"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Kesibukan di lantai eksekutif Skyline Group mencapai puncaknya pagi ini. Aroma kopi premium tercium di udara, bercampur dengan wangi pengharum ruangan maskulin yang menjadi ciri khas gedung milik Garvi Darwin tersebut. Di tengah hiruk-pikuk itu, Sava berdiri di balik jendela besar ruangannya, menatap jauh ke arah jalanan pusat kota Medan yang padat.
"Miss Sava, draf laporan untuk Bank Global sudah saya gandakan," suara Desi memecah lamunan Sava.
Sava berbalik, kembali ke mode COO-nya yang tegas. "Terima kasih, Desi. Bagaimana dengan ruang rapat utama?" tanya Sava dingin.
"Sudah siap, Miss. Air mineral, materi presentasi, dan tablet pendukung sudah di posisinya," jawab Desi dengan nada yang sedikit dibuat-buat—sekretaris itu tampaknya masih bersemangat setelah mendapat pujian dari Garvi tadi pagi.
Winata masuk beberapa saat kemudian dengan langkah terburu-buru. "Miss, tim dari Bank Global baru saja memasuki lobi. Pak Arkan ada bersama mereka."
Sava mengangguk, mencoba menenangkan debaran aneh di dadanya. Bukan karena cinta, tapi karena ia tahu, pertemuan ini adalah area ranjau bagi Garvi.
"Baiklah. Mari kita ke sana sekarang."
Sava melangkah keluar dari ruangannya, diikuti oleh Winata di sisi kanan dan Desi di belakang mereka. Mereka menyusuri koridor panjang berlantai marmer Italia yang mengkilap. Koridor itu tampak sepi, hanya terdengar suara detak stiletto Sava yang beradu dengan lantai, menciptakan irama dominasi yang khas.
Tepat saat mereka berbelok di persimpangan koridor menuju ruang konferensi, sosok yang mereka tunggu muncul dari arah lift tamu.
"Selamat pagi, Miss Sava."
Langkah Sava terhenti. Arkan Wiratama berdiri di sana, tampak sangat tampan dengan kemeja putih bersih tanpa jas, lengannya digulung sedikit, memberikan kesan santai namun berkelas. Senyumnya yang hangat seketika mencairkan suasana koridor yang kaku.
"Selamat pagi, Pak Arkan," balas Sava dengan senyum profesionalnya. "Anda sangat tepat waktu."
Arkan terkekeh pelan. "Untuk proyek sebesar ini, terlambat satu menit pun adalah kerugian, bukan?" Arkan kemudian memberi isyarat pada sekretarisnya untuk sedikit menjauh, lalu ia melangkah selangkah lebih dekat ke arah Sava.
"Oh, sebelum kita mulai rapat..." Arkan merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua. "Ini milikmu. Terjatuh di restoran kemarin saat... yah, saat terjadi sedikit keributan."
Sava tertegun saat Arkan membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah anting berlian berbentuk tetesan air yang sangat ia kenali. Anting itu adalah anting yang diberikan Garvi saat dia baru lulus kuliah.
"Astaga... aku bahkan tidak sadar kalau ini terjatuh," gumam Sava, ia merasa malu sekaligus tersentuh karena Arkan menyimpannya dengan sangat baik.
"Terima kasih banyak, Pak Arkan. Anda sangat teliti."
"Sama-sama, Miss Sava. Anting itu terlalu indah untuk hilang, sama seperti pemiliknya," ucap Arkan dengan nada tulus, tidak ada maksud menggoda yang murahan, murni kekaguman.
Winata berdeham pelan, mencoba memecah keintiman yang mulai terasa berbahaya itu. "Pak Arkan, Miss Sava, silakan masuk ke ruang rapat. Tim kami sudah menunggu."
"Tentu," sahut Arkan ramah.
Mereka pun masuk ke dalam ruang rapat utama yang megah. Meja panjang dari kayu mahoni mengkilap menjadi saksi dimulainya negosiasi serius. Rapat berjalan sangat lancar. Sava mempresentasikan visi Skyline Group untuk pembangunan di kawasan Ring Road dengan sangat fasih. Sesekali Arkan menyela dengan pertanyaan cerdas, dan mereka terlibat dalam diskusi teknis yang sangat dinamis.
Di tengah-tengah pembahasan yang cukup berat, Arkan melontarkan sebuah lelucon tentang masa sekolah mereka dulu, tentang bagaimana Sava pernah salah masuk kelas karena terlalu serius membaca buku.
Sava tidak bisa menahannya. Ia tertawa. Bukan tawa formal yang biasa ia tunjukkan di depan kolega, melainkan tawa lepas yang tulus. Bahunya berguncang pelan, dan matanya menyipit indah. Tawa itu terdengar seperti simfoni yang sangat langka di gedung dingin ini.
"Aku tidak menyangka Kakak masih ingat kejadian memalukan itu," ucap Sava di sela tawanya, tanpa sadar kembali memanggil Arkan dengan sebutan 'Kakak' seperti masa SMA dulu.
**
Di lantai atas, suasana sama sekali tidak hangat. Ruang kerja Garvi Darwin tampak remang-remang meskipun hari masih siang. Sang CEO duduk di kursi kebesarannya, namun matanya tidak tertuju pada tumpukan berkas di meja.
Pandangannya terkunci pada layar laptop besar di hadapannya. Layar itu menampilkan live feed CCTV resolusi tinggi dari ruang rapat utama.
Garvi mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras seolah ingin patah. Melalui audio feed yang ia sadap secara legal, ia mendengar segalanya. Ia melihat bagaimana Arkan menyerahkan kotak perhiasan itu, bagaimana jari mereka nyaris bersentuhan, dan yang paling menyakitkan... ia melihat tawa Sava.
Tawa itu.
Selama empat tahun pernikahan mereka, Garvi nyaris tidak pernah mendengar Sava tertawa seperti itu. Baginya, Sava adalah gunung es yang hanya mengeluarkan desahan pasrah atau kata-kata dingin penuh kebencian. Namun di depan pria itu, di depan Arkan, Sava terlihat begitu hidup. Begitu manusiawi. Begitu... bahagia.
"Berani sekali kamu, Ave..." desis Garvi dengan suara yang sangat rendah, dipenuhi racun kecemburuan.
Ia melihat melalui layar bagaimana Arkan menatap Sava dengan pandangan memuja. Posesifitas Garvi yang mendarah daging berteriak dalam kepalanya. Baginya, setiap inci dari diri Sava adalah miliknya—bahkan tawa dan senyum wanita itu adalah aset yang tidak boleh dibagikan kepada siapa pun.
"Roy!" teriak Garvi tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Roy masuk dengan langkah cepat, sudah bisa menebak apa yang terjadi. "Ya, Tuan?"
"Siapkan rapat dadakan dengan tim konstruksi sekarang juga," perintah Garvi dengan nada dingin yang mematikan.
"Tapi Tuan, jadwal Anda baru dimulai pukul satu siang—"
"Sekarang, Roy! Dan pastikan lokasinya dipindah ke ruang rapat utama. Aku ingin mereka keluar dari sana dalam lima menit," sela Garvi, ia berdiri dan menyambar jasnya. Matanya berkilat seperti predator yang siap menerkam. "Aku akan menunjukkan pada 'Pak Arkan' itu siapa pemilik sebenarnya dari gedung ini... dan wanita yang sedang dia ajak tertawa itu."
Garvi melangkah keluar dari ruangannya dengan aura kegelapan yang begitu pekat. Ia tidak peduli jika tindakannya akan terlihat tidak profesional atau aneh di mata karyawan. Obsesinya telah mengambil alih akal sehatnya. Ia tidak tahan lagi melihat istrinya menjadi milik orang lain, bahkan jika itu hanya dalam sebuah tawa singkat.
Di bawah, di dalam ruang rapat, Sava masih tersenyum kecil tanpa menyadari bahwa badai besar baru saja turun dari lantai teratas, siap menghancurkan ketenangan singkat yang baru saja ia rasakan.
**
Suasana di dalam ruang rapat utama berangsur tenang seiring dengan ditutupnya draf final pendanaan proyek Ring Road. Arkan Wiratama menutup laptopnya dengan senyum puas, sementara Sava merapikan berkas-berkas di depannya. Diskusi itu berjalan sangat lancar—terlalu lancar, hingga Sava sempat melupakan beban berat yang menghimpit bahunya sejak pagi.
"Terima kasih untuk hari ini, Miss Sava. Ide Anda mengenai integrasi green space di area komersial benar-benar brilian," puji Arkan tulus. Matanya menatap Sava dengan binar kekaguman yang sulit disembunyikan.
Sava tersenyum tipis, sebuah senyuman profesional namun tetap mempesona.
"Itu berkat kerja tim, Pak Arkan. Saya harap Bank Global bisa segera memproses pencairan tahap pertama."
"Tentu saja. Saya sendiri yang akan mengawal prosesnya," jawab Arkan.
Saat itu, pintu ruang rapat terbuka. Desi masuk dengan wajah sedikit pucat, tampak terburu-buru.
"Mohon maaf, Miss Sava, Pak Arkan. Mr. Garvi akan segera menggunakan ruangan ini untuk rapat mendadak dengan tim konstruksi. Saya diminta untuk segera mengosongkan area ini."
Sava mengernyitkan dahi. Rapat konstruksi? Bukankah jadwal itu baru ada besok? Ia tahu ini adalah salah satu taktik Garvi untuk mengusir tamu yang tidak disukainya, namun ia mencoba tetap tenang di depan Arkan.
"Baiklah, kami sudah selesai. Ayo, Pak Arkan, saya antar sampai ke area lift," ucap Sava sopan.
Sava melangkah keluar dari ruangan itu lebih dulu, disusul oleh Arkan di sampingnya. Begitu mereka menginjakkan kaki di koridor luas yang berlantai marmer Italia tersebut, udara seolah mendadak membeku.
Di ujung koridor, sosok pria bertubuh tinggi tegap melangkah dengan aura yang begitu mendominasi. Garvi Darwin, sang CEO Skyline Group, berjalan dengan langkah mantap. Jasnya yang berwarna navy terpasang sempurna, mempertegas bahu atletisnya. Wajahnya yang rupawan bak dewa Yunani tampak dingin, dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang tajam seperti elang yang sedang mengincar mangsa.
Di belakangnya, Roy mengikuti dengan ekspresi wajah yang datar, mencoba menjaga jarak dari aura kemarahan bosnya yang mulai meluap.
Langkah Sava terhenti tepat beberapa meter di depan Garvi. Arkan, yang merupakan pria dengan tata krama tinggi, segera menunjukkan sikap ramahnya. Ia menyadari kehadiran sang pemimpin tertinggi Skyline Group tersebut.
"Selamat siang, Mr. Garvi," sapa Arkan dengan suara yang tenang dan berwibawa. Ia melangkah maju sedikit, mengulurkan tangan kanannya untuk sebuah jabat tangan formal—tanda penghormatan antar rekan bisnis kelas atas.
Hening.
Waktu seolah melambat di koridor itu. Beberapa staf yang melintas mendadak menahan napas.
Garvi berhenti tepat di depan Arkan. Alih-alih membalas uluran tangan itu, ia justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya. Ia menatap Arkan dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan meremehkan, seolah pria di depannya hanyalah serangga yang tak sengaja masuk ke wilayah kekuasaannya.
Arkan masih mematung dengan tangan yang menggantung di udara. Senyumnya sedikit memudar, digantikan oleh rasa kikuk yang luar biasa. Ia adalah Direktur di Bank Global, pria yang dihormati di kalangan perbankan, namun di sini, di depan Garvi Darwin, ia diperlakukan seolah tidak ada.
"Mr. Garvi?" gumam Sava, suaranya mengandung nada peringatan. Ia menatap Garvi dengan mata yang membelalak, mencoba memberi kode agar suaminya itu menjaga profesionalitas.
Namun Garvi mengabaikan Sava. Matanya tetap terkunci pada Arkan.
"Roy, apakah semua orang sudah di dalam?" tanya Garvi dingin, suaranya bariton dan bergetar, tanpa sedikit pun menoleh pada Arkan.
"Sudah, Tuan. Tim konstruksi sudah menunggu," jawab Roy cepat, merasa tidak enak dengan situasi yang sangat canggung tersebut.
Arkan akhirnya perlahan menurunkan tangannya. Ia menarik napas dalam, mencoba menjaga harga dirinya yang baru saja diinjak-injak.
"Sepertinya Anda sangat sibuk hari ini, Mr. Garvi. Saya hanya ingin mengucapkan terima kasih atas kerja sama yang luar biasa dengan COO Anda."
Garvi mendengus sinis. "Miss Sava adalah aset Skyline Group. Tentu saja kinerjanya luar biasa. Saya hanya berharap pihak bank tidak terlalu banyak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak perlu... seperti nostalgia masa sekolah, misalnya."
Sava tersentak. Bagaimana Garvi bisa tahu pembicaraan mereka di dalam ruang rapat? Apakah pria ini benar-benar memata-matai setiap gerak-geriknya?
"Pak Arkan, mari. Lift-nya sudah terbuka," potong Sava cepat, sebelum Garvi melontarkan kata-kata yang lebih beracun lagi. Ia merasa sangat malu atas sikap kasar Garvi yang benar-benar tidak profesional.
"Terima kasih, Miss Sava. Saya pamit dulu," ucap Arkan. Ia memberikan anggukan sopan pada Sava, lalu melirik Garvi sekilas dengan tatapan yang kini tampak penuh tanya, sebelum akhirnya melangkah masuk ke dalam lift bersama sekretarisnya.
Begitu pintu lift tertutup, koridor itu menjadi sunyi kembali, namun ketegangannya meningkat berkali-kali lipat.
Sava berbalik, menatap Garvi dengan kemarahan yang sudah sampai di puncak. "Apa yang Anda lakukan, Mr. Garvi?! Dia adalah perwakilan Bank Global! Anda baru saja menghina rekan bisnis yang akan mendanai proyek triliunan kita!"
Garvi melangkah mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Sava bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan hawa dingin dari tubuh suaminya.
"Aku tidak peduli siapa dia, Miss Sava," desis Garvi tepat di depan wajah Sava. "Dan jangan pernah berani membentakku di kantorku sendiri hanya demi membela pria itu."
"Karakter Anda benar-benar buruk, Mr. Garvi! Anda bersikap kekanak-kanakan!"
Garvi menyeringai, sebuah seringai manipulatif yang membuat bulu kuduk Sava meremang. "Kekanak-kanakan? Mungkin. Tapi aku hanya memastikan bahwa setiap orang di gedung ini tahu siapa yang berkuasa di sini. Termasuk mantan kekasihmu yang malang itu."
Garvi kemudian berpaling ke arah Roy. "Roy, pastikan jadwal Miss Sava hari ini dikosongkan setelah jam makan siang. Dia akan ikut denganku untuk 'peninjauan lapangan' pribadi."
"Apa?! Tidak bisa! Aku punya banyak laporan yang harus diselesaikan!" protes Sava.
Garvi tidak memedulikan protes itu. Ia melangkah menuju ruang rapat tanpa menoleh lagi, namun tangannya sempat menyentuh lengan Sava sekilas, sebuah gerakan cepat yang terasa seperti sengatan listrik.
"Jam satu siang di lobi, Miss Sava. Jika Anda tidak ada di sana, aku tidak segan untuk menyeret Anda keluar dari ruangan Anda di depan semua karyawan," ancam Garvi sebelum benar-benar masuk ke ruang rapat.
Sava berdiri terpaku di koridor. Dadanya naik turun karena amarah yang meluap. Ia menatap pintu ruang rapat yang tertutup dengan perasaan benci yang semakin mendalam. Posesifitas Garvi bukan lagi sekadar bumbu dalam hubungan mereka, melainkan rantai yang mulai mencekik napasnya.
"Kamu benar-benar gila, Garvi Darwin," gumam Sava lirih.
Di ujung koridor, Winata mendekat dengan wajah khawatir. "Sava, kamu baik-baik saja? Wajahmu sangat pucat."
Sava menggeleng pelan, ia memijat pangkal hidungnya. "Win, tolong siapkan berkas peninjauan proyek. Dan tolong... cari tahu apakah Garvi benar-benar memasang alat penyadap di ruang rapat tadi."
Winata terkejut. "Sava, maksudmu...?"
"Dia tahu apa yang aku dan Arkan bicarakan, Win. Dia tahu soal nostalgia itu," ucap Sava dengan suara yang bergetar. "Pria itu benar-benar mematikan. Dia ingin mengendalikan setiap embusan napas yang aku keluarkan."
Malam yang panjang tampaknya baru saja dimulai bagi Sava, meski hari masih menunjukkan waktu makan siang. Di kota Medan yang terik, perang dingin di Skyline Group baru saja memasuki babak baru yang jauh lebih berbahaya.
***