di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 25
Imron yang baru saja melangkah masuk ke ruang tengah sambil mengalungkan sarung di lehernya, langsung menghentikan langkah. Matanya membulat menatap pemandangan ajaib di depannya: adiknya yang masih bermukena berantakan sedang memegangi tangan Rohman dengan wajah pucat pasi, sementara Rohman berdiri dengan tenang namun berwibawa.
"Lho, Dek, dan Ustadz Rohman... kok pagi-pagi sudah ribut begini?" tanya Imron bingung. Suaranya masih agak serak khas orang baru pulang dari Masjid Jamik.
Melihat ada secercah harapan, Rina langsung melepaskan tangan Rohman dan berpindah haluan. Ia berlari ke arah Imron dan bersembunyi di balik tubuh kakaknya yang lebih besar itu.
"Cak Imron! Tolong adek, Cak! Mas Rohman... Mas Rohman mau perkosa aku!" teriak Rina lantang, tidak peduli suaranya terdengar sampai ke tetangga sebelah.
Mendengar kata "perkosa", Imron nyaris tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh ke arah Rohman dengan tatapan tidak percaya, lalu kembali menatap adiknya yang tampak sangat ketakutan—atau lebih tepatnya, sangat malu yang dibuat-buat.
"Astagfirullah, Dek! Itu suami kamu! Kok main... gimana tadi?" Imron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Lagian, bahasa lo 'perkosa' banget. Lo kan sudah sah kemarin sore, Dek. Sudah nggak ada istilah perkosa kalau sudah ada surat nikahnya!"
Rohman hanya bisa menghela napas panjang, mencoba mempertahankan kesabarannya yang setebal kamus bahasa Arab itu. Ia mengangguk sopan ke arah Imron.
"Maaf, Mas Imron. Sepertinya adikmu ini sedang kebingungan antara rasa takut dan rasa bersalah karena sudah menjahili suaminya semalaman," ujar Rohman dengan nada tenang namun mengandung sindiran halus untuk Rina.
Imron menatap Rina dengan pandangan menyelidik. "Oalah... gue tahu nih. Pasti lo kan yang mulai petakilan duluan? Terus sekarang pas Ustadz Rohman mau nagih, lo malah ciut?"
"Ih, bukan gitu, Cak! Mas Rohman tuh... tatapannya serem banget, kayak mau nelan adek bulat-bulat!" bela Rina sambil menarik-narik baju batik Imron.
Imron justru tertawa terpingkal-pingkal. "Ya bagus dong! Berarti Ustadz Rohman normal. Daripada lo didiemin, entar lo malah nangis-nangis curhat ke gue bilang 'Cak, kok suami gue cuek banget'. Sudah sana! Hus... hus! Balik ke kamar. Gue mau tidur lagi, jangan ganggu markas pertahanan gue!"
Imron dengan tega mendorong bahu Rina pelan ke arah Rohman. Rohman dengan sigap menangkap lengan Rina sebelum gadis itu sempat kabur lagi.
"Terima kasih, Mas Imron. Saya bawa 'singa kecil' ini kembali ke kandangnya," ucap Rohman sambil memberikan senyum penuh kemenangan kepada Rina.
"Ayah pengkhianat, Bunda tega, Cak Imron jahat! Semua laki-laki sama saja!" teriak Rina frustrasi saat Rohman mulai membimbingnya—lebih tepatnya menyeretnya dengan lembut—kembali menuju kamar mereka.
Begitu sampai di depan pintu kamar, Rohman berhenti sejenak. Ia menatap Rina yang masih cemberut dengan bibir maju lima senti.
"Sekarang, tidak ada lagi tempat sembunyi, Rina," bisik Rohman tepat di samping telinga istrinya. Ia membuka pintu kamar, lalu setelah mereka masuk, ia menutupnya dengan bunyi ceklek yang sangat tegas.
Rina langsung mundur hingga punggungnya menempel di pintu. "Mas... tadi katanya mau tidur saja karena masih Subuh..."
Rohman melepaskan pecinya, lalu mulai membuka baju kokonya perlahan, memperlihatkan kaos singlet putih yang membungkus tubuh atletisnya. "Itu rencana tadi sebelum kamu membohongi Mas soal 'dua hari haid'. Sekarang, hukumannya sudah resmi dimulai."
Rina menelan ludah. Kali ini, ia benar-benar tahu bahwa "Ustadz Arab" kesayangannya ini tidak sedang bercanda.