Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.Bunga yang Tumbuh dari Pengusiran
Toko bunga itu tidak pernah ramai di sore hari.
Hanya suara kipas tua yang berdecit pelan, aroma tanah basah dari pot-pot kecil, dan cahaya matahari yang jatuh miring ke lantai keramik retak. Dunia di tempat itu terasa jauh dari Imperion Academy—seolah sekolah itu tidak pernah ada.
Hingga bel kecil di pintu berbunyi.
Selvina yang sedang mengikat pita pada buket bunga lili mendongak refleks.
Dan tubuhnya menegang.
Varrendra berdiri di ambang pintu.
Tanpa jas almamater.
Tanpa simbol fraksi.
Hanya kemeja gelap sederhana dan ekspresi yang tidak sedang memerintah siapa pun.
“Aku salah toko?” tanyanya ringan.
Ibunya Selvina muncul dari balik rak. “Cari bunga, Nak?”
Varrendra tersenyum sopan. “Iya, Bu. Tapi… sepertinya saya lebih dulu nemu orang yang saya cari.”
Ibunya menoleh ke Selvina, bingung. “Teman sekolah?”
Selvina mengangguk pelan. “Iya, Bu.”
“Kalau begitu,” ibunya meraih celemeknya, “Ibu ke belakang sebentar. Kalian ngobrol aja.”
Langkah ibunya menghilang di balik tirai kecil.
Dan keheningan turun.
“Kau tidak seharusnya di sini,” kata Selvina lebih dulu.
“Aku tahu,” jawab Varrendra. “Makanya aku datang.”
Ia melangkah masuk, matanya menyapu toko kecil itu—rak kayu, bunga segar, ember plastik, dan kesederhanaan yang jujur.
“Ini…” ia berhenti. “Jauh dari yang orang bayangkan tentangmu.”
Selvina tersenyum tipis. “Orang bayangin apa?”
“Bahwa kau kuat karena terbiasa menang.”
“Padahal?” tantang Selvina.
Varrendra menatapnya. “Karena terbiasa bertahan.”
Ia mengambil satu tangkai bunga matahari dari ember. “Ini pun begitu. Tetap berdiri, meski tanahnya tidak ramah.”
Selvina mengikat buketnya, tangannya bergerak otomatis. “Kenapa kau ke sini, Var?”
Nama itu keluar tanpa titel. Tanpa jarak.
Varrendra terdiam sejenak. “Karena Imperion terlalu sunyi tanpa kau.”
“Kau bohong.”
“Aku jarang bohong,” jawabnya. “Aku cuma sering tidak jujur sepenuhnya.”
Ia bersandar ke meja kayu. “Kau baik-baik saja?”
Selvina tertawa kecil. “Definisi baik-baik versi siapa?”
Varrendra tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Selvina berkata, seolah pada bunga di tangannya, “Dulu hidup kami sangat berkecukupan.”
Varrendra menoleh.
“Rumah besar,” lanjutnya pelan. “Supir. Asisten rumah tangga. Ibuku tidak pernah pegang uang sendiri.”
Ia menarik napas. “Sampai suatu hari… ayahku pulang membawa perempuan lain. Dan seorang anak.”
Varrendra membeku.
“Mereka masuk ke rumah kami,” kata Selvina. “Duduk di ruang tamu. Seolah itu wajar.”
Jarinya berhenti bergerak.
“Ayahku bilang,” suaranya menipis, “‘Ini keluarga baru Papa.’”
Sunyi.
“Dan malam itu,” lanjutnya, “ibuku diusir.”
Varrendra mengepalkan tangannya tanpa sadar.
“Aku umur lima tahun,” Selvina tersenyum getir. “Aku ingat ibuku menggenggam tanganku sangat kuat. Takut aku tertinggal.”
Ia mengangkat bahu. “Kami pergi tanpa apa-apa.”
Varrendra menatapnya—bukan sebagai rival, bukan sebagai pemimpin fraksi. Tapi sebagai seseorang yang mendengar cerita yang seharusnya tidak ia miliki.
“Kami buka toko bunga ini,” kata Selvina. “Bukan karena mimpi. Tapi karena bunga bisa dijual cepat. Dan orang selalu butuh sesuatu yang indah… bahkan saat hidup mereka busuk.”
Varrendra tertawa pendek, pahit. “Ironis.”
“Sejak itu,” Selvina akhirnya menatapnya, “aku belajar satu hal: rumah bisa diambil. Status bisa dicabut. Tapi bertahan hidup… itu pilihan.”
Ibunya muncul kembali, membawa secangkir teh.
“Minum dulu,” katanya pada Varrendra ramah. “Kelihatannya kamu capek.”
“Terima kasih, Bu.”
Ibunya tersenyum, lalu kembali ke belakang.
Varrendra memegang cangkir itu lama, lalu berkata pelan, “Imperion membuangmu terlalu mudah.”
“Mereka selalu begitu,” jawab Selvina. “Sekolah hanya versi kecil dari rumah lamaku.”
Varrendra berdiri. “Kau tahu… kalau aku bilang aku ingin memperbaiki semuanya, kau pasti tidak percaya.”
Selvina mengangguk. “Tidak.”
“Tapi kalau aku bilang,” lanjutnya, menatapnya dalam, “aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkanmu sendirian—itu pun masih terdengar seperti kebohongan.”
Selvina menatapnya lama.
“Var,” katanya akhirnya, “kalau kau berdiri di sampingku… kau akan kehilangan banyak hal.”
Varrendra tersenyum kecil. “Aku sudah kehilangan cukup banyak untuk berhenti peduli.”
Ia melangkah menuju pintu, lalu berhenti. “Bunga-bunga ini,” katanya sambil melirik sekeliling, “tumbuh dari pengusiran.”
Selvina tidak menjawab.
“Dan orang-orang seperti kita,” lanjutnya, “biasanya tidak mati mudah.”
Bel pintu berbunyi saat Varrendra pergi.
Selvina berdiri di antara bunga-bunga.
Untuk pertama kalinya sejak skorsing itu, ia tidak merasa sendirian.
Dan itu—justru yang paling berbahaya.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍