NovelToon NovelToon
The Journey Of Soul Detective

The Journey Of Soul Detective

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Mata Batin
Popularitas:427
Nilai: 5
Nama Author: humairoh anindita

Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.

Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.

Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.

Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KASUS 1 bagian 9

Matahari sudah menghilang ketika mereka keluar dari kafe. Daniel harus kembali karena beberapa urusan keluarga, meninggalkan Andre dan Bima yang kini pergi menuju pusat kota. Mereka perlu tahu apa yang dilewatkan oleh para penyidik, jadi mereka perlu mendatangi salah satu kerabat dari korban. Dari data yang tertulis di kepolisian, anggota keluarga korban adalah pengusaha F&B yang terkenal. Restoran mereka telah memenuhi hampir setiap sudut kota dan berpusat pada sebuah restoran di pusat kota.  Restoran itu adalah tempat yang paling sering didatangi oleh ownernya.

Tidak seperti apa yang mereka bayangkan, tempat yang mereka datangi adalah sebuah restoran kecil yang terletak di dekat balai kota, berseberangan dengan toko alat tulis besar yang dikelola oleh keluarga Daniel. Dari seberang jalan restoran itu tampak mungil, dengan warna kayu dan penerangan yang dibuat tidak terlalu terang membuat tempat itu terlihat seperti cafe klasik bernuansa masa lampau. Sangat mencolok dibandingkan dengan pertokoan lain yang ada di sekitarnya.

Mereka memilih tempat yang tidak mencolok, memesan 2 gelas Americano dan sepotong kue manis. Andre diam-diam kagum pada pamannya yang dapat menghabiskan lebih dari 3 gelas kopi dalam sehari. Apakah itu yang dirasakan oleh orang dewasa? Selalu penuh masalah.

Menurut laporan yang tertulis di kepolisian, korban dan keluarganya tidak terlalu dekat. Bahkan orang yang melaporkan hilangnya korban pun terlihat acuh tak acuh. Dia melaporkan hilangnya korban karena tidak ingin tertuduh jika sesuatu terjadi pada korban. Petugas penyampai pesan pun bilang bahwa tidak ada satu pun keluarga yang mau mengambil jasad korban. Mereka hanya memberikan uang duka pada Rumah Sakit dan memintanya mengurus segala keperluannya. Sayangnya tidak ada satu pun bukti yang memberatkannya keluarga ini, mereka punya alibi dan saksi. Lagipula tempat ditemukannya jasad itu juga bukan tempat yang pernah mereka datangi. Hampir tidak ada kaitan kasus ini dengan keluarganya.

Tidak lama menunggu, suara lonceng pintu terdengar. Seorang wanita cantik masuk dengan langkah elegannya, tampak cocok dengan setelan baju santainya. Itu lah orang yang mereka tunggu. Pemilik toko, Karina namanya. Menurut penuturan seorang pekerja, pemilik hanya akan datang di jam ramai dan akan pulang saat toko tutup. Sungguh seorang pelaku bisnis sejati. Tidak turun tangan langsung namun mengelola keuangannya sendiri.

Andre hanya diam dan tidak peduli. Ia malas dan sangat lelah. Perkemahan akan dimulai di akhir bulan dan ada kasus besar yang tidak ada di list kehidupannya tiba-tiba menyusup tanpa permisi. Itu membuat tenaganya benar-benar terkuras. Diam-diam ia berharap perkemahan tidak jadi di langsungkan.

“Apa lagi kali ini?” tanya pemilik toko itu sinis, ia memandang Andre dengan tatapan tidak suka “melibatkan siswa SMA untuk menangani kasus, apakah pihak kepolisian sudah sehancur itu pak?” sambungnya.

Bima tidak suka mendengar kalimat itu, tapi itu memang kenyataan. Jika anak-anak SMA ini tidak menghubunginya untuk mengungkap suatu kasus, mungkin sampai saat ini korban masih terpendam di dalam tanah.

“Dia keponakan saya, orang tuanya sedang sibuk jadi saya menjemputnya dulu sebelum kesini” jelas Om Andre.

“Apakah ini sejenis nepotisme pekerjaan?” tanya Karina masih dengan kesinisan yang sama.

“Sepertinya institusi kami terlalu buruk di mata anda, Nona Karina” sahut Om Andre.

“Bukankah itu kenyataan? Aku terlalu malas dengan orang-orang yang haus harta, memakan gaji buta, dan tidak mengerjakan apa pun. Ada begitu banyak kasus yang kalian abaikan akhir-akhir ini, mengapa kalian begitu bersemangat untuk menangani kasus ini? Siapa yang menbayar kalian?” ucap Karina masih dengan nada kesannya.

Andre diam-diam menyeringai kecil. Tidak banyak orang yang dapat mengungkapkan kebencian di hadapan musuhnya langsung. Siapa yang menduga wanita kecil ini dapat melakukannya?

“Nona, kami berusaha membantu” bantah Bima lagi.

“Membantu apa? Anak buahmu menuduh keluargaku membunuh anak tidak tahu diri itu, membuat keributan di tempat kerja kami yang membuat beberapa kariyawan kami ketakutan dan pelanggan kami kabur. Apa yang kalian sebut bantuan adalah menambah keributan? Kami tidak membutuhkannya” ucap Karina, nadanya meninggi.

Bima dan Andre terkejut, tidak menyangka dengan ledakan amarah yang tiba-tiba.

“Apa maksudmu?” tanya Bima.

Karina sangat kesal, dia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja kasir. Ia tampak mengambil sesuatu dari tasnya, membuka loker dengan kasar dan menutupnya dengan bantingan keras. Ia mengabaikan kariyawannya yang terkejut, atau beberapa anak magang yang mulai menempel ke tembok tanda ketakutan. Ini bukan sifat owner mereka, jadi wajar jika mereka tidak terbiasa.

Dia kembali ke tempat mereka dengan wajah yang benar-benar masam, sebuah laptop dan flashdisk ada di tangannya. Bukan laptop jenis baru yang terlihat mahal, laptop itu tampak sangat tua namun terawat dengan baik. Stiker bunga vintage tampak memenuhi hampir setiap sudut laptop itu, meninggalkan kesan kenangan tempo dulu.

“Aku tidak ingin menjelaskan lihat saja sendiri” ucapnya sambil meletakkan laptopnya di hadapan Bima dan Andre.

Dia memutar video rekaman CCTV yang direkam siang ini. Itu adalah tempat yang sama dengan yang mereka duduki saat ini. Secara refleks Andre mencari dimana kamera itu tersembunyi dan tersenyum kecil begitu tahu kamera itu terletak di mata hiasan burung yang terpajang. Wanita ini sungguh licik. Sayangnya kamera itu tidak merekam suara.

Dalam rekaman itu 2 orang berseragam polisi itu masuk dengan angkuh dan tampak berteriak dari pintu masuk, terlihat dari beberapa pengunjung yang menoleh sinis dan seorang kariyawan yang terburu-buru mengambil telepon. Mereka mendekati meja bar, memesan sesuatu lalu duduk. Beberapa menit kemudian pesanan mereka datang bersama seorang kariyawan yang tampak senior memberitahu mereka sesuatu.

“Aku tidak dapat datang segera karena rapat penting dengan beberapa donatur, jadi aku meminta staffku mengatakan bahwa aku akan menemui mereka di jam makan siang, dan kalian harus tau apa yang mereka katakan” ucap Karina. Dia mengambil sebuah alat perekam kecil dan menyambungkan nya pada speaker kecil yang ia bawa.

“Alah menyampaikan pesan pada pembunuh saja repot, ya sudah kita kembali nanti”

Andre terdiam dan Bima lebih tidak percaya. Bagaimana mungkin ada penyidik yang bersifat seperti itu? Tidak mengatakan sepatah kata pun mereka kembali melihat rekaman yang menunjukkan polisi itu makan dengan tenang dan keluar tanpa membayar. Lalu rekaman itu selesai.

“Kami berusaha menjaga staff kami dari intimidasi pelanggan dan mengurangi resiko kesalahan kerja, jadi kami memasang alat perekam dan pelacak di setiap id card mereka. Dari situ lah kami tahu apa yang mereka katakan. Bukan hanya tidak sopan, mereka juga tidak membayar untuk makanan yang mereka makan” jelas Karina.

Bima menghela nafas berat dan berkata,

“Oke, atas nama kepolisian aku meminta maaf untuk kejadian yang menimpamu. Dan sebagai bentuk tanggung jawab, kami akan membayar doble untuk makanan yang mereka makan. Tapi sebelum itu Nona, izinkan aku bertanya sesuatu. Anda mungkin tidak peduli pada kematian saudara Anda, tapi seorang siswi SMA saat ini tengah berjuang untuk lepas dari genggamannya.”

“Dia sudah mati bagaimana caranya dia menggenggam? Apa dia punya teman yang memeras gadis SMA itu?” tanya Karina sedikit tertarik.

“Arwahnya meminta pertolongan pada siswi itu, dan dia tidak mau pergi. Sudah sejak awal semester siswi itu di rumah sakit diduga karena arwah saudara Anda” jawab Bima merendahkan suaranya. Ia berusaha mengambil hati Karina agar bisa memaksanya untuk bekerjasama.

“Ah, pantas saja kau sangat bersemangat Pak Bima, apa kau percaya pada arwah?” tanya Karina mulai tertarik. Namun sebelum Bima menjawab Andre sudah menyela,

“bisakah ini dipercepat, ibuku menunggu.”

Karina menghela nafas kecil dan Bima tersenyum tidak enak.

“Baiklah mari kita mulai penyelidikan dari awal. Kita akan membicarakan arwah dan teman-temannya setelah ini selesai, aku janji” ucap Bima membujuk.

Andre memutar bola matanya kesal, sementara Karina dengan sedikit enggan setuju.

“Baiklah pertanyaan pertama kami, korban bernama Hana, seperti apa sebenarnya kepribadiannya?” tanya Bima.

“Beban tidak berguna” jawab Karina cepat.

“Apa maksudmu?”

“Apa kau tuli, aku bilang dia beban yang tidak berguna. Baguslah dia mati, jadi kami tidak perlu memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menyingkirkannya” jawab Karina menggebu-gebu. Emosinya kembali setelah nama korban disebutkan.

Andre terdiam dan bibir Bima berkedut pelan. Apa-apaan ini?

“Tolong katakan detailnya” ujar Bima. Satu persatu puzzle ia susun.

“Apa lagi yang harus aku katakan. Hana adalah seorang anak yang terlahir tanpa pernikahan. Dia  yang datang tanpa permisi tiba-tiba ingin menjadi Tuan Putri, oh tentu saja tidak bisa. Yang dia lakukan setelah diakui hanyalah mencari masalah dan menghamburkan uang keluarga kami. Bahkan beberapa bisnis keluarga kami pun harus gulung tikar karena ulahnya” jelas Karina.

“Apakah Anda tidak punya sedikit pun rasa empati untuk kematiannya?”

Karina tidak langsung menjawab, ia kembali mencari sesuatu dalam laptopnya dan menunjukkan rekaman CCTV lainnnya.

“Sebenarnya aku sudah meminta salah satu staff kami untuk menyiapkan video ini untuk keperluan penyidik, tapi karena kami diperlakukan dengan buruk kami memutuskan untuk tidak mengatakan sepatah kata pun” ucap Karina.

Video itu direkam 4 bulan yang lalu. Dalam video jelas memperlihatkan halaman depan kafe ini, seorang gadis yang diduga Hana turun dari sebuah motor yang dikendarai seorang siswa yang masih menggunakan celana OSIS. Gadis itu membuka pintu cafe dengan keras, membuat lonceng diatasnya jatuh. Ia menabrak seorang waiters yang membawa makanan, namun ia tidak meminta maaf ia malah memaki dan menyiramnya dengan segelas jus yang ada di dekatnya. Ia tampak meneriakkan sesuatu sebelum berjalan pergi ke meja kasir, mengambil semua uang yang ada dan pergi begitu saja.

“Tidak ada rekaman suara karena alat perekam itu rusak setelah terkena kuah sup” jelas Karina sebelum Bima bertanya.

“Siapa pemuda itu?”

“Aku tidak tahu, aku tidak peduli. Itu tugas kalian sebagai petugas untuk menyelidiki. Baiklah aku sudah selesai memberi kesaksian dan silahkan keluar, ini jam ramai. Tidak perlu membayar untuk kopi yang kalian pesan, tapi aku akan menagih double yang kau ucapkan sebelum penyelidikan. Tidak perlu membayar hari ini, selesaikan saja kasusnya, aku akan menanti pembicaraan arwah yang kau katakan tadi” ucap Karina sambil membereskan satu per satu alat di meja. Ia tidak peduli pada satu pun protes dan kembali ke meja kasir.

“Om, siswa SMA tadi itu temanku” ucap Andre setelah keluar dari kafe.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!