NovelToon NovelToon
Takdir Cinta Aurora

Takdir Cinta Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Karang Biru Samudera

Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rood To Camping

Hari libur memang waktu sejuta umat untuk sepuasnya tidur dan bermalas-malasan. Tak ada kegiatan yang melelahkan apalagi tugas kuliah yang membebani pikiran. Sungguh, sesuatu yang harus dimanfaatkan untuk bersenang-senang.

Dengan rasa malas, Aurora membuka mata yang terpejam karena rasa lapar tak lagi bisa di tahan. Duduk sebentar mengumpulkan nyawa yang berterbangan, Aurora menyingkap selimutnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk sekedar membasuh muka.

Sementara itu, di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda seorang pria muda terlihat tengah serius berkutat dengan bahan-bahan masakan di depannya ditemani kompor yang menyala.

Keterampilannya dalam menggunakan alat-alat dapur benar-benar tak bisa dianggap sebelah mata. Di lihat dari bagaimana dia begitu cekatan memotong dan ahli dalam menu yang akan di buatnya.

"Wihh.... Tumben nih anak Mama pagi-pagi udah sibuk di dapur. Masak lagi. Buat siapa nih?" Ucap seseorang dengan senyum menggoda yang baru saja datang.

"Hari ini kan weekend, aku mau pergi sama temen-temen ya Ma?" Ucap Luca melirik kecil sang ibu meminta izin. Sama sekali tak menanggapi godaan Agnes yang memang sangat suka bercanda. Fokus karena dirinya yang tengah memotong-motong bawang.

"Kemana?" Tanya Ny. Agnes penasaran sekaligus duduk di salah satu kursi pantry.

"Camping."

"Nginep?"

"Iya, cuma satu malem aja. Besoknya langsung balik." Beritahu Luca mencuci tangannya sebentar di wastafel lalu memasukkan potongan bawang ke dalam wajan dan menumisnya.

"Sama temen-temen kamu yang biasa atau apa ada tambahan lagi?"

"Rencananya sih mau ngajakin Aurora sama temen-temennya."

"Ohh.... Pdkt nih ye ceritanya?"

Kali ini Luca terlihat tersipu malu dengan semburat merah di pipi yang coba dia sembunyikan. Rupanya, sang ibu menangkap jelas gelagat berlebihan yang selalu Luca tunjukkan jika berkaitan dengan Aurora. Tapi anehnya, Luca selalu berhasil menyembunyikan itu jika di depan Aurora ataupun yang lainnya. Seolah tak memiliki rasa apa-apa.

Tak hanya satu masakan yang Luca buat, melainkan ada beberapa yang lain. Seperti spaghetti yang tengah Luca buat sekarang adalah salah satunya.

"Enak gak Ma?" Tanya Luca memberikan sedikit hasil masakannya untuk di cicipi sang ibu. Secara tidak langsung mengalihkan pembicaraan itu dari sang ibu.

"Enak kok. Pas. Anak Mama pokoknya hebat deh kalo udah urusan beginian." Puji Agnes bangga dengan hasil masakan sang anak.

"Beneran? Gak kurang apa gitu?"

"Kalo Mama gak. Tapi kan kamu yang masak, menurut kamu gimana?"

"Kurang garem dikit."

"Jangan asin-asin, emang kamu udah pengen nikah?"

"Kok gitu? Apa hubungannya coba?" Tanya Luca mematikan kompornya lalu menata wadah yang sudah dia siapkan di atas meja.

"Kata orang dulu kalo masak keasinan itu tandanya pengen nikah."

Terkekeh dan menggelengkan kepala Luca tak lagi menyahuti ucapan sang ibu karena dia yang tengah menata spaghetti ke dalam wadah agar tidak tumpah. Sebagai seorang anak yang baik, Luca juga tak lupa memberikan sepiring spaghetti untuk sang ibu.

"Jadi, ini ceritanya mau di bawa buat bekal camping gitu?" Tanya Ny. Agnes seraya menikmati masakan sang anak.

"Iya."

"Berangkat jam berapa?"

"Habis ini kalo udah selesai semua."

Lanjut ke menu kedua, Luca menuangkan minyak ke dalam wajan lalu menyalakan nya. Sementara menunggu, dia menyiapkan beberapa wadah berisi tepung dan kocokan telur serta ayam yang sudah dia marinasi dari dalam kulkas dan membalurinya dengan tepung serta telur lalu menggoreng nya.

"Yang penting kalo bawa anak orang terutama cewek, jangan lupa di jagain. Harus tanggungjawab." Ucap Ny. Agnes berpesan. Menegaskan kalimat terakhirnya agar sang anak selalu mengingatnya.

"Iya Mamaku sayang yang cantik. Pesennya selalu diinget kok. Gak bakalan lupa." Tersenyum gemas, Luca mencubit kedua pipi sang ibu dengan kasih sayang.

Ny. Agnes memang tak pernah melarang sang anak untuk melakukan kegiatannya atau pergi kemana. Tapi, Agnes juga tak lupa memberikan pesannya dan nasehat sebagai orang tua untuk anaknya.

"Bagus kalo gitu."

Tak lagi melanjutkan, Agnes memilih menikmati makanannya dan membiarkan sang anak fokus dengan masakannya.

***

Karena weekend, jadi tak ada rutinitas pagi seperti hari-hari biasanya. Termasuk sarapan bersama. Semua santai dengan kegiatan masing-masing. Entah itu berolahraga, menonton TV, membaca majalah, atau lain sebagainya.

Ny. Airin salah satunya, dengan ditemani secangkir teh di atas meja, dia terlihat asyik membaca majalah yang tersedia.

"Pagi Ma." Sapa Aurora saat menuruni tangga.

"Pagi sayang." Balas Ny. Airin tersenyum seraya melepas majalahnya dari genggaman dan meletakkannya di atas meja.

"Kok santai?" Tanya Ny. Airin sesaat setelah Aurora mengambil duduk di sebelahnya.

"Kan weekend."

"Katanya mau pergi? Gak jadi."

"Pergi? Siapa?" Tanya Aurora yang justru kebingungan.

"Kamu."

"Gak kok. Aku gak ada rencana pergi kemanapun hari ini."

"Loh, tadi Luca telfon Mama. Dia minta izin sama Mama Papa. Katanya, dia mau ajakin kamu pergi camping sama temen-temen yang lain juga." Beritahu Ny. Airin menjelaskan apa maksudnya tadi.

"Huh? Kapan?" Kaget Aurora sampai menegakkan posisi duduknya.

"Sekarang."

"Kok dia gak ngabarin dulu?"

"Emang dia punya nomer kamu?" Aurora menggeleng.

"Terus gimana caranya dia buat ngabarin kamu sayang?" Kekeh Ny. Airin seraya mengacak rambut sang anak gemas.

"Tapi seenggaknya Audrey atau yang lainnya pasti bilang ke aku dulu."

"Kamu udah cek hp belum?"

"Belum."

"Nah, itu, coba cek dulu. Pasti salah satu dari mereka udah hubungin kamu."

"Hpnya ada di kamar. Males naiknya lagi. Lagian, aku juga laper, mau makan."

"Ya udah, makan dulu aja sana. Habis itu baru pastiin, bener apa gak omongan Mama."

Bangkit dari tempatnya, Aurora mengambil langkah meninggalkan. Tapi belum genap 5 langkah kakinya melangkah, Aurora menghentikannya dan berbalik menghadap sang ibu yang sudah kembali fokus dengan majalahnya.

"Ma?" Panggil Aurora.

"Kenapa lagi?" Tanya Ny. Airin menoleh.

"Soal yang semalem, Mama udah ngomong sama Papa?"

"Udah. Kata Papa mulai hari ini bakalan ada orang yang kawal kamu kemana-mana."

"Huh? Harus banget segitunya?" Ucap Aurora sedikit tak terima dengan keputusan yang diambil.

"Demi keselamatan kamu sayang, jadi gak boleh protes."

"Tapi itu ganggu privasi aku Ma."

"Tenang aja, Papa udah pikirin itu kok. Mereka bakalan jagain kamu dari jarak aman. Jadi, gak bakal ganggu privasi kamu dan narik perhatian banyak orang."

"Ya udah."

Melangkah pergi, Aurora tak melanjutkan pembahasan lebih jauh. Jika keputusan kedua orang tuanya memanglah yang terbaik dan tak mengganggu, Aurora masih bisa menerimanya.

***

Setelah berdiskusi singkat dan mengambil keputusan, mereka sepakat untuk berkumpul di rumah Aurora sekalian menjemputnya. Alasannya, karena jarak rumah Aurora yang paling strategis diantara mereka serta karena Aurora yang sama sekali tak merespon dengan obrolan di grup chat yang mereka kirimkan.

Karena perjalanan jauh dan cukup banyaknya perlengkapan yang harus di bawa, Rion, Luca dan Leon membawa mobil mereka. Sementara sisanya menumpang di mobil masing-masing.

"Wih.... Mobil baru nih." Ucap Leon saat turun dari mobilnya. Antara memuji atau meledek sang sahabat itu terdengar sama saja.

"Baru keluar dari garasi." Saut Luca santai.

"Kok banyak banget orang?" Tanya Audrey heran melihat banyak pria berjas bertubuh tegap yang tak dikenalnya berkumpul di depan rumah Aurora.

Baru saja mereka akan melangkah masuk, Airin dengan pakaian casual nya terlihat keluar dan tak sengaja melihat mereka.

'Kalian udah dateng ternyata." Ucap Ny. Airin menyambut mereka dengan senyum ramah.

"Tante mau pergi?" Tanya Audrey basa-basi.

"Cuma belanja bulanan. Kalian masih aja."

"Kok banyak orang sih Tan? Anak buahnya Om Oliver?"

"Mereka semua bodyguard buat kawal Aurora pergi kemana-mana."

"Huh? Seriusan Tan? Sebanyak itu?" Ny. Airin mengangguk sebagai jawaban.

"Emang, Ara udah cerita ya tan soal Si Kenzo?"

"Udah, semaleman. Dan Papanya langsung mutusin buat kasih Aurora pengawalan."

"Ara.... Gak masalah Tan?"

"Awalnya dia sih protes. Tapi setelah di jelasin, dia jadi ngerti kok."

"Ini, temen-temennya Luca?" Tanya Ny. Airin menatap keempat pria yang berdiri di sebelah Luca.

"Iya Tante, mereka temen-temen aku. Gays, kenalin, ini Mamanya Aurora, Tante Airin." Ucap Luca menepuk bahu Rion di sebelahnya untuk saling memperkenalkan diri.

"Hai Tante, kenalin aku Rion, pacarnya Alice." Tanpa rasa canggung dan senyum menawan, Rion lebih dulu menyalami Airin.

"Leon Tante." Ucap Leon memperkenalkan diri.

"Vino." Ucap Vino tersenyum kikuk.

"Leo." Ucap Leo yang terakhir.

"Tante jalan duluan ya? Gak usah sungkan, anggep aja rumah sendiri." Pamit Airin setelah mengingat dia sedikit terburu-buru.

"Iya Tante." Jawab mereka bersama.

"Yuk gays, masuk." Ajak Audrey lebih dulu melangkah.

Baru saja masuk, mereka sudah di sambut dengan Bi Asih yang kebetulan tengah melakukan tugasnya bersih-bersih.

"Eh, ada Non Audrey sama temen-temen." Sapa wanita paruh baya itu dengan senyum ramah.

"Hai Bi." Balas Audrey dan yang lainnya juga tak kalah ramah.

Hubungan yang terjalin diantara mereka tak hanya sebatas karena Bi Asih pembantu di rumah Aurora, melainkan juga teman untuk mereka. Mengingat sudah terbiasa nya mereka main di rumah Aurora.

"Ada Den Luca juga." Sapanya saat melihat Luca.

"Iya Bi." Jawab Luca mulai terbiasa.

"Aranya ada kan Bi?" Tanya Alice.

"Ada non, di kamarnya. Mau Bibi panggilin?"

"Gak usah Bi, biar kita sendiri aja." Jawab Audrey.

"Aden sama Non mau dibikin minuman apa?"

"Kayak biasanya aja Bi." Ucap Alexa.

"Den Luca sama temen-temennya?"

"Apa aja Bi." Ucap Luca mewakili.

"Oke. Bibi buatin dulu ya."

Sementara Bi Asih pergi ke dapur, Audrey langsung melangkah menaiki tangga menuju lantai 2 tempat kamar Aurora berada. Sedangkan yang lainnya hanya menunggu di ruang keluarga seraya menonton TV.

Dibandingkan teman-teman Aurora yang lain, Audrey memang menjadi sosok yang lebih dekat dengan Aurora. Selain karena keduanya yang sudah berteman sejak lama, Audrey juga yang paling tak memiliki batasan dengan sahabatnya itu, begitupun sebaliknya.

Membuka pintu berwarna putih itu dengan santai, Audrey tak perlu lagi mengetuk terlebih dahulu atau meminta izin karena dia sudah terbiasa. Lagipun, pintunya tak terkunci.

Tebakannya di jalan tadi 100% benar ternyata. Sang sahabat tengah asyik dengan komputernya bermain game. Aurora memang tak akan peduli dengan apapun jika dirinya sudah menyatu dengan game di komputernya. Dia bisa satu hari penuh duduk di sana.

Tak mengatakan apa-apa, Audrey hanya menepuk bahu Aurora sekali lalu duduk di pinggir ranjang. Alih-alih menghentikan permainan, Aurora justru hanya melirik Audrey sekilas dan kembali melanjutkan permainan sampai dia selesai. Entah kapan dan akan berapa lama.

Sebagai seorang sahabat pun, Audrey tak mempermasalahkannya apalagi berniat mengganggu. Dia sudah terlalu hafal dengan sikap Aurora itu. Mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana, Audrey menjelajah dunia maya sembari menunggu dan membunuh rasa bosan.

Beruntung, Aurora tak membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan permainannya. 10 menit berselang, dia sudah mematikan komputernya. Melepas headphone yang terpasang di kedua telinga lalu bangkit dari kursinya dan menghampiri Audrey yang juga baru saja melepas pandangannya dari handphone.

"Lo ngapain pagi-pagi kesini?" Tanya Aurora merebahkan tubuhnya di sebelah Audrey.

"Kalo nanya tuh liat jam dulu, jam berapa noh?" Sahut Audrey melirik sahabatnya itu dengan malas.

"Jam 9." Balas Aurora santai.

"Gue kesini mau jemput lo."

"Huh? Mau ngapain?"

"Makanya, kalo punya handphone itu di buka Aurora."

"Huh? Sorry, gue lupa. Tadi Nyokap juga udah bilang sama gue."

"Gak heran mah gue. Ya udah gih, buruan siap-siap. Anak-anak yang lain udah nungguin kita di bawah."

"Gue gak bakalan lama kok."

Sembari menunggu Aurora bersiap, Audrey pun memtusukan untuk keluar. Bergabung bersama teman-teman yang lain.

***

Tak hanya minuman yang disajikan untuk mereka, melainkan juga banyak cemilan untuk menemani tontonan film di layar kaca. Kedatangan Audrey di sana pun hanya di sambut lirikan mata dari mereka karena adegan yang ditampilkan masih seru-serunya.

"Sesuai tebakan lo?" Tanya Alice seraya menyomot kacang yang ada di depannya.

"Yups." Sahut Audrey singkat.

"Kalian ngomongin apa?" Tanya Luca penasaran.

"Aranya mana rey?" Tanya Leon baru menyadari jika Audrey hanya datang sendiri.

"Masih prepare." Jawab Audrey.

"Dia gak tau kalo kita mau pergi camping?" Tanya Leo ikut bergabung.

"Tau, di kasih tau Mamanya. Tapi dia lupa."

"Kok bisa lupa? Emang dia gak buka HP?" Tanya Vino ikutan. Dia pikir, Aurora sudah siap dan mereka bisa secepatnya berangkat.

"Weekend itu hari keramat nya Aurora. Dia, gak bakalan buka HP karena keasyikan ngegame. Jadi, kalo lo butuh sama dia pas weekend kayak gini, ya langsung samperin ke rumah aja. Daripada waktu dan tenaga kalian habis buat ngasih kabar dia lewat HP." Sahut Alice menjelaskan.

"Ara suka main game juga?" Tanya Leon antusias.

"Cuma kalo weekend doang. Tapi dia pro kok. Lo kan suka main juga, coba mabar aja. Pasti seru."

"Wah... Boleh tuh. Next time gue ajakin dia buat mabar deh."

"Kalo gak salah di kampus juga ada tim esport, kenapa dia gak ikutan itu aja kalo emang pro?" Tanya Loca penasaran.

"Mereka udah nawarin kok, tapi Aranya aja yang gak mau. Katanya main game itu buat seneng-seneng dan ngilangin stress, bukan buat tuntutan." Jawab Audrey menjelaskan.

"Gays, sorry ya lama." Tegur Aurora mengagetkan karena tiba-tiba ada di depan mereka.

"Udah semua?" Tanya Aline memastikan. Aurora mengangguk sebagai jawaban.

"Ya udah yuk, jalan." Ajak Leon seraya bangkit dari duduknya.

Mereka pun melangkah pergi meninggalkan ruang keluarga rumah besar Aurora untuk segera memulai perjalanan.

"Mereka ikut juga gak papa kan?" Tanya Aurora menghentikan langkahnya dan menatap gerombolan pengawal yang sudah bersiap mengikutinya.

"Gak papa kok. Tadi Nyokap lo juga udah jelasin ke kita juga." Jawab Alexa santai.

"Kita seneng karena akhirnya lo mau cerita sama bokap Nyokap lo tentang Si Kenzo." Sahut Aline bangga.

"Mau gimana lagi, dengan dia yang ikutin gue sampe ke pasar malem, itu udah keterlaluan menurut gue."

"Terus, mereka respon apa pas lo cerita itu semua?" Tanya Audrey penasaran.

"Gue cuma cerita sama Nyokap. Dia sih lumayan kecewa karena gue yang gak jujur dari awal. Kalo Bokap, gue gak tau, karena Nyokap yang cerita."

"Syukur deh. Yang penting, kita bisa lebih tenang sekarang karena ada orang yang jagain lo." Ucap Alice tersenyum.

"Ya udah yuk." Ajak Vino.

"Lo sama Luca ya Ra?" Pinta Audrey seraya melangkah mendekati mobil Rion.

"Oke."

"Eh, bentar." Ucap Vino tiba-tiba saat hendak membuka pintu mobilnya. Menghentikan semuanya yang juga tengah bersiap untuk masuk ke dalam mobil masing-masing.

"Kenapa?" Tanaya Alexa.

"Gue cuma bawa 4 tenda. Kalo mereka ikut, mereka mau tidur dimana?" Beritahu nya karena untuk urusan perlengkapan camping dialah yang di beri tanggungjawab.

"Gampang nanti di jalan kita beli, sekalian sama cari snek dan kebutuhan kita selama di sana." Sahut Luca santai.

"Kita semua udah prepare kok mas. Tadi Tuan yang suruh, jadi gak perlu beli." Ucap salah seorang dari mereka menjelaskan.

"Emang, kita bakalan beneran camping ya?" Tanya Alice sedikit terkejut.

"Ya iya dong Alice. Lo pikir kita boongan gitu?" Sahut Alexa.

"Ya gue pikir cuma camping ala-ala gitu."

"Mana seru kalo cuma kayak gitu doang, sayang." Timpal Rion mengacak rambut sang kekasih gemas.

"Tapi tempatnya gak terlalu dingin kan?"

"Kalo itu tanya sama dia, dia yang udah pernah ke sana." Tunjuk Rion pada Leon.

"Menurut gue sih gak. Emang kenapa?" Tanya Leon.

"Aline gak bisa tahan kalo sama cuaca yang terlalu dingin, dia alergi."

"Lo bawa jaket sama pakaian hangat kan?" Tanya Leo perhatian sekaligus khawatir menatap Aline yang berdiri di sebelahnya.

"Gue pikir sih aman." Jawab Alina meskipun terdengar tak yakin.

"Ya udah cus, keburu siang."

Satu per satu dari mereka pun mulai memasuki mobil masing-masing dan meninggalkan halaman parkir rumah mewah Aurora.

***

Perjalanan menuju tempat camping memang tak terlalu jauh. Hanya sekitar 2 atau 3 jaman. Tapi, waktu itu akan terasa lama jika hanya diisi dengan keheningan tanpa adanya obrolan.  Mobil-mobil yang lain mungkin bisa menikmatinya dengan suasana candaan atau sekedar musik yang diperdengarkan, tapi untuk mobil yang di tumpangi nya bersama Aurora, Luca tak bisa melakukannya.

Bukan tak berani memulainya, tapi sejak mobil di jalankan, Aurora langsung memasang kedua telinganya dengan earphone yang tersambung di handphonenya. Alhasil, Luca hanya berani sesekali melirik sembari tetap memfokuskan dirinya menyetir.

Berniat menegur tapi tak jadi karena dering ponsel yang tiba-tiba berbunyi. Melirik nya sekilas lalu mengangkatnya.

^^^"Kenapa Rion?" Tanya Luca tanpa basa-basi. ^^^

"Mampir Alfamart bentar ya? Kita belum beli cemilan sama kebutuhan buat camping."

^^^"Oke. Gue ikutin dari belakang." ^^^

"Oke."

Panggilan terputus. Tak lama berselang, mobil yang ada di depan Luca menghentikan mobilnya di parkiran alfamart. Otomatis, mobil-mobil yang ada di belakangnya pun mengikuti.

"Mau ikut turun gak?" Tanya Luca saat Aurora melepas earphonenya.

"Lama gak?" Tanya Aurora malas.

"Gak tau. Tapi yang lain ikutan turun." Jawab Luca menatap teman-temannya yang sudah turun dari mobil mereka.

"Ya udah deh."

Setelah mematikan mobilnya, keduanya pun keluar dari mulut bersama.

"Kayaknya kita bakal lebih butuh banyak makanan sama air mineral ketimbang snack." Ucap Leon saat memasuki Alfamart.

"Kok gitu?" Tanya Aline bingung yang mengikuti dari belakang.

"Karena biasanya kalo orang camping itu lebih butuh asupan karbohidrat."

"Lo, sama sekali belum pernah camping?" Tanya Vino ikut mengambil keranjang belanjaan.

"Belum. Dulu kita pernah punya rencana buat camping, tapi karena gue alergi dingin dan kita semua cewek-cewek, jadi gak jadi. Takut kalo malah ada hal-hal buruk yang terjadi kalo di paksain."  Ucap Aline menjelaskan seraya mengambil beberapa snack dan minuman ringan yang dia inginkan.

"Cuma lo, apa Alice juga? Secara kan kalian kembar." Tanya Leo yang sejak tadi ikut menyimak.

"Cuma gue. Kalo Si Alice mah malah suka dingin."

"Mas, kalo pengen apa-apa atau butuh sesuatu, ambil aja, gak usah sungkan." Ucap Rion pada pengawal pribadi Aurora.

"Iya mas, jangan diem aja. Kalo sama kita nyantai aja, gak usah serius gitu" Sahut Alice menambahkan.

"Ambil aja semaunya." Ucap Aurora seraya menyerahkan keranjang belanjaan yang baru saja diambilnya.

"Terimakasih Non."

"Sama-sama. Tapi gak usah seformal itu. Itu malah ngebuat saya gak nyaman."

"Iya Non."

Setengah jam berselang, keranjang belanjaan masing-masing dari mereka sudah terisi penuh. Bahkan, Leon dan Vino menghabiskan 3 keranjang belanjaan untuk menampung barang-barang mereka.

"Mau camping apa belanja bulanan? Banyak bener." Celetuk Leo terkekeh tak percaya melihat belanjaan mereka.

"Lo gak liat pasukan kita sebanyak apa? Udah kayak bawa orang se RT tuh." Sahut Alexa di sebelahnya.

"Tapi, emang bakalan abis sebanyak ini? Kita kan cuma semalem doang." Ucap Aurora menatap ragu pada belanjaan mereka yang kini tengah di scan oleh petugas kasir.

"Kalo gak abis kan bisa di bawa pulang, Ra. Jadi gak usah bingung." Sahut Luca yang berdiri di sebelahnya.

"Siapa nih yang mau bayar?" Tanya Leo menatap satu per satu teman-temannya.

"Kalian balik duluan aja ke mobil, biar gue yang bayar." Ucap Luca menatap teman-temannya.

"Ya udah, kita tungguin di mobil ya?" Ucap Audrey lalu lebih dulu melangkah pergi.

Sementara para gadis kembali ke mobil mereka, Luca dan teman-temannya beserta semua pengawal Aurora menunggu belanjaan mereka selesai di hitung.

"Total semuanya 1.550.500." Ucap sang kasir setelah selesai menghitung semuanya.

Mengeluarkan dompetnya dari saku celana, Luca mengambil salah satu kartunya dari dalam sana lalu memberikannya pada petugas kasir itu.

"Makasih mbak." Ucap Luca setelah proses transaksi selesai dan kartunya kembali.

"Yakin kan udah gak ada yang di butuhin lagi atau yang mau di beli?" Tanya Luca menatap satu per satu teman-temannya seraya mengambil kresek berisi makanan ringan dan minuman sebelum mereka pergi.

"Gue pikir udah gak ada." Sahut Leon yang juga mengambil plastik miliknya.

"Gue juga." Sahut Vino menambahkan.

"Berarti kita tinggal langsung cus ke tempatnya doang kan?" Tanya Leo mendorong pintu Alfamart dengan tubuhnya lalu lebih dulu keluar dari sana.

"Ho'oh." Sahut Leon yang berjalan di belakangnya.

Tanpa banyak bicara lagi, satu per satu dari mereka langsung memasuki mobil masing-masing tanpa terkecuali.

"Kita mampir makan siang dulu gak?" Tanya Aurora sesaat setelah Luca masuk ke dalam mobil.

Melihat jam tangannya, sudah jam makan siang ternyata.

"Coba gue tanya Leon sama anak-anak yang lain enaknya gimana." Ucap Luca mengambil ponselnya dari atas dasbor.

Mengotak-ngatik handphonenya sebentar, Luca sejenak menunggu panggilan yang tersambung untuk diangkat.

"Kenapa ca?" Tanya Leon saat panggilannya diangkat.

^^^"Udah jam makan siang nih, mampir dulu atau mau langsung?" ^^^

"Langsung aja. Nanti kita makannya sebelum naik."

^^^"Oke."^^^

Mematikan panggilannya, Luca kembali meletakkan ponselnya di tempat semula.

"Lo, udah laper?" Tanya Luca menatap Aurora seraya menyalakan mobilnya dan menjalankannya.

"Lumayan sih, tapi masih bisa gue tahan kok."

"Di belakang ada roti kalo gak salah, makan itu dulu aja buat ngeganjel."

Memutar tubuhnya ke belakang, Aurora mengambil plastik berisikan snack dan mencari roti yang Luca maksud. Mengambilnya 2 bungkus, Aurora meletakkan plastik itu kembali ke tempatnya.

"Lo mau gak?" Tanya Aurora seraya membuka salah satunya.

"Boleh."

Luca pikir Aurora akan membukakan roti yang satunya untuknya, tapi ternyata tidak. Luca justru di kagetkan karena Aurora yang tiba-tiba menyodorkan potongan roti miliknya tepat di depan mulutnya.

"Makasih." Ucap Luca mengambil roti itu lalu memakannya.

"Lo, udah pernah camping sebelumnya?" Tanya Aurora membuka obrolan.

"Pernah. Tapi udah lama, waktu dulu gue SMA. Tapi sejak gue tinggal di Korea, udah gak lagi."

"Kenapa?"

"Teman-teman gue di sana gak suka kegiatan yang semacam itu. Mereka lebih milih kegiatan olahraga atau yang bisa ngabisin duit orang tua. Lagian, kalo di Korea, camping nya cuma camping ala-ala, gak kayak di indo yang bisa nikmatin pemandangan alam."

Mengangguk paham, Aurora memilih menikmati rotinya sembari memperhatikan pemandangan di luar.

"Kalo lo, pernah camping?" Ucap Luca balik bertanya karena Aurora yang hanya diam dan tak melanjutkan obrolan.

"Pernah. Dulu waktu SMA karena ada acara."

"Oh, gue pikir sama temen-temen lo."

"Cuma rencana dan keinginan doang, tapi gak pernah terlaksana karena Aline pastinya gak bisa ikutan. Kalo Aline gak ikut, ya Alice gak bakalan ikut. Selain itu, karena kita cewek, kita gak mungkin pergi sendiri, takut sesuatu yang gak diinginkan terjadi."

Perjalanan yang tersisa diisi dengan obrolan ringan diantara mereka. Terkadang, Luca juga melemparkan lelucon untuk menambah suasana yang sudah menghangat menjadi lebih terasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!