NovelToon NovelToon
Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Transmigrasi Ke Desa : Triplet Dan Suami Tampan Menungguku

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Wanita / Ibu Tiri / Ruang Ajaib / Romansa pedesaan
Popularitas:24.1k
Nilai: 5
Nama Author: ICHA Lauren

Akibat ledakan di laboratorium, Jenara terbangun menjadi ibu tiri jahat di sebuah desa kerajaan Campa. Ia adalah wanita yang dibenci warga, ditakuti tiga anak tiri, dan akan ditinggalkan oleh suaminya.

Jenara menolak akhir itu.

Dengan pengetahuan sebagai peneliti bahan pangan sekaligus kemampuan memasaknya, Jenara membuat anak-anak dan para orang tua menjadi lebih sehat.

Perlahan, warga yang membencinya mulai bergantung padanya.

Tiga anak tiri yang ketakutan mulai memanggilnya Ibu.

Dan, saat kemampuannya menarik perhatian istana, rahasia terbesar pun terbongkar. Suami tampan yang selalu menjaga jarak itu bukanlah peternak desa biasa, melainkan sosok yang tak ia sangka.

Mampukah Jenara mengubah takdir ibu tiri jahat menjadi akhir bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ICHA Lauren, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bukan Jodohku

Walau kesal pada Seran dan segala situasi yang menimpanya, Jenara tetap terlelap dengan cepat. Ia bahkan tidak sempat memikirkan fakta bahwa malam itu ia tidur seranjang dengan seorang pria asing.

Tubuh Jenara sudah terlalu lelah. Punggungnya masih terasa nyeri, lengannya pegal, dan kepalanya berat. Semua rasa sakit itu menumpuk menjadi satu dan menariknya jatuh ke dalam tidur yang dalam, tanpa mimpi.

Jenara tidak tahu berapa lama ia tertidur. Sampai sesuatu menggoyang lengannya dengan lembut.

“Ibu…”

Suara kecil itu terdengar ragu, seolah takut membangunkannya. Jenara mengerang pelan, alisnya berkerut. Tubuhnya berat, seperti ditimpa karung beras.

“Ibu…”

Kali ini lebih dekat.

Jenara membuka mata perlahan, pandangannya kabur oleh cahaya pagi menyelinap dari celah dinding kayu. Ia berkedip beberapa kali sebelum akhirnya fokus.

Seorang gadis kecil berdiri di samping ranjang.

Refleks, Jenara terkejut dan mencoba bangun, tetapi punggungnya langsung berdenyut tajam. Pada akhirnya Jenara menahan diri. Hanya setengah duduk sambil menopang tubuhnya dengan satu tangan.

“Gita, kamu di sini?” suaranya serak karena baru bangun.

Gadis kecil itu mengangguk. Rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi wajahnya tampak lebih bersih dari kemarin. Di kedua tangannya, Gita memegang sebuah mangkuk tanah liat berisi bubur yang masih mengepulkan uap tipis.

“Ayah menyuruh aku membangunkan Ibu, supaya makan bubur ini. Ayah yang masak," kata Gita lirih.

Jenara terdiam. Kata "Ayah" itu masih terasa aneh di telinganya, terlebih saat disandingkan dengan Seran.

Ia menatap mangkuk di tangan Gita, lalu kembali ke wajah gadis kecil itu.

“Terima kasih,” ucap Jenara akhirnya, suaranya melembut.

Gita menyodorkan mangkuk itu ke tangan Jenara dengan hati-hati, seolah takut buburnya tumpah. Jenara menerimanya, merasakan kehangatan dari isi mangkuk menjalar ke telapak tangannya.

Ia sempat mengira Gita akan pergi setelah itu. Namun, gadis kecil itu ternyata tetap berdiri di dekat ranjang. Tangannya saling menggenggam di depan perut, matanya mengamati Jenara dengan ekspresi ragu-ragu.

“Gita sudah makan?" tanya Jenara lembut.

Gadis kecil itu hanya mengangguk singkat tanpa bicara.

"Gita tidak bermain bersama Giri dan Gatra?” lanjut Jenara.

Kali ini, Gita menggeleng pelan.

“Mereka sedang membantu Ayah di kebun,” jawabnya jujur.

Hati Jenara terasa seperti disentuh sesuatu yang hangat. Melihat Gita yang mulai membuka diri padanya, ia merasa lega.

“Kalau begitu duduklah di sini. Temani Ibu makan."

Tanpa disuruh dua kali, Gita segera bergerak. Ia mengambil gelas tanah liat berisi air dan menyerahkannya pada Jenara. Gerakannya cekatan, seolah sudah terbiasa melayani orang dewasa sejak kecil.

Jenara meneguk air itu perlahan, lalu mulai mencicipi bubur gandum di mangkuknya.

Hangat. Lembut. Tidak hambar.

Alisnya terangkat sedikit. Ia tidak menyangka bubur itu dimasak dengan baik, gandumnya empuk, dan ada sedikit aroma rempah yang samar.

“Lumayan juga. Ternyata pria itu bisa memasak," gumam Jenara tanpa sadar.

Mengingat persedian bahan makanan sudah habis, kemungkinan Seran pergi ke pasar pagi-pagi sekali. Itulah sebabnya ia bisa mendapatkan gandum dan rempah.

“Gita senang Ayah pulang?” tanya Jenara pelan.

Wajah gadis kecil itu langsung cerah.

“Iya, Bu. Kalau ada Ayah, kita tidak akan susah.”

Kalimat sederhana itu menusuk hati Jenara. Ia menunduk, menghabiskan setengah buburnya dalam diam.

Usai makan, Jenara bangkit berdiri dan mengambil cangkir teh yang diletakkan di meja kecil. Saat menyesapnya, rasa hangat langsung menyebar di tenggorokan. Ada rasa jahe, mungkin juga serai atau daun tertentu yang tidak ia kenali.

“Ibu mau mandi sebentar,” kata Jenara sambil menoleh ke Gita. "Kau di sini saja, ya.”

Gita mengangguk patuh.

Jenara mengambil satu set baju bersih dan selembar kain yang dijadikan handuk. Ia berjalan keluar dari kamar, menuju halaman belakang.

Udara pagi yang sejuk menyambutnya. Saat itulah langkah Jenara melambat.

Di kebun belakang, ia melihat Seran sedang mencangkul tanah. Pria itu tidak mengenakan baju. Tubuhnya bertelanjang dada, hanya memakai celana kerja sederhana yang digulung sampai betis.

Setiap kali cangkul itu menghantam tanah, otot-otot di punggung dan lengan Seran bergerak jelas. Kokoh, terlatih, seperti terbiasa bekerja keras sejak lama.

Kulitnya yang putih kekuningan berkilau oleh keringat yang bercampur cahaya matahari. Nafasnya teratur, gerakannya efisien. Ia menanam bibit satu per satu dengan teliti, menimbun tanah di sekitarnya tanpa kesulitan.

Pemandangan ini membuat Jenara terpaku beberapa detik. Bentuk tubuh Seran memancarkan aura maskulin yang begitu kuat. Bahkan lebih menggoda dari pria di zaman modern yang rajin berolah-raga.

“Tidak, tidak, pikiran macam apa ini,” gerutu Jenara sambil menggelengkan kepala.

Merasa malu pada diri sendiri, Jenara mengalihkan pandangan. Namun, ia kemudian menyadari bahwa ada luka goresan di bahu kiri Seran. Tidak besar, tetapi cukup jelas. Kulit di sekitarnya sedikit memerah, belum sepenuhnya kering.

“Apa dia terluka di perjalanan?" gumam Jenara.

Entah mengapa ada ganjalan di hatinya melihat luka itu. Lagi pula, ia belum sempat bertanya halangan apa yang dialami Seran, sehingga ia baru kembali setelah sekian lama.

Sebelum dirinya terlena lebih lama memandangi sosok Seran, Jenara segera membalikkan badan dan melangkah masuk ke bilik mandi.

Setelah menutup pintu rapat-rapat, Jenara meletakkan pakaian ganti di bangku kecil lantas melepas baju yang dikenakannya. Kesejukan air memenuhi ruang sempit itu, membawa keheningan yang menenangkan.

Namun ketenangan itu hanya di permukaan.

Saat air dingin menyentuh kulitnya, Jenara memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Ia mengingatkan dirinya sendiri, berulang kali, seperti mantra yang wajib dipegang erat.

Pernikahan ini akan berakhir. Ia dan Seran tidak ditakdirkan untuk bersama selamanya.

Apa pun yang barusan ia lihat: kesempurnaan fisik pria itu, caranya bekerja tanpa banyak kata, perhatiannya yang dingin, tidak boleh berarti apa-apa. Ia tidak boleh membiarkan rasa kagum, apalagi perasaan lain tumbuh sedikit pun.

Kekaguman adalah awal dari keterikatan, dan keterikatan hanya akan membuat perpisahan nanti terasa lebih menyakitkan.

Sekarang, fokusnya hanya satu, yaitu melunasi “utang” pada Seran. Kemudian, ia akan pergi dengan cara terhormat. Hidup bebas, tanpa bergantung pada siapapun.

Dalam keheningan bilik mandi, pikiran Jenara justru bekerja semakin cepat. Ia harus segera berdiri di atas kakinya sendiri, dengan mendirikan usaha makanan.

Di dunia asalnya, ia adalah peneliti bahan makanan sekaligus chef yang terlatih. Terbiasa mengolah bahan sederhana menjadi hidangan bernilai tinggi. Namun, di zaman kuno ini ia terbentur pada masalah keterbatasan bahan, bumbu, dan tidak adanya peralatan memasak yang modern.

Di tengah kebimbangannya, pikiran Jenara melompat pada satu hal yang membuat sudut bibirnya terangkat tipis.

Ruang wiji.

Jika ruang ajaib itu bisa ia akses, maka keterbatasan bukan lagi masalah besar. Ia bisa menanam sendiri bahan-bahan yang ia butuhkan. Sayur, biji-bijian, bahkan rempah tertentu. Mungkin ia juga bisa membuat peralatan modern.

Rencana mulai terbentuk di kepala Jenara. Ia akan menjual makanan yang menarik, mengenyangkan, bergizi, sekaligus mudah diterima oleh warga desa.

Beberapa ide langsung bermunculan.

Nasi kepal berisi jamur dan sayuran. Cocok untuk bekal warga ke ladang. Cupcake ubi ungu kukus yang lembut dan disukai anak-anak. Dan terakhir, sup pangsit tahu yang hangat untuk orang lanjut usia.

Semua bahan itu bisa ia tanam sendiri di ruang ajaib. Yang ia butuhkan hanya waktu, tenaga, dan ketekunan.

Saat keputusan telah dibuat, Jenara merasa dadanya lebih lapang. Ia membilas tubuhnya sekali lagi, lalu mematikan aliran air.

Setelah mengenakan pakaian bersih, Jenara keluar dari bilik mandi dan berjalan menyusuri sisi rumah. Memastikan tidak ada yang memperhatikannya.

Ingatan dalam tubuhnya menunjukkan bahwa di balik kebun, terdapat jalur kecil menuju hutan. Tempat itu sepi, hanya suara dedaunan dan serangga pagi yang menemani. Di sanalah, ia akan membuka Ruang Wiji dan mulai menumbuhkan tanaman.

1
Amriati Plg
Biasanya ruang dimensi ini ada nama baru ruang wiji😄
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
semangat Jenara 👍👍💪💪
Azura75
mana lanjutannya. kok nggak bs scroll ke atas lagi? ☺
@Mita🥰
lanjut 😍😍
@Mita🥰
lanjut
Lala Kusumah
semoga mereka langgeng dan bahagia, tidak berpisah ya 🙏🙏🙏
Wulan Sari: iya betul say biyar bahagia walau ada kerikil2 tajam tetap bersama 👍❤️
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
SENJA
laaaah lu kenapa yah jadi provokator banget 😶
SENJA
wah wah wah 😶
SENJA
buseh tukang nyiksa anak, tukang judi waduh 🤣
@Mita🥰
semangat jenara
Lala Kusumah
good job Jenara 👍👍👍
Lala Kusumah
kemana ya anak-anak Jenara 🤔🤔🤔
@Mita🥰
seperti nya di bawa si cewek yang suka sama seran
Wulan Sari
lhaaa pada ke mana tu anak2 3G, membuat panik sj semoga cepat ketemu yaaaa ayo Thor lanjut critanya terimakasih semangat 💪 salam ❤️
Hary Nengsih
wah kemana ya
@Mita🥰
emang gak bisa ya sekali jentik kan jari langsung hilang semuanya 🤭🤭
Hary Nengsih
lanjut
Lala Kusumah
wow kereeeeeennn 👍👍👍
mau punya ruang Wiji juga lah 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!