Setelah patah hati dimanfaatkan teman sendiri, Alana Aisyah Kartika dikejutkan dengan tawaran yang datang dari presdir tempatnya bekerja, Hawari. Pria itu menawari Lana menikah dengan anak satu-satunya, Alfian Abdul Razman yang lumpuh akibat kecelakaan. Masalahnya, Fian yang tampan itu sudah menikah dengan Lynda La Lune yang lebih memilih sibuk berkarier sebagai model internasional ketimbang mengurus suaminya.
Hawari menawari Lana nikah kontrak selama 1 tahun dengan imbalan uang 1 milyar agar bisa mengurus Fian. Fian awalnya menolak, tapi ketika mengetahui istrinya selingkuh, pria itu menjadikan Lana sebagai alat balas dendam. Lana pun terpaksa menikah karena selain takut kehilangan pekerjaan, adiknya butuh biaya untuk kuliah.
Namun, kenyataan lain datang menghadang. Fian ternyata bukan anak kandung Hawari melainkan anak seorang mafia Itali yang menghilang sejak bayi.
Mampukah Lana bertahan dengan pria galak, angkuh, dan selalu otoriter ini? Lalu, bagaimana nasib mereka ketika kelu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ingflora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Perkembangan
Lana melangkah ke meja kecil di dekat sofa dan melepas kerudung instannya di sana. "Iya. Mas 'kan udah punya istri. Untuk apa aku mengganggu rumah tangga orang lain, tapi ayahmu memaksa. Aku 'kan gak bisa bilang enggak karena adikku juga tiba-tiba pindah kembali ke Jakarta. Aku tak punya pilihan." Ia mengucapkannya dengan jujur karena ia tak mau Fian salah mengerti. Ia kemudian kembali ke ranjang dan menaiki kasur masuk ke dalam selimut. "Eh!"
Tiba-tiba Fian menarik tubuhnya yang baru duduk. Lana melirik suaminya di samping.
"Jadi kamu sebenarnya tidak ingin menikah denganku, mmh!?" Fian memeluk bahu Lana dari belakang dengan emosi.
Tentu saja Lana tersipu-sipu. "Aku tak ingin merusak rumah tangga orang lain, Mas."
Fian melepasnya dengan kasar. "Huh, jangan sok kamu! Kalau bukan aku, tidak ada yang mau menikahimu!"
Kata-kata kasar Fian, coba Lana telan. Tentu saja, kata-kata itu benar. Tanpa menyahut apa pun, Lana merebahkan diri di ranjang sambil membelakangi suaminya dan menarik selimut. Padahal ia tak bermaksud menyakiti hati Fian, tapi pria itu menanggapinya berbeda.
Fian geram. Belum pernah ada wanita yang menolaknya. Apa karena ia cacat? "Kamu tidak mau karena aku lumpuh, 'kan?" Ia merapatkan geraham.
Seketika Lana memutar wajahnya ke arah sang suami. "Itu tidak benar, Mas. Mas sendiri sudah punya rumah tangga yang baik dengan Mbak Lynda, seharusnya aku tidak di sini. Hanya karena Mbak Lynda sibuk, karena itu ..."
"Bohong!"
Lana menatap pria itu yang memalingkan wajah darinya. Entah kenapa kedua matanya berkaca-kaca. Di raihnya lengan pria itu. Rasanya, bila pria itu terluka, ia pun sama. "Mas, aku gak bohong ...."
Pria itu memutar kepalanya ke arah Lana. Matanya memerah karena menahan amarah. "Kalau begitu, buktikan!"
"Apa?"
Melihat kedua mata Lana yang sendu, pria itu segera menempelkan bibirnya pada bibir merekah milik istrinya. Bahkan pria itu sampai menarik tubuh Lana dan menekan punggungnya. Lana terkejut sekaligus pasrah. Ia tak mengerti akan kemarahan pria itu akan kejujurannya, tapi apakah ia tak boleh jujur?
Tanpa terasa air matanya mengalir ke pipi. Ia tak tahu maksud suaminya menciium bibir sampai seperti itu. Kesalkah? Bencikah? Atau sayang? Tapi mengingat pria itu berpesan untuk tidak mencintainya, Lana pasrah saja. Ia terpaksa menerima kemarahan yang membuat hukuman di bibirnya makin panjang.
Lana memejamkan mata. Tentu saja. Andai ini rasa cinta pria itu, alangkah indahnya. Tapi, sekali lagi, ia bukan siapa-siapa. Ia harus siap sedia menjadi pion yang maju mundurnya mengikuti perintah pria itu. Namun, percayalah. Ia rela. Cinta mulai menelusup jauh ke relung hati. Ia ikhlas dipermainkan, asalkan bersama dengan pria ini.
Fian melepas bibirnya dan melonggarkan pelukan. Diperhatikannya Lana yang wajahnya basah dengan air mata. Namun, mata elang itu tidak berubah menatapnya dengan perasaan kesal. "Kamu berjanji tidak akan meninggalkanku, jadi kamu harus penuhi janji itu, karena aku tidak akan melepaskanmu!" Ditariknya tubuh Lana dan diletakkan di atas tubuhnya. Didekapnya tubuh itu sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut. "Kamu hanya menurut padaku, tidak boleh dengan orang lain, karena aku sudah membelimu."
Lana kembali berlinang air mata. Andai saja itu kata-kata cinta. Tapi tetap saja. Ia tidak mau jadi orang ketiga. Karena itu ia bertekad, bila Fian sembuh ia akan minta cerai.
"Ya Allah, kenapa aku jadi bisa bergantung sama dia? Tapi aku nyaman bicara apa saja dengan Lana, seperti dia yang berbicara apa saja yang dipikirkannya padaku karena terlalu polos. Aku begitu takut kehilangannya. Hanya dia yang bisa aku percaya. Aku tidak bisa percaya pada siapa pun lagi." Fian memeluk Lana erat. Lama pria itu memeluk istrinya hingga hampir tertidur. Tiba-tiba wanita itu bangkit. Secepat kilat Fian menahan pinggang istrinya hingga wanita itu jatuh lagi dalam pelukan.
"Ah!"
"Mau ke mana, hah!? Lihat, suamimu di sini. Sini tanganmu." Pria itu meraih tangan Lana dan kemudian melingkarkan di tubuhnya. "Peluk aku. Aku sedang kesal!"
Lana menengadah. Kembali ia meletakkan kepalanya di dadda pria itu dan memeluk tubuhnya. Terasa hangat, padahal jantungnya tengah berpacu karena berbaring di atasnya.
"Peluk terus aku sampai kesalku hilang!"
Lana terpaksa menurut walau sedikit malu. Wajahnya saja sudah mulai memerah karena memeluk pria itu.
"Bagus! Aku mau tidur, jadi jangan ke mana-mana!"
Wajah Lana tampak sendu, tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia diam tak bergerak dan menunggu suaminya tertidur. Namun, ketika suaminya tidur, Lana pun juga ikut tertidur.
***
Lana tengah menggerakkan kaki Fian yang sedang terbaring di ranjang. Diangkat dan ditekuk berulang kali.
Pria itu hanya dengan santai melihat saja karena ia memang sama sekali tidak bisa menggerakkan kakinya. Ia memperhatikan Lana yang tampak dengan telaten melakukan semua gerakan demi kesembuhan dirinya. Setelah usai sesi latihan, sang istri kemudian melakukan pengurutan di sepanjang kaki suaminya.
"Apa kamu yakin aku akan sembuh?"
"Apa?" Lana berhenti sebentar dan menatap suaminya. "Kenapa?"
"Aku tidak melihat perubahan apa pun setelah dua minggu sejak ke dokter waktu itu. Tidak ada perubahan."
"Kamu pesimis?" Lana kembali memijat kaki suaminya. "Positif thinking aja. Gak ada salahnya."
"Iya, tapi kalau sampai berbulan-bulan ...."
"Belum menjalani sudah berandai-andai. Kadang berandai-andai bisa menjerumuskan. Usaha aja dulu, Mas. Sisanya, terserah takdir Tuhan lagi."
Baru kali ini Fian mendengar istrinya begitu bijak berbicara. Ia terdiam mendengarkan. Entah kenapa, makin hari wajahnya makin manis saja dilihatnya. Atau mungkin karena jerawat di wajahnya kini mulai berkurang? Wajah Lana kini terlihat lebih bersih dari sebelumnya.
"Kamu dulu suka makan apa?"
Pertanyaan yang membuat Lana kembali menoleh tapi dengan dahi berkerut yang sempat menghentikan tangannya bergerak di antara betis pria itu. "Maksudnya apa, Mas?"
"Dulu jerawatmu banyak. Mungkin makanan enak membuat jerawatmu banyak hilang."
Lana tertawa. Di satu sisi ia merasa tersanjung. Benarkah jerawatnya mulai menghilang? Pipinya seketika memerah. Memang saat ia menyisir rambutnya, ia melihat di cermin wajahnya mulai tampak lebih cerah. Ia pikir karena jarang keluar rumah. Rasanya saat itu juga ia ingin bercermin, tapi tak mungkin melakukannya di depan Fian karena pria itu pasti menyangka ia gampang sekali dipuji, padahal memang iya.
"Dulu aku beli makanan, asal kenyang aja karena sedang nabung supaya adikku bisa kuliah lagi, soalnya udah janji mau biayai kuliah Tala. Jadi, makannya kebanyakan gorengan karena hanya makanan itu yang paling murah, biar aku bisa nabung. Tapi alhamdulillah, sekarang aku sudah bisa membayar uang kuliah Tala."
Fian menatap wajah Lana. Ia tak mengira Lana berjuang hingga sejauh itu untuk kebutuhan adiknya, padahal gajinya sebagai Manajer Accounting cukup untuk bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. Kurang dari itu berarti hidupnya berada dalam garis kemiskinan. Pantas saja pakaian tidurnya banyak yang sudah tua dan pudar sedang baju kantornya hanya sedikit. Berarti bukan karena pelit dengan diri sendiri tapi karena terdesak sebuah keadaan. Ia sendiri tidak tahu rasanya punya adik atau kakak karena hanya seorang anak tunggal. Itu pun juga anak angkat.
Fian sangat tahu, dirinya bukan anak Hawari dan Sarah tapi ia tak peduli. Hanya kedua orang itu yang tulus menyayanginya dan menganggapnya keluarga, karena itu Fian sangat menyayangi kedua orang tua angkatnya itu.
Bersambung ....
mau pakai baju terruutp