Menikah selama 12 tahun, Siti Nurmala yang begitu setia kepada suaminya sampai mengorbankan mimpinya sebagai dokter spesialis, malah dikhianati Suami dan anak-anaknya.
Yusuf Kaliandra, berselingkuh dengan Keponakan Nurmala dan menikahinya secara siri, bahkan didukung oleh anak-anaknya, Raden dan Sofia.
Nurmala yang sakit hati pergi dengan gugatan cerai.
Di tengah usahanya mencari pekerjaan, Ia bertemu dengan juniornya saat kuliah. Dewangga Pramudya!
Pria tampan pemilik rumah sakit, duda anak 1 yang kemudian dengan gigih mengejarnya!
Akankah Nurmala bisa menerima cinta baru diantara ketakutan dan ketidakpercayaan diri yang timbul akibat pengkhianatan Yusuf?
Bagaimana reaksi anak-anaknya melihat Nurmala yang begitu menyayangi putra dari Dewangga?
Selamat membaca, semoga terhibur!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maufy Izha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pindah Ke Rumah Baru
Setelah mendapatkan perawatan intensif selama hampir seminggu, akhirnya Bu Aminah sudah diizinkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan.
Untungnya, salah satu saudara Bu Aminah berbaik hati menyewakan rumahnya yang sudah lama tidak di tinggali. Jadi, sebelum Bu Aminah dinyatakan sudah boleh pulang, Nurmala di bantu oleh beberapa saudara Bu Aminah sudah menyiapkan rumah baru yang akan Mereka tempati.
Letaknya tidak jauh dari dari rumah Bu Aminah sebelumnya, cuma beda dusun.
Nurmala juga sudah mengurus surat-surat dan dokumen yang dibutuhkan untuk membuka praktek di rumah itu.
Dibantu oleh Dewangga dan juga kenalan Retno yang bertugas di bandung. Kurang lebih butuh waktu 3-4 bulan sampai semua prosedurnya terpenuhi dan surat izin membuka praktek bisa Nurmala dapatkan.
Sementara ini, Nurmala masih bekerja di rumah sakit seperti biasa, kemudian setiap Minggu Nurmala akan berbelanja, membeli keperluan untuk kliniknya nanti, seperti melakukan pemesanan rak obat, mencari apotek yang cocok untuk bekerja sama dengannya dalam masalah supply obat-obatan, serta menyeleksi beberapa perawat yang akan membantunya nanti.
Butuh modal yang besar, tapi Nurmala memiliki tabungan yang cukup untuk mewujudkan keinginannya. Dia juga masih memiliki gaji yang lumayan besar dari pekerjaannya sebagai dokter di rumah sakit Bhakti Dharma milik Dewangga.
"Alhamdulillah sudah sampai... Ibu, gimana perasaan Ibu? Sementara Kita tinggal disini dulu ya Bu, sampai masalah Nurma dan mas Yusuf selesai. Ini rumahnya Tante Esih yang udah lama nggak di tinggali"
Nurmala berbicara pada Ibunya dengan posisi berjongkok di depan beliau yang duduk di kursi roda.
Bu Aminah masih pucat, bibir sebelah kirinya sedikit miring dan tampak kesulitan untuk digerakkan. Jadi, Bu Aminah hanya menjawabnya dengan bergumam lalu menganggukkan kepalanya sedikit.
"Nanti Nurma buka praktek disini Bu, jadi setiap weekend rumah Kita bakalan rame, surat izinnya belum keluar, jadi sambil nunggu surat izinnya, Nurma merenovasi bagian ruang tamu buat tempat praktek Nurma. Tante Esih juga udah setuju, Alhamdulillah, malah Tante yang sekarang lagi bantu Nurma buat promosi klinik amal ini. Ada beberapa rekan dokter yang mendaftarkan diri jadi donatur juga Bu..."
Bu Aminah mengangguk lagi, dalam hati, Beliau betul-betul bangga pada Nurmala, meskipun keadaannya saat ini begitu merepotkan Nurmala.
"Ibu harus semangat ya, biar Ibu bisa pulih lagi"
Nurmala kemudian memeluk Bu Aminah yang mulai menangis.
Jujur saja, keadaan Bu Aminah yang mendadak terkena stroke seperti ini membuat mental keduanya, baik Bu Aminah sendiri maupun Nurmala sangat down.
Beberapa hari yang lalu, Bu Aminah masih sehat dan tidak ada masalah kesehatan apapun, tiba-tiba Yusuf dan Niken datang mengacaukan segalanya.
Setiap mengingat momen itu, dada Nurmala terasa akan meledak karena marah. Tapi, tidak akan ada apapun yang Ia dapatkan kalau hanya marah-marah kan?
Yang terpenting sekarang adalah menjauh dari Yusuf Niken dan keluarganya agar kondisi Bu Aminah tidak semakin memburuk. Terutama saat masalah perceraian ini belum selesai.
"Assalamualaikum, onty Umaa"
Suara imut yang sudah sering di dengar Nurmala itu, seketika membuat Nurmala yang tengah memeluk Bu Aminah menoleh ke arah gerbang.
Ergi yang berada dalam gendongan Dewangga, melambai-lambaikan tangannya dengan penuh semangat.
"Ergi... Kamu datang jengun Oma?" Sambut Nurmala seraya menghampiri Ergi dan Dewangga yang tampak membawa bingkisan juga.
"Onty Umaa, Egi mau gendong" Ucap Ergi seraya melebarkan kedua tangannya.
"Bolehhh..." Nurma pun meraih bocah kecil itu dari gendongan Dewangga.
"Ini buat Bu Aminah, buah-buahan seadanya" Ucap Dewangga seraya menunjukkan bingkisan di tangannya.
Nurmala tersenyum.
Seadanya? Bingkisan besar itu tampak membumbung tinggi dan penuh dengan aneka buah-buahan.
"Makasih ya, Yuk masuk, kebetulan Ibu lagi menikmati angin sore di teras"
Ucap Nurmala, Dewangga mengangguk lalu mengikuti langkah Nurmala yang berjalan lebih dulu.
"Halo omaaa" Sapa Ergi. Rambut keriting panjangnya tampak sangat menggemaskan. Bu Aminah tampak tersenyum, matanya menyipit. Jika saja beliau dalam keadaan sehat, pasti Beliau juga sudah menggendong Ergi.
Ergi saat ini sedikit mengingatkannya pada Raden, anak Nurmala yang dulu juga sangat lucu dan menggemaskan saat sesuai Ergi.
"Ergi duduk dulu ya disini, onty mau bikin minum dulu buat Daddy sama Ergi, sama mau bawain camilan, Ok?"
"Ok Onty...." sahut Ergi dengan senyum khasnya yang memunculkan lesung pipi kecil di kedua pipinya.
Setelahnya, Nurmala pun masuk ke dapur untuk membuatkan minum.
"Gimana keadaan Bu Aminah sekarang? Apa ada yang kurang nyaman?" Tanya Dewangga dengan lembut.
Bu Aminah menggelengkan kepalanya, namun Dewangga sepertinya merasakan bahwa Bu Aminah tidak nyaman dengan posisi duduknya saat ini.
Pria itu pun melangkah kemudian menggeser sedikit posisi duduk Bu Aminah.
"Maaf Bu, kayaknya duduknya kurang nyaman, biar Saya geser sedikit ya"
Bu Aminah terharu karena kepekaan Dewangga, Beliau pun mengangguk setuju.
Disaat yang bersamaan, Nurmala tengah berjalan ke arah ketiga orang tersebut. Dia pun ikut terharu atas perhatian Dewangga pada Ibunya.
Yusuf bahkan tidak pernah seperhatian itu pada Ibunya sejak Mereka menikah.
"Makasih Dewa... Ini minumnya..." Setelah menyajikan teh diatas meja, Nurma pun duduk di samping kursi roda Bu Aminah.
"Sama-sama" Ucap Dewangga, kemudian kembali ke tempat duduknya di seberang Nurmala.
"Onty, Ergi boleh duduk sama onty?"
"Boleh...." Jawab Nurmala seraya menepuk-nepuk pahanya. Ergi pun tampak kegirangan dan melompat turun dari kursinya dengan tidak sabar
"Yeayyhy, maacih onty"
"Sama-sama sayang. Mau makan biskuit ini nggak?"
"Mau!" sahut Ergi dengan penuh semangat
'Manisnyaaa' Batin Nurmala merasa gemas pada bocah kecil di pangkuannya itu.
Rambut keriting, kulit putih, pipi gembul dan lesung pipi yang timbul saat anak itu tertawa. benar-benar menggemaskan!
"Ngomong-ngomong, udah dapat perawatnya belum Kak?"
"Belum nih, kemarin udah interview beberapa di rumah sakit, belum ada yang sreg di hati Aku"
"Mmmm, Aku punya rekomendasi calon perawat, belum wisuda sih, udah di semester akhir"
"Oh ya? Siapa? kenalan Kamu?" Tanya Nurmala.
Dewangga tiba-tiba tersenyum kemudian mencoba menggoda,
"Tenang aja, bukan siapa-siapa kok. Dia keponakan Aku kak, anaknya Kakakku" Ucap Pria itu seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Ohhh... Aku cuma nanya kok, nggak maksud apa-apa" Ucap Nurmala. Tapi tidak dipungkiri, candaan Dewangga itu membuatnya malu.
"Iya, Aku cuma bercanda kok..." Suasana pun mendadak hening. Kedua orang itu tidak tahu lagi harus membicarakan apa.
Sementara diantara Mereka, Bu Aminah tampak khawatir.
Nurmala belum resmi bercerai, kedekatan putrinya itu dengan Dewangga memang tidak ada unsur macam-macam, tapi tetap bisa jadi bahan omongan.
Lagipula, Mempunyai 1 mantan menantu seperti Yusuf sudah cukup membuat Bu Aminah trauma. Beliau menjadi takut bahwa Nurmala akan disakiti lagi jika menjalin hubungan baru setelah bercerai.
Meskipun Dewangga tampak sangat baik, tapi kedepannya juga Bu Aminah tidak tahu apakah Pria itu akan baik pada Nurmala seterusnya atau tidak kan?
Yusuf juga dulu tampak begitu memanjakan Nurmala saat baru menikah, setelahnya... Nurmala di perlakukan seperti pembantu oleh Suami dan anak-anaknya sendiri, ditambah Yusuf berselingkuh hingga akhirnya Nurmala menggugat cerai.
Kumbang akan rajin menggoda bunga yang tampak segar dan tengah mekar. Tapi kumbang juga cepat berlalu jika bunganya sudah tampak layu.
Bu Aminah tidak ingin Nurmala disakiti lagi, meski Dewangga tampak tulus dan baik hati, Bu Aminah sulit untuk percaya lagi pada Pria yang mendekati putrinya disaat-saat ini.
harus ada anti hero yang membuat cerita seruu🎸🎸