NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Vila itu

Perjalanan dengan taksi online malam itu terasa lebih panjang dari biasanya. Kepalaku masih pusing, pandanganku buram, tapi jantungku berdetak lebih cepat dari dentuman musik di club tadi. Aku memandangi layar ponsel, memastikan pesan terakhir dari Yeye: “Aku tunggu di depan villa.”

Taksi berhenti di depan sebuah villa besar dengan lampu halaman yang temaram. Di sana, Yeye sudah berdiri menunggu. Aku turun dengan langkah agak goyah, mataku berkunang-kunang.

Dia tersenyum tipis, lalu mendekat. “Kamu baik-baik saja?” tanyanya dengan suara tenang.

Aku hanya mengangguk, lalu jujur berkata, “Aku sedikit mabuk.”

Dia menatapku sebentar, lalu menjawab, “Tidak apa-apa. Yang penting kamu sudah sampai dengan selamat.”

Untuk pertama kalinya aku melihatnya nyata, bukan dari foto. Wajahnya memang tidak terlalu tampan, tapi tubuhnya—tinggi, besar, dengan kulit hitam pekat—memberikan kesan berbeda. Saat dia mempersilakan aku masuk, aku semakin memperhatikan detail dirinya.

Di dalam villa, dia langsung mengambilkan segelas air putih. Aku tidak bisa menahan pandanganku ketika melihat otot tangannya yang besar, urat-urat yang menonjol di bawah kulitnya, dan celana boxer hitam dipadu dengan kaos ketat hitam yang melekat di tubuhnya. Ahhh, wajah bisa saja biasa, tapi detail tubuhnya itu… membuatku merinding.

Dia menyodorkan gelas itu kepadaku. “Drink,” katanya singkat. Aku cepat-cepat mengambilnya dan meminumnya sampai habis. Dia kemudian duduk di sebelahku. Jarak kami tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat jantungku berdebar. Dalam hati kecilku ada keinginan untuk langsung memeluknya, tapi aku terlalu malu untuk melakukannya.

Dia mulai bertanya beberapa hal padaku. Suaranya dalam, aksen Prancis-nya terdengar kental meski bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus. “How was the club? Did you have fun?” tanyanya.

Aku tersenyum, menjawab dengan ringan, “Ya, sangat happy. Ramai sekali orang di sana. Kenapa kamu tidak ikut?”

Dia mengangkat bahu, “I’m tired.” katanya singkat. Kemudian menambahkan bahwa teman-temannya sebenarnya juga pergi ke club yang sama denganku, tapi mereka belum pulang.

Villa itu besar, dan meski Yeye tinggal bersama teman-temannya, masing-masing memiliki kamar sendiri. Dia sempat menunjuk ke arah jendela, menjelaskan kalau setiap kamar punya pemandangan yang indah. Aku mengangguk, sambil diam-diam mengamati sorot matanya lagi.

Malam itu, mabukku mulai mereda, tapi degup di dadaku justru semakin kencang. Pertemuan pertama ini terasa nyata sekaligus asing—dan entah kenapa, aku semakin ingin tahu lebih banyak tentangnya.

Untuk mencairkan suasana, dia bertanya, “What music do you like?”

Aku menjawab antusias, meski masih agak pusing, “I love Migos, Travis Scott, Quavo, Offset…”

Dia tersenyum, lalu memutar lagu-lagu favoritku. Hiphop memenuhi ruangan, dan entah bagaimana, kami semakin mudah bercanda. Aku lupa apa saja yang kami bicarakan malam itu, mungkin karena setengah sadar, tapi rasanya hangat.

Tidak lama kemudian, pintu terbuka. Beberapa orang masuk—teman-teman Yeye. Ada sekitar lima orang, semuanya berkulit putih dengan wajah tampan. Mereka terlihat seperti orang Arab, sangat berbeda dengan Yeye. Aku sempat berpikir, “Wah, kalau soal wajah mereka jauh lebih menawan dari Yeye.” Tapi kemudian aku ingat, ini bukan soal warna kulit atau ketampanan. Ini soal selera. Dan seleraku jelas berbeda.

Yeye memperkenalkan aku pada mereka. Mereka sangat ramah, bahkan mengajakku berbicara. Salah satu dari mereka bertanya tentang Bali, destinasi terbaik yang bisa mereka kunjungi. Karena aku tinggal di Bali, aku menjawab seadanya dan memberikan beberapa rekomendasi tempat yang aku tahu. Obrolan itu berlangsung ringan, tapi cukup membuatku sadar bahwa malam ini ternyata lebih ramai daripada yang kubayangkan.

Di antara semua wajah baru itu, mataku tetap kembali pada Yeye. Mungkin karena dia yang kutunggu sejak awal, atau mungkin karena caranya memperlakukanku sederhana tapi menenangkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!