Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Hari Tanpa Air
Jika kemarin Arka bertarung melawan hawa panas yang menyengat dan audit listrik Lulu yang kejam hingga ke satuan watt terkecil, pagi ini ia menghadapi musuh yang jauh lebih eksistensial bagi kelangsungan hidup sebuah kos-kosan wanita: kekosongan. Tepatnya, kekosongan mutlak di dalam bak mandi, wastafel, hingga tangki toilet. Wisma Lavender yang biasanya riuh dengan suara air mengalir, suara sikat gigi yang beradu, dan nyanyian sumbang dari balik pintu kamar mandi, tiba-tiba hening sesunyi pemakaman tua yang ditinggalkan penghuninya.
Arka terbangun bukan karena alarm ponselnya yang biasanya berbunyi lembut, melainkan karena suara gedoran pintu kamarnya yang terdengar seperti ketukan palu hakim yang sedang menjatuhkan vonis mati dalam sidang darurat.
"Arka! Bangun! Ini darurat nasional! Kode Merah!" Suara melengking itu milik Fanya, mahasiswi komunikasi yang biasanya paling rajin berdandan dua jam sebelum kuliah pagi, namun kini terdengar seperti sedang dikejar bencana alam.
Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya dan rambut yang masih berantakan, Arka membuka pintu dan mendapati pemandangan yang akan menghantui mimpinya hingga beberapa malam ke depan: lima orang gadis berdiri berjejer di koridor dengan handuk melilit kepala, wajah yang masih kusam tanpa polesan riasan, dan mata yang menyiratkan keputusasaan murni. Mereka memegang gayung kosong di tangan masing-masing, menggenggamnya erat seolah-olah itu adalah senjata tajam yang siap diayunkan jika solusi tidak segera ditemukan.
"Pompa mati, Ka. Mati total. Nggak ada suara ngik-ngok atau getaran sama sekali sejak subuh tadi," lapor Dira dengan nada bicara yang gemetar dan bibir yang pucat. "Gue baru saja sabunan setengah badan, baru banget mau bilas, dan tiba-tiba kran cuma mengeluarkan bunyi desis pelan kayak ular kobra yang ngejek gue. Gue mau nangis, Ka! Badan gue lengket semua!"
Arka segera berlari ke arah mesin pompa di belakang rumah dengan langkah seribu. Ia memeriksa kabel, menekan tombol reset berulang kali, hingga memberikan "pukulan mekanik" berupa hantaman telapak tangan yang biasanya manjur untuk barang elektronik lama yang merajuk. Namun, sang pompa tetap membisu seribu bahasa. Motornya tampaknya terbakar habis, sebuah tragedi mekanis yang dipicu oleh usia mesin yang sudah melewati masa pensiunnya dan dipaksa bekerja melayani kebutuhan air lima belas perempuan setiap harinya.
"Gue butuh waktu buat benerin ini secara total, atau setidaknya beli suku cadang baru di toko bangunan yang baru buka jam sembilan nanti," ujar Arka sambil menyeka keringat dingin yang mulai muncul di dahinya.
"Jam sembilan?!" pekik Sari yang muncul dari balik kerumunan dengan wajah yang tak kalah panik. "Kita semua ada kelas jam delapan pagi ini! Ada yang ujian tengah semester, ada yang presentasi besar, bahkan Sherly ada jadwal pemotretan pagi! Kalau kita nggak mandi sekarang, kita bakal jadi senjata kimia pemusnah massal di dalam kelas!"
Situasi memanas dalam hitungan detik. Lima belas penghuni Wisma Lavender kini berkumpul di area belakang, menciptakan atmosfer tekanan tinggi yang terasa lebih berat daripada tekanan air yang baru saja hilang. Lulu muncul dengan buku catatan kuningnya, sudah siap menghitung kerugian waktu, biaya keterlambatan kuliah, dan potensi penurunan produktivitas akibat stres air. Sementara itu, Ziva hanya bisa berdiri di pojok dengan wajah cemas, memegangi handuk kecilnya dengan erat, menatap Arka dengan pandangan penuh harap.
"Satu-satunya jalan yang tersisa," Arka menatap sumur tua di pojok halaman belakang yang sudah tertutup beton namun masih memiliki katrol manual yang berkarat, "adalah menimba secara manual. Kita balik ke zaman purba sebentar."
Maka, dimulailah sebuah drama fisik yang belum pernah disaksikan oleh penghuni Wisma Lavender dalam dekade terakhir. Arka melepaskan kaosnya agar tidak basah dan berat terkena cipratan air—sebuah tindakan yang secara tidak sengaja membuat seluruh kerumunan gadis itu terdiam sejenak. Mereka terpaku melihat otot lengan, bahu, dan punggung Arka yang terbentuk keras, mungkin efek samping dari hobinya mengangkat beban mesin dan perabotan selama ini. Ia mulai menarik tali tambang yang kasar dan berlumut, menurunkan ember seng ke dalam sumur yang gelap, dan menariknya kembali ke atas dengan tenaga penuh.
Srak... srak... srak...
Setiap tarikan tali adalah perjuangan melawan gravitasi dan waktu. Sumur itu ternyata cukup dalam, dan ember yang digunakan pun bukan ukuran kecil. Arka harus mengisi dua ember besar sekaligus agar bisa dibawa ke kamar mandi utama dengan efisien.
"Oke, satu ember penuh untuk Dira yang masih sabunan! Siapa lagi yang sudah di ambang kritis?" seru Arka, napasnya mulai memburu dan keringat mulai membasahi punggungnya.
"Gue! Gue butuh buat cuci muka sama sikat gigi, minimal biar nggak kelihat kayak zombi pas presentasi!" teriak Fanya sambil menyodorkan ember plastik warna pink miliknya dengan agresif.
Arka bekerja seperti mesin uap manusia yang tak kenal lelah. Ia menimba, mengangkat, mengangkut, menyiram, lalu kembali lagi ke bibir sumur. Peluh mulai bercucuran deras dari pelipisnya, membasahi dadanya dan membuat otot-ototnya berkilau memantulkan sinar matahari pagi yang mulai menyengat kulit. Para gadis yang tadinya panik luar biasa, kini mulai terbagi fokusnya; antara menunggu jatah air dan diam-diam mengagumi dedikasi luar biasa—serta tampilan fisik—si "Pahlawan Kos" mereka yang sedang berjuang sendirian.
"Kasihan juga ya kalau dilihat-lihat si Arka," bisik Sari pada Ziva yang berdiri di sampingnya. "Dia menimba sendirian buat lima belas orang. Itu berarti minimal dia harus melakukan tiga puluh sampai empat puluh kali tarikan tali dengan beban berat. Lengan gue aja mungkin sudah copot di tarikan kelima."
Ziva mendekat perlahan, membawa segelas air putih dingin dan sebuah handuk bersih yang ia ambil dari kamarnya. "Arka, istirahat sebentar, tolong. Lo bisa pingsan atau kram otot kalau kayak gini terus. Napas lo sudah pendek banget."
Arka tersenyum tipis, meski wajahnya sudah memerah dan telapak tangannya mulai terasa panas karena gesekan tali tambang yang kasar. "Nggak apa-apa, Ziv. Daripada kalian semua nggak bisa kuliah atau gagal ujian gara-gara bau badan, mending gue yang pegel-pegel dikit pagi ini. Anggap saja ini sesi workout intensif gratis tanpa perlu bayar membership gym."
Satu jam penuh berlalu dalam ritme yang melelahkan. Arka berhasil mengisi semua bak mandi darurat dan belasan ember milik para penghuni yang mengantre. Tubuhnya gemetar hebat karena kelelahan otot yang luar biasa, napasnya tersengal-sengal, dan telapak tangannya lecet hingga kemerahan. Namun, ketika melihat satu per satu dari lima belas gadis itu keluar dari kamar masing-masing beberapa waktu kemudian dengan wajah segar, wangi sabun yang harum, dan pakaian rapi siap berangkat kuliah, ia merasakan sebuah kepuasan batin yang aneh dan sulit dijelaskan.
Lulu mendekat saat Arka sedang terduduk lemas di pinggir sumur, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu. Anehnya, ia tidak membawa tagihan denda atau catatan pelanggaran kali ini. Sebaliknya, ia menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin yang masih berembun, yang baru saja ia ambil dari bagian paling belakang kulkas.
"Berdasarkan kalkulasi kalori dan cairan yang kamu buang secara masif selama enam puluh menit terakhir," ujar Lulu dengan nada yang terdengar sedikit lebih lembut dan manusiawi dari biasanya, "kamu secara sah berhak mendapatkan asupan elektrolit ini secara cuma-cuma. Aku tidak akan membebankannya pada uang kas kos bulan depan. Ini... dianggap sebagai investasi pemeliharaan aset vital dan darurat Wisma Lavender agar tidak mengalami shutdown total."
Arka tertawa lemah, menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar, lalu meneguknya hingga habis dalam sekali napas. "Makasih, Lu. Tumben banget hari ini gue nggak didenda karena berisik narik katrol?"
"Hari ini adalah pengecualian protokol," jawab Lulu sambil memalingkan wajah ke arah lain, berusaha menyembunyikan sedikit rasa haru dan terima kasihnya. "Lagi pula, secara matematis, kalau kamu sampai pingsan atau masuk rumah sakit karena dehidrasi, biaya kompensasi dan pengobatan yang harus ditanggung kos bakal jauh lebih mahal daripada harga satu botol minuman ini. Aku cuma menjaga stabilitas finansial."
Saat Wisma Lavender mulai sepi satu per satu karena para penghuninya berangkat mengejar jadwal kuliah, Arka masih terduduk diam di sana, sendirian di halaman belakang. Ia menatap tali tambang yang masih bergoyang pelan tertiup angin. Ia sangat lelah, setiap inci ototnya terasa seperti ditarik-tarik. Tapi di tengah keheningan pagi itu, ia menyadari satu hal penting: di rumah ini, ia bukan hanya sekadar penyewa kamar pria yang terpinggirkan atau mekanik dadakan. Ia adalah jantung yang memompa kembali denyut kehidupan ke tempat ini, bahkan di saat pompa air yang asli pun sudah menyerah pada keadaan dan tekanan hidup.
Arka berdiri dengan sisa tenaga yang ada, memakai kembali kaosnya yang kini terasa dingin, dan mulai bersiap untuk tantangan berikutnya yang sudah menanti: segera berangkat ke toko bangunan untuk membeli mesin pompa baru dan memasangnya sebelum lima belas gadis itu pulang kuliah sore nanti dan menagih air untuk mandi kedua. Menjadi pahlawan tunggal di Wisma Lavender memang ternyata sebuah pekerjaan purna waktu yang tidak pernah mengenal kata istirahat.