"Hanya anak yang lahir dari Tulang wangi satu suro yang akan selamat! Istrimu, adalah keturunan ke tujuh dari penganut iblis. Dia tidak akan memberimu anak, setiap kali dia hamil, maka anaknya akan di berikan kepada sesembahannya. Sebagai pengganti nyawanya, keturunan ke tujuh yang seharusnya mati."
Pria bernama Sagara itu terdiam kecewa, istri yang telah ia nikahi sepuluh tahun ternyata sudah menipunya.
"Pantas saja, dia selalu keguguran."
Harapan untuk menimang buah hati pupus sudah. Sagara pulang dengan kecewa.
"Lang, kamu tahu tidak, ciri-ciri perempuan yang memiliki tulang wangi?" tanya Sagara.
"Tahu Mas, kebetulan kekasihku di kampung memiliki tulang wangi." jawab Alang, membuat Sagara tertarik.
"Dia cantik, tapi lemah. Hari-hari tertentu dia akan merasa seluruh tulangnya nyeri, kadang tiduran berhari-hari." jelas Alang lagi.
"Lang, kamu mau nggak?" sagara meraih bahu Alang.
"Mau apa Mas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saga Tak punya anak
Mereka berjalan menuju halaman belakang, dimana ada beberapa batang pohon buah-buahan di sana.
Serangga malam mulai menguasai pendengaran, suasana gelap seperti menelan langkah mereka berdua, daun kering terinjak di bawah kaki.
Niken menyenter kesana-kemari, pun dengan Ani, ia menyorot lurus ke depan, mengingat kalau pohon bunga kantil berada di dekat pagar.
"Ken! Tangan mu dingin banget." ucap Ani.
"Tangan?" tanya Niken.
"Kamu takut ya Ken, sampai pegang tangan ku kayak orang lagi pacaran?" Ani terkekeh. Sendirinya yang takut, malah mengatai Niken, menghibur diri.
Niken berhenti, ia langsung berbalik dan menyorotkan ponselnya ke belakang, tepat di wajah Ani.
"Niken!" kesal Ani. Tapi, sejenak setelahnya ia sadar kalau tangan Niken hanya memegangi ponsel. Lalu, siapa yang sedang memegangi tangannya?
"Ken." Seketika tubuhnya gemetar, lehernya menjadi kaku tak berani menoleh.
Sudut matanya tiba+tiba menangkap sesosok bayangan seram berwajah pucat, mata besar seolah mau keluar, rambutnya kusut seperti ijuk, gimbal. Makhluk tersebut sedang mengamati dirinya.
Dadanya kembang-kempis. Ingin berteriak, ingin lari, ingin semua ini hanyalah mimpi.
Sadar kalau Ani sedang ketakutan, Niken meraih Daun di sampingnya lalu memperlihatkan kepada Ani.
"Daun Mbak." kata Niken.
Tidak, Ani tidak percaya karena tadi benar-benar ada.
"Ayo Ken!" Ani meraih tangan Niken, berjalan cepat menuju pohon bunga kantil yang sudah nampak.
Ani meraih dahan yang berbunga, mematahkan tanpa memetik satu persatu. Niken juga melakukan hal sama agar segera selesai.
"Cepetan, kita pulang!" kata Ani.
Niken segera membawa dahan yang sudah patah itu, mereka berlarian menuju titik cahaya yang tampak dari celah daun.
"Ini di bawa ke kamar kita, apa langsung diantar Mbak?" tanya Niken. Ia pun takut, semakin mendekati halaman belakang rumah bak istana milik Saga itu malah semakin membuat jantungnya berdegup kencang.
"Ke Nyonya saja." jawab Ani.
Keduanya mengarah ke kiri, dimana cahaya rumah bak istana itu sudah terlihat dari tempat mereka berjalan.
"Tunggu Mbak!" tiba-tiba Niken berhenti, menahan tangan Ani.
"Ada apa Ken?" tanya Ani. Ani menoleh Niken yang tampak tegang, remang cahaya dari rumah Saga itu membuat Ani melihat jelas, kemana arah mata Niken memandang.
"Bibi! Bibi!" suara rintihan terdengar dari atas sana.
"Arya!" gumam Niken, melihat balkon lantai dua, di sana ada anak laki-laki sedang di ikat lehernya, dan di gantung dengan kain putih.
"Arya?" gumam Ani, aneh melihat Niken begitu khawatir, wajahnya yang cantik menjadi pucat pasi.
"Mbak, pegang bunganya! Aku harus tolongin Arya!" ucap Niken, ia menyerahkan dahan bunga kepada Ani, kemudian berlari di bawah balkon sambil berteriak. "Arya, jangan takut, ada Bibi!"
"Niken!"
Ani menyusulnya, kemudian meraih tangan Niken dengan kasar.
"Mbak, tolongin dia! Gimana caranya?" ucap Niken, ketakutan.
"Niken! Nyebut! Nolongin siapa?" tanya Ani, mendongak mencari sosok yang diucapkan Niken.
"Mbak! Kita harus selamatkan Arya!" ulang Niken.
"Arya, Arya siapa? Di rumah ini tidak ada orang yang namanya Arya!" kesal Ani.
Niken menoleh, Ia benar-benar tak habis pikir dengan Ani yang tidak mau menolong Arya.
"Mbak! Masa Mbak tidak lihat! Itu Arya anaknya Tuan Saga! Dia hampir jatuh Mbak. Dia bisa mati!"
"Niken!" Ani menampar wajah Niken hingga panas pipinya.
Niken terdiam, menatap nanar Ani yang terlihat emosi dan juga takut.
"Ayo pergi!" Ani menyeret tangan Niken sekuat tenaga.
"Tapi Mbak!"
"Niken! Tidak ada Arya di rumah ini! Dan satu lagi, Tuan Saga tidak punya anak!"
"Ha?" Niken tercengang, pipinya masih terasa panas, pergelangan tangannya di pegang erat. "Arya sering datang ke kamar ku, Mbak." jawab niken, menyangkal.
Ani menggeleng, ia tak mampu lagi menjawab. Melihat Niken seperti ini ia jadi sangat takut.
"Lihat Mbak!" ucap Niken, menunjuk balkon lantai dua.
Alangkah terkejutnya Niken di sana sudah tak ada siapa-siapa. Hanya ada seutas kain yang ditiup angin.
Tanpa berkata lagi, Ani menyeret Niken dengan tenaga yang tersisa. Untungnya Niken sudah tak melawan seperti tadi. Hingga sampailah di teras rumah tuan Saga.
Ani melepaskan tangan Niken, dengan nafas ngos-ngosan ia berjongkok kelelahan.
Sementara Niken duduk di lantai, lemas karena teringat apa yang diucapkan Ani.
Brak! Ani pun duduk menghempaskan tubuhnya yang berkeringat.
"Mbak, jadi_"
"Ngomongnya nanti saja." potong Ani, kemudian bangkit membawa dahan-dahan yang telah mereka kumpulkan. Masuk ke rumah besar itu melalui pintu depan.
"Ani?"
Belum juga melangkah masuk, sosok perempuan muda telah menyapa mereka.
"Ini bunganya." kata Ani, menyerahkan bunga, daun, tangkai, beserta semut-semutnya itu ke tangan Nina.
Gadis itu berkerut heran melihat bunga yang begitu kacau.
"Maaf, tadi kita ngambil di belakang, gelap jadinya buru-buru." kata Ani.
Nina itu, melirik Ani lalu Niken bergantian. Matanya yang liar sedikit menakutkan. "Baiklah, biar aku yang bersihkan. Terimakasih, ya!" ucapnya.
"Kalau begitu, kita balik dulu." pamit Ani, mereka keluar buru-buru.
Malam hari begini, baik di belakang maupun di dalam rumah, semuanya sama saja.
Entah setan atau manusia, di rumah itu, sama seramnya.
"Ken, kamu tidur di kamarku saja, ya?" ucap Ani. Sepanjang jalan menyusuri halaman itu, keduanya tak banyak berkata. Tapi bulu Roma malah berbicara, merinding sampai ke anak rambut, rasanya semua berdiri tegak.
"Niken?"
Keduanya terkejut, sampai berpelukan. Ternyata tuan Saga berjalan Dari arah rumah belakang.
"Tuan?" ucap Ani.
Tuan Saga menatap wajah Ani dan Niken bergantian.
"Dewi mana?" tanya Saga.
Seketika keduanya saling berpandangan. Dari sore mereka tak melihat Dewi.
"Mungkin di kamarnya tuan." jawab Niken.
"Tapi tadi dia izin mau menginap di kamar kamu?" ucapnya.
Niken menggeleng, apalagi Ani, dia belum kenal Dewi.
"Sejak sore kita hanya berdua." jawab Niken, jujur.
"Baiklah, mungkin karena kalian keluar, jadinya Dewi kembali ke rumah." kata Saga.
"Kalau begitu, kita permisi, pulang." ucap Ani, sebelum Tuan Saga jauh pergi, keduanya berlarian menuju kamar. Bertemu manusia di tengah jalan membuat keduanya sangat lega, sehingga kaki yang lemas memiliki tenaga.
"Cepet Ken, tutup pintunya!" titah Ani. Mereka segera masuk ke kamar Ani, lalu mengunci pintunya rapat-rapat.
"Syukurlah, Alhamdulillah!" Ani langsung menjatuhkan dirinya diatas ranjang, menghela nafas sepuasnya.
"Mbak." panggil Niken, ia pun tidur di sebelah Ani, menatap langit-langit kamar sambil terus memikirkan hal tadi.
"Hem!" sahut Ani.
"Kalau dia bukan anaknya Tuan Saga, lalu dia siapa?" tanya Niken.
Seketika membuat Ani langsung duduk tegang. "Ken, jangan bahas itu ya! Sumpah, aku tidak berani."
Ani meraih selimut lalu menutupi dirinya hingga ke leher.
aq mlah deg2an wis semua terbongkar kan alang mau dewi tau kebusukan mu juga lang
waktu ku tolol aq ga tau yang nongol2
ku sengol2 ku kira pistol ehh ternyata nya pistol 🤭🤭🤭
gendis g bisa lagi bikin saga tunduk akhirnya cari tumbal lain dan memghabisi dgn dgn sadis krn ketahuan 👻👻👻👻👻 the mit nya laper cuuuyy
kasih mie ayam apa yaaa 🤭
jd sebenarnya siapa itu hayoo
dan gendis ohh klakuan mu sunguh iblis