Bagaimana hidup Naura yang harus di jodoh kan dengan orang yang sudah mati. selang sehari saat dia meraya kan ulang tahun ke 18.
Naura Isabella adalah seorang murid di SMA Nusa bangsa dengan jalur prestasi.
Di pagi yang mendung itu. Orang tua Naura Tiba tiba menyuruh putri semata wayang mereka untuk tidak ke sekolah.
Dan membawa Naura ke rumah mewah.
Naura yang sudah berdandan cantik layak nya pengantin sangat lah heran. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Banyak orang menangis. Dia bingung kenapa dia malah di dandani seperti seorang pengantin.
Dengan di gandeng oleh kedua orang tua nya. Naura berusaha bersabar dan tidak banyak bertanya.
Orang tua nya menjelas kan jika dia harus ikut karnaval agar bisa mendapat kan uang untuk makan besok. Itu ucapan singkat ke dua orang tua Naura.
Naura tiba di sebuah altar dan sudah ada pendeta di sana. Naura melihat ke sekeliling dan mata Naura terpaku pada mayat pria yang seumuran dengannya dengan wajah yang sangat pucat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
"Sayang ayo kata kan kepada Daddy siapa yang berani menyakiti mu? Bahkan sampai membuat mu menangis seperti ini?" tanya ayah Cherly yang bernama Adam Aisley.
Di balik perlakuan yang lembut dan manisnya. Adam adalah seorang pebisnis berdarah dingin. Yang siap untuk menghancurkan lawannya, walaupun itu berarti harus menghilangkan nyawa.
"Kalian berdua lah yang menyakiti ku, hiks hiks hiks," sahut Cherly sembari terisak, ia berbicara di sela sela tangisnya.
"Bagaimana .... Bisa? Memang nya apa yang kami lakukan kepada mu sayang?" tanya Vivi dengan wajah bingung. Dia sungguh tidak mengerti apa kesalahan yang dia dan suaminya perbuat.
"Kenapa Cherly tiba-tiba menyalahkan aku?" gumam vivi dalam hatinya.
"Kalian berdua membohongi ku!" kata Cherly dengan nada kecewa.
"Sayang ayo kata kan, apa yang membuat mu menuduh kami, bahkan separuh nyawa kami adalah kamu sayang," ujar Adam sembari mengelus elus pucuk kepala anak nya itu dengan penuh kasih.
"Kenapa kalian tega membohongi kalau Liam sudah mati? Kenapa? ... Nyatanya Liam masih hidup sampai sekarang ini. Barusan aku itu bertemu dengannya tadi," papar Cherly dengan tatapan nyalang, ia masih saja menangis.
Glek. Kedua orang tua Cherly menelan ludah nya yang terasa kelu di dalam tenggorokan nya.
"Apa?" gumam Vivi terkejut, bahkan tanpa sadar dia dan juga suaminya itu saling menatap.
*****
***
Sementara di tempat lain. Liam sungguh kacau. Dia sudah tidak bisa mengendalikan diri nya sendiri yang sudah sangat emosi setelah bertemu dengan mantan pacarnya. Dia malah teringat rasa sakit yang telah di toreh kan oleh seorang gadis yang menjadi cinta pertamanya itu.
Seorang gadis yang dulunya mampu membuatnya tersenyum dan merasa nyaman.
Walau pun gadis itu sering menyakiti bahkan tidak menganggap nya. Tapi semua perlakuan itu Liam terima dengan lapang dada. Karena bagi Liam, di sakiti gak papa yang penting bukan penghianatan dalam cinta.
Nyatanya gadis itu malah tega menduakan nya. Apalagi yang menjadi selingkuhannya itu. Sepupu nya sendiri. Sungguh hati Liam sangat lah sakit jika teringat Cherly berciuman dengan panas dengan Aron di depan matanya.
Tiba tiba Liam menepi kan mobil nya kepinggir jalan. Naura shock melihat ke adaan suaminya. Yang terlihat seperti mayat hidup dengan urat urat yang menonjol keluar dan juga gigi taring yang memanjang.
"Maaf," ucap Liam sembari memeluk Naura dengan erat. Lalu dengan gigi taringnya menusuk leher Naura. Dan menghisap darah yang menjadi candu bagi Liam.
"Akhhhhh hiks hiks hiks lepasin sakit banget!" Naura menjerit dengan suara begitu panjang saat leher nya seperti di suntik.
Naura juga reflek juga menangis sekencang- kencangnya. Ia malah bergidik sendiri saat Liam sedang asyik menghisap darah dari lehernya.
Bayang bayang kehidupan yang kelam, tiba tiba berputar di ke dua bola matanya.
Naura berusaha untuk memukul mukul tubuh Liam agar menjauh dari tubuhnya.
Sungguh sekarang ini Naura merasa sangat kesakitan. Dan pandangannya mulai berkunang kunang.
Gelap
Naura merasa pandangan nya gelap.
Tiba tiba Naura merasa kan ada cahaya yang terang yang sangat menyilaukan.
"Naura maafin kami ya nak, apapun yang terjadi, kami sangat menyayangi mu," ucap ibu Naura dengan wajah yang sangat sedih.
Dengan ayah yang berdiri di sebelah ibunya. Ke dua orang tua Naura berada di cahaya itu. Semakin lama cahaya mulai mengecil memperlihat kan orang tua nya juga mulai menghilang dari balik cahaya.
"Ayah .... Ibu .... Hiks hiks hiks jangan tinggalin Naura. Kalian mau kemana?" ujar Naura di sela sela tangis nya.
Lalu naura membuka matanya. Dia heran sejak kapan dia sudah berada di dalam kamar.
Naura mencoba untuk duduk walaupun kepala nya masih pusing dan juga berputar putar.
"Sudah bangun?" tanya seseorang yang duduk tak jauh dari ranjangnya. Suaranya terdengar begitu dingin dan juga menyeramkan.
"I - iya sudah mah," jawab Naura menunduk dengan wajah takut.
Liliana pun mendekat ke arah menantunya.
Naura yang merasa leher nya nyeri. Akhirnya dia teringat peristiwa tadi, saat Liam menggigit lehernya itu.
"Jadi tadi bukan mimpi,"batin Naura. Dia malah merasa takut karena harus berada di tengah tengah tengah keluarga yang aneh.
Saat Liliana mendekat ke tubuhnya. Reflek Naura pun memundurkan tubuhnya. Dia sangat lah takut. Kalau Sampai mati karena kehabisan darah. Jika kali ini Liliana juga menghisap darahnya juga seperti Liam.
Sungguh sekarang ini tiba tiba Naura merasa ketakutan sendiri.
Liliana yang gemas dengan tingkah menantunya langsung menarik tangan menantunya itu.
"Mau kemana? kenapa terus mundur?" tanya Liliana dengan suara datar, tanpa berbasa basi. Ia langsung memeluk menantunya yang terlihat begitu ketakutan dengan sangat erat.
"Akkhhhhh," teriak Naura dengan suara takut, ia begitu ketakutan jika ibu mertua nya itu akan ikut menghisap darahnya.
Brakk, suara pintu yang dibuka dengan sangat keras.
Liam membuka pintu dengan kasar karena mendengar istri nya itu menjerit.
"Apa yang mamah lakukan ke padanya?" tanya Liam dengan mata mulai memerah. Wajahnya terlihat mulai marah.
"Hmmm ... Mamah cuman peluk istri kamu. Dan cuman mau mengucap kan kata terimakasih karena berkat dia kamu bisa kembali ke dunia ini dan bisa mengendalikan amarah mu yang kadang sudah seperti iblis itu," jawab Liliana dengan santai sembari tersenyum, walaupun Liliana tersenyum tidak akan mengurangi keangkuhan yang sudah mendarah daging di wajahnya.
Lalu Liliana melepas kan pelukannya dari tubuh Naura. Terlihat tubuh Naura masih bergetar hebat karena ketakutan.
Pandangan Naura masih kosong dengan tubuh yang bergetar dia meringkuk. Karena mimpinya dia jadi teringat akan ke dua orang tuanya.
Selain ketakutan karena faktanya dia hidup di tengah tengah vampir, tiba tiba ia merasa, jika hal buruk telah menimpa ke dua orang tuanya.
"Dimana sebenarnya mereka?" gumam Naura dalam hatinya.
****
Liliana pun memilih untuk keluar dari kamar dan meninggalkan ke dua pasangan pengantin itu.
Agar anak dan juga menantunya itu bisa saling dekat dan bisa saling mengenal masing masing. Dia ingin anaknya merasakan kebahagiaan dalam cinta.
Karena Liliana yakin, kalau Naura adalah tipe wanita setia. Liliana juga sadar saat menikahkan Liam dan juga Naura. Naura itu posisi nya juga masih perawan.
Dengan darah yang ada di seprai yang sengaja Liliana berikan seprei warna putih untuk ranjang milik Liam.
Sekarang terlihat anak nya begitu mencintai Naura.
Liliana juga sudah tahu, jika selama ini Cherly hanya mempermainkan anak nya. Tapi Liliana tidak bisa berbuat banyak. Dia teringat kesepakatan nya dengan keluarga Cherly.
Liliana duduk di kursi sofa yang ada di halaman belakang, menatap datar ke arah kolam renang. Tak berselang lama suaminya pun datang dan memeluknya dari belakang.
"Are you okey?" tanya Steve pada istri nya, lalu ia mencium kening istrinya itu.