Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Beberapa jam setelah Senja diusir.
Rumah itu kembali sunyi, tapi bukan sunyi yang damai. Pintu depan masih tertutup rapat, seolah menegaskan keputusan mengusir Senja adalah tepat dan tak akan ditarik kembali.
Di teras, Ibu Senja duduk dengan tangan terlipat di dada. Raut wajahnya belum mengendur, rahangnya mengeras, beberapa kali dengusan kesal lepas dari lubang hidung.
Beberapa ibu komplek masih betah mengamati diam-diam, berdiri tak jauh, pura-pura menyapu halaman, pura-pura menjemur pakaian, padahal telinga mereka terpasang tajam. Gosip selalu datang lebih cepat daripada empati.
Sebuah motor ojek berhenti di depan rumah. Seorang pria turun dengan langkah mantap, meski lelah jelas tergambar di wajahnya.
Ia tidak terburu-buru, tidak panik. Diajak matanya menyapu rumah itu sekilas. Rumah tempat Senja tumbuh, sekaligus rumah yang kini menolaknya. Pria itu berdiri tegak di depan pagar.
"Permisi," ucapnya sopan, suaranya rendah dan terkendali. "Saya mencari Senja."
Winarti menoleh. Menilai dari ujung rambut sampai sepatu. Motor ojek, pakaian biasa, bukan mobil, bukan orang berada. Alisnya terangkat sinis.
"Kamu siapa?"
"Sagara."
"Oh." Ibu Senja mendengus, tersenyum miring. "Kamu itu ya?"
Sagara terdiam sesaat. "Maksud Ibu?"
"Laki-laki yang bikin anak saya hamil."
Kalimat itu dilontarkan keras, sengaja. Supaya terdengar. Supaya semua tukang ghibah yang saat ini masih standby di sana tahu akan kelakuan Sagara.
Beberapa ibu kompleks saling lirik. Ada yang langsung menutup mulut, terkejut, lalu menahan senyum yang sudah siap pecah.
Gestur tubuh Sagara tidak menunjukkan keterkejutan yang umum, seakan dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan besar yang akan terjadi. Dia ingat, malam itu benih miliknya tumpah ke dalam begitu banyak.
Akan tetapi, bukan berarti tiada hantaman keras di dadanya. Rasa bersalah kian mengeras di balik pembawaannya yang tenang.
Sagara tak berniat mengelak. Ia mengangguk satu kali. Anggukan tegas yang syarat akan tekad. "Jika Senja memang hamil, saya tidak akan lari dari tanggung jawab,” katanya tenang.
Para ibu kompleks kembali saling melirik, dan salah satunya berbisik, cukup keras terdengar Sagara. "Ngaku-ngaku bertanggung jawab…"
Sagara menoleh ke arah suara sumbang itu. Tatapannya tenang, namun membuat bisikan itu langsung tenggelam. Ia kembali pada Winarti.
Keheningan jatuh sesaat. Winarti melirik motor ojek butut yang masih menunggu di luar pagar, tertawa kecil penuh ejekan. "Datang naik ojek, berani ngomong tanggung jawab? Sudah merusak hidup anak orang, mau tanggung jawab pakai apa? Niat?"
Sagara melirik motor itu sekilas, tak berniat menjelaskan sesuatu. Saat perjalanan menuju ke rumah Senja ia mengalami insiden kecelakaan. Beruntung dia tak lecet sedikitpun, hanya mobilnya ringsek bagian depan.
Sagara kembali menatap ibu Senja, tatapan pria dewasa yang terbiasa dihormati, bukan ditantang. "Kendaraan tidak menentukan nilai tanggung jawab, Bu," ucapnya pelan.
"Halah, omongan basi! Omongan orang miskin yang sok bijak," sungut Winarti.
"Saya datang bukan untuk berdebat. Saya hanya ingin bertemu Senja." Nada suaranya tidak meninggi. Justru itu yang membuatnya terasa menekan.
"Sudah diusir," kata Ibu Senja itu cepat dan ketus. "Perempuan tidak tahu malu itu bukan anak saya lagi."
Kata diusir membuat dunia Sagara berhenti sejenak. Rahangnya mengeras, ada rasa yang nyaris meledak, tapi masih terkendali.
"Baik," katanya singkat. "Kapan Senja pergi?" Suaranya tetap stabil. Dan pertanyaannya barusan bukan sekedar pertanyaan basa basi, melainkan sebentuk parameter sejauh mana Senja pergi, meski kemungkinan bertemunya masih abu-abu.
Ibu Senja tertawa sinis. "Kamu masih berani tanya?"
"Saya bertanya karena saya peduli."
"Dia sudah bukan urusan kami. Mau kamu bawa ke mana, silakan. Tapi jangan harap kami terima menantu seperti kamu."
Winarti menunjuk dada Sagara. "Datang miskin bawa aib, bikin malu pula."
"Saya tidak akan memperpanjang ini. Saya ke luar negeri karena pekerjaan. Ponsel saya hilang. Begitu kembali ke Indonesia, saya langsung ke sini."
Ucapannya berhenti sejenak, lalu kembali menambahkan, bukan sebagai pembelaan, tapi penegasan. "Saya dosen. Profesor. Dan saya terbiasa menepati janji."
Salah satu ibu kompleks terkekeh kecil.
"Dosen kok naik ojek?"
Ibu Senja itu tertawa sinis. "Alasan. Semua laki-laki sama. Pandai ngomong. Kamu nggak usah tanya-tanya tentang dia lagi di sini. Mungkin dia sudah sadar diri atau mampus di jalan."
Tajam, kejam, kata-kata Winarti bagaikan pukulan tak kasat mata di dalam rongga dada Sagara. Ia menatap perempuan di hadapannya, ibu dari gadis yang kini mungkin sedang merana, kelaparan entah di mana, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa jijik pada orang dewasa.
“Saya akan mencarinya,” ucapnya pelan, tegas.
“Kalau begitu, cari saja dia,” kata Winarti akhirnya. “Tapi jangan pernah kembali ke rumah ini sekalipun kalian akan menikah. Ayah Senja juga tidak sudi menjadi wali nikahnya. Kalian sujud-sujud sambil menangis darah sekalipun, tetap tidak sudi!”
Sagara mengangguk. “Saya tidak berniat kembali.”
Sagara berbalik tanpa menunggu balasan. Langkahnya mantap. Tidak terburu, tidak ragu. Namun sebelum pergi, ia berhenti setengah langkah.
Tanpa menoleh, ia berkata. "Dan satu hal lagi. Cara Ibu memperlakukan Senja hari ini, akan selalu Ibu ingat nanti.”
Ia pergi, meninggalkan teras yang mendadak terasa sempit oleh rasa malu yang tak diucapkan. Winarti terdiam, terusik dengan perkataan sagara yang menyerupai ancaman halus tapi menusuk.
Langit di luar terlihat tenang, tetapi di dalam mobil itu, Sagara sedang menjalani pengadilan sunyi. Setiap ruas jalan adalah saksi. Setiap tikungan adalah pertanyaan. Dan setiap kali jawabannya tetap sama, tidak ada Senja, dadanya terasa dihantam oleh putusan yang tak pernah ia inginkan.
Ia menyetir dengan punggung tegak, rahang mengeras, mata tajam menyisir jalanan. Seperti seorang pria yang terbiasa memegang kendali, namun kini dipaksa mengakui satu hal yang paling ia benci, yaitu ada sesuatu yang lepas dari tangannya.
Ketegangannya bukan pada gerak, melainkan pada diam. Terlalu tenang untuk orang yang sedang cemas. Terlalu teratur untuk pria yang sedang runtuh.
Bukan dunia yang ia salahkan. Bukan juga keadaan. Yang ia hakimi adalah dirinya sendiri.
Setir digenggam lebih erat, bukan seperti orang marah, tapi seperti seseorang yang bersumpah tidak akan membiarkan kesalahan itu terulang.
Gas diinjak sedikit lebih dalam. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk menebus. Ia tidak sekedar sedang mencari Senja. Ia sedang mengejar kelalaiannya sendiri.
Langit meredup. Malam turun sepenuhnya. Dan itu hanya memperjelas satu hal, misinya belum selesai.
Laju mobil Sagara melambat saat matanya menangkap siluet kecil di bangku bawah pohon. Lampu taman temaram, dedaunan bergoyang pelan, dan udara malam terasa lembap oleh dingin.
Bukan Senja yang pertama kali ia lihat. Melainkan seorang pria asing yang berdiri terlalu dekat dengan bangku itu.
Tubuhnya condong. Tangannya merayap ke arah tas kecil yang dipeluk Senja di dada.
Sagara berhenti, kemudian turun dari mobil tanpa membanting pintu. Langkahnya mantap, tidak terburu, tapi penuh tekanan.
Sepatunya berhenti tepat di belakang pria yang berniat mengambil tas Senja itu. "Letakkan,” katanya pelan.
Bukan bentakan. Bukan ancaman terbuka. Hanya satu kata, dengan nada yang membuat tulang belakang orang dewasa bisa merinding.
Pria itu menoleh. Tatapannya beradu dengan mata Sagara. Dan seketika, nyalinya runtuh.
Tatapan Sagara bukan tatapan marah, melainkan tatapan orang yang terbiasa memberi perintah… dan selalu dipatuhi.
"Kalau kau masih ingin pulang dengan kaki utuh, melangkahlah pergi. Sekarang,” lanjut Sagara lirih,
Tangan pria itu bergetar. Tas itu dilepas perlahan, seolah bom waktu yang siap meledak. Ia menelan ludah, melirik ke arah Senja yang tak bergerak, lalu mundur satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Hingga akhirnya berbalik dan pergi cepat, nyaris berlari, lenyap di balik kegelapan pepohonan.
Tak ada teriakan.
Tak ada kejar-kejaran.
Tak ada keributan.
Hanya malam yang kembali sunyi.
Sagara baru menghela napas saat benar-benar yakin pria itu telah pergi.
Barulah pandangannya jatuh sepenuhnya pada sosok kecil di bangku itu.
Senja.
Tubuhnya meringkuk seperti anak kucing yang mencari kehangatan. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit terbuka, napasnya dangkal. Tas itu masih dipeluk erat, seolah satu-satunya benda yang membuatnya merasa aman.
Dada Sagara terasa diremas. Ia berlutut perlahan di hadapan Senja. Tidak menyentuhnya dulu. Hanya memandangi, seperti memastikan ini nyata, bukan halusinasi dari rasa bersalahnya.
"Ya Tuhan…," bisiknya hampir tanpa suara.
Begitu rapuh.
Begitu kecil.
Begitu sendirian.
Tangan Sagara terangkat sedikit ragu, lalu berhenti di udara. Ia takut membangunkannya dengan kasar. Takut Senja akan terkejut, panik, atau bahkan menangis.
Akhirnya, ia menyentuh punggung tangannya sendiri ke udara dingin malam, lalu menempelkan ke pipi Senja. Pelan... sangat pelan.
Dingin. Pipi Senja hampir membeku.
“Senja…” panggilnya rendah, tapi tidak ada respons.
Pria itu mengusap rambut Senja sedikit, masih lembut. Masih seperti yang ia ingat di malam itu.
Napasnya tergetar. Rasa bersalah yang ia pendam selama berhari-hari akhirnya menemukan wujudnya.
Bukan dalam tangisan, tapi dalam keheningan yang terlalu menyesakkan.
“Maaf…” bisiknya. “Maaf aku datang terlambat.”
Senja bergerak kecil dalam tidurnya.
Alisnya mengernyit, lalu bibirnya bergerak.
“Om Sagara…” gumamnya.
Sagara memejamkan mata.
Satu panggilan lembut itu terasa seperti hukuman dan pengampunan sekaligus.
Ia menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat, lalu dengan sangat hati-hati menyelipkan satu tangan ke bawah punggung Senja, satu lagi ke bawah lututnya. Mengangkatnya seolah mengangkat sesuatu yang sangat berharga.
Sesuatu yang tidak boleh jatuh lagi.
Tubuh Senja merapat tanpa sadar, mencari hangat. Kepalanya bersandar di dada Sagara.
“Iya,” bisik Sagara. “Aku di sini.”
Dan untuk pertama kalinya malam itu,
Sagara merasa misinya tak lagi incomplete.
Bersambung~~