Di mata orang banyak, Arini dan Adrian adalah sepasang potret yang sempurna dalam bingkai emas. Adrian dengan wibawanya, dan Arini dengan keanggunan yang tak pernah luntur oleh waktu. Namun, rumah mereka sesungguhnya dibangun di atas tanah yang mulai bergetar.
Kehadiran sebuah surat usang yang tiba-tiba, perlahan mengikis cat indah yang membungkus rahasia masa lalu. Arini mulai sadar bahwa selama ini ia tidak sedang memeluk seorang suami, melainkan sebuah rencana besar yang disembunyikan di balik senyum yang paling manis.
Baginya, air mata adalah sia-sia. Di balik keanggunannya yang tetap terjaga, Arini mulai menggeser bidak-bidak catur dengan jemari yang tenang. Kini, ia bukan lagi seorang istri yang dikhianati, melainkan sutradara dari akhir kisah suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap ke publik
Sebuah cafe mungil di sudut jalan kota, terlihat kecil namun sangat nyaman. Jika dilihat dari pinggir jalan, tempat ini memang agak tersembunyi. Sedikit masuk ke dalam gang dari jalan raya dan tempat ini jarang dilewati oleh orang-orang karena jalanan sekitarnya yang sepi.
Seorang pria dengan kemeja putih sedang duduk di salah satu meja yang mengarah ke jendela cafe, ia melirik suasana di luar sana. Hujan tak kunjung berhenti dan Erina juga belum tiba.
Ia menyeduh teh yang ada dihadapannya, membiarkan uap panas itu menghangatkan dirinya di tengah dingin hujan.
Tak berselang lama, suara motor gadis itu terdengar dari kejauhan. Adrian melirik, benar gadis itu hampir tiba.
Erina memarkirkan motornya di halaman depan cafe itu, ia melepas mantelnya dengan susah payah. Setelah melepas benda itu, dia bergegas masuk ke dalam cafe.
Gadis itu mencoba pundak Adrian dan duduk disamping pria itu. Senyumnya mengembang sempurna, ia menatap Adrian tanpa berkedip. Seolah menunggu apa yang ingin pria itu sampaikan kepadanya.
"Ada apa Adrian? Tumben kamu ngajak ketemu, bukannya kamu lagi sibuk?" tanya Erina.
Namun Adrian tak bergeming. Ia hanya diam sambil melihat lurus ke depan, menatap jalanan kosong dihadapannya yang masih diguyur hujan dengan deras.
"Babe? Kok diam sih... " ucap Erina.
Adrian menghela napas. Setelah beberapa saat ia hanya diam tak menjawab pertanyaan dari gadis itu, ia akhirnya menoleh dan membuka suara.
"Sebaiknya kita tidak bertemu dulu untuk kedepannya," ucap Adrian.
Kata-kata itu seperti petir bagi Erina.
Ia terkejut mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh pria itu. Apa dia baru saja salah dengar?
"Ma-maksud kamu, babe?" tanya Erina, masih tak mengerti.
"Ya, saya minta untuk kita menjaga jarak. Ini demi kepentingan kita, kamu dan saya," ucap Adrian kembali.
"Itu saja yang ingin saya sampaikan ke kamu, saya harap kamu mengerti. See you,"
Adrian berdiri dari tempat duduknya dan hendak meninggalkan gadis itu. Namun Erina menahan tangan Adrian dan menariknya kembali mendekat.
"Why? Ada apa dengan kamu, Adrian? Kenapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Erina.
Adrian melepas genggaman Erina dari tangannya dan menatap gadis itu lekat. "Itu yang terbaik untuk sekarang, cukup ikuti saja? Mudah bukan,"
"Mudah?! Kamu sama saja seperti ingin menyudahi hubungan kita, babe!?" ucap Erina dengan mata berkaca-kaca.
"Saya tidak bilang untuk menyudahi hubungan ini, saya hanya minta kita untuk menjaga jarak saja untuk kedepan, itu saja!" tegas Adrian.
"Apa alasannya? Why, Adrian?!" Erina masih menahan pria itu.
Adrian tak menjawab. Ia melepas kembali tangan gadis itu dari pergelangan tangannya, lalu beranjak pergi dari sana.
Erina terhenyak. Matanya berkaca-kaca, udara dingin disekitarnya seolah menyeruak masuk kedalam tubuhnya. Hatinya terasa hancur. Apa maksud Adrian?
Gadis itu berbalik, menatap punggung Adrian yang semakin menjauh hingga pria itu masuk ke dalam mobil. Mobil itu menyala dan tak lama kemudian melaju cepat pergi meninggalkan cafe itu.
Kini hanya tersisa dirinya, seorang diri disana.
Erina terduduk lemas di kursi, air matanya jatuh perlahan-lahan membasahi pipinya. Ia benar-benar merasa dikecewakan.
"Kenapa tiba-tiba seperti ini?"
...****************...
Di tengah derasnya hujan di Kota Jakarta, jalanan yang ia lalui semakin ramai. Mobil itu melaju cepat, namun tak berselang lama dihadapannya terlihat beberapa kendaraan berhenti dan menciptakan kemacetan di jalan.
Kini Adrian juga ikut terjebak kemacetan di tengah hujan yang menyebalkan ini. Ia memukul kemudinya dengan kesal.
Adrian menarik napas panjang, jemarinya mengetuk-ngetuk kemudi dengan tidak sabar. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, hanya terdengar bunyi wiper yang beradu dengan kaca depan, menyapu sisa-sisa air hujan yang menghalangi pandangan.
Ia mencoba menenangkan diri dengan menyalakan radio. Suara penyiar yang ceria mengisi kekosongan ruang itu.
"...dan itu tadi adalah lagu dari Billie Eilish berjudul Birds of a Feather, yang masih betah nangkring di urutan pertama chart radio kita minggu ini. Benar-benar lagu yang pas banget ya buat kalian yang lagi ngerasain cinta mati sama pasangan," suara penyiar itu terdengar renyah, disusul tawa kecil yang khas.
Adrian sedikit menyunggingkan senyum tipis. Ironis sekali mendengar lagu tentang kesetiaan di saat ia baru saja meninggalkan Erina dengan luka yang menganga. Ia merasa keputusannya menjauh adalah satu-satunya cara untuk melindungi segalanya.
"Tapi sebelum kita lanjut ke lagu berikutnya di urutan kedua," sambung sang penyiar lagi,
"tadi ada pesan lucu nih yang masuk ke WhatsApp kita. Dari Pak Bambang di Jakarta Selatan,"
"Katanya, Min, tolong bilangin ke istri saya, jangan marah-marah terus kalau jemuran belum diangkat, kan hujannya dari tadi nggak berhenti!"
"Waduh, Pak Bambang... sabar ya, Pak. Namanya juga musim hujan, yang penting hubungan Bapak jangan sampai ikutan dingin kayak cuaca sore ini."
Penyiar itu tertawa lagi, sebuah tawa yang terdengar sangat lepas dan tanpa beban. Adrian sempat menghela napas pendek, merasa sedikit terhibur dengan selingan remeh itu.
Namun, keceriaan di radio itu tiba-tiba terputus. Ada jeda sesaat, suara kertas yang bergeser, dan nada bicara si penyiar mendadak berubah menjadi lebih serius, seolah-olah ia baru saja menerima sebuah pesan darurat.
"Oke, pendengar setia, maaf saya potong sebentar daftar putarnya. Barusan masuk pesan singkat dari salah satu pendengar kita, dan tim redaksi juga baru saja mengonfirmasi sebuah berita yang lagi trending banget di media sosial dalam hitungan menit terakhir."
Jantung Adrian berdesir aneh. Ia sedikit mengecilkan suhu AC, merasa udara mendadak jadi pengap.
"Foto-foto mengejutkan baru saja beredar luas. Publik sedang dihebohkan dengan dugaan skandal perselingkuhan yang menyeret nama pengusaha muda sukses, Adrian Rejaka Wibowo, suami dari selebriti Arini Dian Ayunia. Dalam foto yang tersebar, terlihat Adrian sedang bersama seorang gadis muda di sebuah lobi hotel mewah semalam..."
Tubuh Adrian membeku. Tangannya yang memegang kemudi mendadak lemas dan dingin.
"Terlihat sangat jelas di sana, keduanya tampak begitu dekat. Wah, sepertinya ini bakal jadi berita paling panas di awal tahun ya. Kita semua tahu bagaimana citra keluarga mereka selama ini yang tampak begitu sempurna di depan kamera..."
Penyiar itu terus berbicara, namun telinga Adrian mendadak berdenging. Ia segera meraih ponselnya yang tergeletak di kursi samping. Dengan tangan gemetar, ia membuka salah satu portal berita hiburan.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat layar ponselnya. Di sana, terpampang foto dirinya yang diambil dari sudut tersembunyi. Ia sedang berdiri sangat dekat dengan seorang wanita di depan lift hotel. Meski fotonya sedikit buram karena pencahayaan malam, siapapun yang mengenalnya pasti tahu bahwa itu adalah dia.
"Sial!" umpatnya tertahan.
Kini ia sadar, permintaan "jaga jarak" yang ia sampaikan pada Erina tadi ternyata sudah terlambat. Badai yang sesungguhnya bukan lagi hujan di luar sana, melainkan badai yang baru saja menghantam hidupnya lewat siaran radio dan layar ponsel itu.
"Bagaimana semua ini bisa bocor ke media?!"