Dunia Kultivasi adalah dunia yang kejam bagi yang lemah dan indah bagi yang kuat
Karena itu Li Yuan seorang yatim piatu ingin merubah itu semua. bersama kawannya yaitu seekor monyet spiritual, Li Yuan akan menjelajahi dunia dan menjadi pendekar terkuat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Teriakan minta tolong
Setelah menembus lebatnya hutan selama berjam-jam, telinga tajam Li Yuan akhirnya menangkap melodi gemericik air yang menenangkan. Di depan mereka, sebuah sungai dengan air sebening kristal mengalir membelah bebatuan besar.
"Itu dia sungainya! Aku sudah merasa seperti bangkai berjalan dengan bau ini!" Dong Dong berteriak girang. Tanpa menunggu aba-aba, ia melesat dan melakukan lompatan indah ke udara.
"Woy, tunggu aku!" Li Yuan menyusul di belakangnya.
BYUURR!
Dua hantaman air besar menciprat ke udara, membasahi tepian sungai yang kering. Di dalam air yang sejuk itu, Li Yuan dan Dong Dong berenang dengan liar, membasuh segala kotoran, keringat, dan sisa-sisa "tragedi perut mulas" yang sempat menempel pada raga mereka.
"Ahhh... segar sekali! Rasanya seperti lahir kembali ke dunia." desah Li Yuan sambil menyandarkan kepalanya di sebongkah batu kali.
Setelah merasa cukup bersih, mereka naik ke daratan. Sambil memeras pakaiannya yang compang-camping hingga kering, Dong Dong bertanya, "Li Yuan, apakah kita akan kembali ke gua kakek tua itu? Rasanya aku merindukan omelannya yang tidak bermutu."
Li Yuan menggelengkan kepala perlahan. "Tidak perlu. Kakek itu adalah sisa dari masa lalu, dan tugasnya sudah selesai saat memberikan senjata ini pada kita. Lagi pula, auranya semakin menipis. Sebaiknya kita terus melangkah maju."
"Benar juga. Dunia ini terlalu luas untuk dihabiskan di dalam lubang gelap." timpal Dong Dong sambil mencoba menyisir bulunya yang basah.
Tiba-tiba, keheningan hutan pecah oleh suara melengking yang penuh ketakutan.
"TOLONG! SIAPAPUN, TOLONG!"
Li Yuan dan Dong Dong saling berpandangan sekejap. Tanpa perlu berucap sepatah kata pun, insting mereka bekerja serempak. Mereka berlari kencang menuju sumber suara yang berasal dari balik semak belukar di pinggir jalan setapak.
"Lihat itu! Bandit!" bisik Li Yuan tajam. Di depan mereka, tiga orang pria berwajah sangar dengan pakaian kulit binatang sedang mengepung seorang pedagang tua.
Dong Dong tidak menunggu perintah. Ia menarik tongkat merah emasnya dari lubang telinganya dengan gerakan yang sangat cepat. "Memanjang!"
Syuuuut!
Tongkat itu melesat seperti tombak kilat, menghantam telak punggung seorang bandit yang tengah mengacungkan golok besar.
DUAK!
"Aakh!" Bandit itu tersungkur mencium tanah.
Li Yuan tidak mau kalah. Ia melompat tinggi, memanfaatkan kekuatan Arus Qi di kakinya untuk memberikan dorongan ekstra. "Tendangan Pemenang!"
PLAK!
Kaki Li Yuan mendarat tepat di rahang bandit kedua hingga giginya bergemeretak. Li Yuan mendarat dengan santai, melipat tangan di dada. "Dasar pengecut. Beraninya kalian menindas orang yang tidak berdaya."
Pedagang tua yang ketakutan itu segera berlari dan bersembunyi di balik punggung kecil Li Yuan. "Tolong aku, Tuan Kecil! Mereka tiba-tiba muncul dari balik pohon dan ingin merampas seluruh daganganku!"
Dong Dong mendengus, "Aneh sekali. Seharusnya kita yang dilindungi orang dewasa, malah kita yang jadi tameng di sini."
Bandit ketiga, yang tampaknya adalah pemimpin mereka, menggeram marah melihat kedua rekannya tumbang. Ia menghunus pedang karatan dan menunjuk ke arah mereka. "Siapa bocah ingusan dan monyet jelek ini?! Berani-beraninya kalian mencampuri urusan kami!"
Mendengar kata 'jelek', bulu-bulu di leher Dong Dong langsung berdiri tegak. Matanya menyala kemerahan. "Apa kau bilang?! Monyet jelek?! Kau tidak lihat betapa berkilaunya buluku setelah mandi tadi?!"
Dong Dong maju selangkah, menunjuk wajah bandit itu dengan tongkatnya. "Kau yang jelek! Wajahmu itu seperti kotoran ular yang sudah kering! Gigimu ompong dan kuning seolah tidak pernah kenal air! Tatapanmu cabul, baumu seperti ketiak babi, dan aku berani sumpah, bahkan lalat pun akan pingsan jika hinggap di hidungmu yang pesek itu!"
Hening.
Angin hutan seolah berhenti berhembus. Li Yuan dan pedagang tua itu mematung, menatap Dong Dong dengan mulut terbuka.
"S-sepertinya kau terlalu berlebihan dalam menghina, Dong Dong..." bisik Li Yuan canggung. "Kau bahkan menghancurkan seluruh harga dirinya sebelum kita sempat bertarung."
Bandit itu gemetar hebat, wajahnya memerah antara malu dan murka yang tak terbendung. "KAU... MONYET KURANG AJAR! AKAN KUPOTONG LIDAHMU!"