Keputusan itu telah final. Keluarga besar Hartono menemukan anak kandung mereka yang tertukar selama 21 tahun. Tanpa ragu, Mama Linda nyonya Hartono menjemput Rhea dan membawanya pulang ke rumah megah Hartono. Kepulangan Rhea disambut hangat, bahkan Reno kakak tertua, memeluknya penuh kasih. Namun tanpa disadari, mereka melupakan Aresha anak yang telah dibesarkan sejak bayi. Sejak saat itu, Rhea memperlakukan Aresha dengan kejam, menyiksa bahkan menyiksa demi memvalidasi statusnya. Hingga sebuah perjamuan investor berakhir tragedi, Rhea mendorong Stefani adik dari Samba CEO terkaya di negara M hingga koma dan menuduh Aresha. Nyonya Linda mengetahui kebenaran, menghapus semua bukti tetap memilih mengorbankan Aresha demi melindungi anak kandungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon richa dhian p., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Nama di Ambang Kesadaran
Aresha meraih tangan Stefani, menggenggamnya erat namun tetap lembut, seolah takut tekanan sedikit saja bisa mematahkan harapan yang baru tumbuh. Ujung jarinya gemetar, tetapi suaranya berusaha terdengar tegar.
“Stefani, beritahulah semuanya, siapa yang mendorongmu dari lantai dua.” Ruangan itu sunyi. Bahkan suara napas terdengar terlalu nyaring.
Samba melangkah mendekat, jemarinya mengelus rambut Stefani dengan hati-hati, penuh kasih seorang kakak yang hampir kehilangan segalanya. Tatapannya tak pernah lepas dari wajah pucat adiknya.
“Stefani, mereka bilang akulah yang mendorongmu dari lantai dua,” ucap Aresha lagi, suaranya bergetar tipis. “Kebenaran hanya ada di kamu.” Tambah Aresha penuh harap.
Di belakang mereka, Rhea terbelalak. Wajahnya yang semula pucat berubah tegang. Jari-jarinya mencengkeram tangan mama dengan erat..
Stefani berusaha mengangkat tangannya. Gerakannya lambat, gemetar, seperti melawan beban tak kasatmata. Dia mencoba menunjuk ke arah seseorang. Bibirnya terbuka, hendak menyebut nama, tetapi suara yang keluar hanya hembusan napas yang patah-patah.
“Ini mungkin mengarah ke Nona Rhea atau ke Nona Aresha. Tidur panjang hampir membuatnya kehilangan kemampuan fisik dan berbicara,” sahut dokter hati-hati.
Rhea mengembuskan napas lega.
Namun Stefani belum menyerah. Tangannya tetap terangkat, bergetar di udara. Matanya mengunci pada satu titik.
“Tolong beri Nona Stefani rileks sebentar,” ucap dokter.
“Stefani, aku yakin kamu bisa melakukannya,” bisik Aresha penuh harap.
Dari belakang, Mama Lin memberi kode halus pada Rhea agar maju mendekat.
“Kak Aresha, Nona Stefani baru saja bangun, jangan terlalu membuatnya tertekan,” ujar Rhea lembut, lalu berlari kecil ke arah Aresha dan memegang tangannya erat.
Di depan mereka, Stefani masih berusaha menunjuk. Tangannya bergantian mengarah ke Rhea dan Aresha. Bibirnya terus bergerak, menyebut satu nama yang tak terdengar jelas. Ia memaksa tubuhnya bangkit dari kursi roda.
“Astaga ” Samba maju, tetapi terlambat.
Stefani berdiri dengan kaki gemetar. Dari belakang Aresha, tatapan tajam Rhea menusuknya. Tatapan itu penuh ancaman yang hanya bisa dipahami oleh orang yang menyadarinya.
Tubuh Stefani limbung, dengan sigap Aresha menangkapnya sebelum jatuh ke lantai.
“Stefani!” teriak Samba panik.
“Dokter, siapkan peralatan dan ruangan dengan cepat!” teriaknya lagi.
Ruangan mendadak kacau. Perawat berlarian. Alat medis dibawa masuk. Di tengah kepanikan itu, sudut bibir Rhea terangkat tipis puas melihat rencananya berjalan.
Di ruang perawatan pribadi keluarga Sambadono, semua orang menunggu di luar. Keluarga Hartono, termasuk Aresha, berdiri dalam ketegangan yang menyesakkan.
“Tit… tit…” Suara mesin bantu pernapasan terdengar dari dalam.
Aresha gelisah. Kakinya yang pincang terasa semakin nyeri, tetapi ia memaksakan diri melangkah mendekat.
“Kak, kamu membuat Nona Stefani koma lagi!” Rhea menarik tangan Aresha, menahannya.
“Dia sudah terbaring selama empat tahun. Sekarang dia koma lagi, pasti sulit baginya untuk bangun lagi.” Nada suaranya terdengar khawatir, tetapi matanya berkilat lain.
“Stefani baru menunjukmu sebagai pembunuhnya, kamu masih punya muka untuk bersikap tangguh?” sahut Reno tajam.
“Kamu terus mengatakan kamu bukan pembunuhnya, tapi sekarang sudah terbukti. Apa lagi yang ingin kamu katakan?” tambah Delon dengan tatapan tak suka.
“Kalian semua!” Aresha menatap mereka satu per satu, marah dan terluka sekaligus.
Sebelum ia sempat melanjutkan, suara dokter terdengar dari dalam ruangan.
“Nona Stefani tidak boleh emosi berlebihan. Kondisinya belum stabil.”Semua terdiam.
“Kesempatannya untuk bangun hanya satu jam lagi agar dia benar-benar bisa melewati masa kritis dan hidup normal seperti dulu. Saya akan pergi ke rumah sakit untuk menyiapkan semua peralatan yang dibutuhkan,” tambah dokter sambil mengemasi barangnya.
Di dalam ruangan, wajah Rhea memucat. Mama Lin menatap putrinya dengan panik.
Samba memberi kode pada asisten pribadinya untuk mengantar dokter keluar. Tak lama kemudian, keluarga Hartono dan Aresha diizinkan masuk.
“CEO Samba, maafkan kami karena tidak mempertimbangkan kesehatan Nona Stefani,” Mama membuka percakapan dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
“Aku seharusnya membawa Aresha untuk mengakui kejahatannya. Pasti ini tidak akan menyebabkan Nona Stefani seperti ini lagi.” Kata-katanya tajam, mengarah langsung pada Aresha.
Rhea mengangguk pelan, seolah setuju.
“Stefani belum mengonfirmasi kalau Aresha pembunuhnya. Mengapa Nyonya Lin begitu ingin menyalahkan seseorang?” potong Samba dingin, tatapannya menusuk.
Mama Lin tercekat.
“Kalian keluarlah dan biarkan adikku beristirahat dengan baik,” tambah Samba tanpa emosi.
Mereka pun keluar, meninggalkan Stefani yang terbaring pucat dengan selang pernapasan terpasang.
Aresha melangkah pelan menuju ruang shalat megah, disudut rumah besar itu. Kakinya yang pincang terasa semakin berat, tetapi setiap langkahnya seperti dituntun oleh keyakinan yang tak pernah padam. Ia menutup pintu perlahan, membiarkan dunia yang penuh tuduhan dan kebencian tertinggal di luar.
Ruangan itu sunyi. Hanya ada sajadah hijau mewah yang terhampar rapi dan cahaya lampu megah yang menenangkan.
Aresha berdiri menghadap kiblat. Tangannya terangkat sejajar telinga.
“Allahu Akbar.”
Takbir itu keluar pelan, namun penuh getar.
Ia melipat kedua tangannya di dada. Napasnya belum stabil. Dadanya sesak oleh amarah, kecewa, dan harapan yang bercampur menjadi satu. Ia membaca Al-Fatihah dengan suara lirih, setiap ayat seperti menjadi penguat jiwanya yang hampir runtuh.
Saat rukuk, punggungnya membentuk garis lurus. Tangannya bertumpu di lutut yang pernah membentur lantai dingin sel penjara.
“Subhana rabbiyal ‘azhim…”
Air matanya jatuh tanpa suara.
Ia bangkit, lalu sujud. Keningnya menyentuh sajadah. Di posisi paling rendah itu, justru ia merasa paling dekat dengan Tuhannya.
“Ya Allah…” bisiknya dalam hati.
“Jika aku memang bersalah, Engkau Maha Mengetahui. Tapi jika aku difitnah, tunjukkanlah kebenaran itu. Jangan biarkan Stefani kembali tenggelam dalam gelap. Jangan biarkan empat tahun hidupku terbuang sia-sia.” Tangisnya semakin deras, membasahi sajadah.
“Engkau tahu aku tidak mendorongnya… Engkau tahu siapa yang melakukannya. Jika hari ini adalah waktunya kebenaran itu terungkap, kuatkan Stefani. Beri dia kekuatan untuk menyebut nama itu.” Ia duduk di antara dua sujud, menengadahkan tangan.
“Dan jika aku harus menanggung lebih banyak luka lagi demi kebenaran, aku rela… asalkan Engkau tidak meninggalkanku.” Sujud terakhirnya terasa lebih lama. Seolah ia enggan bangkit kembali ke dunia yang penuh intrik.
Ketika salam terakhir terucap, ia mengusap wajahnya perlahan. Matanya sembap, tetapi ada ketenangan yang tak terlihat sebelumnya.
Aresha bangkit. Rasa sakit di kakinya masih ada, tetapi hatinya tidak lagi goyah.
Setelah itu, ia berjalan ke dapur, menuangkan segelas air putih untuk meredakan dahaga dan kegelisahan.
“Aresha, apa kamu akan mengaku bersalah?” Suara Delon terdengar tepat di belakangnya. Tiba-tiba tangannya ditarik.
“Lepaskan,” jawab Aresha tegas.
“Apa biar tunanganmu melihatnya, kamu ingin memfitnahku lagi? Membuatnya cemburu atau agar aku cemburu,” tambahnya tanpa memberi celah.
“Hah, aku tahu kamu tidak suka dituduh melakukan kejahatan. Tapi kenapa kamu harus repot - repot melibatkan Rhea yang begitu polos?” Delon menghela napas panjang.
(Polos.) Kata itu membuat dada Aresha bergetar.
“Plak!” Tamparan keras mendarat di pipi Delon.
“Pengacara Delon, akankah kamu masih punya waktu untuk membelanya? Mari kita lihat apakah kamu masih bisa mempertahankan kepolosannya.” Tanpa menoleh lagi, Aresha berjalan pergi dengan pincang.
Di dalam kamar mandi, Rhea mencengkeram tangan ibunya.
“Mama, apa yang harus kita lakukan?” suaranya bergetar.
“Jika Stefani benar-benar bangun, aku benar-benar selesai.”
Mama Lin menatap bayangannya di cermin, wajahnya tegang.
“Tenang,” bisiknya pelan. “Satu jam itu lama. Dan dalam satu jam, banyak hal bisa terjadi.”
Rhea menelan ludah.
Di luar, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah ruang perawatan. Di dalam kamar, monitor jantung Stefani tiba-tiba berbunyi lebih cepat.
“Tit… tit… tit…” Jarum penunjuk detak jantungnya bergerak naik.
Kelopak mata Stefani bergetar. Samba yang duduk di samping ranjang langsung berdiri.
“Stefani…?” Di luar ruangan, Aresha membeku. Ia merasakan sesuatu—entah firasat atau harapan.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Mama Lin masih merencanakan sesuatu, membisikan kekuping Rhea.
Rhea menatapnya dengan mata membesar.
“Mama…?” Mama Lin tersenyum tipis.
“Untuk berjaga-jaga.” Di saat yang sama, dari dalam kamar terdengar suara lemah, serak, tetapi jelas.
Satu nama.
Dan nama itu bukan Aresha.
***