Menceritakan kisah cinta seorang Guru Gen Z tampan bernama Dimas Aditya dengan janda muda cantik dan kaya raya bernama Wulan Anggraeni. Kedua nya di pertemukan oleh keadaan hingga akhirnya tumbuh gelombang cinta di hati mereka. Seiring berjalannya waktu, Dimas berhasil mencuri hati Wulan sekaligus menyembuhkan rasa traumanya atas kegagalannya di pernikahan pertama. Namun di satu sisi, sang mantan (Nayla) masih mengharapkan menikah dengan Dimas. Rasa sayangnya yang begitu dalam, membuat cinta segitiga di antara mereka tak terelakkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kukuh Basunanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perseteruan Nayla dan Ayahnya
Nayla masih galau memikirkan Dimas. Sudah beberapa hari pujaan hatinya tersebut menghindar tanpa kabar. Semua akun media sosialnya tiba-tiba tak dapat di lihat. Dimas menghilang bak di telan bumi. Nayla mencoba menghubungi Dimas berkali-kali namun tak pernah ada jawaban.
"Ayah bener-bener egois, ayah gak peduli kebahagiaan Nayla" gerutu Nayla dalam hati.
"Kalau saja dulu, aku dan kak Dimas gak di takdirkan bertemu, mungkin gak sesakit ini hatiku" kembali Nayla menggerutu di hatinya.
Tepat pukul 21.15 WIB, Nayla mendatangi kamar orang tuanya. Tanganya mengetok pintu kamar dengan kedua mata yang masih sembab karna tangisannya.
"Tok .. tok .. tok .., yah, bun , Nayla mau ngobrol" suara Nayla dari balik luar kamar orangtuanya.
"Oh ya sebentar sayang" sahut Bu Junaedi.
Kedua orang tua Nayla keluar dari kamarnya menemui Nayla. Pak Jun memakai sarung dan kaos singletnya sementara bu Jun memakai daster berlengan pendek.
"Yah, apa benar ayah melarang kak Dimas bertemu aku lagi ?" tanya Nayla kepada ayahnya.
"Jawab yah ?"
"Iya" jawab pak Jun sembari menganggukan kepala.
"Kenapa ayah melarang kak Dimas buat ketemu aku lagi ?" suara Nayla kembali menangis.
"Ya karna kamu sebentar lagi akan di lamar Anton dan kamu akan jadi istrinya Anton, wajar lah kalau ayah melarang Dimas bertemu dengan mu lagi" respon pak Junaedi.
"Buat apa sih Nay, kamu masih memikirkan cowok mokondo itu ?" jawab pak Jun lebih lanjut.
"Pokoknya, Nayla gak pernah mau di lamar dan menikah sama mas Anton, Nayla gak mau yah gak mau, titik" suara Nayla membantah ayah nya.
"Kalau kamu gak mau ngikutin maunya ayah, silakan kamu angkat kaki dari rumah ini, bukan cuma itu nay, ayah bakal mengambil semua fasilitas yang sudah ayah berikan kepadamu, ayah gak akan lagi mentransfer kamu dan ayah bakal menghapus nama kamu dari ahli waris keluarga Junaedi" ancaman ayah Nayla.
"Ayah pikir, Nayla takut ? Gak yah gak, baik Nayla bakal pergi dari rumah ini sekarang juga" suara Nayla dengan nada tegas.
"Ney, ini udah malam Ney, kamu mau pergi kemana ? jangan tinggalin bunda Ney !" pinta bundanya sambil menangis.
"Gak bunda, ayah udah gak sayang sama Nayla, buat apa Nayla bertahan disini ?" respon Nayla dengan isakan tangisannya.
Nayla bergegas masuk ke kamarnya. Ia memasukan semua pakaiannya ke dalam koper. Ia melangkah menuju ke orang tua nya yang masih berada di ruang tamu.
"Ayah, bunda, Nayla mohon ijin pergi" suara Nayla terasa memberat.
Baru beberapa langkah Nayla melangkah kedepan tiba-tiba terdengar suara ayahnya.
"Kalau kamu berani pergi dari rumah ini, jangan salahkan ayah kalau sampai terjadi apa-apa dengan Dimas" suara pak Junaedi.
Nayla membalikan badan, menatap wajah ayahnya dengan serius.
"Apa maksud ayah ?" tanya Nayla.
"Ya kalau kamu bisa berbuat nekat, ayah juga bisa berbuat nekat kepada Dimas, sekarang kamu pilih menikah dengan Anton atau Dimas yang menderita ?", ucap pak Jun sembari senyum sinis ke anaknya.
Nayla terdiam sejenak. Hatinya bercampur baur antara sedih, bingung, kecewa dan juga marah. Ia tidak ingin memaksakan diri menikah dengan Anton namun di satu sisi ia begitu takut orang yang di sayanginya celaka oleh ayahnya.
"Ayah jahat, Nayla gak menyangka, ayah punya pikiran sekeji itu" ucap Nayla.
"Loh jahat gimana ? Apa yang ayah lakukan semata demi kebahagian mu nay, ayah menjodohkanmu dengan Anton karna Anton sudah mapan, gak kaya Dimas, cowo mokondo yang kerjaannya gak jelas" sahut pak Junaedi.
Cukup yah, cukup, ayah gak usah jelek-jelekin kak Dimas lagi, baiklah, Nayla akan turuti maunya ayah, semoga dengan ini ayah akan puas" ujar Nayla, hatinya panas membara.
***
Di rumahnya, Dimas murung. Biasanya ia terlihat begitu ceria namun kali ini hatinya bagaikan awan mendung. Ekspresi wajahnya tak dapat di pungkiri jika ia menyimpan kesedihan yang mendalam. Bu Ratih terus memperhatikan anaknya tersebut lalu duduk di sampingnya.
"Kamu kenapa Dimas ? Ibu perhatikan dari tadi kok sepertinya kamu lagi sedih banget, kamu lagi ada masalah ?" tanya ibunya Dimas, bu Ratih.
"Iya bu, aku dan Nayla sudah putus bu" sahut Dimas.
"Maksud kamu, kalian sudah gak pacaran lagi ?" tanya bu Ratih lagi.
"Iya bu". "Ayah nya Nayla bilang, kalau Nayla mau di jodohkan sama pria mapan yang punya jabatan bagus di kantornya" eksplanasi Dimas ke ibunya.
Bu Ratih mengelus bahu Dimas seakan ia tahu bahwa hati anaknya sedang rapuh. Ia terus memberikan semangat kepada Dimas agar tidak terlalu larut dalam kesedihan.
"Dalam sebuah hubungan pasti ada takdir yang selalu mengikuti, mungkin kamu dan Nayla memang ditakdirkan gak berjodoh atau mungkin kalian di takdirkan berjodoh namun tertunda" petuah sang ibu kepada anaknya, Dimas Aditya.
"Kamu jangan terlalu larut dalam kesedihan Dimas, apa yang Allah takdir kan saat ini pasti lah itu yang terbaik untuk kita"
"Ayo dong semangat anak gantengnya ibu, kamu harus bisa move on" lanjut kata bu Ratih.
Dimas mengganggukan kepala lalu menatap wajah ibunya dengan senyuman kecil.
"Nah gitu dong anak ibu yang ganteng" ucap bu Ratih sambil mengelus rambut sang anak.
Dari arah luar terdengar suara ketokan pintu.
"Tok..tok..tok..assalamualaikum" suara seorang laki-laki.
"Bu, sepertinya ada tamu" ujar Dimas memandang ibunya.
Bu Ratih berdiri lalu bergegas menuju ruang tamu.
"Walaikum sallam" sahut bu Ratih.
Pintu di buka ternyata seorang laki-laki yang wajahnya tak asing bagi bu Ratih.
"Siapa yah ? Sepertinya kita pernah ketemu" tanya bu Ratih.
"Benar bu, saya Hafidz yang pernah makan di warung ibu" ujar Hafidz.
"Owalah iya iya, ibu ingat" respon bu Ratih.
"Mohon maaf bu, saya mau ketemu sama Diana ada ?" tanya Hafidz kepada bu Ratih.
"Oh Diana ada", jawab bu Ratih. "Sebentar ya nak Hafidz, ibu panggilkan Diana dulu, silakan masuk dan duduk dulu !"
"Diana, ini ada kak Hafidz nak" suara bu Ratih memanggil Diana.
Diana keluar dari kamarnya, wajahnya senyum-senyum malu kedatangan Hafidz. Ia duduk di depan hafidz yang di batasi meja tamu.
"Kami terlihat cantik banget hari ini, Diana" ujar Hafidz.
"Berarti biasanya aku gak cantik yah ?" tanya candaan Diana.
"Ya cantik tapi hari ini terlihat sangat cantik" ujar Hafidz kembali.
"Maaf yah aku gak sempat chat whatsApp dulu kalau aku mau kesini"
"Gak papa kok kak Hafidz, tenang aja, aman"
"Oh ya, aku tuh sebenernya pengin ngajakin kamu jalan-jalan ke pantai, kira-kira Kamu mau atau gak Diana ?" ajakan Hafidz.
"Loh Kamu kok tau sih aku suka pantai ?" kata Diana.
"Iya dong kan aku punya ilmu batin" canda Hafidz.
"Hemm..kak Hafidz bisa aja"
"Jadi gimana mau gak ?"
Diana menganggukan kepala sembari tersenyum manis yang menandakan dirinya mau.
"Bu, Diana ijin mau ke pantai yang sama kak Hafidz" ijin Diana ke ibunya.
"Iya ibu ijinin, kamu jaga diri baik-baik yah, ingat kamu itu perempuan gak boleh nakal" ujar sang ibu.
"Siap Bu, makasih"
Sebelum menuju ke mobilnya, Hafidz terlebih dulu meminta ijin ke bu Ratih untuk membawa anaknya tersebut.
"Bu, saya ijin ngajakin Diana jalan-jalan kepantai yah" ucap Hafidz.
"Iya nak Hafidz. Hati-hati di jalan yah, nyupirnya gak usah ngebut !" pinta bu Ratih.
Diana dan Hafidz melangkah menuju mobil. Mereka masuk kedalamnya. Diana duduk bersebelahan dengan Hafidz di samping stir kemudi. Di sepanjang perjalanan, Diana terlihat canggung. Hatinya berdebar-debar duduk bersebelahan dengan Hafidz di dalam mobil.
Sesampainya di pantai, mereka duduk di tepi sembari menatap ombak. Suara alam seolah menghangatkan jiwa mereka. Dalam suasana yang syahdu, Hafidz mengutarakan isi hatinya kepada Diana.
"Diana, mungkin aku tak pandai merangkai kata-kata yang indah layaknya sang pujangga tapi ada satu hal yang harus kamu tahu, aku jatuh cinta pada mu sejak pertama kita bertemu"
"Apa Kamu mau menerima aku sebagai bagian dari hatimu ?" suara Hafidz di saksikan awan dan ombak.
Nayla tersenyum menatap wajah Hafidz sembari menganggukan kepala.
"Apa aku boleh melamar mu, Diana ?" tanya Hafidz.
Kembali Diana menganggukan kepala di iringi senyuman tipis yang mewarnai wajahnya.
"Will you marry me ?" ucap hafidz kembali.
"Yes", jawaban singkat Diana yang membuat hafidz bahagia.
"Mengenai perasaan ini, sebenarnya Diana juga cinta sama kak Hafidz" ucap Diana.
"Tapi Diana gak mau pacaran kak, kalau kak Hafidz serius sama Diana, kak Hafidz coba ngomong sama ibu buat ngelamar Diana yah" lebih lanjut Diana berucap.
"Apa Kamu sudah yakin sama aku, Diana ?" hafidz mencoba meyakinkan Diana kembali.
"Dari sorot matanya kak Hafidz seolah memancarkan ketulusan mencintai Diana, jadi Diana yakin kak hafidz lah orang yang selama ini Diana cari"
"Jangan pernah bermain-main dengan perasaan Diana ya kak !" pinta Diana.
"Yah, aku janji pada mu, Diana ku sayang" respon Hafidz.