Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Pukul delapan tepat. Sesuai instruksi sang "Fir'aun", Mika sudah berdiri di depan pintu kayu jati ruang kerja Kepala Desa. Ia mengenakan kemeja flanel kotak-kotak dan celana jeans, berusaha tampil se-profesional mungkin meski jantungnya sedang melakukan maraton di dalam dada.
Ia mengetuk pintu tiga kali. "Permisi, Pak."
"Masuk," suara berat itu terdengar dari dalam.
Mika melangkah masuk dan menutup pintu dengan rapat. Ruangan itu terasa sunyi, hanya ada suara detak jam dinding dan embusan angin dari jendela yang terbuka separuh. Alvaro duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada berkas, melainkan langsung terkunci pada sosok Mika.
"Tepat waktu," ucap Alvaro sambil berdiri. Ia melepaskan kacamata bacanya dan meletakkannya di atas meja. Langkah kakinya yang tegap mendekati Mika, membuat gadis itu reflek mundur satu langkah hingga punggungnya menyentuh daun pintu yang tertutup.
"Ini laporan hulu barat yang Bapak minta semalam," Mika menyodorkan map plastik dengan tangan sedikit gemetar.
Alvaro tidak mengambil map itu. Ia justru menumpukan kedua tangannya di pintu, tepat di samping kiri dan kanan kepala Mika, mengurung gadis itu dalam ruang sempit yang dipenuhi aroma parfum maskulinnya.
"Laporannya bisa tunggu nanti. Sekarang saya mau menagih janji," bisik Alvaro. Suaranya rendah, serak, dan penuh intimidasi yang memabukkan.
Alvaro mulai menundukkan kepalanya. Jarak di antara mereka terkikis habis. Mika bisa merasakan napas Alvaro yang hangat menyentuh permukaan kulitnya. Saat bibir Alvaro hampir saja mendarat di tujuannya, sebuah suara cempreng yang sangat dikenal menggelegar dari balik pintu, disertai gedoran keras.
"PAK KADEEESSS!! MIKAYLAAA!!"
Itu suara Asia.
DUAK!
Dalam hitungan milidetik, insting bertahan hidup Mika meledak. Dengan kekuatan yang entah datang dari mana, Mika mendaratkan kedua telapak tangannya di dada bidang Alvaro dan mendorongnya sekuat tenaga. Alvaro yang sedang tidak siap terhuyung mundur dua langkah, hampir menabrak meja kerjanya sendiri.
Pintu terbuka dengan kasar. Asia muncul dengan wajah panik, napasnya tersengal-sengal seolah habis dikejar anjing gila. Ia menatap Alvaro yang tampak "berantakan" dan Mika yang wajahnya merah padam.
"Eh? Kok... kok pada diem-dieman?" tanya Asia bingung, matanya berpindah-pindah dari Alvaro ke Mika.
Mika segera mengambil kendali. Ia memasang wajah paling kesal yang bisa ia buat, matanya melotot tajam ke arah Alvaro.
"Aduhh, Pak Kades tuh emang DAJJAL ya!! Bener-bener nggak punya perasaan!" seru Mika dengan nada suara yang melengking tinggi, membuat Asia terlonjak kaget.
Asia melongo. "Lo... lo diapain sama Pak Kades, Mik?"
Mika menunjuk Alvaro dengan jari telunjuk yang gemetar—kali ini gemetar karena menahan tawa sekaligus panik. "Nih! Dia nyebelin banget, As! Masa laporan gue dibilang sampah?! Terus dia nyuruh gue ngetik ulang semuanya dari awal pake mesin ketik manual di gudang gara-gara katanya format digital nggak 'otentik'! Gila nggak tuh?!"
Alvaro yang tadinya kaget karena didorong, kini hanya bisa terdiam membeku. Ia menatap Mika dengan pandangan tak percaya. Mesin ketik manual? Di gudang? Namun, melihat kode dari kedipan mata Mika yang panik, Alvaro segera menyesuaikan peran.
Ia berdehem keras, merapikan kemejanya yang sedikit kusut karena dorongan Mika tadi, dan kembali memasang wajah "Fir'aun" paling angkernya.
"Memang begitu prosedurnya, Mbak Asia," ucap Alvaro dengan nada dingin yang menusuk. "Mahasiswa sekarang terlalu manja dengan teknologi. Saya ingin data yang benar-benar dikerjakan dengan keringat, bukan sekadar copy-paste."
Asia menatap Alvaro dengan ngeri. "Tapi Pak... sekarang tahun 2026, masa pake mesin ketik manual? Kasihan Mika, Pak."
"Gak usah kasihanin dia, As!" Mika memotong, ia mulai berjalan mondar-mandir di depan Asia, berakting seolah sedang emosi tingkat tinggi. "Emang dasarnya nih bapak-bapak satu ini hobi banget nyiksa orang! Tadi aja dia hampir mau... mau ngerobek laporan gue di depan muka gue!"
Alvaro menaikkan alisnya. Ngerobek? Sejak kapan saya se-agresif itu? batinnya heran. Namun ia tetap diam, membiarkan Mika "menjual" drama tersebut.
"Udah, As, mending kita pergi sekarang sebelum gue makin khilaf buat lempar asbak ke muka ganteng tapi nyebelin ini!" Mika menarik lengan Asia dengan kasar agar segera keluar dari ruangan.
"Tapi Mik, gue tadi ke sini mau nanya soal izin pinjem balai desa buat acara perpisahan..." gumam Asia lemas saat diseret keluar.
"Nanti aja! Tanya pas dia nggak lagi kumat setannya!" seru Mika sambil membanting pintu ruangan Alvaro dari luar. BRAK!
Begitu berada di koridor Balai Desa yang sepi, Mika bersandar di tembok, dadanya naik turun karena napas yang tidak teratur. Asia menatapnya dengan penuh simpati.
"Gila ya, Mik. Gue nggak nyangka Pak Alvaro se-kejam itu. Gue kira dia cuma kaku, ternyata beneran Dajjal," ucap Asia sambil mengusap pundak Mika.
"Iya... makanya gue bilang juga apa. Jangan tertipu sama mukanya," jawab Mika lemas. Ia melirik pintu ruangan Alvaro yang tertutup rapat, membayangkan pria di dalam sana pasti sedang menahan tawa atau malah sedang bersumpah serapah.
Sementara itu, di dalam ruangan, Alvaro kembali duduk di kursinya. Ia menyentuh dadanya yang tadi didorong keras oleh Mika. Sebuah senyuman kecil namun sangat tulus muncul di bibirnya.
"Dajjal, ya?" gumam Alvaro pelan. "Pintar sekali dia bersandiwara."
Ia mengambil map laporan Mika yang tadi sempat terjatuh ke lantai. Di dalam map itu, selain kertas laporan, ternyata ada sebuah selipan kertas kecil berwarna kuning yang bertuliskan:
"Maaf ya Al, dorongan tadi bonus buat akting kita. Nanti malem jahe hangatnya double, ya? Love, Neng Mika."
Alvaro tertawa rendah, suara tawa yang jarang sekali terdengar di kantor Balai Desa yang kaku itu. Ia menyadari bahwa menjalani hubungan dengan mahasiswa sekreatif dan seberani Mika adalah tantangan administratif terbesar—dan paling menyenangkan—yang pernah ia hadapi sepanjang kariernya.
Tak lama kemudian, Arga dan Siti datang menyusul ke Balai Desa. Mereka berempat duduk di teras samping untuk merencanakan acara perpisahan KKN yang tinggal menghitung hari.
"Mika, kok mata lo merah? Abis nangis lo dimarahin Pak Kades?" tanya Siti curiga.
"Bukan nangis, Siti... ini mata gue iritasi gara-gara liat muka orang sombong kelamaan," jawab Mika cepat sambil membuka laptopnya.
Arga yang biasanya kaku, hanya menatap Mika dengan pandangan datar. "Gue liat tadi Pak Kades keluar ruangan buat ambil kopi di kantin, dia senyum-senyum sendiri. Aneh nggak sih?"
Mika nyaris tersedak air liurnya sendiri. "Hah? Senyum? Mungkin dia lagi dapet hidayah kali, Ga. Udah, mending kita bahas rundown acara perpisahan aja!"
Mika berusaha fokus pada layar laptop, namun bayangan wajah Alvaro yang tinggal beberapa milimeter dari wajahnya tadi terus menari-nari di benaknya.