Di dunia di mana silat menentukan nasib alam semesta, Yuda adalah anak biasa dari pinggiran dunia fana tanpa sadar terseret ke konflik besar yang melibatkan klan kuno, kerajaan, hingga Alam Dewa.
Di balik kekacauan itu tersembunyi konspirasi Iblis Dewa yang ingin memicu perang demi merebut tahta langit.
Dalam perjalanan penuh pertarungan, tawa, dan kehilangan, Yuda ditemani sekutu tak terduga, termasuk siluman kucing putih kecil bernama Tara yang menyimpan kekuatan mengguncang langit.
Inilah kisah manusia biasa yang melangkah menuju puncak yang bahkan para dewa takuti.
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 - Sesuatu Mulai Terbuka dalam Tubuh Yuda
Hari-hari di lembah tersembunyi tidak terasa berlalu dengan begitu cepat.
Tidak ada penanda waktu yang jelas selain rasa sakit yang datang dan pergi. Bagi Yuda, pagi hari berarti tubuh yang kaku dan otot yang berteriak. Malam hari berarti kelelahan yang menekan sampai ke setiap tulangnya, hingga membuat tidurnya terasa seperti pingsan singkat.
Sedangkan untuk pelatihannya berlanjut terus tanpa ada jeda.
Guruh tidak pernah menjelaskan tujuan latihan ini secara utuh. Ia hanya memberi perintah pendek, kadang terdengar sepele, namun selalu berujung pada batas fisik Yuda yang terlampaui.
“Berdiri.”
“Tarik napas.”
“Jangan lawan.”
Begitulah setiap kalimat perintah terakhir yang selalu terdengar paling menyakitkan.
Saat ini, Yuda terlihat sudah berdiri di tengah lapangan batu sejak fajar.
Kaki telanjangnya menapak permukaan dingin tanah bercampur bebatuan kecil yang kasar.
Angin lembah selalu terasa berhembus pelan, membawa arus tenaga alam yang tidak beraturan. Guruh berdiri beberapa langkah di depannya, dengan tongkat kayu sederhana di tangannya, namun tekanan yang keluar dari tubuh pria tua itu selalu terasa jauh lebih berat daripada senjata apa pun.
“Hmm.. Tubuhmu itu masih saja mencoba untuk menolak,” kata Guruh pelan.
“Tapi aku tidak merasa untuk menolaknya,” jawab Yuda sambil menahan gemetar di lututnya.
“Itu karena kau tidak mengenali perlawananmu dari tubuhmu sendiri.” jawab Guruh kembali sembari menatap Yuda dengan sedikit tajam.
Beberapa saat kemudian tekanan udara di sekitarnya seketika meningkat.
Bukan seperti tekanan dari sebuah pukulan, melainkan seperti seluruh udara di sekitar Yuda dipadatkan, sehingga membuat dadanya terasa sesak, membuat napasnya juga menjadi pendek, dan pandangannya bergetar.
Di sisi lain, Tara mengawasinya dari tepi lapangan dengan tatapan yang tenang namun juga penuh tekanan.
“Jika dia mati, siapa yang akan kau salahkan pria tua?” serunya kesal.
Mendengar ada suara dari arah kejauhan, Guruh tidak menoleh dan hanya mengabaikannya saja.
Namun beberapa detik setelahnya ia berkata.
“Hmmm.. Jika dia mati, maka berarti tubuhnya tidak seistimewa yang kita kira.” gumamnya lirih namun telinga Tara mampu untuk mendengarnya.
Yuda yang juga mendengarkan pekataan Guruh itu hanya mampu menggertakkan giginya dengan keras.
Di saat itu juga, Ia tiba-tiba merasakan sesuatu di dalam tubuhnya mulai bergerak.
Ini bukanlah tenaga dalam yang ia kenal.
Lebih seperti ruang kosong yang terbuka, dan menyedot tekanan udara yang sebelumnya menindihnya sedikit demi sedikit.
Ada sebuah retakan muncul perlahan di dalam tubuhnya, dari segaris tipis hingga perlahan membesar.
Dan tanpa sadar, tekanan Guruh berkurang secara perlahan.
Melihat ada yang aneh dari pemuda di hadapannya, pria tua itu pun mengernyitkan alisnya.
“Menarik,” gumamnya dengan sebuah senyuman tipis.
Pada akhirnya pelatihan siang itu diisi dengan sebuah pertarungan.
Bukan melawan Guruh, melainkan melawan sesama rekrutan seperti dirinya.
Yuda baru menyadari bahwa ia tidak sendirian di tempat ini. Ada tujuh orang lain, dengan usia dan latar yang berbeda.
Sebagian membawa aura klan, sebagian jelas berasal dari dunia gelap.
Namun tatapan mereka semua tidak ada yang ramah sama sekali.
Terutama dari seorang pemuda tinggi dengan rambut diikat ke belakang.
Namanya adalah Sagara.
“Jadi ini bocah arena itu, hmmm.. Tidak ada yang terlihat istimewa.” ucapnya sambil menyeringai.
Mendengar itu, Yuda tidak membalasnya sama sekali, ia hanya mengabaikannya saja.
Sedangkan Guruh malah menunjuk mereka berdua.
“Kalian berdua, bertarung lah.” perintah Guruh dengan tegas.
Tanpa sebuah aturan tambahan, yang terpenting tidak saling membunuh saja.
Sagara dan Yuda saat ini sudah saling berhadapan dan bersiap.
Sagara mulai bergerak lebih dulu.
Langkahnya ringan, dan tekniknya terlihat rapi. Jelas ia telah berlatih lama di bawah bimbingan klan besar.
Bahkan pukulannya selalu terarah penuh perhitungan, yang bertujuan hanya untuk melumpuhkan, bukan untuk menghabisi.
Sedangkan Yuda hanya bertahan dari setiap serangan lawannya.
Ia mundur, menangkis, jatuh, lalu bangkit lagi.
Setiap benturan membuat tubuhnya menjerit, namun retakan dari ruang kosong di dalam tubuhnya kembali memberikan reaksi perlahan mulai terbuka dan menyerap sebagian dampak yang mengenai Yuda.
Sagara yang melihat ada yang aneh dsri lawannya terlihat mengernyitkan alisnya.
“Kenapa kau tidak tumbang?” ucap Sagara dengan penasaran.
Menurutnya setiap serangannya selalu tepat sasaran, dan ia juga menggunakan tenaga dalamnya di setiap serangan, itupun tidak sedikit, melainkan hampir sepenuhnya ia mengeluarkan tenaga dalamnya.
Yuda hanya terdiam dan tidak menjawabnya, karena bahkan ia sendiri pun juga tidak tahu apa jawabannya.
Seketika sebuah pukulan pun mengenai rahang Yuda.
Tubuhnya terlihat langsung terhuyung ingin terjatuh.
Namun saat kakinya hampir terangkat dari tanah, tenaga asing dalam tubuhnya itu kembali muncul, menariknya dengan cepat hingga membuatnya tetap berdiri.
Akhirnya Yuda pun membalas menyerang.
Serangannya tidak ada yang terlihat rapi dan indah, namun terlihat penuh tekad dengan tatapan yang tegas.
Gerakannya terlihat sangat acak.
Sikutnya menghantam dada lawan, lutut menyusul mengenai perut, hingga akhirnya membuat Sagara terpental mundur beberapa langkah kebelakang.
Dan pada saat itu juga di lapangan batu tempat mereka bertarung, kini terlihat ada retakan di bawah kakinya.
Melihat kejadian itu, akhirnya menimbulkan sebuah keributan kecil yang seketika pecah di antara para rekrutan lain.
“Cukup,” kata Guruh setelah melihat hasil pertarungan Yuda dan Sagara.
Ia melangkah ke tengah dengan pelan lalu berkata.
“Tidak ada yang menang hari ini, tapi tubuh kalian sudah mulai menunjukkan wujud aslinya.” ucapnya lagi dengan menatap Yuda dan Sagara secara bergantian dan akhirnya berhenti pada Yuda.
Tatapan Guruh tertuju pada Yuda cukup lama.
“Sesuatu yang asing di dalam tubuhmu sudah mulai terlihat, tapi itu berbahaya.” ucapnya dengan serius.
“Berbahaya untukku sendiri?” tanya Yuda yang masih terengah lelah.
“Bukan bocah, tapi untuk semua orang,” jawab Guruh datar.
Dan siang pun terlihat sudah berlalu.
Di malam harinya, Yuda duduk sendirian di pinggir lembah.
Lengannya terasa bergetar halus, bukan karena cuacanya yang dingin, namun karena sisa energi yang belum tenang.
Di saat itu juga, terlihat Tara berjalan mendekat dan duduk di sampingnya.
“Kau mulai berubah, bocah bebal” kata Tara menggoda.
“Haihh.. Itu perasaanmu saja kucing jelek, aku sendiri tidak merasa berubah,” jawab Yuda dengan datar.
“Hmmm, maksudku adalah jalanmu yang sudah mulai berubah, dasar bocah bebal," jawab Tara dengan dengusan kecil.
Di sisi lain dari kejauhan, Ragha terlihat mengamatinya dari balik bayangan batu.
Ia hanya mencatat dan akan selalu mengingat dalam pikirannya satu hal penting.
'Ada sebuah retakan yang sudah muncul dari dalam tubuh Yuda-.
Entah apa yang di rencanakan oleh Ragha dengan mengawasi setiap perubahan pada diri Yuda.
Ia kembali menatap datar sesaat, setelah itu tubuhnya mulai berjalan menghilang dalam kegelapan malam.
......................