NovelToon NovelToon
The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

The Ghost Detective: Sam’S Last Gift

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Identitas Tersembunyi / Slice of Life / Persahabatan / TKP / Roh Supernatural
Popularitas:88
Nilai: 5
Nama Author: Phida Lee

Seorang arwah anak yang terlupakan sejak 1987. Seorang detektif perempuan yang bisa melihatnya di tahun 2020. Bersama, mereka memecahkan kasus-kasus mustahil.

Tetapi setiap kebenaran yang mereka ungkap membawa Lisa dan Rhino semakin dekat pada misteri terbesar, identitas Rhino yang sebenarnya. Sebuah rahasia kelam yang, jika terungkap, bisa membebaskannya atau justru memisahkan mereka untuk selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phida Lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Malam telah merembes sepenuhnya ke dalam Markas Kepolisian Seoul Pusat, mengubah koridor-koridor yang biasanya riuh menjadi terowongan panjang yang sunyi dan mencekam. Hanya lampu neon di langit-langit yang masih menyala, separuhnya berkedip-kedip tidak stabil dengan dengungan listrik yang fals, memantulkan bayangan aneh di lantai keramik yang mengilap. Suara mesin faks dari ruang administrasi yang jauh terdengar seperti detak jantung mekanis dari bangunan yang sedang tertidur.

Lisa berjalan perlahan, langkah sepatu bot kulit hitamnya bergema terlalu nyaring, seolah-olah mengganggu kesunyian yang rapuh. Ia mendekap erat map cokelat tebal berisi berkas artefak Dinasti Joseon yang ia bawa pulang, meski ia tahu kemungkinan besar hanya akan menatapnya tanpa hasil.

Tapi bukan berkas itu yang memenuhi pikirannya.

Sensasi itu—perasaan diawasi, diikuti, dihadiri—tidak lenyap. Justru semakin mengkristal, menjadi sesuatu yang hampir fisik. Udara di sekitarnya terasa lebih berat, lebih padat, dan sejuk dengan cara yang aneh, bukan seperti AC, melainkan seperti angin dari ruang bawah tanah yang tertutup lama. Bulu kuduk di lengan bawahnya tetap berdiri.

𝘐𝘯𝘪 𝘩𝘪𝘴𝘵𝘦𝘳𝘪𝘢, 𝘓𝘪𝘴𝘢. 𝘒𝘦𝘯𝘥𝘢𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘮𝘶, bentak batinnya, sementara tangan kirinya dengan sadar mengusap lengan kanannya, merasakan kulitnya yang merinding.

Di dimensi yang hanya terpisah oleh selaput realitas yang sangat tipis, Sam melangkah mengikutinya, menjaga jarak beberapa langkah. Matanya, yang telah menyaksikan Seoul berubah dari era permen karet balon menjadi era ponsel pintar, kini tertuju pada punggung wanita detektif itu dengan penasaran yang menyakitkan. Selama tiga puluh tiga tahun, ia adalah penonton bioskop tanpa suara, menatap layar kehidupan yang tak pernah memanggilnya. Tapi wanita ini… ia merasakan sesuatu. Saat ia mendekat, lampu neon di atas mereka berdua berkedip lebih ganas. Saat ia menjauh, suara mesin faks itu terdengar lebih jelas. Seolah-olah keberadaannya memengaruhi frekuensi dunia.

Dan ia ingin tahu. Ingin tahu apa yang tertulis di map yang digenggam erat itu, ingin tahu kerutan di antara alis wanita itu saat membaca, ingin tahu alasan ia tetap tinggal di kantor saat yang lain pulang kepada keluarga. Rasa ingin tahu itu adalah perasaan pertama yang mendekati ‘tujuan’ setelah sekian lama.

Lisa berhenti mendadak di depan pintu lift tertutup. Ia bukan bermaksud menekan tombol. Ia hanya merasa, dengan intensitas yang membuat dadanya sesak, bahwa ‘kehadiran’ itu kini telah menyamai langkahnya, berhenti tepat di belakang tengkuknya. Jaraknya begitu dekat hingga ia bisa membayangkan hembusan… sesuatu.

Dengan gerakan terlatih yang lahir dari naluri bertahun-tahun di lapangan, ia berbalik.

Dan di sana.

Sam terpana. Ia tak punya waktu untuk menghindar, untuk larut dalam dinding, atau untuk berpura-pura menjadi angin. Ia membeku, terpaku di tempat, persis seperti patung yang baru saja ditempatkan di lorong kosong. Sosoknya yang tinggi—sekitar 180 cm—dengan rambut kemerahan tembaga yang berantakan jatuh di sekitar wajahnya, terpampang nyata di bawah cahaya neon yang pucat. Ia mengenakan jaket denim biru yang sudah lusuh dan pudar di siku-siku, kaos abu-abu polos, dan celana kain yang sama-sama berasal dari era yang bukan era ini. Siluetnya padat, jelas, namun di sekeliling pinggirannya, seolah ada cahaya temaram yang sangat halus, membuatnya tampak seperti foto yang sedikit overexposed.

“Astaga!”

Teriakan Lisa memecah keheningan, keras dan penuh kejutan. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya; ia melompat mundur, punggungnya membentur pintu lift besi dengan suara ‘dug!’ yang bergema. Map di tangannya nyaris terlepas, kertas-kertas di dalamnya berserakan. Jantungnya berdebar kencang hingga terasa di tenggorokan.

“Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk ke sini? Ini area terbatas!” Suaranya tegas, memotong udara dingin.

Sam tidak bergerak. Ia seperti rusa yang tertangkap lampu mobil. Ia bisa melihat setiap detail di wajah Lisa: mata cokelatnya yang membelalak penuh kewaspadaan, alisnya yang meruncing, bibirnya yang sedikit ternganga, dan warna yang mulai menghilang dari pipinya. Ia mendengar suara itu—suara yang ditujukan kepadanya. Bukan gumaman untuk diri sendiri, bukan percakapan dengan orang lain yang melewatinya.

“Aku bertanya padamu!” Lisa mendesak lagi, tangannya dengan reflek menyentuh pinggang tempat biasanya sarung pistol berada, dan menemukan kekosongan. Senjatanya ada di laci. Bodoh. “Kau tidak tercatat. Cepat jawab, identitasmu!”

Sam merasa seluruh eksistensinya bergetar, seperti gong raksasa yang baru saja dipukul. Suara itu bergema di dalam dirinya, di ruang hampa tempat ‘jiva’nya bersemayam.

“Kamu… bicara padaku?” Suaranya keluar dengan serak, seolah-olah pita suaranya berdebu.

Lisa mengerutkan kening lebih dalam. Rasa takut awal sedikit bergeser, digantikan oleh kejanggalan yang semakin menjadi. Pria ini terlihat nyata, tapi ada sesuatu yang sangat salah. Kulitnya terlalu pucat, seperti marmer, tanpa cahaya hidup. Matanya, meski hangat, memiliki kedalaman yang aneh—seolah-olah memantulkan cahaya dari tempat yang sangat jauh. Dan pakaiannya… itu gaya pertengahan 90-an.

“Memangnya ada siapa lagi di lorong ini selain kamu dan aku?” Lisa membalas, suaranya lebih rendah namun penuh tekanan. “Kau warga sipil yang tersesat? Atau informan yang salah janji? Dan rambutmu… kenapa warnanya begitu?” Ia mencoba mencari penjelasan logis. Mungkin artis performance. Atau orang sakit jiwa yang kabur.

Dunia Sam berputar. Cahaya neon yang berkedip seolah meledak menjadi jutaan bintang di matanya. Tiga puluh tiga tahun. Tiga puluh tiga tahun sunyi, tanpa nama, tanpa pengakuan, tanpa satu pun pasang mata yang benar-benar melihat dia, bukan sekadar merasakan dingin. Dan sekarang, seorang wanita dengan wajah tegas dan mata yang lelah menatapnya, menuntut jawaban.

“Kau bisa melihatku?” Sam melangkah maju, satu langkah kecil, penuh hati-hati. Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi tidak jatuh. Seolah-olah tubuhnya lupa cara menangis. “Benar-benar kau bisa melihatku? Bukan hanya… merinding dan bilang ‘ada angin aneh’?”

Lisa menatapnya, analisis detektifnya berjalan di belakang ketakutan. Pria ini tidak terlihat mengancam secara fisik. Ekspresinya lebih mirip seseorang yang baru saja menemukan oasis di gurun—campuran ngeri, harap, dan kebahagiaan yang sangat besar. Tapi situasinya tidak masuk akal.

“Tentu saja aku melihatmu. Kau berdiri di sana dengan jaket denim ketinggalan zaman dan wajah seperti baru melihat hantu.” Ia berhenti. Hantu. Kata itu menggantung di antara mereka. “Jangan bergerak. Aku akan memanggir petugas keamanan.”

Sam tiba-tiba tertawa. Suara tawa itu pendek, kering, dan getar, keluar dari dadanya dan terdengar begitu asing di telinganya sendiri. “Petugas keamanan…” ia mengulang, seperti mencicipi kata itu. “Mereka tidak akan bisa menangkapku, Nona Detektif. Kamu… kamu tidak mengerti. Kamu tidak tahu sudah berapa dekade aku menunggu seseorang untuk benar-benar menanyakan siapa aku, bukan sekadar mengusap lengannya dan berkata ‘dingin sekali’.”

Lisa terdiam. Ia mendengar getar di suara pria itu, getar yang berasal dari kedalaman yang tak terukur. Ia melihat bagaimana cahaya neon yang berkedip seolah-olah melewati sebagian dari siluet pria itu untuk sesaat, sangat singkat. Kewaspadaannya berubah menjadi sesuatu yang lain: sebuah pengakuan akan keanehan yang tak terbantahkan.

“Siapa kau?” tanyanya sekali lagi, tapi kali ini nadanya berbeda. Bukan lagi pertanyaan seorang petugas hukum, melainkan pertanyaan seorang manusia yang dihadapkan pada teka-teki yang melampaui buku aturan.

Sam menarik napas dalam-dalam, sebuah gerakan simbolis. Matanya menatap Lisa, memancarkan cahaya hangat yang kontras dengan pucatnya wajahnya.

“Namaku Sam. Tapi… ada yang dulu memanggilku Rhino. Dan aku… aku pikir, aku sudah mati sejak lama sekali. Sejak tahun 1987.”

Kata-kata itu menggantung di udara dingin lorong, diselingi oleh dengungan neon yang mendadak stabil, lalu padam sesaat, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang pekat selama tiga detik yang terasa seperti selamanya.

Saat lampu kembali menyala, Lisa masih berdiri membatu, map-nya terjatuh di lantai, menyebarkan kertas-kertas putih di sekitar kaki mereka berdua. Dan di depan matanya, pria bernama Sam itu masih ada, dengan ekspresi yang sekarang berisi harap dan ketakutan yang sama besarnya.

.

.

.

.

.

.

.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!