Seminggu menjelang hari bahagianya, dunia Jamila runtuh seketika. Di sebuah gubuk tua di tepi sawah, ia menyaksikan pengkhianatan paling menyakitkan: Arjuna tunangannya, justru bermesraan dengan Salina, sepupu Laila sendiri. Sebagai gadis yatim piatu yang terbiasa hidup prihatin bersama kakaknya, Jamal, serta sang kakek-nenek, Engkong Abdul Malik dan Nyai Umi Yati, Mila memilih tidak tenggelam dalam tangis.
Jamila mengalihkan rasa sakitnya dengan bekerja lebih keras. Dengan kulit hitam manisnya yang eksotis dan kepribadian yang pantang menyerah, ia mencari nafkah melalui cara yang tak lazim: live streaming di TikTok. Bukan sekadar menyapa penonton, Jamila melakukan aksi nekat memanjat berbagai pohon mulai dari jambu hingga durian sambil bercengkerama dengan para followers nya
Awalnya hanya kagum pada keberanian Laila, Daren, pemuda tampan dari Eropa perlahan jatuh cinta pada ketulusan Jamila, dan berniat melamarnya, apakah Jamila menerima atau tidak ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indira MR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. DM Dari Darren
Pagi di Sukamaju diawali dengan kicauan burung yang kalah nyaring dibanding teriakan Salina. Di depan pagar rumah Engkong Malik, Salina berdiri dengan daster macan tutul andalannya, tangannya berkacak pinggang, matanya melotot ke arah Jamila yang sedang asyik menjemur cucian kain jahitan.
"Woi, Jamila! Keluar lo! Dasar tukang santet digital!" teriak Salina.
Jamila menoleh tenang, jepitan jemuran masih terselip di bibirnya. "Kenapa lagi sih, Sal? Pagi-pagi udah kayak klakson bus antar kota aja lu, berisik!"
"Halah, kagak usah akting polos! Akun TikTok gue di-banned gara-gara fans lo kan? Lo pasti nyuruh pasukan panjat pohon lo itu buat nge-report gue! Lo iri kan liat gue live di showroom mewah?"
Jamila meletakkan baskom cuciannya. Ia mendekat ke pagar dengan wajah santai.
"Sal, dengerin ya. Akun lo itu kena banned bukan karena fans gue, tapi karena telinga admin TikTok-nya mungkin berdarah denger lo nyanyi. Itu mah bukan nyanyi, Sal, itu mah nyiksa nyawa orang lewat frekuensi udara."
"Kurang ajar! Lu bilang suara gue jelek?!"
"Kagak bilang jelek, cuma bilang kurang layak dikonsumsi telinga manusia, udah ah, mending lu pulang. Urus tuh Arjuna, katanya cicilan motornya udah nunggak lagi, daripada lu ngurusin akun yang udah almarhum," ucap Jamila sambil melengos masuk ke dalam rumah.
Salina makin histeris. Ia menendang kaleng bekas di pinggir jalan sampai kakinya sendiri kesakitan.
"Awas lo, Mil! Liat aja, gue bakal laporin lo ke Pak RT karena pencemaran nama baik istri anak Kades!"
Di dalam rumah, Jamila duduk di atas mesin jahitnya. Ponselnya berdenting. Sebuah notifikasi Instagram muncul. Nama akunnya: @Daren_From_Euro.
Selama ini, Daren hanya men sawer di TikTok. Kali ini, pria itu memberanikan diri mengirim pesan pribadi. Jamila membukanya dengan jantung sedikit berdegup.
Daren: "Hello, Jamila. I'm the one who sent the Whale on your live. You are so brave on that tree. I really want to meet the Ninja Girl in person."
Jamila mengernyit. Ia harus membuka Google Translate untuk mengerti maksud si bule. Setelah paham, ia membalas dengan bantuan Kayla lewat pesan suara.
Jamila: "Halo, Daren. Makasih ya buat paus-nya, jujur itu ngebantu banget buat umrah Engkong gue. Tapi kalo mau ketemu gue di Indonesia, ada syaratnya, Bang!"
Daren: "What is the requirement? I will do anything."
Jamila: "Satu, lu harus bisa bahasa Indonesia. Gue kagak mau ngomong sama lu pake bahasa isyarat kayak lagi main tebak kata. Dua, perut lu harus kuat. Lu harus bisa makan makanan Indonesia. Di sini kagak ada keju-kejuan tiap hari, adanya jengkol sama sambal terasi yang pedesnya bisa bikin lu inget dosa masa lalu."
Daren: "Challenge accepted! Give me one month. I will learn and I will eat everything you eat."
Di sebuah apartemen minimalis di pusat kota Berlin, Daren pria tinggi dengan rahang tegas dan mata biru tampak sedang menderita. Di depannya bukan piring berisi steak atau bratwurst, melainkan sebuah kotak plastik berisi tahu dan tempe goreng hasil kiriman temannya yang punya restoran Indonesia di sana.
"Oke, Daren. Kamu bisa," gumamnya dalam bahasa Indonesia yang masih sangat kaku, hampir terdengar seperti robot yang kehabisan baterai.
Ia mencicipi tahu goreng.
"Hmm... T-A-H-U. This is... like a sponge but with salt. Not bad."
Lalu ia mencoba tempe. Matanya membelalak.
"Oh! This is fermented beans? Tastes like... nuts? I like it!"
Minggu berikutnya, Daren mencoba tantangan yang lebih berat: Gado-gado. Ia menatap bumbu kacang yang kental itu dengan curiga.
"Is this chocolate?" tanyanya pada diri sendiri. Begitu satu suapan masuk, ia langsung tersedak.
"Oh my God! Pedas! Hot! Why is there a fire in my throat?!" Ia langsung menenggak satu liter susu. Namun, anehnya, setelah pedasnya hilang, ia malah ingin menyuap lagi.
"But... it's addictive."
Puncaknya adalah saat ia mencoba Rendang. Ia memesan rendang paling otentik dari seorang koki asal Padang di Jerman. Daren menatap daging hitam kecokelatan itu.
"Ini terlihat seperti... batu bara," ucapnya ragu.
Ia memotong dagingnya dengan pisau dan garpu karena dagingnya sangat empuk lalu memakannya dengan nasi hangat. Detik itu juga, dunia Daren seolah berubah warna.
"WOW! This is incredible! Rendang... Ren-dang... Ini enak sekali!" teriaknya dalam bahasa Indonesia yang tiba-tiba lancar karena saking semangatnya.
"Jamila, I'm coming for this food and for you!"
Ia bahkan mulai belajar menggunakan sarung yang dibelinya secara online.
Meskipun berkali-kali melorot, Daren tetap semangat. Ia berjalan mondar-mandir di apartemennya sambil latihan bicara di depan cermin.
"Selamat pagi, Engkong. Saya Daren. Saya boy friend Jamilah, oh.. no, teman dekat Jamila"
Kembali ke Sukamaju, Arjuna sedang duduk di diler mobil dengan pandangan kosong. Target penjualannya bulan ini zonk. Teman-temannya di kantor terus-menerus meledeknya tentang video Knalpot Bocor Salina yang sempat viral sebelum di-banned.
"Jun, bini lu sehat?" tanya salah satu sales senior sambil menahan tawa.
"Itu suara apa alarm tsunami? Bos sampe nanya itu siapa yang teriak-teriak di depan Fortuner unit display."
Arjuna hanya bisa memijat pelipisnya. Saat ia membuka Instagram untuk menghilangkan stres, ia melihat akun Jamila mengunggah foto kiriman dari Daren.
Sebuah foto piring berisi rendang dan tulisan tangan di atas kertas:
"I love Rendang. I love Indonesia. See you soon, Jamila!"
Dada Arjuna serasa ditonjok. "Bule ini beneran serius suka sama Jamila?" gumamnya, perasaan Arjuna seketika tambah kacau.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Telepon dari Salina.
"Mas Juna! Jemput sekarang! Ini daster aku robek gara-gara tadi berantem sama Jamila! Terus ini tagihan mesin cuci udah dateng, aku gak punya duit! Cepetan!"
Arjuna menatap layar HP-nya, lalu menatap foto Jamila yang terlihat semakin cantik dan mandiri. Ia menghela napas panjang.
"Kenapa dulu gue milih batu kali ya padahal di tangan gue udah ada berlian ?"
Ia menutup telepon Salina tanpa menjawab. Ia memilih untuk berjalan ke arah mesin kopi, menyadari bahwa penyesalan itu memang selalu datang paling akhir. Sementara di belahan dunia lain, seorang bule tampan sedang giat berlatih mengucapkan kata
" Hai, a-pa ka-bar-mu, Ja-mila? "
Daren mencoba melakukan video call pertama dengan Jamila. Jamila menerimanya saat sedang berada di pasar, membantu Bang Jamal jualan mangga.
"Hello, Jamila!" seru Daren di layar.
"Hello Daren, udah bisa ngomong apa lo?" tanya Jamila sambil nahan tawa liat muka Daren yang kemerahan.
Daren berdehem, lalu dengan bangga berkata, "Jamila... kamu... sangat... manis? No, no. Kamu sangat... cantik seperti mang-ga matang di pohon!"
Bang Jamal yang denger langsung nyaut, "Woi! Bule! Pinter amat lu ngerayu adek gue!"
Daren kaget denger suara cowok.
"Oh! Is that your husband?!" wajahnya langsung pucat.
"Bukan! Ini abang gue, namanya Bang Jamal," jelas Jamila.
"Oh, Bang Jamal! Se-lamat sia-ng, A-bang! Jangan ma-rah! Saya lagi makan rendang ma-u !" balas Daren asal-asalan yang bikin Jamal dan Jamila ketawa bareng.
Jamila menggelengkan kepala.
"Udah, Daren. Lanjutin belajarnya. Kalo lu beneran dateng ke sini, gue masakin rendang yang lebih enak dari yang di Jerman!"
"I promise! I will fly to Sukamaju!"
Di pojok pasar, Salina yang ternyata lagi ngintip di balik gerobak cendol, gigit jari sampai kukunya hampir copot.
"Bule itu beneran ganteng... putih... hidungnya kayak prosotan anak TK. Kok mau sih sama si tukang panjat?" gumamnya sirik tingkat dewa.
Bersambung.