Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 17
Karin kembali menangis, seperti sebelumnya.
Di dalam kamar hotel yang luas dan sunyi itu, hanya ada dirinya dan cahaya lampu temaram. Dinding-dinding tinggi terasa dingin, tak memberi kehangatan sedikit pun. Karin duduk di tepi ranjang, lututnya dipeluk, sementara di tangannya tergenggam sebuah foto.
Foto Arka.
Tangisnya pecah. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, seolah dadanya terlalu sempit untuk menampung semua rasa yang menumpuk.
“Kenapa… kenapa kamu datang lagi?” suaranya bergetar.
“Kenapa kamu muncul setelah aku mulai melupakanmu, Arka…?”
Air matanya jatuh satu per satu, membasahi foto itu. Wajah Arka di foto tetap tersenyum—senyum yang dulu begitu ia rindukan, kini justru melukainya.
Ia tak pernah menyangka akan bertemu Arka lagi.
Tidak di Inggris.
Tidak dalam keadaan seperti ini.
Dulu, ada masa di mana Karin sangat ingin bertemu dengannya. Ia ingin menatap Arka dan bertanya langsung: kenapa?
Kenapa Arka memilih pergi.
Kenapa Arka memutuskan hubungan delapan tahun mereka begitu saja.
Kenapa Arka meninggalkannya tanpa penjelasan yang layak.
Namun semuanya berubah sejak James hadir.
Sejak James datang, mengisi hari-harinya dengan tawa, dengan kehadiran yang hangat, dengan perhatian yang tak pernah ia minta. Sejak James membuatnya merasa cukup—tanpa memaksa, tanpa janji kosong.
Tanpa Karin sadari, di lubuk hatinya, ia justru takut bertemu Arka.
Takut karena ia merasa… jika Arka kembali muncul, perasaannya pada James akan memudar.
Atau lebih menyakitkan lagi—ia takut menyadari bahwa hatinya belum sepenuhnya sembuh.
Karin mengusap wajahnya kasar.
Ia sendiri tak mengerti apa yang ia rasakan.
Apakah ini cinta yang belum mati?
Atau hanya luka lama yang belum sempat tertutup?
Ia tak tahu.
Malam semakin larut. Di luar jendela, bulan dan bintang bersinar tenang, seolah tak peduli pada kekacauan di hati Karin. Dalam sunyi itu, pertahanan Karin runtuh sepenuhnya.
Dan tanpa ia sadari—
yang terlintas di pikirannya justru bukan Arka.
Melainkan James.
Wajah James muncul di benaknya. Senyum konyolnya. Cara ia selalu ada. Cara ia menghiburnya tanpa bertanya terlalu banyak. Cara James membuatnya merasa aman tanpa menuntut apa pun.
Tangis Karin semakin menjadi.
Tangannya meremas foto Arka hingga kertasnya kusut.
Ia menekannya ke dada, seolah menahan rasa yang hendak meledak.
Ia menangis—
bukan hanya karena Arka.
Tapi karena hatinya yang kini terbelah, tak tahu harus berpihak ke mana.
Tangisan itu masih membekas di hatinya, tetapi pagi ini Karin memaksa dirinya untuk tetap bangun. Bagaimanapun juga, ia tak ingin kembali dikuasai oleh dirinya yang lama hanya karena Arka. Ia tak ingin kehilangan kesempatan terbesarnya sebagai penulis film hanya karena luka masa lalu. Ia tak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk menangis karena Arka, seperti tahun-tahun sebelumnya.
Karena itu, Karin mengambil keputusan. Apa pun yang terjadi, ia harus bersikap profesional. Ia akan pergi ke perusahaan, menghadapi Arka, dan tetap bekerja sama dengannya.
Tak lama kemudian, Karin tiba di depan gedung perusahaan perfilman itu dengan taksi. Ia membayar ongkos, turun, lalu berdiri sejenak di depan pintu kaca yang menjulang tinggi. Gedung itu terlihat sibuk sejak pagi—orang-orang berlalu-lalang dengan map di tangan, langkah cepat, dan wajah serius.
Karin menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk.
Ia tahu, di balik pintu itu bukan hanya kontrak dan diskusi naskah yang menunggunya, tapi juga Arka. Wajah pemuda yang pernah begitu ia kenal, dan kini harus ia hadapi sebagai orang asing—sebagai sutradara dari film yang ia tulis sendiri.
Tangannya sedikit mengepal, lalu ia melonggarkannya kembali.
Tenang, Karin. Kamu di sini sebagai penulis. Bukan sebagai mantan, batinnya.
Dengan langkah mantap—meski hatinya belum sepenuhnya siap—Karin akhirnya masuk ke dalam ruangan rapat.
Di dalam ruangan rapat sudah berkumpul tim yang terlibat dalam proyek film itu. Ada produser, asisten sutradara, staf kreatif, hingga beberapa orang asing yang tampak sibuk membuka laptop dan berkas masing-masing.
Dan tentu saja, Arka ada di sana.
Pemuda itu duduk di tengah meja panjang, posisi yang jelas menunjukkan perannya. Ia bersandar santai di kursinya, namun auranya memancarkan kepemimpinan yang kuat—tenang, percaya diri, dan berwibawa. Tatapannya sesekali bergerak mengamati ruangan, seolah memastikan segalanya berada di bawah kendalinya.
Karin berhenti sejenak di ambang pintu.
Dadanya terasa sedikit sesak, tapi ia memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak. Ia menarik napas sekali lagi, lebih dalam dari sebelumnya, lalu melangkah masuk dan duduk di kursi yang telah disediakan untuknya. Ia menunduk sejenak, menata perasaannya, sebelum akhirnya mengangkat wajahnya kembali—siap menghadapi hari itu, dan orang yang duduk di seberang meja.
Setelah melihat Karin duduk di kursinya, Arka berdiri dari tempat duduknya. Ia merapikan jasnya sekilas, lalu menatap seluruh tim di hadapannya. Suaranya terdengar tenang, jelas, dan penuh kendali saat ia mulai menjelaskan.
Ia memaparkan apa saja yang harus dipersiapkan sebelum proses syuting dimulai—mulai dari pembacaan naskah, penyesuaian karakter, jadwal latihan aktor, hingga konsep visual yang ingin ia bangun. Semua orang mendengarkannya dengan serius. Beberapa aktor mengangguk pelan, staf mencatat dengan fokus, dan ruangan itu dipenuhi suasana kerja yang profesional.
Termasuk Karin.
Karin duduk diam, kedua tangannya saling menggenggam di atas pangkuannya. Ia berusaha menyimak setiap kata yang keluar dari mulut Arka, meskipun hatinya terasa berat. Bahkan hanya dengan mendengar suaranya saja, kenangan lama seperti berdesakan masuk ke kepalanya.
Dadanya terasa sesak.
Karin menunduk sebentar, menarik napas pelan agar dirinya tetap tenang. Matanya mulai berkaca-kaca, namun ia menahannya. Ia tidak boleh terlihat rapuh. Tidak hari ini. Tidak di ruangan ini. Ia adalah penulis naskah di sana—bukan perempuan yang pernah ditinggalkan.
Ia kembali mengangkat wajahnya, menatap ke depan, memaksa dirinya untuk tetap profesional, meski hatinya bergetar.
Setelah rapat selesai, Karin langsung berdiri dan melangkah keluar dari ruangan. Ia tak menoleh ke belakang, tak memberi dirinya kesempatan untuk melihat Arka lagi. Ia hanya tahu satu hal—ia tidak sanggup berlama-lama di sana. Dadanya terasa semakin sesak, seolah udara di ruangan rapat itu menekan paru-parunya.
Di dalam ruangan, Arka memperhatikannya diam-diam.
Ia melihat punggung Karin yang menjauh lebih dulu. Langkahnya cepat, terlalu cepat untuk seseorang yang biasanya tenang. Arka terdiam sejenak, tangannya mengepal pelan di sisi tubuhnya, namun wajahnya tetap datar di hadapan tim. Tak satu pun orang menyadari perubahan kecil itu.
Begitu berada di luar ruangan, Karin berhenti. Ia menempelkan telapak tangannya ke dada, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tak beraturan. Nafasnya bergetar. Dan saat itulah, air matanya akhirnya jatuh—tanpa bisa ia cegah.
Satu tetes. Lalu menyusul yang lain.
“Apa dia… tidak kenal aku, ya?” bisiknya lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Hatinya terasa perih. Bukan karena Arka ada di sana. Tapi karena Arka bersikap seolah ia adalah orang asing. Seolah delapan tahun yang pernah mereka lalui tidak pernah ada. Seolah kenangan itu hanya hidup di kepalanya saja.
Karin menghapus air matanya cepat-cepat, menertawakan dirinya sendiri dengan getir.
“Bodoh,” katanya pelan. “Harusnya aku sudah siap.”
Namun nyatanya, ia belum siap—tidak untuk tatapan dingin itu, dan tidak untuk rasa kehilangan yang kembali terbuka begitu saja.