Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JADILAH WANITA PENURUT YANG MELAYANI KU.
🌼🌼🌼🌼🌼
Malam itu, Harvey melangkah keluar ke balkon dengan langkah yang sedikit tidak stabil. Di tangannya terdapat botol Scotch yang hampir kosong. Angin malam Jakarta yang lembap menerpa wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan gejolak yang membakar dadanya.
Ia meneguk cairan ambar itu langsung dari botolnya, membiarkan rasa panas membakar tenggorokannya. Ia ingin alkohol itu bekerja lebih cepat; ia ingin menghapus setiap kata yang diucapkan Melisa di tempat tidur tadi. Kebenaran itu terasa seperti racun yang lebih mematikan daripada dendam yang selama ini ia pelihara.
Harvey tertawa getir, tawa yang terdengar seperti rintihan. Jika benar apa yang dikatakan Melisa, maka selama ini ia telah menghukum orang yang salah. Ia telah menjadi monster bagi wanita yang justru mengorbankan kebahagiaannya demi melindungi keluarganya.
Namun, ego Harvey terlalu besar untuk runtuh dalam semalam.
*
Pagi harinya, suasana di apartemen itu kembali mencekam. Melisa keluar dari kamar dengan mata sembab, menemukan Harvey sudah rapi dengan kemeja kerjanya, sedang menyesap kopi hitam tanpa gula. Tidak ada lagi sisa gairah atau kerapuhan dari malam tadi. Wajah pria itu kembali mengeras, sedingin es.
"Kau sudah bangun," ucap Harvey datar, tanpa menoleh. "Sopir akan mengantarmu ke rumah sakit sepuluh menit lagi."
Melisa ragu-ragu sejenak, mendekat ke meja makan. "Harvey, soal yang kukatakan semalam... aku hanya ingin kau tahu yang sebenarnya. Aku tidak meminta belas kasihan, aku hanya—"
"Cukup, Melisa," potong Harvey tajam. Ia meletakkan cangkir kopinya dengan denting yang keras di atas meja marmer. Ia berdiri, menatap Melisa dengan tatapan yang seolah ingin menembus jantung wanita itu. "Pernyataanmu semalam tidak mengubah fakta bahwa saat ini kau adalah milikku karena sebuah transaksi. Jangan berpikir karena aku tahu sedikit 'drama' masa lalumu, aku akan melepaskanmu begitu saja."
Melisa tertegun. "Drama? Kau pikir penderitaan ibuku dan ancaman keluargamu adalah drama?"
Harvey melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Melisa bisa mencium aroma parfum mahal yang bercampur dengan sisa aroma alkohol dari napasnya. "Siapa yang bisa menjamin kau tidak sedang mengarang cerita agar aku merasa bersalah? Kau butuh uang untuk Narendra, bukan? Dan kau tahu aku adalah satu-satunya orang yang bisa memberikan itu."
"Aku tidak berbohong, Harvey!" suara Melisa meninggi, kecewa karena kejujurannya justru dibalas dengan sinisme.
Harvey mencengkeram dagu Melisa, tidak terlalu keras namun penuh penekanan. "Tetaplah pada peranmu, Melisa. Jadilah wanita penurut yang melayaniku, dan aku akan tetap membiarkan suamimu bernapas. Jangan mencoba menyentuh sisi kemanusiaanku dengan cerita masa lalu, karena kau sendiri yang bilang... aku adalah pria yang kau hancurkan."
Ia melepaskan cengkeramannya dan menyambar tas kerjanya. Sebelum melangkah keluar pintu, ia berhenti sejenak.
"Satu lagi. Besok adalah acara makan malam tahunan keluarga Andreas. Ibuku akan ada di sana," Harvey menoleh sedikit, memberikan senyum miring yang menyakitkan. "Dan kau... kau akan datang bersamaku sebagai 'asisten pribadi'. Mari kita lihat seberapa berani kau mengulangi cerita itu di depan wajah ibuku."
Pintu tertutup dengan dentuman keras, meninggalkan Melisa yang luruh ke lantai. Harvey memang tahu kebenarannya sekarang, namun alih-alih melembut, pria itu justru menggunakan kebenaran tersebut sebagai senjata baru untuk menyiksanya lebih dalam.
**
Harvey melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan jubah putih yang berkibar, namun pikirannya tertinggal jauh di balkon apartemennya semalam. Setiap pasang mata yang menatapnya melihat sosok dokter bedah saraf yang brilian dan tanpa cela, namun di balik topeng profesionalitas itu, Harvey merasa sedang retak.
Ia berdiri di depan ruang kontrol ICU, menatap layar monitor yang menampilkan grafik tanda-tanda vital Narendra. Garis hijau yang naik-turun itu adalah bukti kekuasaannya, namun kini garis itu terasa seperti jerat yang mencekik lehernya sendiri.
Harvey masuk ke ruang perawatan Narendra. Tidak ada suster di sana. Hanya ada suara ritmis dari ventilator yang memompa udara ke paru-paru pria yang ia anggap sebagai saingannya itu.
"Jadi, kau menyelamatkannya saat keluargaku menghancurkannya?" bisik Harvey pelan, suaranya nyaris tertelan suara mesin.
Ia memeriksa pupil mata Narendra dengan lampu senter kecil. Secara medis, ia tahu peluang pria ini tipis. Namun, setiap kali ia melihat wajah tenang Narendra, ia tidak lagi hanya melihat "hambatan" dalam obsesinya pada Melisa. Ia melihat pria yang telah melakukan apa yang seharusnya ia lakukan bertahun-tahun lalu: melindungi Melisa.
Rasa bersalah adalah emosi yang asing bagi Harvey, dan ia membencinya. Ia mencoba memanggil kembali rasa amarahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa Melisa hanyalah pembohong ulung. Namun, bayangan wajah ketakutan ibunya saat ia menyebut nama Melisa beberapa tahun lalu mulai masuk akal sekarang.
***
Harvey teringat saat ia pulang ke rumah dengan hancur setelah malam kelulusan itu. Ibunya, Larasati, hanya berkata:
"Dia pergi karena dia tahu dia tidak sepadan denganmu, Harvey. Wanita seperti itu hanya mengejar materi, dan saat dia tahu keluarga kita tidak akan memberi satu sen pun, dia mencari mangsa lain."
Selama bertahun-tahun, Harvey menelan mentah-mentah narasi itu. Ia menjadikan kebencian sebagai bensin untuk kariernya. Namun sekarang, setelah mendengar isak tangis Melisa yang begitu pilu semalam, narasi itu mulai runtuh.
****
"Dokter Harvey?" seorang suster masuk, mengejutkannya. "Ada keluarga pasien dari ruang 402 yang ingin berkonsultasi."
Harvey berdeham, mengembalikan ekspresi dinginnya dalam sekejap. "Ya, aku segera ke sana."
Sebelum keluar, ia melirik kembali ke arah Narendra. Ada dorongan aneh dalam dirinya untuk melepaskan kabel ventilator itu—bukan karena dendam, tapi karena jika Narendra bangun, ia tahu ia akan kehilangan Melisa selamanya. Namun, ada pula sisi lain dirinya yang mulai merasa berutang pada pria yang sedang sekarat ini.
Jika ia terus bersikap dingin pada Melisa, itu karena ia takut. Ia takut jika ia menunjukkan sedikit saja empati, ia harus mengakui bahwa seluruh kemarahan yang ia pelihara selama satu dekade adalah kesalahan besar yang fatal.
***
Bersambung...
......................
......Sebelum lanjut, bantu author lebih semangat dengan memberikan Like, komen, vote, dan gift semampu kalian ya 🥰🥰🥰......