NovelToon NovelToon
KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

KETIKA AKU MENCINTAI PUTRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Berondong
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: Essa Amalia Khairina

Salma tidak pernah merasakan seperti apa itu pacaran. Setiap kali dirinya menyukai seseorang, pasti orang yang dicintainya itu tidak pernah membalas perasaannya, hingga akhirnya selalu berujung kepada cinta bertepuk sebelah tangan. Sekalinya pacaran, justru disakiti. Hingga ia mati rasa kepada pria mana pun.

Namun anehnya, setelah mendapati satu murid yang pintar, cerdas, manis dan memiliki kharismatik sendiri, Salma justru terjebak dalam cinta itu sendiri. Layaknya dejavu yang belum pernah ia lewati. Bersama Putra, Salma merasa bahwa ia kembali pada titik yang seharusnya ia miliki sejak dulu.

Menentang takdir? Bodo amat, toh takdir pun selalu menentangnya untuk merasakan seperti apa ia benar-benar dirinya dicintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERKUNCI DI RUANG UKS

Salma menggiring Putra menyusuri lorong sekolah yang lengang, langkahnya cepat namun tetap berusaha tenang. Tangannya menggenggam lengan Putra, bukan karena takut jika anak itu tiba-tiba goyah atau jatuh, melainkan khawatir jika ia melarikan diri. Begitu pintu UKS terbuka, aroma khas obat-obatan langsung menyergap, membuat suasana terasa lebih hening dan serius.

Putra kemudian duduk di tepi ranjang pasien, punggungnya sedikit membungkuk. Wajahnya tampak pucat, sorot matanya menahan nyeri meski berusaha tersenyum agar Salma tak terlalu khawatir. Sementara, kakinya menggantung, bergerak pelan, menandakan gelisah yang ia pendam.

Salma pun berbalik menuju lemari obat. Tangannya sigap membuka laci, mengambil botol antiseptik dan kapas. Lalu, ia menutup kembali lemari itu perlahan, lalu mendekat.

"Tahan, ya. Agak perih tapi hanya sebentar saja." Ucapnya saat menuangkan beberapa tetes cairan antiseptik ke kapas. Gerakannya lembut, dan raut wajahnya serius—campuran antara cemas dan tanggung jawab.

Putra sedikit meringis ketika kapas yang telah dibasahi antiseptik menyentuh kulitnya. Alisnya mengerut, rahangnya mengeras, dan napasnya tertahan sepersekian detik,

 menahan rasa perih yang menjalar tajam.

Saat jemarinya mencengkeram tepi ranjang pasien, alih-alih dengan begitu ia bisa memindahkan rasa sakit itu ke hal lain, pandangannya justru menangkap wajah Salma yang kini condong ke arah kakinya. Wanita itu meniup luka tersebut perlahan, seolah hembusan napasnya mampu meredakan perih yang tadi menusuk.

Wajah Salma tampak begitu dekat, sorot matanya fokus dan penuh kehati-hatian. Ada ketulusan yang jelas terpancar dari caranya memperlakukan luka kecil itu, dari gerakan bibirnya yang meniup pelan, dari alisnya yang sedikit berkerut karena cemas. Tidak ada tergesa, tidak ada jijik—hanya perhatian yang jujur dan hangat.

Perlahan, rasa perih Putra berganti menjadi hangat yang aneh, menjalar pelan dari kulit kakinya ke dadanya. Luka itu masih ada, masih terasa, namun tidak lagi menyakitkan seperti sebelumnya. Yang tersisa justru perasaan tenang.

Salma lalu mengambil gulungan perban dari atas meja kecil di samping ranjang. Jemarinya bekerja dengan hati-hati, melingkarkan kain putih itu perlahan di sekitar kaki Putra. Setiap lilitan dilakukan dengan lembut, cukup kuat untuk melindungi luka, namun tidak sampai membuatnya merasa sesak atau nyeri.

Sesekali ia menahan napas, memastikan perbannya rapi dan aman. "Selesai." Katanya, menatap Putra lurus tanpa sengaja, saat menyadari anak itu ternyata mengunci geraknya.

Hening menggantung beberapa saat di ruang UKS, terasa tebal dan canggung. Salma lalu segera beranjak dari kursi, gerakannya sedikit tergesa, seakan baru tersadar betapa lama ia berdiam terlalu dekat, terlalu lama... terlalu dalam.

Ia berdeham panjang seolah mengejutkan lamunannya sendiri sambil menyimpan perban dan obat ke tempat semula. Wajahnya berusaha kembali netral, meski ada rona samar di pipinya.

Ketika Salma hendak keluar meraih kenop pintu, jemarinya sempat berhenti di udara. Ia mengingat dengan jelas—ia tak pernah mengunci pintu itu sebelumnya, ketika ia merasa sulit mendorong engsel itu keluar.

Dahi Salma berkerut, ada rasa heran yang menyelinap. Perlahan, ia kembali meraih kenop pintu dan memutar kenop itu sekali lagi, sedikit lebih kuat dari sebelumnya.

Engsel pintu berderit pelan, namun tetap tak terbuka. Salma menghembuskan napas, perasaannya mulai bercampur antara bingung dan waswas. "Pintunya gak bisa di buka!" Lirihnya.

Putra yang masih duduk di tepi ranjang segera beranjak dan mendekat. Langkahnya sedikit tertatih karena kakinya, namun ia tetap berjalan menghampiri Salma. Wajahnya tampak tenang, berusaha meyakinkan. Ia mencondongkan badan ke arah pintu, tangannya terulur hendak mencoba kenop itu sendiri, dan pintu tetap bergeming. "Terkunci, Bu."

"Apa?!" Salma terkejut. "I-itu artinya... kita terkurung di sini, gitu?!"

Putra tak menjawab. Kenop itu lalu diputar ke kanan, lalu ke kiri, namun hanya bunyi gesek pelan yang terdengar, menandakan kunci dari luar masih mengikat rapat.

Putra menghela napas pendek, "Gak bisa di buka, Bu."

"Aduuuuuh... gimana dong!" Seru Salma panik sambil menggigit bibir bawahnya.

Salma berbalik, berjalan mondar-mandir ke arah jendela, dan mengetuk kaca jendela itu cemas. Berharap, ada satu dua orang yang lewat dari luar sana. "Tolooooong!" Serunya. "Siapapun disana, tolong buka pintunya, kami terkunci disini!"

"Ada ponsel, Bu." Kata Putra kemudian, sambil merogoh benda tipis itu dari saku celananya.

Mendadak, Salma menggertak kesal. "Kenapa gak bilang dari tadi siiii...!"

Putra cengengesan santai, sudut bibirnya terangkat ringan, seakan situasi itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan berlebihan. Tak ada raut panik, tak pula kegelisahan di wajahnya. Ia bersandar sedikit di dekat pintu, bahunya rileks, seolah terkunci di dalam UKS hanyalah jeda kecil yang kebetulan terjadi. Sementara itu, jemarinya mulai lincah memainkan ponselnya.

Tak lama, dengan masih memandang Salma yang berdiri dihadapannya, Putra merapatkan ponselnya ke daun telinga saat nada sambung mulai terhubung. "Halo, Bro!" Sahutnya. "Tolong gue sama Bu Salma. Kita kekunci di ruang UKS." Jelasnya. "Tenang, gue traktir lo semua hari ini. Lo semua mau apa, huh?! Mie ayam? Jus? Spageti? Borong sama Bibik kantinnya sekalian, tenang gue yang bayarin!"

Salma mengernyitkan dahi, menoleh cepat ke arah Putra dengan tatapan tak percaya. Alisnya terangkat, antara heran dan geli melihat bagaimana anak itu bisa bercanda, bertingkah angkuh di situasi serius seperti sekarang ini.

"Oke gue tunggu lo semua sekarang!" Lanjut Putra sesaat sebelum akhirnya ia memutuskan sambungan.

"Putra, please gak usah bercanda di situasi genting seperti sekarang ini!" Protes Salma. "Gak usah pake traktir temen segala! Niat bantu... bantu aja!"

"Gak apa-apalah, Bu... selagi aku ada uang."

Salma menggeleng.

“Ibu nggak percaya?” Tantang Putra ringan, senyum jahil terlukis di wajahnya. Ia kemudian merogoh saku seragamnya, gerakannya santai, seolah tahu betul apa yang akan ia keluarkan.

Beberapa lembar uang kertas berwarna merah ia perlihatkan begitu saja di depan Salma. Perlahan, membuat mata wanita itu membesar seketika.

Salma melongo, kata-katanya mendadak lenyap dari bibirnya. Untuk sesaat, ia hanya menatap uang itu, lalu menatap Putra, tak tahu harus bereaksi bagaimana—antara kaget, tak habis pikir, dan sedikit kesal pada keberanian anak itu yang terasa terlalu santai untuk situasi seaneh ini.

"Masih gak percaya, Bu?"

"Putra... kamu dapet uang darimana sebanyak itu?"

"Put...!" Seru seseorang, mengetuk pintu dari luar. "Ini kita! Lo masih idup kan di dalam sana?!"

Putra mendesis santai sambil tetap menatap Salma. "Amaaan!" Jawabnya singkat.

"Kita dobrak nih pintu, gimana?"

"I-Iya dobrak aja!" Balas Salma. "Apapun cara kalian, yang penting kita bisa keluar dari sini!"

"Oh iya, Bu!" Kata salah satu murid dari luar sana. "Ibu mundur, ya...!"

"I—"

Belum saja Salma selesai bicara, Putra tiba-tiba menarik lengannya ke arah dirinya. Refleks, tubuh mereka seketika saling merapat. Salma tersentak, napasnya tertahan sepersekian detik, sementara jarak di antara mereka menghilang begitu saja.

Aroma samar parfum Putra langsung menyergap—bersih, bercampur bau sabun dan keringat tipis khas remaja setelah beraktivitas. Terlalu dekat untuk diabaikan. Salma bisa merasakan hangat tubuh itu, detak jantungnya sendiri mendadak tak beraturan. Ia menegang, matanya terangkat menatap wajah Putra yang kini begitu dekat.

Bruuuuug!

Putra segera melepaskan tubuh wanita itu darinya, mundur selangkah tepat saat pintu UKS seketika terbuka. Beberapa murid berdiri di ambang pintu, wajah mereka tampak lega sekaligus penasaran. Udara yang semula terasa sempit mendadak mengalir bebas.

"Bu Salma, baik-baik aja?"

"I-Iya." Angguk Salma, berusaha merapikan sikapnya sambil menarik napas panjang untuk menenangkan diri. Kejadian tadi, begitu cepat, begitu kuat menghantam dadanya. "Terima kasih buat kalian semua."

"Iya, Bu. Sama-sama." Tanggap salah satu murid mengangguk sopan. "Lagipula... Ibu kenapa bisa ada disini sama Putra? UKS kita kan jarang di pakai."

Putra mendesis. "Kenapa, lo? Cemburu?" Celetuknya.

Salma menggeleng bijak, "Kaki Putra terluka, entah karena apa dia bisa berdarah seperti itu, makanya Ibu bawa dia kesini."

"Ah elah, Bu... cuma luka doang." Sahut Rian, murid bertampang Chinese itu memandang Putra datar. "Putra itu udah biasa babak belur, Bu. Gak heran kalau seminggu sekali suka ada oleh-oleh dari gelanggang tinju!"

Salma mengernyitkan sebelah alisnya, memandang lurus ke arah Putra. "Hobi kamu selain ng-gym, hiking... boxing juga?!"

Mata Putra melebar. "Darimana Ibu tahu semua hobi aku?"

"Uhm." Salma mendadak merapatkan bibirnya. Ia keceplosan, karena rasa takjubnya yang tiba-tiba memenangi ruang dadanya. Mata Putra masih mengunci geraknya, seolah menagih jawaban. Ia tak mungkin mengatakan hal jujur kalau kemarin malam ia telah menghabiskan waktu malamnya hanya untuk mencari tahu aktivitas apa saja yang Putra lakukan di setiap harinya.

"Bu?" Desak Putra.

"Uh.... I-Itu... I-Ibu cuma... nebak aja!" Tergagap Salma, menjawab asal. "Suaranya terdengar canggung, nyaris bertabrakan dengan detak jantungnya sendiri yang belum sepenuhnya tenang.

Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Tak lama, ia kembali memandang Putra. Anak itu masih memandanginya, seolah tengah menimbang, menghakimi dalam benaknya sendiri, apakah jawabannya barusan sungguh masuk akal atau hanya alasan seadanya. Tidak ada senyum jahil kali ini, hanya ekspresi tenang yang justru membuatnya semakin kikuk.

"Kenapa kamu mandang Ibu kayak gitu?!" Protes Salma, nadanya kali ini terdengar meninggi, penuh ketegasan seakan ia berusaha menegakkan batas yang sempat goyah barusan. "Bukannya kamu ada niatan mau traktir temen-temen kamu, sekarang?!"

"Iya, Bro!" Seru teman Putra, Tyo. Rambutnya ikal berkulit sawo matang, menepuk pundak Putra setengah akrab setengah merayu. "Kita udah laper, nih!"

Putra menggeleng sambil memberikan semua uangnya pada Tyo. "Abisin!" Katanya tanpa ragu.

"Serius, Bro?! Sahut Rian dengan mata membulat besar, saat beberapa lembar uang kertas merah itu di tangan temannya. " Put, lo dapet uang sebanyak ini darimana? menang judol, lo?!" Celetuknya.

Mendengar pernyataan itu, Salma sigap memasang wajah serius menatap Putra. "Awas aja kalau kamu berani melakukan hal menyimpang!"

"Enggak, Bu." Geleng Putra. "Hari ini aku dapet rejeki nomplok aja."

Putra memandang semua temannya yang masih memasang raut tak percaya. "Kenapa kalian masih ada disini? Udah sana ke kantin!"

Mereka saling memandang, sebelum akhirnya menangguk dan melangkah pergi meninggalkan Putra dan Salma penuh semangat.

"Kamu gak ikut mereka juga?" Tanya Salma kemudian. "Itu uang kamu, lho!"

Salma kemudian menegapkan tubuhnya lebih

tegak. "Kenapa uangnya gak kamu bayarin buat bayar tunggakan SPP kamu? Bentar lagi kamu PKL, lho!" Tambahnya.

Salma tertegun. Bahunya ditarik ke belakang, sikapnya kembali kokoh. Wajahnya mengeras dalam ekspresi profesional, "Oh… apa jangan-jangan itu uang Ibu kamu yang seharusnya buat bayar sekolah?”

Putra terdiam sepersekian detik, lalu menggeleng kemudian. " Kenapa, ya... susah banget jadi orang yang di cap baik." Gumamnya. "Bu Salma..." Nadanya merendah.

Suara Putra kali ini membuat dadanya kembali tersentuh.

"Kaki aku luka karena tabrak lari di jalan tadi pagi. Beruntung orang itu tanggungjawab." Jelas Putra. "Dia memberikan beberapa uang, jalur cepat agar masalah tadi pagi bisa selesai."

Salma terdiam. Tatapannya melunak, campuran lega dan khawatir tersirat jelas. "Tapi uang itu kenapa gak kamu pakai buat hal yang lebih..."

"Ibu mau aku traktir juga?" Potong Putra tenang. "Kalau mau... aku ada kok, uang."

"Ibu gak mau!" Jawab Salma cepat dengan gelengan keras di kepala. "Ya udah lupain! Ibu mau ke kelas dulu!"

Putra tak membalas. Ia hanya menyunggingkan sudut bibirnya tipis, sebuah senyum kecil yang sulit diartikan—bukan mengejek, bukan pula sepenuhnya santai. Kedua tangannya masuk ke saku celana, bahunya sedikit bersandar, sikapnya terlihat tenang seolah kata-kata Salma tak benar-benar mengusiknya.

Ia memandangi Salma yang berbalik, punggung wanita itu kini membelakanginya.

Langkah Salma terdengar mantap, namun ada jeda kecil di setiap pijakan, seakan ia sedang menahan sesuatu dalam dirinya.

Perlahan, jarak di antara mereka melebar. Dan Putra tetap di tempatnya, menatap sosok itu menjauh di lorong sekolah hingga akhirnya wanita itu menghilang dari pandangannya.

Aku gak mau makan uang dari pria yang udah buat Ibu terluka.

****

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!