Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehamilan yang Menyakitkan
Wulandari diem sebentar. Terus... nyengir. Seringai yang... aneh. Seringai yang bikin Lestari merinding.
"Bagus. Berarti lo nggak bisa manja-manja lagi. Lo harus cari kerja. Hamil bukan alasan buat males-malesan!"
"Tapi... tapi aku udah kerja di rumah ini, Mamah... aku beresin rumah, masak, nyuci—"
"Itu mah kewajiban lo sebagai istri! Maksud Ibu lo harus cari kerja yang dapet duit! Jadi pembantu orang lain kek, jualan kek, apa kek! Uang Dyon tuh buat bayar kontrakan, buat makan Ibu sama Dyon! Nggak buat lo! Apalagi buat anak lo nanti!"
Lestari nggak percaya sama apa yang dia denger. Dia hamil. Hamil anak Dyon. Tapi dia... dia harus cari kerja sendiri buat ngurus anaknya sendiri?
"Ngerti nggak?" Wulandari melipat tangan di dada.
"N—ngerti, Mamah..." Suara Lestari hampir nggak kedengeran.
"Bagus. Sekarang masak makan malem. Ibu laper."
Wulandari balik ke kamar, tutup pintu.
Dyon masih nonton TV, kayak nggak terjadi apa-apa.
Lestari berdiri sendirian di ruang tamu. Tangan nya mengelus perut yang masih rata. Perut yang sekarang ada kehidupan di dalemnya. Kehidupan kecil. Lemah. Nggak bersalah.
Air mata nya jatuh lagi. Tapi kali ini... nggak ada suara. Cuma air mata yang ngalir diam-diam.
Dia jalan pelan ke kamar gudang. Masuk. Tutup pintu. Duduk di tikar.
Tangannya terus mengelus perut.
"Maafin Ibu, Nak..." bisik nya pelan. Suara nya serak, patah-patah. "Maafin Ibu yang nggak bisa kasih kamu kehidupan yang layak... yang nggak bisa kasih kamu bapak yang baik... yang nggak bisa kasih kamu rumah yang hangat..."
Dia nangis. Nangis pelan. Biar nggak kedengeran.
"Ibu... Ibu nggak tau harus gimana... Ibu sendiri masih anak-anak... Ibu sendiri masih butuh ibunya... tapi sekarang Ibu harus jadi ibu buat kamu... Ibu... Ibu takut nggak bisa jadi ibu yang baik..."
Dari luar denger suara TV yang keras. Suara iklan deterjen yang lagunya norak.
Lestari merem. Ngebayangin masa depan. Masa depan yang gelap. Nggak ada cahaya.
Anak nya bakal lahir di rumah ini. Bakal tumbuh di rumah ini. Bakal liat kekerasan. Bakal liat ibunya dipukul. Bakal liat... bakal liat semua yang nggak seharusnya diliat anak kecil.
"Ya Allah... Ya Allah kumohon... kalau Engkau sayang sama anak ini... keluarkan aku dari sini sebelum dia lahir... kumohon... aku nggak mau dia hidup kayak aku... nggak mau..."
Tapi doa itu... doa itu cuma doa.
Kenyataan nya—
Lestari terjebak. Hamil. Nggak punya uang. Nggak punya kemana-mana. Nggak punya siapa-siapa.
Dan anak yang ada di perutnya...
Anak itu bakal lahir di neraka yang sama.
Dua jam kemudian.
Sekitar jam sebelas malem.
Lestari masih di kamar gudang. Nggak tidur. Cuma duduk, memeluk lutut, natap kosong ke gelap.
Perutnya lapar. Dia ngidam—pengen makan mangga muda. Mangga muda yang asem, dikasih garam sama cabe. Ngiler ngebayanginnya.
Tapi dia nggak punya. Nggak ada mangga muda di rumah ini. Nggak ada uang buat beli.
Pintu kamar tiba-tiba dibuka kasar—BRAK.
Lestari kaget, noleh.
Dyon berdiri di pintu. Mata nya merah lagi. Napas nya bau arak.
Mabuk lagi.
"K—kamu... kamu mabuk lagi?" Lestari berdiri, mundur sampe punggung nya nempel tembok.
"Gue mau ngomong sesuatu." Dyon masuk, nutup pintu, mengunci.
Jantung Lestari langsung berdegup cepet.
"A—apa?"
"Lo hamil kan?"
"I—iya..."
"Berarti lo tetep harus melayani gue. Hamil bukan alasan buat nolak."
Lestari matanya melebar. Nggak. Nggak dia nggak mau. Badannya masih sakit. Perutnya ada bayi. Nggak bisa.
"Mas kumohon... aku... aku lagi hamil... nanti bayinya—"
"BAYI LO NGGAK BAKAL KENAPA-KENAPA! Gue tau kok, istri orang hamil juga masih bisa diapa-apain sampe bulan ketujuh! Lo baru berapa? Sebulan? Masih kecil tuh bayinya! Nggak ngaruh!"
"Tapi Mas—"
Dyon nggak denger. Atau dia denger tapi nggak peduli.
Yang terjadi selanjutnya...
Sama kayak malam-malam sebelumnya.
Brutal. Kasar. Nggak ada perasaan.
Lestari cuma bisa nangis. Tangannya melindungi perut—walaupun nggak ada yang bisa dia lindungi. Giginya menggigit bibir sampe berdarah.
Tapi yang paling sakit bukan badan.
Yang paling sakit adalah—
Dia punya ngidam. Ngidam mangga muda. Pengen banget. Ngiler banget. Tapi yang dia dapet... bukan mangga muda. Yang dia dapet cuma hentakan. Cuma sakit. Cuma air mata.
Selesai, Dyon keluar begitu aja. Ninggalin Lestari sendirian.
Lestari tergeletak di tikar. Tubuh nya sakit. Tangan nya masih terus melindungi perut.
"Maafin Ibu, Nak... maafin Ibu..." bisik nya berkali-kali. "Ibu janji... Ibu bakal melindungi kamu... Ibu janji... Ibu nggak bakal biarkan kamu mati... Ibu janji..."
Tapi janji itu... janji yang dia sendiri nggak tau bisa ditepati apa nggak.
Karena di rumah ini—
Janji itu cuma kata-kata kosong.
Yang nyata cuma sakit.
Dan air mata.
Pagi harinya, Lestari bangun dengan badan sakit semua. Dia pegang perut, takut ada apa-apa sama bayinya.
Tapi nggak ada darah. Nggak ada kram parah. Berarti... berarti bayinya masih aman.
Syukur.
Dia shalat subuh dengan air mata yang nggak berhenti. Sujud nya lama. Doanya cuma satu:
"Ya Allah... Lindungi anak ini... kumohon... ini satu-satunya yang Ibu punya... satu-satunya harapan Ibu... kumohon jangan ambil dia dari Ibu..."
Selesai shalat, dia ke dapur. Mulai masak.
Hari baru. Siksaan baru.
Tapi sekarang... dia nggak sendirian lagi.
Ada kehidupan kecil di perut nya.
Kehidupan yang nggak bersalah.
Kehidupan yang... yang harus dia lindungi.
Meskipun dia sendiri nggak tau gimana caranya.
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁