NovelToon NovelToon
THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

THE CAPTAIN'S UNEXPCTED WIFE

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

"Status 'Ayah' itu sudah mati. Mulai hari ini, aku adalah suamimu."
Kehilangan ibu sekaligus kebebasan dalam satu malam membuat dunia Gladies runtuh. Dipaksa menikahi Arkan, pelindung keluarganya yang berubah menjadi sosok asing yang dominan, Gladies terjebak dalam pernikahan tanpa cinta. Ia percaya Arkan hanya menginginkan hartanya, sementara Arkan percaya hanya ketegasan yang bisa menyelamatkan Gladies. Mampukah mereka berlayar di samudra rumah tangga yang penuh amarah, ataukah mereka akan hancur sebelum mencapai dermaga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Arkan berdiri di belakang Gerald, menatap layar monitor dengan tatapan yang sanggup membekukan udara di dalam ruangan tersebut.

Matanya menyipit saat melihat rekaman dengan frame rate tinggi itu diputar kembali dalam gerakan lambat.

Di layar, terlihat jelas wanita paruh baya bernama Gomez Estrada itu berjalan dengan tenang.

Matanya melirik ke arah Gladis yang sedang berjalan di kejauhan.

Dengan gerakan tangan yang sangat halus dan terlatih, ia melepas cincinnya dan menjatuhkannya tepat di jalur yang akan dilewati Gladis.

"Gomez Estrada," gumam Gerald sambil membaca profil yang muncul di layar komputer.

"Dia penipu ulung yang sering beraksi di kapal pesiar mewah, Kapten. Modusnya selalu sama yaitu menjatuhkan barang berharga, menuduh orang kaya atau orang yang terlihat lemah, lalu memeras mereka atau pihak asuransi kapal untuk uang damai yang besar."

Rahang Arkan mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.

Ia tidak hanya marah karena ada kriminal di kapalnya, tapi ia murka karena wanita itu baru saja mempermalukan istrinya dan membuatnya terpaksa "menghukum" Gladis di depan umum demi prosedur.

"Dia salah memilih mangsa," desis Arkan. Suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang mematikan.

"Apa perintah Anda, Kapten? Haruskah kita langsung menangkapnya?" tanya Gerald.

Arkan terdiam sejenak, otaknya yang dingin mulai menyusun rencana.

"Belum. Jika kita menangkapnya sekarang, orang-orang akan mengira aku melindunginya karena hubungan pribadi. Kita akan memainkan permainannya."

Arkan berbalik, mengambil topi kaptennya dan memakainya dengan gerakan yang sangat rapi.

"Pindahkan dia ke ruang interogasi keamanan. Katakan padanya bahwa Kapten ingin berbicara secara pribadi mengenai 'ganti rugi' yang ia tuntut."

"Siap, Kapten!"

Arkan melangkah keluar dari ruang CCTV, namun langkahnya terhenti.

Ia teringat wajah Gladis yang hancur saat ia menyuruhnya kembali ke kabin.

"Gerald," panggil Arkan tanpa menoleh.

"Ya, Kapten?"

"Setelah ini, pastikan seluruh penumpang yang tadi menonton di lorong berkumpul di area lounge. Aku ingin mereka melihat sendiri siapa pencuri yang sebenarnya. Tidak ada satu pun orang di kapal ini yang boleh menganggap Gladis sebagai pencuri, bahkan untuk sedetik pun."

Arkan berjalan menuju ruang interogasi dan di dalam sana, Gomez Estrada sedang duduk santai sambil memperbaiki riasannya, merasa telah berhasil memenangkan taruhan. Namun, saat pintu terbuka dan Arkan masuk dengan aura yang begitu gelap, senyum wanita itu perlahan memudar.

"Jadi, Nyonya Estrada," Arkan duduk di hadapannya, meletakkan tangannya yang besar di atas meja.

"Anda ingin membicarakan tentang cincin itu, atau kita ingin membicarakan tentang daftar hitam Interpol yang mencantumkan nama Anda di enam kapal pesiar berbeda?"

Wajah wanita itu seketika menjadi sepucat kertas.

Arkan mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman CCTV tepat di depan wajah Gomez.

"Di kapalku, Nyonya, hukumannya bukan sekadar denda. Kamu telah menyentuh orang yang salah," ucap Arkan dengan nada yang sangat tenang namun membuat bulu kuduk berdiri.

Sementara itu di dalam kabin, Gladis masih meringkuk di pojok ranjang.

Ia merasa dunia benar-benar tidak adil. Ia menolong orang, tapi malah dituduh pencuri, dan suaminya sendiri satu-satunya orang yang ia harapkan membelanya malah mengurungnya.

"Aku membencimu, Arkan. Aku benar-benar membencimu," isak Gladis pelan, tidak tahu bahwa di luar sana, Arkan sedang menghancurkan hidup orang yang telah memfitnahnya.

Arkan berdiri di tengah lounge utama yang dipenuhi penumpang.

Dengan wibawa yang tak tergoyahkan, ia memutar rekaman CCTV di layar besar, memperlihatkan tipu muslihat Gomez Estrada.

Sorak kekaguman terdengar saat Arkan menyatakan permintaan maaf secara publik atas kesalahpahaman yang menimpa Gladis.

Nama Gladis langsung bersih seketika dan wanita penipu itu langsung digiring ke sel tahanan bawah kapal.

Setelah urusan publik selesai, Arkan bergegas menuju kabin.

Ia membuka pintu dan mendapati Gladis yang masih tampak terluka.

"Gladis, aku minta maaf. Aku harus mengikuti prosedur agar tidak ada yang menuduhku pilih kasih, tapi aku sudah membereskan semuanya," ucap Arkan lembut.

Gladis tidak menjawab perkataan dari suaminya.

Rasa lapar yang melilit dan kekesalan yang menumpuk membuatnya tidak ingin berdebat.

Ia hanya menyambar tasnya, melewati Arkan begitu saja dan meninggalkan kabin tanpa sepatah kata pun.

Arkan hendak menyusul, namun radio di bahunya berbunyi nyaring.

"Kapten, tim navigasi sudah berkumpul di anjungan untuk briefing pagi penting. Kami menunggu Anda."

Arkan menghela napas panjang, menatap punggung Gladis yang menjauh.

"Jaga dia dari jauh, Gerald," perintahnya lewat radio sebelum ia berbalik menuju anjungan.

Gladis tiba di restoran dengan perasaan campur aduk.

Ia memesan roti hangat, beberapa potong daging asap, dan kopi susu sarapan yang ia idamkan sejak pagi.

Karena ingin mencari ketenangan, ia membawa nampan makanannya menuju dek paling atas, tempat udara laut terasa segar dan angin bertiup kencang.

Ia duduk di sebuah kursi panjang, baru saja hendak menyuap potongan roti pertamanya, ketika matanya menangkap sesuatu yang ganjil di kolam renang anak yang berada sedikit di bawah posisinya.

Seorang anak kecil tampak meronta-ronta, kepalanya tenggelam dan muncul bergantian, namun suara teriakan bocah itu kalah oleh deru angin dan musik dek.

"Tolong! Ada anak tenggelam!" teriak Gladis sekuat tenaga.

Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun petugas dek sedang sibuk di sisi lain dan para penumpang lain tidak menyadari situasi tersebut.

Tanpa berpikir dua kali, Gladis langsung melepaskan tasnya.

BYUR!

Gladis berenang dengan cepat, merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya ke tepi kolam.

Ia mengangkat anak yang terbatuk-batuk itu ke permukaan tepat saat petugas keamanan dan orang tua si anak berlari mendekat dengan wajah pucat.

"Ini, cepat bawa dia!" ucap Gladis sambil menyerahkan anak itu kepada petugas.

Napasnya tersenggal, tubuhnya basah kuyup, dan ia menjadi pusat perhatian kembali.

Tetapi kali ini sebagai pahlawan bukan lagi sebagai pencuri.

Ia berjalan kembali ke dek atas untuk melanjutkan makan, namun, saat ia kembali ke kursinya, ia melihat nampan makanannya sudah terbalik di lantai.

Rotinya kotor dan kopi susunya tumpah tak bersisa karena tersenggol kerumunan tadi.

Gladis menatap makanannya yang malang itu dengan sedih.

"Lebih baik aku kembali ke dek saja," ucap Gladis sambil memegang perutnya yang masih lapar, dan tubuhnya yang menggigil kedinginan.

Ia merasa lelah dengan semua drama pagi yang menimpanya.

"Hari ini benar-benar bukan hariku," gumamnya getir.

Ia tidak menunggu ucapan terima kasih lebih lanjut.

Dengan langkah lunglai dan baju yang meneteskan air, Gladis berjalan ke kabin Kapten, dan berharap bisa mandi air hangat.

Setelah itu bersembunyi dari dunia untuk sementara waktu.

Sementara itu di anjungan, Arkan yang sedang memberikan instruksi tiba-tiba melihat notifikasi di tablet pengawasnya.

Matanya terbelalak melihat laporan: tentang aksi penyelamatan di dek atas oleh Nona Gladis.

Rahang Arkan mengeras. Antara rasa bangga dan rasa khawatir yang luar biasa, ia ingin segera meninggalkan briefing itu.

"Istriku, apa lagi yang kamu lakukan sekarang?" bisiknya cemas.

Begitu briefing selesai, Arkan tidak membuang waktu sedetik pun.

Langkah kaki pantofelnya berdentum keras di lorong kapal saat ia berpapasan dengan beberapa kru yang berbisik-bisik soal aksi heroik seorang gadis di dek atas.

"Kapten, Nona Gladis baru saja terjun ke kolam untuk—"

"Aku sudah tahu!" potong Arkan dengan nada yang sangat tajam, membuat kru tersebut menciut.

Arkan mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru dek dengan raut wajah yang luar biasa cemas.

"Di mana Gladis?!" bentaknya pada Gerald yang baru saja muncul dari arah lift dengan wajah bingung.

"Maaf Kapten, tadi kerumunan sangat padat setelah insiden itu, saya kehilangan jejaknya saat petugas medis membawa anak tersebut," lapor Gerald gugup.

Tanpa membalas, Arkan langsung berlari menuju kabin pribadinya.

Ia memiliki firasat kuat bahwa Gladis pasti kembali ke sana.

Sesampainya di depan pintu, Arkan mengetuk dengan keras.

"Gladis! Buka pintunya! Ini aku!"

Di dalam kabin, Gladis berjalan dengan sisa tenaganya.

Tubuhnya yang basah kuyup membuat suhu tubuhnya turun drastis, ditambah lagi ia belum makan apa pun sejak pagi.

Kepalanya terasa sangat ringan dan pandangannya mulai kabur dengan bintik-bintik hitam.

Ceklek!

Suara pintu yang dibuka oleh Galdis yang kemudian ia berdiri di sana dengan bibir yang sudah memucat kebiruan dan rambut yang meneteskan air ke lantai kayu.

"Gladis..." suara Arkan melunak, penuh dengan rasa sesal dan khawatir.

Gladis mencoba menatap mata Arkan, namun tubuhnya sudah mencapai batas.

Lututnya yang melemas, dan tepat saat ia kehilangan kesadaran.

Ia langsung jatuh di depan tubuh suaminya yang masih berdiri di hadapannya.

"Gladis!" seru Arkan sigap.

Ia segera menangkap tubuh mungil istrinya itu sebelum menyentuh lantai.

Arkan mendekap erat tubuh Gladis yang terasa sangat dingin dan menggigil di pelukannya.

Wajah Gladis yang pucat pasi bersandar di dada Arkan, tidak memberikan respon apa pun.

"Gladis! Bangun! Hei, buka matamu!"

Arkan menepuk-nepuk pipi Gladis dengan tangan gemetar.

Ia tidak pernah merasa setakut ini, bahkan saat menghadapi badai kategori lima sekalipun.

Ia mengangkat tubuh Gladis dan membaringkannya di tempat tidur dengan hati-hati.

Ia segera menyelimuti tubuh basah itu dengan selimut tebal untuk memberikan kehangatan.

"GERALD!" teriak Arkan menggelegar ke luar pintu.

"Panggilkan Dokter Sarah sekarang juga! Katakan ini keadaan darurat di kabin Kapten! Cepat!"

Gerald yang melihat wajah Kaptennya yang penuh kepanikan langsung berlari secepat kilat menuju ruang medis.

Arkan berlutut di samping tempat tidur, menggenggam tangan Gladis yang dingin dan mengecupnya berkali-kali.

"Maafkan aku yang sudah membiarkanmu pergi sendiri. Bertahanlah, Gladis."

Di atas kapal pesiar yang mewah itu, sang nakhoda yang perkasa kini tampak rapuh, memohon pada takdir agar tidak mengambil satu-satunya pelabuhan hatinya yang tersisa.

1
Ariany Sudjana
wah mantap ini Gladys 😄 cocok jadi pasangan hidup Arkan
Ita Putri
seruuuu
lanjut💪💪
Ariany Sudjana
bagus Gladys kamu harus tegas, jangan biarkan pelakor murahan seperti Angela merusak rumah tangga kamu dengan Arkan
Ariany Sudjana
sedih lihat perjuangan Gladys sampai segitunya demi menyelamatkan suami tercinta
Ariany Sudjana
ini kenap sih ada pelakor datang? Gladys yang berjuang menyelamatkan Arkan di pulau, malah dipeluk pelakor, dan orang tua Arkan juga diam, jangan-jangan Arkan sudah dijodohkan dengan perempuan ga jelas itu
Ariany Sudjana
Suka dengan karakter Gladys, tidak peduli dengan semua halangan, dia hadapi demi menyelamatkan suami tercinta, walaupun awalnya mereka berdua menikah karena terpaksa
Ariany Sudjana
Alex harus dihukum berat, jangan biarkan dia lolos
Ariany Sudjana
semoga Arkan dan Gladys lekas ditemukan dengan kondisi selamat dan sehat. semangat juang Gladys luar biasa, tidak ada sosok manja, semua dilakukan demi keselamatan suami tercinta
Ariany Sudjana
semoga Arkan bisa diselamatkan dan bisa sadar kembali dan kembali sehat, jangan tinggalkan Gladys
Ariany Sudjana
bagus Arkan, jangan biarkan Gladys hancur karena omongan julid dari orang yang ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Ariany Sudjana
tetap waspada yah Arkan dan Gladys, jangan biarkan Alex atau siapapun menghancurkan rumah tangga kamu kalian
Ita Putri
sweet banget gk sih mereka berdua 🥰
Ariany Sudjana
puji Tuhan, Gladys sudah tahu kejadian sebenarnya, dan jangan pernah meragukan suami kamu untuk melindungi kamu Gladys
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
Gladys kamu jangan bodoh, jangan mudah emosi, Arkan itu kapten kapal, dan dia harus menjaga wibawanya di depan seluruh penumpang. dan lagi, jangan karena kamu istrinya, Arkan harus percaya begitu saja, tidak seperti itu. bukti paling kuat CCTV, dan jika bukti itu keluar, nama kamu bisa dibersihkan. ingat Gladys, Alex dan antek-anteknya ada di sekeliling kamu, segala cara akan dilakukan untuk menjatuhkan kamu dan Arkan
Ariany Sudjana
bukannya seram Gladys, tapi itu cara Arkan untuk melindungi kamu selaku istrinya
Ita Putri
alur cerita seru gk bertele tele
karakter tokohnya sama sama menonjol
ceritanya bagus banget
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ita Putri
semangatnya outhor 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!