NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 Biar Aku Saja Yang Ngasih

Hari itu aku datang ke sekolah dengan map biru di tas. Isinya proposal yang kemarin sudah dirapikan. Aku sudah niat dari rumah: hari ini beres. Mau siapa yang ngasih, mau siapa yang jelasin, yang penting kegiatan jalan.

Aku ketemu Rara di koridor depan ruang guru. Dia berdiri sambil ngobrol sama Devi. Ketika lihat aku, dia angkat tangan sedikit.

“Nay.”

Aku nyamperin. “Ini proposalnya.”

“Oh iya.” Dia nerima map itu, dibuka sebentar, lalu ditutup lagi. “Aku mau langsung ke Bu Santi sekalian. Kamu mau ikut?”

Pertanyaan itu sebenernya sederhana. Tapi aku berhenti sebentar sebelum jawab. Bukan karena ragu. Lebih karena otakku lagi mikir hal lain: jadwal latihan sore nanti, absen anggota yang belum lengkap, sama spidol yang kemarin ilang. “Nggak apa-apa,” jawabku akhirnya. “Kamu aja.”

“Oke. Nanti aku kabarin.”

“Iya.”

Dan selesai. Segitu doang. Aku nggak ngerasa aneh. Nggak ngerasa kehilangan apa-apa. Aku bahkan ngerasa lega karena satu tugas selesai dan pindah tangan. Aku jalan ke kelas dengan perasaan ringan, meski badan masih capek.

Di kelas, aku duduk di bangku biasa. Tara nyamperin.

“Proposalnya udah?” tanyanya.

“Udah. Rara yang ngasih.”

“Oh.”

Nada “oh”-nya datar. Bukan heran, bukan kecewa. Cuma respons. Aku ngerjain tugas, dengerin guru, nyatet seadanya. Pikiran sesekali ke proposal, tapi cepat aku tarik lagi. Nggak penting, kataku ke diri sendiri.

Jam istirahat, aku ke kantin. Rara belum keliatan. Devi sama Vella rame ngobrol.

“Kamu nggak ikut ke ruang guru?” tanya Vella.

“Nggak.”

“Rara tadi kelihatan pede banget, loh.”

Aku ketawa kecil. “Ya emang dia pintar.”

Kalimat itu keluar otomatis. Aku bahkan nggak mikir dua kali. Sore harinya, latihan pramuka berjalan seperti biasa. Aku mondar-mandir, ngecek tali, ngecek formasi, ngingetin yang bercanda kebangetan. Faris berdiri di tengah, ngomong keras.

“Nanti kalau proposal udah disetujui, kita langsung gerak ya.”

Aku ngangguk. “Iya.”

Rara berdiri di samping Faris. Sesekali mereka ngobrol pelan. Aku nggak dengar apa yang dibahas. Aku juga nggak kepo.

Latihan selesai. Aku bantu beresin alat. Rara nyamperin aku.

“Nay.”

“Iya?”

“Proposalnya udah aku kasih ke Bu Santi.”

“Oh. Gimana?”

“Katanya nanti dicek dulu. Besok atau lusa dikabarin.”

“Oke.”

Dia senyum. “Makasih ya, Nay.”

Aku balas senyum. “Sama-sama.”

Kalimat itu lagi-lagi terdengar biasa. Tapi entah kenapa, malam itu, pas aku di rumah, kalimat “makasih ya” kepikiran lagi. Aku mandi, makan, rebahan. HP di tangan. Ada notif masuk dari grup pramuka.

Rara: Teman-teman, proposal diklat sudah diserahkan ke Bu Santi. Mohon doanya ya. Beberapa langsung bales.

Devi: Semoga lancar yaa

Vella: Mantap ketua

Anin: Keren Ra

Aku baca satu-satu. Jempolku berhenti di layar. Aku mikir mau ngetik apa. Akhirnya aku cuma kirim emoji jempol. Aku matiin layar. Rebahan lagi. Ngelihatin langit-langit kamar.

Di situ, ada perasaan aneh yang nggak bisa aku jelasin. Bukan marah. Bukan sedih. Lebih kayak… kosong tapi kepikiran.

Aku inget proses ngerjain proposal. Jam-jam malam. Anggaran yang aku hitung ulang. Jadwal yang aku susun biar nggak bentrok. Semua itu ada. Tapi sekarang udah pindah fase. Udah bukan urusanku. Dan aku bilang ke diri sendiri: ya emang gitu.

Besoknya, suasana sekolah biasa. Aku jalan ke ruang pramuka, ngambil buku inventaris. Faris lagi di sana sama Rizal. “Oh, Naya,” kata Rizal. “Proposalnya udah masuk ya?”

“Udah.”

“Yang ngajuin Rara ya?”

“Iya.”

“Oke.” Nada suaranya netral. Tapi kalimat itu nempel di kepala aku lebih lama dari yang seharusnya. Siang hari, aku duduk sama Rara di kelas. Satu meja, dua kepala. Dia buka buku, aku buka buku. Kami nyatet bareng. “Nay,” katanya tiba-tiba.

“Hm?”

“Kamu nggak keberatan kan aku yang ngasih kemarin?” Aku nengok. Wajahnya serius, tapi matanya biasa aja. “Nggak,” jawabku cepat. “Santai.”

“Oh. Soalnya tadi Bu Santi nanya detail, aku jelasin seadanya.”

“Oh.”

“Kalau nanti ada revisi, kita kerjain bareng.”

“Iya.” Dia senyum. Aku balas senyum. Setelah itu, kami lanjut nyatet. Tapi fokusku agak buyar. Kalimat “aku jelasin seadanya” muter di kepala. Bukan karena aku ngerasa dia salah. Tapi karena aku ngerasa… aku sebenernya bisa ada di situ. Tapi aku nggak ada.

Sore hari, aku pulang agak telat. Duduk di motor, aku mikir sendiri. Kenapa dari awal aku nggak ikut aja? Kenapa aku selalu ngerasa cukup kalau kerjaan beres, tanpa mikirin siapa yang kelihatan? Jawabannya selalu sama: karena aku nggak mau ribet.

Tapi malam itu, jawaban itu terasa agak tipis. Aku buka laptop. Bukan buat ngerjain apa-apa. Cuma buka file proposal lagi. Baca ulang. Nama Rara di bagian ketua. Namaku di wakil. Aku nutup laptop lagi. Aku nggak nyesel. Beneran nggak. Aku cuma… mulai sadar, ada pola yang selama ini aku jalanin tanpa mikir.

Beberapa hari kemudian, Bu Santi manggil Rara ke ruangannya. Aku tahu dari Devi. Aku lagi di ruang pramuka waktu itu. “Nay, Rara dipanggil Bu Santi,” kata Devi.

“Oh.”

“Katanya soal proposal.”

“Iya.”

Aku lanjutin nyusun tali. Sore itu, Rara balik dengan wajah lega. “Disetujui,” katanya sambil senyum lebar. “Oh ya?” Aku refleks senyum juga. “Syukur.”

“Nanti detailnya dikabarin.”

“Oke.”

Beberapa orang mulai nyamperin Rara. Nanya ini itu. Aku berdiri agak ke pinggir. Ngerapihin barang. “Naya,” panggil Faris. “Nanti tolong bantu urus konsumsi ya.”

“Iya.”

“Rara, kamu fokus koordinasi aja.”

“Oke.” Aku dengar itu jelas. Nggak ada nada jahat. Nggak ada maksud aneh. Pembagian tugas biasa. Tapi entah kenapa, malam itu, aku capek banget. Capek yang beda dari biasanya. Bukan cuma fisik. Lebih ke capek mikir.

Aku ngerasa kayak roda kecil yang terus muter, tapi jarang diliat. Dan selama ini aku oke-oke aja sama itu. Sampai akhirnya aku mulai sadar: aku juga manusia. Aku juga bisa capek. Dan mungkin, suatu saat, capek itu nggak bisa aku anggap remeh lagi.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!