah dan ambil keputusan yang tepat."
Kemudian Davin pamit pulang karena hari sudah malam.
.
Melodi tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun. Ia terus memikirkan tawaran Davin untuk menjadi kekasihnya.
"Aku harus bagaimana?" Melodi menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Di satu sisi ia ingin menerima tetapi di siai lain ada sesuatu yang seolah menahannya. Ia pun mengambil air wudhu lalu sholat istikharah untuk memohon petunjuk dari Yang Maha Kuasa.
.
Di sisi lain, Davin pun setali tiga uang dengan Melodi. Dia berusaha untuk mengistirahatkan badannya tetapi pikirannya terus tertuju pada Melodi. Senyumnya, tingkahnya yang kadang polos dan absurd, membuatnya sulit untuk mengenyahkan bayangan itu dari pelupuk matanya.
Tak dapat Davin tampik kenyataan bahwa jantung selalu jedag-jedug tiap kali bertemu dengan Melodi, seperti kena setrum. Berbeda dengan Renata. Mungkin benar jika pepatah jawa yang mengatakan 'Witing tresno jalaran soko nggelibet' seperti itulah mungkin yang dirasakannya. Yang mana dari awal pertemuan, gadis itu selalu mendatanginya, mencari perhatiannya bahkan hal sekecil apapun.
Namun, di saat dia sudah meyakinkan dirinya mencintai Renata, rupanya gadis itu hanya memanfaatkannya saja. Rasanya benar-benar tidak ikhlas hati.
Davin menarik napas dalam. Tiba-tiba dia teringat Daniel, kakaknya yang bucin sama istrinya bahkan ketika mereka masih bocil.
"Sepertinya nggak ada masalah kalau minta saran dari Kak Niel, cara menaklukkan hati wanita."
Davin meraih ponselnya, mencari kontak kakak ketiganya, lalu menekan nomor tersebut. Tak lama telepon pun tersambung.
"Ya... Apin...!" Suara besar Daniel menggema memenuhi indra pendengaran Davin.
"Dasar adik nggak ada akhlak. Jam berapa ini kamu telepon," gerutunya kesal. "Ganggu orang lagi kelon aja, sih!"
"Nggak peduli, ini urgent, Kak. Bantuin adik, please!"
"Apalagi, sih? Emang nggak bisa besok pagi, apa?"
"Nggak bisa. Adik maunya sekarang!"
"Emang ada masalah apa? Material kurang atau ..."
"Bukan itu, ini masalah hati, " potong Davin cepat. "Hmmm... Adik suka sama cewek..."
"Hahhh, serius?" Daniel keluar menuju balkon.
Kemudian Davin menceritakan semuanya tentang Melodi pada Daniel.
"Gampang itu, mah. pepet aja terus jangan kasih kendor. Maksudnya adik bisa deketin lewat adiknya.
"Sudah, Kak. Tapi orangnya susah, mungkin lebih ke insecure kali."
"Jangan cemen jadi laki," ejek Daniel. "Kakak aja naklukin hati bebeb Zeya butuh waktu dua belas tahun. Masa adik baru segitu udah nyerah!"
"Oke, deh. Tapi Kakak jangan bilang-bilang mami dulu, ya," pesannya pada Daniel. "Awas kalau Kakak mulutnya ember!"
"Iya-iya, tenang aja. Selamat berjuang, ya. Semangat!"
Panggilan terputus. Davin pun memutuskan untuk tidur.
.
Bunyi ayam berkokok, seolah menjadi alarm alami bagi Davin semenjak dia tinggal di desa itu. Sekarang dirinya sudah tidak tinggal di tenda darurat lagi, tetapi dia sengaja minta dibuatkan rumah dari kayu untuknya tinggal sementara, sampai pembangunan rumah warga yang terdampak bencana selesai dibangun. Juga misinya mendapatkan hati Melodi berhasil.
Pagi itu selesai mandi dan rutinitas lainnya di pagi hari, Davin menyempatkan waktu mendatangi lokasi pembangunan satu persatu, sebelum datang ke Puskesmas Pembantu. Mengingat ini adalah proyek dia bersama saudara-saudara kandungnya, maka dari itu dia tak mempercayakan pengawasannya pada orang lain. Bahkan kepala lurah dan jajarannya sekali pun.
"Selamat pagi, Pak?" Sapa Davin sopan pada seorang pekerja.
Tangannya mengulurkan plastik kresek besar berisi nasi bungkus untuk sarapan para pekerja.
"Waahh, terima kasih, Pak Dokter!" Orang itu menerimanya dengan sumringah.
Memang kedermawanan Davin tak diragukan lagi di desa itu. Banyak warga yang sudah dibantu olehnya. Tentu saja bukan dana pribadinya sendiri tetapi patungan bersama keempat saudaranya yang lain.
"Sama-sama, Pak," balasnya sambil tersenyum hangat.
"Sudah sampai tahap mana pembangunannya?" tanyanya selanjutnya.
"Tinggal finishing saja, Dok. Paling beberapa hari lagi selesai," jawab orang itu.
"Baiklah, kerja yang semangat ya, semuanya. Biar cepat selesai dan bisa cepat ditempati."
.
Sementara di rumah Melodi, gadis itu tampak galau. Dari tadi ia hanya mengaduk-aduk nasinya tanpa berniat menyuapkannya ke dalam mulut.
Alvian mengernyit heran sekaligus bingung dengan sikap kakaknya berbeda pagi ini.
"Kakak kenapa? Kasihan nasinya kalau cuma diaduk-aduk. Padahal Kakak nyarinya susah." kata Alvian.
Melodi tersentak. "Astaghfirullah... Kamu benar, Dik."
"Ya Tuhan, nggak seharusnya aku kayak begini."
Melodi menatap Alvian serius, membuat bocah lelaki itu mengerjapkan mata. "Dik, boleh Kakak nanya?"
"Kak Mel mau tanya, apa?"
"Pak Dokter meminta kakak jadi kekasihnya, bagaimana menurutmu?"
"Terima aja, Kak. Soalnya waktu itu Pak Dokter juga minta bantuan Vian, supaya bisa deket sama Kak Mel," jawab Alvian polos.
"Eh..." Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan, sadar telah keceplosan bicara.
"Hahhh...!" Melodi hanya bisa bengong, tak mampu berkata-kata.