Chunxia tak pernah merasakan kehangatan keluarga sejak kecil. Kematian semua anggota keluarga mengubah hidupnya. Kini, ia hidup hanya untuk balas dendam. Ia berlatih dan berlatih hingga dewasa. Chunxia kecil mengubah namanya menjadi Zhen Yi, bahkan, ia rela bekerja di rumah bordir demi memuluskan rencananya.
Hingga saat ia menjadi Selir seorang Raja yang dikenal kejam dan tak punya rasa belas kasih. Ia harus berpura-pura menjadi wanita yang lemah lembut dan penurut, namun yang tak mereka sadari Zhen Yi memiliki rencana yang besar. Demi sebuah ambisi yang besar ia rela memanipulasi orang-orang yang begitu tulus padanya.
Putra Mahkota yang terpikat dengan kecantikannya bahkan sampai rela merebutnya dari sang Kaisar. Akhirnya perlahan kokohnya kerajaan goyah.
Mampukah Zhen Yi melancarkan aksi balas dendamnya? Atau justru, ia akan terjebak dalam permainan balas dendamnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. AMSALIR
Dali hampir saja memekik, namun sosok pria itu segera meletakkan jari telunjuk di depan bibir, memberi isyarat agar ia tetap diam. Pria itu adalah sang Kaisar. Dengan lambaian tangan yang tegas, beliau memerintahkan Dali untuk segera keluar tanpa suara.
Dali membungkuk dalam, lalu beranjak pergi, meninggalkan Zhen Yi yang seolah tak menyadari kehadirannya.
Dengan langkah perlahan dan tanpa suara, Kaisar mendekati Zhen Yi yang masih duduk terpaku di depan cermin. Ia menatap pantulan wajah cantik itu dari balik kaca, lalu mengulurkan tangan besarnya untuk mengelus pundak mulus Zhen Yi yang hanya terbalut sutra tipis.
Zhen Yi tersentak kecil. Kaisar kemudian membungkuk, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Zhen Yi dan mengendus aroma tubuhnya dengan napas yang memburu penuh nafsu.
"Harum sekali ..." bisik Kaisar dengan suara berat, sementara tangannya mulai meraba lengan Zhen Yi.
Zhen Yi memejamkan mata, menyembunyikan kilat kebencian yang berkilat di balik kelopaknya. Ia mengatur napasnya agar terdengar seperti wanita yang tengah dilanda kegugupan yang manis. "K-Kaisar? Hamba tidak mengira Yang Mulia akan datang selarut ini."
Kaisar terkekeh rendah. "Bagaimana mungkin aku bisa tertidur tenang, sementara bunga tercantik di kerajaanku baru saja mekar di paviliun ini?"
Kaisar perlahan memutar tubuh Zhen Yi hingga mereka kini berhadapan. Tangan besar itu kini bergerak gemetar, menyingkap jubah sutra tipis Zhen Yi hingga kain itu luruh ke lantai, menyisakan selembar kemben yang melilit erat dadanya. Sepasang mata Kaisar membelalak, terpana melihat kulit seputih pualam dan lekuk tubuh yang begitu molek di hadapannya.
Seolah kehilangan akal sehatnya, Kaisar segera membenamkan wajahnya di antara gundukan indah itu, menghirup aroma yang memabukkan.
Zhen Yi memejamkan mata, membiarkan jemarinya meremas bahu Kaisar. Ia melepas sebuah desahan lembut yang sengaja ia atur, seketika membakar gairah sang Kaisar hingga ke puncaknya.
Saat Kaisar mendongak dengan napas memburu dan meraih tengkuknya untuk mengecap bibir ranum itu, Zhen Yi dengan gerakan gemulai mendaratkan satu jari telunjuknya di bibir sang Kaisar. Ia menatap pria itu dengan tatapan sayu.
"Tunggu, Yang Mulia," ucapnya memelas.
"Hamba hanyalah orang asing yang tak punya sandaran. Hamba sangat takut ... bagaimana jika keberadaan hamba hanya akan memicu amarah Permaisuri dan kebencian para selir? Hamba takut tinggal di dalam istana ini."
Melihat itu, ego dan harga diri sang Kaisar terusik. Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milik yang paling ia damba. Dengan wajah yang mengeras penuh otoritas, Kaisar berdiri tegak dan berteriak ke arah pintu.
"Kasim Bao!"
Pintu segera terbuka sedikit, memperlihatkan Kasim Bao yang menunduk dalam di ambang pintu.
"Siapkan maklumat sekarang juga! Umumkan ke seluruh istana bahwa Zhen Yi diangkat menjadi Selir Mulia mulai detik ini. Persiapkan pesta pernikahan besar-besaran esok hari. Aku ingin seluruh rakyat tahu bahwa ia adalah wanita kesayanganku!" perintah Kaisar dengan suara menggelegar.
Zhen Yi kembali menyembunyikan wajahnya di dada Kaisar. Di balik pelukan itu, ia tersenyum dingin. Mahkota yang ia incar kini sudah di depan mata.
Kematian seluruh anggota keluarganya disebabkan oleh pria yang kini ada di pelukannya. Dengan susah payah ia mencoba menahan semua gejolak amarahnya.
Jika bukan karena ia ingin menghancurkan seluruh anggota kerajaan, ia tak akan mungkin mau melayani si tua bangka itu. Kini ia hanya bisa bersabar menunggu waktu yang tepat untuk melenyapkannya.
"Hamba akan memberikan seluruh hidup hamba untuk Yang Mulia," ucapnya manja.
Kaisar tak lagi mampu membendung gejolak di dalam dirinya. Hasratnya telah mencapai puncak. Dengan sekali gerakan tangkas, ia membopong tubuh ramping Zhen Yi menuju ranjang berkelambu sutra.
Ia membaringkan Zhen Yi dengan perlahan, lalu menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tatapan sang penguasa tampak begitu haus, seolah ingin melumat habis setiap jengkal keindahan yang terhampar di hadapannya.
Namun, tepat saat ia hendak menjamah dan menuntaskan dahaganya, suara melengking Kasim Bao dari balik pintu seketika memecah suasana.
"Ampun, Yang Mulia Kaisar! Hamba lancang mengganggu," seru Kasim Bao dengan nada gemetar.
Kaisar tersentak. Amarah seketika menyambar wajahnya yang semula penuh nafsu. Ia menoleh ke arah pintu dengan geraman rendah yang mengerikan.
"Berani sekali kau mengganggu aku, Bao! Jika alasanmu tidak cukup penting untuk nyawamu, maka kepalamu akan lepas dari pundakmu malam ini juga!"
Di bawah cahaya lilin yang temaram, Zhen Yi menarik sedikit kain jubahnya untuk menutupi bahu, sembari memasang wajah bingung.
"Ma ... maafkan hamba Yang Mulia. Namun, Putra Mahkota ingin menemui anda malam ini juga. Ini mengenai rencana perluasan kekuasaan Anda di dataran Utara."
Kaisar tak menunggu lama, ia meraih jubahnya dan bangkit dari ranjang. "Akhirnya dia datang juga."
Sebelum pergi, ia membelai lembut wajah Zhen Yi. "Tunggulah di sini. Aku akan kembali untukmu."
Kaisar dengan langkah lebar segera meninggalkan ruangan itu.
Zhen Yi bangkit. Ia menutup tubuhnya dengan selimut sutra yang halus.
"Ini pasti trikmu kan, Pangeran?" senyum tipis tersungging di bibir merahnya.
takutnya kacau nnti
mancing sesuatu yaaa
gass aja balas dendam nya💪💪💪
sorry ya keskip bab 3, karna iklan nya tuh😭 maaf aja dah lama ga baca di novel 🙂↕️🙏