NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Daripada Mati Tersiksa

"Ngapunten, Ndara Tabib," Ki Padmo menunduk makin dalam, peluh dingin membasahi dahi keriputnya.

"Den Bagus Kusuma kondisinya teramat lemah. Beliau mboten kiyat jika harus terguncang di atas kereta kuda dari pusat kota kemari."

Sawitri menatap Ki Padmo sejenak, menimbang efisiensi waktu dengan otak rasionalnya.

"Ndari," panggilnya datar tanpa nada setuju maupun menolak.

"Ambil kotak kayu jati di laci kamarku. Kita berangkat sekarang."

"Ndara Ayu mau ke mana? Ini sudah menjelang lingsir wengi!" protes Nyi Inggit panik sambil menyeka tangannya yang basah.

"Aku ada urusan di pusat Kadipaten. Tutup pintu pesanggrahan ini rapat-rapat selama aku pergi."

Nyi Inggit hanya bisa mematung melihat majikannya melangkah mantap menuju kereta kuda berukir teratai emas di depan gerbang.

"Jika ada warga yang datang berobat, suruh mereka pergi ke tabib desa sebelah," pesan Sawitri dari balik jendela kereta yang mulai bergerak.

Sepanjang perjalanan menuju pusat pemerintahan Mataram, Sawitri hanya diam.

Matanya tajam mengamati jalanan tanah yang berdebu dari balik tirai bambu kereta.

Hiruk pikuk pinggiran desa perlahan berganti dengan deretan tembok keraton yang kokoh dan jalanan berbatu rapi.

Kediaman Jayaningrat berdiri tak kalah megah di sektor saudagar, dikelilingi tembok bata merah setinggi ujung tombak.

"Keluarga saudagar kain yang baru naik daun ini benar-benar makmur," bisik Ndari takjub.

Matanya tak berkedip melihat pilar-pilar jati berukir naga di gerbang utama yang dijaga ketat oleh dua centeng bertubuh tegap.

Sawitri tersenyum sinis di dalam hatinya.

Kanjeng Tumenggung Danurejo, ayah kandungnya, memiliki kekayaan dan kuasa sepuluh kali lipat dari ini.

Tapi pria gila hormat itu membiarkan putri sahnya kelaparan dan nyaris mati kedinginan di pesanggrahan reot di pinggir hutan.

Ki Jayaningrat dan Nyi Jayaningrat menyambut kedatangan mereka di pendopo pringgitan yang terang benderang.

Senyum keraguan terpancar jelas di mata pasangan paruh baya itu saat melihat sosok Sawitri turun dari kereta.

Gadis berwajah pucat dengan kebaya ungu lawasan itu tampak terlalu rapuh untuk menyandang gelar tabib tersohor.

"Silakan duduk di tikar pandan niki, Ndara Ayu. Kulo perintahkan abdi dalem menyeduh teh melati—"

Ucapan Ki Jayaningrat terpotong seketika oleh jeritan melengking yang merobek keheningan sore dari arah paviliun belakang.

"Ampun, Den Bagus! Jangan dibenturkan lagi kepalanya ke dinding!"

Suara Niti, pelayan muda di paviliun tersebut, terdengar sangat panik dan dipenuhi isak tangis putus asa.

Tanpa memedulikan basa-basi tata krama keraton, Sawitri langsung melangkah cepat menyusul sumber suara.

Seorang bocah laki-laki bergulingan tak karuan di atas ranjang berukir jepara.

Tangannya menjambak rambutnya sendiri dengan gerakan brutal yang tak terkendali.

Ia nyaris membenturkan kepalanya ke tiang ranjang kayu jati sebelum tubuh mungilnya ditindih paksa oleh Sawitri.

"Singkirkan tangan kalian semua! Pegang erat bahunya, jangan tekan kepalanya!" perintah Sawitri mutlak pada para pelayan yang kebingungan.

Dengan teknik kuncian Tarung Derajat, Sawitri mengunci pergerakan leher Den Bagus Kusuma dengan sangat akurat dan aman.

"Benturan fisik sekunder hanya akan mempercepat pecahnya pembuluh darah di selaput arachnoid," batin Sawitri tajam, memvisualisasikan anatomi cedera di balik tengkorak bocah itu.

Nyi Jayaningrat menyusul masuk ke kamar sambil menangis histeris.

Ia berusaha memeluk kaki anaknya yang terus meronta-ronta di bawah tekanan tangan Sawitri.

"Tenanglah, anakku. Ndara Tabib di sini akan menyembuhkanmu, nggih."

Setelah lima menit meronta hebat, napas Den Bagus Kusuma perlahan mulai teratur seringan tiupan angin.

Kejang hebatnya mereda, menyisakan butiran keringat dingin yang membasahi pelipis pucatnya.

Sawitri meraba denyut nadi di pergelangan tangan bocah itu dengan dua jari telunjuk dan tengahnya.

"Nadinya memberontak dan ritmenya tak beraturan. Ada pendarahan baru berskala sedang di dalam sana," gumamnya nyaris tak terdengar.

Sawitri melepaskan kunciannya perlahan lalu menatap sangat tajam ke arah Nyi Jayaningrat.

"Katakan kebenarannya padaku sekarang. Apa anak ini baru saja jatuh dan kepalanya terbentur lagi dalam sepekan terakhir?"

"Mboten wonten, Ndara Tabib! Kulo menjaganya siang malam tanpa henti!"

Nyi Jayaningrat membantah keras, merasa tersinggung harga dirinya sebagai seorang ibu dipertanyakan di depan pelayannya sendiri.

Sawitri mendengus sangat dingin.

Tubuh manusia tak pernah bisa berbohong di bawah pengamatan seorang ahli forensik.

Dari celah tirai pintu berukir, terdengar isak tangis tertahan dari seorang anak perempuan kecil.

Rara Ayu, adik kandung Den Bagus, berdiri gemetar meremas ujung kebaya batiknya yang mahal.

"Kakang jatuh dari pohon jambu air tiga hari lalu, Romo..." cicit Rara Ayu di sela isakannya yang akhirnya pecah.

"Kakang memanjat untuk mengambilkan saputangan kulo yang tersangkut di dahan. Kakang melarang kulo bercerita pada Romo."

Wajah Ki Jayaningrat memucat pasi seketika, darah seolah terhisap habis dari wajahnya.

Niti, pelayan pribadi Den Bagus, ikut menjatuhkan diri dan bersujud di lantai sambil menangis keras memohon ampun.

"Risiko kematiannya kini naik tajam menjadi delapan puluh persen jika tak ditangani hari ini juga," vonis Sawitri tanpa nada empati sedikit pun.

"Gusti nu agung... Lalu kulo kedah pripun, Ndara Tabib?" Ki Jayaningrat memohon dengan suara bergetar dan lutut lemas.

"Ndari, buka kotak jati itu," perintah Sawitri datar pada asisten setianya.

Deretan jarum perak yang melengkung aneh berkilat tajam tertimpa cahaya pelita minyak di ruangan itu.

"Aku akan menusuk titik saraf tertentu di batok kepalanya untuk mengalirkan darah kotor yang menekan otaknya dari dalam."

Nyi Jayaningrat memekik tertahan melihat bentuk jarum-jarum perak mengerikan itu.

"Nusuk kepala anak kulo? Niku sama saja membunuh anak kulo secara perlahan!" jeritnya tak terima.

"Itu prosedur menggunakan teknik pelepasan tekanan," potong Sawitri tegas, tangannya bersiap menutup kotaknya kembali.

"Aku tak pernah memaksa pasienku. Jika kalian terus meragukanku, silakan tunggu sampai anak ini membusuk di ranjangnya."

Sebuah tangan kecil yang sedingin balok es menahan tepian lengan kebayanya.

"Tusuk saja kulo, Ndara Tabib," suara parau Den Bagus Kusuma memecah ketegangan yang menyesakkan dada seisi ruangan.

Bocah delapan tahun itu menatap kedua orang tuanya dengan mata sayu namun menyiratkan keberanian luar biasa.

"Tabib keraton bilang umur kulo mboten panjang. Kulo milih ditusuk logam daripada mati tersiksa seperti ini setiap hari, Romo."

Ki Jayaningrat menunduk dalam, air mata hangat menetes membasahi blangkon batiknya.

"Lakukan, Ndara Tabib. Kulo pasrahkan nyawa anak kulo di tangan jenengan sepenuhnya," bisiknya parau tanda menyerah.

"Pegang rapat kedua tangan dan kakinya. Jangan ada yang berani bergerak seinci pun," instruksi Sawitri mengudara dengan aura menekan.

Ia membakar ujung jarum perak berongga itu di atas lidah api pelita hingga warnanya berubah kemerahan.

Tanpa ragu sedetik pun, ujung jarum panas itu ditusukkannya perlahan ke titik spesifik di batas garis rambut Den Bagus Kusuma.

Sawitri lalu menyambung pangkal jarum itu dengan selongsong bambu wuluh murni seukuran lidi yang telah dilubangi ujungnya.

Hening yang sangat mencekam menyelimuti paviliun mewah itu bagai area pemakaman.

Setetes demi setetes cairan darah berwarna hitam pekat dan berbau anyir mulai menetes lambat dari ujung bambu wuluh.

Darah itu jatuh menodai kapas putih yang dipegang erat oleh Ndari yang tampak menggigit bibirnya menahan ngeri.

Seiring menetesnya cairan kotor itu, garis wajah Den Bagus yang semula tegang kesakitan, perlahan mulai mengendur rileks.

Setengah jam berlalu, terasa seperti satu abad penyiksaan batin yang menguras kewarasan bagi keluarga Jayaningrat.

Sawitri mencabut jarum perak terakhirnya dan membersihkan luka tusuk yang sangat kecil itu dengan cairan arak putih murni.

"Prosedur pelepasan ini harus diulang dua kali lagi saat hari pasaran Legi tiba agar tuntas," ujar Sawitri sangat datar sambil mencuci tangannya di baskom tembaga.

"Kulo kira Ndara Ayu menjadikan anak kulo kelinci percobaan untuk aji-aji baru keraton," desah Nyi Jayaningrat dengan wajah dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat.

Sawitri mengeringkan kedua tangannya dengan saputangan kain perca tanpa repot-repot menoleh.

"Jika aku butuh objek percobaan, aku akan mencari mayat utuh di pemakaman, bukan menusuk manusia hidup."

Sarkasme dingin nan tajam bak sembilu itu sukses membuat Nyi Jayaningrat terdiam kaku seketika.

Menolak mentah-mentah jamuan makan malam mewah, Sawitri melangkah mantap keluar menuju kereta kudanya yang menunggu di pelataran.

Di belakangnya, Ndari memeluk erat kantong goni kecil berisi tiga ratus keping perak murni pemberian ikhlas Ki Jayaningrat.

"Ndara Tabib," cegah Ki Padmo dengan sikap tubuh sangat hormat sesaat sebelum Sawitri menaiki undakan kereta.

"Hari masih cukup terang benderang. Jika Ndara mboten keberatan, kulo ingin mengantar Ndara singgah ke Pasar Kotagede sejenak."

Sawitri menaikkan sebelah alisnya yang terbentuk rapi dan meruncing tajam.

"Majikan kulo memiliki toko kain sutra dan tenun paling besar di sana. Silakan Ndara memilih beberapa gulung kain terbaik sebagai wujud terima kasih kami."

Sawitri tersenyum tipis, sebuah senyum penuh perhitungan terlukis di kepalanya.

Ia membayangkan betapa cerewetnya Nyi Inggit di rumah yang selalu mengkhawatirkan kebaya lawasan dan jarik miliknya yang telah pudar dan menipis.

"Baik. Bawa aku ke tempat itu sekarang."

Kereta kuda melaju membelah jalanan berbatu menuju hiruk pikuk Pasar Kotagede yang wangi oleh aroma rempah, tembakau, dan dupa kemenyan.

Papan nama dari kayu jati tua berukir aksara Jawa keemasan menggantung gagah di atas pintu masuk, tak kalah mentereng dari papan nama kediaman Jayaningrat.

Toko ꦱꦸꦠꦿꦏꦼꦚ꧀ꦕꦤ (Sutra Kencana) berdiri megah di sudut persimpangan jalan yang strategis, memamerkan kain-kain berkualitas setara wdihan milik istana keraton.

Kini, Sawitri duduk bersila di atas amben kayu berlapis permadani Persia di lantai dua toko yang dikhususkan bagi tamu bangsawan.

Ia tahu betul, sebagai tamu kehormatan keluarga Jayaningrat, ia hanya perlu duduk manis sementara para pelayan toko akan menggelar puluhan gulung kain sutra dan beludru terbaik di hadapannya.

Namun, Sawitri tidak tertarik pada sutra impor yang mengilap atau beludru tebal yang hanya cocok dipakai para selir untuk pamer kekayaan.

"Ndari, turunlah ke bawah. Cari beberapa potong kain katun mori yang halus dan tenun lurik yang menyerap keringat. Kita butuh pakaian yang praktis untuk di pesanggrahan," perintah Sawitri datar, mengabaikan tatapan kecewa si saudagar tua.

Kepulan uap tipis menguar dari cangkir batok kelapa di tangannya.

Teh melati seduhan khas Mataram.

Aromanya pekat, rasanya sepat di lidah, namun meninggalkan jejak manis yang khas di tenggorokan.

Seteguk teh itu tanpa sadar menarik memorinya kembali pada Iptu Tari.

"Teh hijau tanpa gula? Selera lidahmu itu sama kakunya dengan meja autopsi, Wit," gerutu Tari suatu malam di apartemennya, sambil menuangkan teh botolan dingin ke gelasnya sendiri.

Sawitri memejamkan mata sesaat, menekan rasa nyeri yang kembali meremas dadanya.

Ia baru saja berhasil mengunci emosi itu rapat-rapat, namun sebuah lengkingan suara bernada tinggi dari lantai bawah tiba-tiba menghancurkan konsentrasinya.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!