Di Benua Sembilan Awan, takdir seseorang ditentukan oleh Pusaka Jiwa yang mereka bangkitkan. Li Tian, seorang murid luar yang gigih namun miskin, menjadi bahan tertawaan seluruh sekte ketika ia membangkitkan pusaka berupa sarung tangan perunggu kusam yang dianggap sampah tak berguna.
Namun, dunia buta akan kebenarannya. Di balik karat itu bersemayam Zu-Long, Roh Kaisar Naga Primordial yang pernah menguasai langit. Pusaka itu bukanlah sampah, melainkan Cakar Naga Pemutus Takdir, satu dari Sembilan Pusaka Kaisar legendaris dengan kemampuan mengerikan: melipatgandakan kekuatan penggunanya tanpa batas.
Menolak menyerah pada nasib sebagai "sampah", Li Tian bangkit. Dengan bimbingan Naga Purba yang angkuh dan tekad baja, ia bersiap menampar wajah para jenius sombong, melindungi orang-orang terkasih, dan mendaki puncak kultivasi untuk menjadi Dewa Perang Terkuat.
Legenda seekor Naga yang membelah langit baru saja dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah Sang Juara
Bau obat-obatan herbal yang tajam adalah hal pertama yang menyambut Li Tian saat dia membuka matanya.
Dia mengerjap, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kisi-kisi kayu. Dia tidak lagi berada di panggung batu yang keras, melainkan berbaring di atas ranjang empuk di sebuah ruangan yang bersih dan lapang.
"Akhirnya kau bangun, Tuan Juara."
Li Tian menoleh. Di samping ranjangnya, Han Gemuk sedang duduk sambil mengupas apel. Wajah bulatnya tampak lega.
"Han..." suara Li Tian serak. Dia mencoba bangun, tapi rasa nyeri tajam menyengat lengan kanannya.
Dia melihat lengan kanannya terbungkus perban putih tebal yang dipenuhi rune penyembuhan berwarna biru.
"Jangan bergerak dulu," kata Han, menyodorkan potongan apel. "Tabib bilang otot lenganmu robek parah. Kau tidur selama tiga hari penuh. Kalau bukan karena konstitusi tubuhmu yang gila itu, tanganmu mungkin sudah harus diamputasi."
"Tiga hari?" Li Tian terkejut. Dia mengingat kembali momen terakhir sebelum kegelapan. "Pertandingannya... Li Feng..."
"Kau menang, Tian! Kau menang telak!" Han berseru semangat, matanya berbinar. "Kau melempar Li Feng sampai menabrak tembok VIP! Seluruh sekte gempar. Sekarang namamu ada di bibir setiap murid luar."
Li Tian menghela napas lega. Dia menyandarkan punggungnya ke bantal. "Syukurlah. Dan Li Feng?"
Wajah Han berubah serius. "Dia... kondisinya buruk. Pil Pembakar Darah itu memakan balik kultivasinya. Kudengar dia turun kembali ke Tempa Tubuh Tingkat 7 dan meridian utamanya rusak. Keluarganya datang kemarin dan membawanya pulang dengan tandu. Sebelum pergi, tatapan ayahnya padamu... mengerikan."
"Biarkan saja," kata Li Tian tenang. "Mereka yang memulai api, mereka yang terbakar."
Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Seorang pria tua berjubah putih dengan sulaman bangau emas di dadanya melangkah masuk. Aura kewibawaannya membuat udara di ruangan itu terasa berat namun sejuk.
Itu adalah Tetua Yun, Kepala Aula Sekte Luar.
Han Gemuk segera melompat berdiri dan membungkuk dalam-dalam. "Salam, Tetua Yun!"
Li Tian mencoba bangkit untuk memberi hormat, tapi Tetua Yun mengangkat tangannya.
"Tetaplah berbaring, Li Tian. Kau adalah pahlawan hari ini. Istirahat adalah hakmu."
Tetua Yun berjalan mendekat, menatap Li Tian dengan tatapan meneliti yang tajam namun tidak bermusuhan.
"Li Tian. Aku sudah memeriksa latar belakangmu. Cabang keluarga Li yang terlupakan. Yatim piatu. Bakat awal dinilai rendah," kata Tetua Yun. "Namun, kau berhasil mematahkan semua penilaian itu dengan tinjumu."
"Murid hanya beruntung," jawab Li Tian merendah.
"Keberuntungan adalah bagian dari kekuatan," Tetua Yun tersenyum tipis. "Dan keberanianmu melawan pengguna Pil Terlarang patut diacungi jempol. Sekte tidak mentolerir kecurangan Li Feng. Kemenanganmu sah dan mutlak."
Tetua Yun melambaikan tangannya. Sebuah nampan kayu melayang di udara dan mendarat lembut di pangkuan Li Tian.
Di atas nampan itu terdapat dua benda:
Sebuah kotak giok kecil yang memancarkan hawa hangat.
Sebuah pedang panjang dengan sarung berwarna biru langit yang indah.
"Sesuai janji kompetisi," kata Tetua Yun. "Ini adalah Pil Pembentuk Tulang Emas."
Mata Li Tian berbinar. Dengan ini, tubuhnya akan cukup kuat untuk menahan beban Gandakan lebih lama!
"Dan ini," Tetua Yun menunjuk pedang itu. "Pedang Angin Biru. Senjata Kelas Roh Tingkat Rendah. Terbuat dari baja dingin yang ditempa dengan esensi angin. Sangat ringan dan tajam."
Li Tian menyentuh pedang itu. Dingin dan elegan.
"Terima kasih, Tetua," kata Li Tian tulus.
"Satu hal lagi," Tetua Yun menatap mata Li Tian dalam-dalam. "Sarung tanganmu itu... aku tidak akan bertanya apa sebenarnya benda itu. Setiap orang punya rahasia. Tapi ingatlah satu hal: Kekuatan besar menarik masalah besar."
"Jika kau ingin mempertahankan apa yang kau miliki, kau harus terus mendaki. Dunia Sekte Luar ini terlalu kecil untukmu sekarang. Tiga bulan lagi adalah Ujian Masuk Sekte Dalam. Aku harap melihatmu di sana."
Setelah memberikan nasihat itu, Tetua Yun berbalik dan pergi, meninggalkan ruangan yang hening.
Li Tian terdiam sejenak, merenungkan kata-kata itu.
"Kekuatan besar menarik masalah besar..." gumamnya.
"Dia benar," suara Zu-Long terdengar di benaknya. "Kemenanganmu menarik perhatian. Sekarang kau bukan lagi semut yang bisa diinjak sembarangan, tapi kau juga menjadi target yang lebih besar."
Li Tian membuka kotak giok itu. Aroma obat yang manis dan kuat memenuhi ruangan.
"Han," panggil Li Tian.
"Ya, Tian?"
"Bantu aku berkemas nanti sore. Kita tidak akan tinggal di gubuk reyot itu lagi."
Han tertawa. "Tentu saja! Juara 1 berhak menempati Paviliun Murid Elite! Ada kolam air panasnya!"
Li Tian tersenyum, tapi pandangannya beralih ke luar jendela, menatap puncak-puncak gunung Sekte Dalam yang tertutup awan mistis.
Di sana, para jenius sejati berkumpul. Di sana, sumber daya kultivasi melimpah ruah. Dan di sana, langkah selanjutnya menuju puncak dunia menunggunya.
Li Tian mengepalkan tangan kirinya. Lengan kanannya masih sakit, tapi hatinya terbakar semangat.
Di dalam jiwanya, Naga Purba itu menggeram pelan, sebuah geraman persetujuan yang menggetarkan takdir.