di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Sampah di Lembah Berkabut
Angin musim gugur di Puncak Awan Putih selalu membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi Ye Yuan, tatapan merendahkan dari ratusan murid di lapangan latihan terasa jauh lebih membekukan daripada badai salju mana pun.
Pagi itu, Matahari baru saja merangkak naik, menyinari pelataran batu giok putih milik Sekte Pedang Surgawi yang megah. Kabut tipis masih menyelimuti patung pendiri sekte yang menjulang tinggi di tengah alun-alun, seolah-olah patung itu pun enggan melihat kejadian memalukan yang sedang berlangsung di bawah kakinya.
Di tengah panggung ujian yang dikelilingi oleh para tetua dan murid inti, Ye Yuan berdiri mematung. Telapak tangannya menempel pada Batu Pengukur Roh—sebuah artefak hitam setinggi dua meter yang berfungsi mengukur bakat kultivasi seseorang.
Hening.
Biasanya, batu itu akan memancarkan cahaya. Merah untuk bakat rendah, Kuning untuk menengah, Biru untuk jenius, dan Emas untuk mereka yang diberkati surga. Namun, saat Ye Yuan meletakkan tangannya, batu itu tetap hitam pekat. Tidak ada getaran. Tidak ada cahaya. Bahkan tidak ada sedikit pun reaksi energi spiritual (Qi).
"Bakat... Kosong," suara Penatua Penguji terdengar datar, namun gemanya memantul keras di dinding tebing, menghancurkan sisa harga diri Ye Yuan. "Dantian retak, meridian tersumbat. Tidak ada harapan untuk berkultivasi seumur hidup."
Hembusan napas kecewa, disusul gelak tawa, meledak dari kerumunan murid-murid di bawah panggung.
"Lihat itu! Sudah kuduga, si anak pungut itu hanya membuang-buang nasi sekte!"
"Tiga tahun dia di sini sebagai murid percobaan, dan hasilnya nol besar? Bahkan anjing penjaga gerbang pun memiliki sedikit Qi!"
"Hei, Ye Yuan! Lebih baik kau turun gunung dan jadi petani ubi saja!"
Ye Yuan menarik tangannya perlahan. Jari-jarinya gemetar, bukan karena dingin, tapi karena rasa malu dan amarah yang tertahan di dadanya. Wajahnya yang tirus namun tampan tetap datar, meski rahangnya mengeras hingga urat lehernya terlihat. Ia berusia tujuh belas tahun, usia di mana seorang kultivator seharusnya sudah menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat dasar. Namun dia? Dia masih selemah manusia biasa.
Ia membungkuk hormat secara kaku kepada Penatua Penguji, sebuah etika yang dipaksakan, lalu berbalik turun dari panggung. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat, seolah kakinya diikat dengan rantai besi ribuan jin.
"Tunggu," sebuah suara angkuh menghentikan langkahnya.
Dari barisan murid inti, seorang pemuda berjubah sutra biru melangkah maju. Di pinggangnya tergantung pedang dengan sarung bertahta permata. Itu adalah Li Feng, putra seorang tetua dan jenius yang baru saja menembus Ranah Pengumpulan Qi tingkat lima.
Li Feng tersenyum miring, menghalangi jalan Ye Yuan. "Ye Yuan, kau tahu aturannya, bukan? Murid percobaan yang gagal dalam ujian usia tujuh belas tahun harus diusir dari sekte. Tapi... karena ayahku berhati baik, dia menyarankan agar kau tidak langsung diusir."
Ye Yuan mengangkat wajahnya, menatap mata Li Feng yang penuh cemoohan. "Apa maumu, Li Feng?"
"Sekte membutuhkan tenaga kerja untuk membersihkan Lembah Kuburan Senjata," kata Li Feng dengan suara yang sengaja dikeraskan agar semua orang mendengar. "Tempat itu penuh dengan aura pedang liar (Sword Intent) sisa-sisa senjata rusak. Bagi kultivator, aura itu mengganggu. Tapi bagi sampah tanpa Qi sepertimu? Kau tidak akan merasakan apa-apa. Kau bisa menjadi pemulung di sana sampai kau mati karena keracunan besi."
Tawa kembali meledak. Lembah Kuburan Senjata adalah tempat pembuangan akhir bagi pedang-pedang gagal atau rusak milik para murid dan tetua. Tempat itu suram, berbahaya karena longsoran logam, dan dijauhi oleh semua orang. Mengirim seseorang ke sana sama saja dengan membuangnya ke tempat sampah.
Ye Yuan mengepalkan tinjunya hingga kukunya melukai telapak tangan. Darah menetes, tapi rasa sakit fisik itu membantunya tetap sadar. Dia tidak punya tempat untuk pulang. Dia yatim piatu yang dipungut oleh mendiang guru yang kini sudah tiada. Jika dia turun gunung tanpa kemampuan bela diri, dia hanya akan menjadi mangsa bandit atau binatang buas.
"Aku terima," jawab Ye Yuan, suaranya serak.
"Bagus!" Li Feng menepuk bahu Ye Yuan dengan keras, menyalurkan sedikit Qi yang menyengat bahu Ye Yuan seperti jarum panas. Ye Yuan meringis tapi tidak berteriak. "Pergilah, Sampah. Jangan kotori pemandangan di Puncak Awan Putih lagi."
Sore harinya, Ye Yuan sudah menyeret langkahnya menuju bagian belakang gunung, jauh dari paviliun-paviliun indah tempat para murid berlatih. Jalur menuju Lembah Kuburan Senjata dipenuhi semak berduri dan bebatuan tajam. Langit di atas lembah itu selalu tampak kelabu, seolah-olah ribuan pedang yang mati di sana telah menyerap warna matahari.
Sesampainya di bibir lembah, pemandangan di bawah sana membuat napas siapa pun tercekat. Itu bukan lembah biasa. Itu adalah lautan logam. Ribuan, mungkin jutaan pedang menancap di tanah, bertumpuk satu sama lain, atau berserakan seperti tulang belulang raksasa besi. Ada pedang besar, pedang tipis, pedang ganda, tombak, golok—semuanya dalam kondisi cacat. Berkarat, patah, bengkok, atau hancur lebur.
Udara di sini berbau karat dan darah kering. Meskipun Li Feng berkata orang tanpa Qi tidak akan merasakan aura pedang, itu bohong. Begitu Ye Yuan melangkah masuk ke area tumpukan pedang, kulitnya terasa perih, seolah-olah ada ribuan jarum tak kasat mata yang menusuk pori-porinya. Sisa-sisa "kehendak" dari pedang-pedang ini—kemarahan pemilik sebelumnya, kekecewaan karena patah, kesedihan karena dibuang—bercampur menjadi aura kebencian yang pekat.
"Jadi ini tempat peristirahatan terakhirku?" gumam Ye Yuan, menendang sebuah gagang pedang tembaga yang sudah hijau karena lumut.
Dia berjalan lebih dalam, mencari gubuk tua yang konon pernah ditinggali penjaga lembah sebelumnya. Namun, semakin dalam dia berjalan, semakin aneh perasaannya. Rasa perih di kulitnya berubah menjadi sensasi panas di dada.
Dug... Dug...
Jantungnya berdetak kencang, tidak berirama.
Ye Yuan berhenti. Dia memegang dadanya, napasnya memburu. "Apa ini? Racun besi?" pikirnya panik. Tapi rasa sakit ini bukan seperti penyakit. Ini seperti... panggilan.
Sebuah dorongan insting yang kuat menariknya ke arah tebing timur lembah, tempat di mana tumpukan pedang paling tua berada. Di sana, pedang-pedangnya sudah hampir tidak berbentuk, menyatu dengan batu dan tanah menjadi gundukan karat.
Ye Yuan mencoba mengabaikannya, tapi kakinya bergerak sendiri. Dia memanjat tumpukan logam tajam itu, mengabaikan goresan-goresan yang merobek celana dan kulit kakisnya. Darah segar menetes dari betisnya, jatuh ke atas tumpukan pedang tua.
Anehnya, darah itu tidak mengering. Darah itu meresap ke dalam sela-sela tumpukan logam, seolah-olah dihisap oleh sesuatu yang lapar di bawah sana.
"Ada sesuatu di sini," bisik Ye Yuan. Matanya menyisir area di depannya.
Di antara dua bongkahan batu hitam raksasa yang membentuk celah sempit, tertancap sebuah benda.
Itu adalah pedang. Atau lebih tepatnya, bangkai pedang.
Bilahnya berwarna hitam pekat, tidak memantulkan cahaya sedikit pun, seolah menyerapnya. Permukaannya kasar, penuh korosi yang mengerikan. Yang paling menyedihkan adalah kondisinya: pedang itu patah tepat di tengah. Ujungnya hilang entah ke mana, menyisakan bilah sepanjang setengah meter dengan tepian bergerigi kasar yang tumpul. Tidak ada ornamen, tidak ada permata, gagangnya hanya dililit kain lusuh yang sudah membusuk.
Dibandingkan dengan sampah pedang lain di lembah ini, pedang hitam patah ini terlihat paling tidak berharga.
Namun, Ye Yuan tidak bisa memalingkan wajahnya. Dia merasa seolah-olah pedang itu sedang menatapnya balik. Kesedihan yang memancar dari benda itu begitu dalam, melampaui kesedihan Ye Yuan sendiri. Itu adalah kesedihan seorang raja yang dikhianati, seorang dewa yang jatuh dari singgasana.
Tanpa sadar, tangan Ye Yuan terulur.
"Jangan sentuh!"
Sebuah teriakan dalam benaknya membuatnya tersentak, tapi itu bukan suara dari luar. Itu adalah intuisinya sendiri yang berteriak bahaya. Tapi rasa ingin tahunya, dan rasa koneksi aneh itu, terlalu kuat.
Jari-jari Ye Yuan menyentuh gagang pedang itu.
ZING!
Dunia di sekitar Ye Yuan seketika berubah.
Suara angin lembah lenyap. Bau karat menghilang. Langit kelabu di atasnya berubah menjadi merah darah. Dia tidak lagi berada di lembah, melainkan di tengah medan perang yang luasnya tak bertepi.
Mayat raksasa setinggi gunung bergelimpangan di sekitarnya. Makhluk-makhluk bersayap emas jatuh dari langit dengan tubuh terbelah. Lautan api membakar cakrawala. Di tengah kehancuran itu, berdiri satu sosok bayangan hitam yang memegang pedang utuh—pedang yang sama dengan yang dipegang Ye Yuan, namun dalam kondisi sempurna.
Bayangan itu mengangkat pedangnya ke arah langit yang dipenuhi jutaan dewa berbaju zirah emas.
"Langit ingin memperbudakku? Maka aku akan mematahkan Langit!"
Suara itu meledak di kepala Ye Yuan seperti guntur.
Detik berikutnya, visi itu hancur berkeping-keping. Ye Yuan terlempar kembali ke realitas, ke Lembah Kuburan Senjata.
"ARGGHH!" Ye Yuan berteriak kesakitan. Telapak tangannya terasa terbakar hebat. Dia mencoba melepaskan gagang pedang patah itu, tapi tangan kanannya merekat kuat, seolah dagingnya menyatu dengan gagang besi itu.
Pedang patah itu mulai bergetar. Karat-karat di permukaannya rontok perlahan, memperlihatkan logam hitam yang memiliki pola-pola merah samar seperti pembuluh darah. Darah dari luka di tangan Ye Yuan disedot dengan rakus oleh pedang itu.
Dia meminum darahku! batin Ye Yuan panik. Aku akan mati kering!
Tubuh Ye Yuan mengejang. Wajahnya pucat pasi. Dia bisa merasakan energi kehidupannya ditarik keluar. Pandangannya mulai kabur. Apakah ini akhir hidupnya? Mati konyol dimakan oleh sebilah besi rongsokan di tempat sampah?
"Tidak..." desis Ye Yuan. "Aku... tidak mau mati di sini..."
Kebenciannya pada nasib, amarahnya pada Li Feng, dan tekadnya untuk membuktikan diri bangkit. Jika pedang ini ingin memakannya, maka dia harus memakan pedang ini balik!
Alih-alih mencoba melepaskan diri, Ye Yuan melakukan hal gila. Dia mempererat genggamannya. Dia memfokuskan seluruh kemauannya, seluruh jiwa raga yang tersisa, untuk menundukkan benda di tangannya.
"Kau pikir kau siapa?!" teriak Ye Yuan dengan sisa tenaga terakhirnya. "Kau hanya sepotong besi patah! Dan aku adalah tuanmu!"
BOOM!
Ledakan energi tak kasat mata menyapu lembah. Ribuan pedang di sekitar mereka bergetar serentak, menimbulkan suara dengungan logam yang memekakkan telinga, seolah-olah mereka sedang bersujud pada rajanya yang telah bangun dari tidur panjang.
Arus energi panas—bukan Qi biasa, tapi sesuatu yang jauh lebih purba, ganas, dan tajam—mengalir balik dari pedang ke tubuh Ye Yuan. Energi itu menyerbu masuk melalui lengan kanannya, menghantam meridiannya yang tersumbat.
Rasa sakitnya seribu kali lipat lebih parah daripada saat tulangnya patah. Ye Yuan merasa seperti ada magma cair yang dipaksa masuk ke dalam pembuluh darahnya yang sempit.
"AAAAAAARRRGGGHHH!"
Dantian-nya yang retak dan dianggap sampah, dihantam oleh energi hitam itu. Alih-alih hancur, energi itu justru mengisi retakan-retakan tersebut, bertindak seperti lem perekat yang menyatukan kembali kepingan Dantian-nya dengan fondasi yang jauh lebih kokoh dan gelap.
Meridian yang tersumbat? Diterobos paksa! Kotoran-kotoran di dalam tubuhnya didorong keluar melalui pori-pori kulit dalam bentuk cairan hitam berbau busuk.
Proses itu berlangsung selama satu jam penuh yang terasa seperti satu abad penyiksaan neraka.
Ketika semuanya berakhir, Ye Yuan jatuh berlutut, terengah-engah. Keringat dan kotoran menutupi tubuhnya. Namun, matanya... matanya kini berbeda. Ada kilatan tajam di pupil matanya, setajam mata pedang.
Dia melihat ke tangannya. Pedang patah itu kini terlepas dari tumpukan batu. Beratnya luar biasa, mungkin sekitar seratus kilogram, tapi Ye Yuan bisa mengangkatnya dengan satu tangan seolah-olah hanya mengomel kayu.
Meskipun masih terlihat patah dan hitam kusam, Ye Yuan bisa merasakan "detak jantung" samar-samar dari dalam website itu. Sebuah koneksi telah terbentuk. Pedang itu kini menjadi bagian dari jiwa.
Tiba-tiba, serangkaian tulisan kuno melayang di dalam pemikiran, membentuk sebuah manual teknik pemetaan yang belum pernah tersebar di Benua Roh Azure.
[Sutra Hati Pedang Asura - Tingkat Pertama: Tubuh Pedang Baja]
Ye Yuan tertegun. Dia mencoba menggenggam tangan kirinya.Krak!Udara di dalam genggamannya meletup. Tenaga fisiknya... ini bukan tenaga manusia biasa. Tanpa menggunakan Qi pun, kekuatan ototnya telah melonjak drastis.
Dia mencoba mengalirkan energi ke Dantian-nya. Pusaran kecil kini berputar di sana. Bukan berwarna putih jernih seperti menyalakan aliran lurus, tapi berwarna abu-abu gelap dengan kilatan petir ungu.
“Ranah Pengumpulan Qi…Tingkat Tiga?” Ye Yuan pemandangan tak percaya. "Hanya dalam satu jam?"
Butuh waktu tiga tahun bagi murid berbakat biasa untuk mencapai tingkat tiga. Li Feng butuh lima tahun untuk mencapai tingkat lima. Dan Ye Yuan, apakah sampahnya melonjak tiga tingkat dalam satu sakit?
Dia menatap pedang patah di tangannya. Dia mengusap bilah pisau bergerigi itu dengan lembut.
"Kau dibuang karena kau rusak. Aku dibuang karena aku cacat," bisik Ye Yuan, senyum tipis yang dingin terukir di bibir. "Kita adalah pasangan yang cocok."
Dia mengangkat pedang itu setinggi-tingginya, mengarahkannya ke arah Puncak Awan Putih yang terlihat jauh di atas tebing.
“Mereka menyebut kita sampah, kawan,” katanya pada pedang itu. "Mari kita menunjukkan pada mereka... bagaimana rasanya ditebas oleh sampah."
Ye Yuan menyarungkan pedang patah itu di punggungnya menggunakan kain luluh sebagai tali pengikatnya. Dia berdiri tegak, membiarkan angin lembah menerpa wajahnya yang kini bersih dari keraguan. Matahari mulai terbenam, melemparkan bayangan panjang yang tampak seperti raksasa di belakang punggung Ye Yuan.
Perjalanan sang Penakluk Langit baru saja dimulai. Dan langkah pertama akan dipenuhi dengan darah mereka yang pernah menghinanya.
[Bersambung ke Bab 2)