Aaron Alexander Demian Dirgantara, seorang pria sukses yang memiliki perusahaan di Amerika yang bergerak di bidang infrastruktur dengan kekayaan yang tidak terhitung, memiliki paras tampan dengan tinggi badan ideal dan bentuk tubuh yang cukup bagus.
Ia merupakan seorang pria yang sangat di puja puja dan menjadi impian para wanita, namun ia hanya menganggap wanita sebagai tisu basah dan mainannya.
Setelah 10 tahun ia tak pulang ke negaranya, ia malah terpincut pada seorang wanita muda yang sering ia temui di sebuah club, wanita yang membuatnya penasaran dan ingin memiliki nya seutuhnya.
Namun takdir berkata lain, selain saingannya yang lumayan banyak ia tertampar dengan kenyataan jika wanita kecil incarannya adalah adik angkatnya sendiri yang sering ia temui di rumah dengan pakaian syar'i nya.
Bagaimanapun kelanjutannya, yuk ikuti kisahnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bundaAma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps-10
"Emm... dan ini sepatumu yang tertinggal..." ujar Demian menyerahkan kantong paperbag bekas McD kepada Hajeera.
Hajeera hanya tersenyum mengambil paperbag itu lalu berkata.
"Terimakasih,..."
"Tapi sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot mengembalikan sepatu ini padaku, aku bisa membelinya lagi bahkan lebih dari lima pasang sekaligus..." ucap Hajeera yang terdengar lucu di telinga Demian.
"Coba lah jam tangan yang aku belikan,..." ujar Hajeera seraya menunjuk paperbag rolex yang tadi ia berikan pada Demian.
"Jika kamu tidak suka, kita bisa menukar nya lagi, atau jika mau aku akan membelikan nya lagi..." lanjutnya yang semakin menonjolkan jika dirinya memiliki banyak uang, entahlah Hajeera padahal berniat menyembunyikan kekayaan nya tapi bibirnya yang kurang ajar selalu menyeloteh hingga akhirnya menyebabkan orang lain tahu jika dirinya putri keluarga kaya raya.
Dengan perlahan Demian membuka bungkus demi bungkus untuk membuka jam tangan pemberian Hadriana, Hajeera diam memandang seraya menyuapi mulutnya dengan makanan yang sudah tersaji di depannya.
"Woww,, ini Rolex GMT-Master II..." ucap Demian antusias, ia segera membuka jam tangan miliknya lalu mencoba memakai jam tangan pemberian Hadriana.
"Apakah itu sesuatu yang kamu harapkan?" tanya Hajeera yang langsung dijawab anggukan kepala Demian.
"Pakailah, aku bisa membelikan mu model yang lain jika kamu menyukainya, So, kamu tidak perlu lagi memakai jam tangan ini lagi .." ucap Hajeera seraya mengambil jam tangan milik Demian, namun alangkah terkejutnya ia saat melihat jam tangan apa yang berada di tangan nya.
Rolex Daytona Ref.6329 Hajeera cukup terkejut, ia memeriksa ke aslian jam tangan Rolex yang baru pertama kali lihat, jam tangan yang di lapisi kaca kristal akrilik (Plexiglass) dan di pasangkan dengan strap kulit.
"Are you crazy?" Hajeera memekik tak percaya saat menyadari keaslian pada jam tangan milik Demian di tangannya.
"Paul Newman's Rolex Daytona Ref.6239 ?" tanya Hajeera seraya memperlihatkan jam di tangannya pada Demian.
"Yah, aku baru mendapatkan nya beberapa bulan lalu di sebuah pelelangan..." jawab Demian dengan suara santai dan wajah yang meyakinkan.
"Kembalikan,... Kamu membuatku malu..." Hajeera berjalan ke arah Demian mencoba melepaskan jam tangan pemberian nya yang sudah terpasang di tangan Demian.
"Why? Why, why?" tanya Demian bingung setengah mati saat Hadriana mencoba merebut kembali pemberian nya.
"Aku yakin kamu bisa membelinya bahkan sepuluh biji sekaligus..." jawab Hajeera dengan wajah memerah dan tindakan yang salah tingkah.
Demian tertawa geli saat menyadari jika Hadriana saat ini telah sadar, jika dirinya bukanlah pria miskin yang seperti Hadriana pikir.
"Tidak apa apa, aku menyukainya.." jawab Demian menahan tangan Hadriana dengan wajah tersenyum lebar yang sontak membuat jantung Hajeera berdegup cepat.
"Ta--tapi itu murah.." ujar Hajeera yang sudah kehabisan kata.
"Its okey, aku menyukainya karena kamu yang memberikan nya.." ucap Demian mengusap pucuk kepala Hajeera yang langsung membuatnya seolah melayang.
Entahlah pandangan nya pada Demian berubah 180% setelah mengetahui kenyataan jika Demian tidak semiskin bayangan nya.
Merekapun melanjutkan kembali makan malamnya dengan hening, hanya Demian yang bersuara dan sesekali di Hajeera menjawabnya dengan anggukan kepala atau deheman suara.
"Terimakasih atas traktiran nya Dem,.." ucap Hajeera malu malu dengan wajah memerah bak kepiting rebus.
Demian yang melihat nya malah merasa gemas melihat sikap Hajeera yang berubah menjadi kaku namun menggemaskan tak dibuat buat.
"Sama sama, tidak perlu sungkan dan tidak perlu terlalu kaku.." jawab Demian.
"Kamu pulang naik apa? Di jemput atau bagaimana?" tanya Demian.
"Emm, entahlah,.. Rasanya aku malas untuk pulang.." jawab Hajeera dengan nada lemas, dan wajah memaksa tersenyum namun tatapan matanya kosong seolah dirinya tengah memiliki masalah di rumahnya.
"Apakah kamu mau menemaniku berbelanja?" tanya Demian menawarkan sesuatu yang biasanya disukai oleh para wanita.
"Aku baru pulang ke Indonesia, dan aku tidak memiliki banyak pakaian jadi aku pikir sebaiknya aku membeli beberapa baju untuk ku..." jelas Demian mencoba mengklarifikasi takut takut Hadriana salah paham.
Hajeera tak langsung mengiyakan, meskipun dalam hatinya ia sudah setuju sedari awal, yah itung itung peluang ia bisa menghindar dari kakak laki lakinya yang akan pulang ke rumah mereka.
"Emmm, boleh deh..." jawab Hajeera seraya tersenyum sumringah.
Tanpa menunggu lama Demian mengajak Hadriana untuk naik ke mobil miliknya, dengan hati hati ia membuka pintu penumpang mobil Lamborghini Veneno roadster miliknya.
Hajeera hanya tersenyum-senyum saat Demian memperlakukan nya dengan baik bak putri kerajaan, apalagi saat Demian memakai sabuk pengaman dan meminta izin membuka removable hardtop mobilnya agar mereka bisa menikmati angin malam selagi berkendara.
Mobil pun melesat pergi dengan kecepatan tinggi meninggalkan restoran tempat mereka makan malam tadi, sepanjang perjalanan Hajeera memegang salt belt yang melintang di tubuhnya.
"Apa kamu takut Ana?" tanya Demian seraya cengengesan saat melihat reaksi Hadriana yang tegang.
"Ini pertama kalinya aku kebut kebutan di jalanan umum..." jawab Hadriana dengan suara tertekan saking tegangnya tubuhnya.
Demian pun menurunkan kecepatan nya agar Hadriana tidak merasa ketakutan seperti tadi.
"Kamu gila yah Dem, ini tuh Lamborghini Veneno roadster yang emang udah kayak naik jet tempur, terus loh dengan gilanya bawa mobil kebut kebutan, gak cuman isi perut gue yang keluar, kepala gue ajah ampir ketinggalan di restoran...." cerocos Hajeera mengoceh dengan suara setengah berteriak karena merasa nyawanya hampir hilang karena ulah pria disampingnya.
Demian hanya tertawa mendengar ocehan wanita kecil di samping nya yang entah sejak kapan ia selalu merasa nyaman saat tengah bersamanya.
"Sorry,..." ucap Demian menyengir kuda.
Tak lama merekapun sampai di pusat perbelanjaan, langkah kaki mereka melangkah bersamaan memasuki pusat perbelanjaan yang ramai, tak sedikit dari mereka yang berpapasan dengannya berbisik bisik melihat kedatangan mereka berdua.
Namun Hajeera dan Demian tampak acuh tak acuh dan tak merasa risi sedikitpun dengan tatapan mereka yang berbeda beda, karena bagi mereka berdua itu adalah hal yang wajah meski terkesan kurang ajar, mungkin saat ini mereka berpikir jika Demian adalah pedofil dan Hajeera adalah wanita peliharaan Demian.
"Demian, sebenarnya berapa umurmu?" tanya Hajeera di tengah perjalanan mereka menuju sebuah outlet mode busana pria.
"Kenapa memang?" tanya balik Demian.
"Sepertinya benar kata mereka, kamu adalah pedofil dan aku anak kecil..." jawab Hajeera seraya berkaca di sebuah cermin yang berdiri tinggi di sampingnya.
"Lalu, kamu adalah wanita peliharaan ku begitu?" tanya Demian tepat di samping telinga Hajeera yang membuat nafasnya terasa menyapu ke dalam telinganya, di tambah kedua tangan Demian yang dengan lancang memegang pinggang nya dengan nyaman.