NovelToon NovelToon
Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Rangga (Cinta Yang Belum Usai)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Rangga adalah pria sederhana yang hidup serba kekurangan, namun memiliki cinta yang tulus dan impian besar untuk membahagiakan kekasihnya. Selama bertahun-tahun, ia bertahan dengan pekerjaan kasar dan penghasilan pas-pasan, percaya bahwa cinta mereka cukup untuk melawan kerasnya hidup. Namun semuanya runtuh ketika ibu kekasihnya memutuskan menjodohkan sang putri dengan pria kaya demi masa depan yang dianggap lebih layak.

"maafin aku ya kak, aku ngga bisa lawan ibuku"

Rangga hanya bisa menatap kepergian sang kekasih yang mulai menjauh dari matanya yang mulai berembun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pulang

Hari ini ayu sudah bisa pulang setelah tiga hari di rawat. Ayu dan nenek tari tampak membereskan barang-barangnya yang mereka.

"kamu tunggu disini dulu ya, Yu. Nenek mau ke bah administrasi dulu, buat bayar tagihannya" ucap nenek tari.

"Iya nek, biar ini ayu yang bereskan"

Nenek tari tampak berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Jalannya terpogoh-pogoh melihat umurnya yang sudah renta.

Tapi saat sampai di sana nenek tari tampak melihat Rangga yang berdiri di depan administrasi, tampak berbicara pada seorang petugas yang berjaga.

"Loh den Rangga, ngapain ke sini lagi. Ada keluarga yng sakit" tanya nenek tari saat Samapi di sampingnya Rangga.

"ohh ngga nek, ini lagi byar tagihannya ayu" ucap Rangga dengan santai.

Nenek Tari terkesiap, tangannya yang sudah memegang dompet kecil berisi uang tabungan hasil berjualan nasi itu tertahan di udara. Ia menatap Rangga dengan ekspresi tidak enak hati.

"Loh, jangan Den... nggak usah. Ini Nenek mau bayar sendiri. Den Rangga sudah banyak sekali membantu, jangan sampai keluar uang lagi buat biaya rumah sakit," tolak Nenek Tari.

Rangga tidak bergeming dari depan administrasi. Ia hanya menoleh sedikit sambil tersenyum tipis. "Sudah selesai saya bayar semuanya, Nek. Administrasinya juga sudah beres, tinggal ambil sisa obat di apotek saja."

"Tapi Den, ini jumlahnya pasti besar. Ayu bisa marah kalau tahu..." Nenek Tari tampak gelisah.

Rangga menarik napas pendek. "Nek, biarkan kali ini saya yang urus. Lagipula, uang ini tidak ada artinya dibanding keselamatan Ayu. Tolong, jangan ditolak ya, Nek."

Ia akhirnya hanya bisa mengangguk pelan dengan mata berkaca-kaca. "Terima kasih, Den. Nenek nggak tahu harus balas pakai apa. Semoga rezeki Den Rangga makin berkah."

"Amin. Nggak perlu dibalas, Nek. Yang penting sekarang Ayu pulang dan istirahat," jawab Rangga.

"Ayo kita ke kamar lagi, saya antar kalian pulang."

Saat mereka kembali ke kamar rawat, Ayu sudah berdiri di samping tempat tidur sambil memegang tasnya, meski ia tampak masih sedikit goyah. Melihat Rangga kembali bersama neneknya, Ayu mengernyitkan dahi.

"Nek, sudah beres administrasinya? Berapa semuanya? Biar nanti Ayu ganti uang Nenek," tanya Ayu langsung tanpa basa-basi.

Nenek Tari melirik ke arah Rangga, merasa bingung harus menjawab apa. Rangga yang menyadari gelagat itu langsung mengambil alih pembicaraan sebelum Nenek Tari sempat berbohong.

"Sudah diurus semua. Semuanya sudah lunas," ucap Rangga tenang sambil mengambil tas dari tangan Ayu.

Ayu menatap Rangga dengan tatapan menyelidik. "Nenek yang bayar atau... Mas Rangga?"

Rangga tidak menjawab secara langsung. Ia justru mendekatkan kursi roda yang sudah disiapkan perawat ke depan Ayu. "Ayo duduk. Masih lemas begitu jangan dipaksa jalan sampai parkiran."

"Mas, aku tanya. Mas yang bayar kan?" desak Ayu.

Rangga berhenti sejenak, menatap mata Ayu dalam-dalam. "Iya, saya yang bayar. Kenapa? Kamu mau protes? Nanti saja protesnya kalau kamu sudah bisa berdiri tegak tanpa gemetaran. Sekarang, duduk."

"Mas, aku memang cuma jualan nasi sekarang, tapi aku nggak semiskin itu sampai nggak bisa bayar rumah sakit sendiri. Aku nggak mau punya utang budi lagi sama Mas Rangga."

Rangga yang sedang mendorong kursi roda itu berhenti sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu sedikit membungkuk agar wajahnya sejajar dengan Ayu.

"Dengar ya, Yu. Saya nggak pernah bilang kamu miskin. Saya cuma mau memastikan kamu sampai di rumah dengan aman," ucap Rangga dengan suara rendah namun penuh penekanan.

"Soal tagihan itu... sudah, nanti saja dibahas. Sekarang saya antar kalian pulang. Kalau sudah sampai rumah, kamu sudah duduk tenang, baru kita bahas lagi soal hitung-hitungannya. Mengerti?"

Ayu membuang muka, tidak mau membalas tatapan Rangga yang terlalu tajam. "Terserah Mas saja,"

Mereka sampai di parkiran, dan dengan sigap Rangga membantu Ayu pindah ke kursi depan mobilnya.

Selama perjalanan menuju daerah pinggiran Bandung tempat Ayu tinggal, suasana di dalam mobil sangat sunyi. Hanya suara rintik hujan sisa semalam yang terdengar menabrak kaca mobil. Ayu menatap ke luar jendela, sementara Rangga sesekali melirik Ayu lewat ekor matanya, memastikan wanita itu tidak merasa mual atau pusing.

Rangga menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah bangunan yang tak asing baginya. Itu adalah kedai nasi Padang tempat pertama kali ia bertemu Ayu lagi beberapa waktu lalu. Ternyata, Ayu dan Nenek Tari memang tinggal di sana; bagian depan digunakan sebagai tempat usaha, sementara bagian belakang menjadi tempat tinggal mereka.

Kondisi kedai itu tampak sepi karena sudah dua hari tutup. Rangga turun dan membantu Ayu masuk, melewati meja-meja kayu dan kursi-kursi yang ditumpuk, menuju ruang tengah yang hanya dibatasi oleh sekat papan.

Begitu Ayu duduk di dipan kayu yang dialasi kasur tipis di ruang tengah, ia langsung menatap Rangga dengan sungguh-sungguh.

"Sekarang kita sudah di rumah, Mas. Tolong kasih tahu berapa total biayanya. Aku punya sedikit simpanan di celengan, kalau kurang aku bakal cicil setiap minggu dari hasil jualan," ucap Ayu, suaranya terdengar sangat teguh meskipun fisiknya masih lemah.

Rangga berdiri tegak, memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang penuh dengan peralatan dapur dan aroma bumbu yang masih tertinggal. Ia kemudian kembali menatap Ayu.

"Oke, kalau kamu memang mau bayar," ujar Rangga tenang. "Biayanya sepuluh juta. Sudah termasuk ruang perawatan, obat, dan kamar VIP"

Ayu terdiam sejenak. Angka itu cukup besar untuknya saat ini. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menghitung berapa porsi nasi yang harus ia jual untuk menutupi jumlah itu. "Oke. Mas tulis nomor rekening Mas. Aku akan kirim secepat yang aku bisa."

Rangga tersenyum tipis, "Saya nggak mau uang, Yu. Saya nggak butuh itu."

Ayu mengernyit bingung. "Terus Mas mau apa? Katanya tadi boleh bayar?"

Rangga terdiam sejenak, menatap Ayu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia melangkah satu tindak lebih dekat, lalu berkata dengan suara rendah namun sangat jelas.

"Bayarnya gampang, Yu. Kamu jadi istri saya saja. Anggap lunas semuanya."

Mata Ayu membelalak sempurna. Ia nyaris tersedak udara sendiri mendengar kalimat yang keluar begitu santai dari mulut Rangga.

"Gila kamu, Mas!" seru Ayu ketus. "Jangan becanda di saat kayak begini, nggak lucu!"

Rangga menaikkan satu alisnya, wajahnya tetap tenang tanpa dosa. "Loh, siapa yang becanda? Memangnya kamu punya uang tunai sepuluh juta sekarang buat bayar langsung?"

Ayu mendengus kesal, wajahnya memerah karena campuran rasa malu dan marah. Ia melirik kuitansi yang sempat diletakkan Rangga di meja. "Ya lagian Mas Rangga kenapa juga pesankan aku kamar VIP?! Kan ada kamar kelas tiga yang lebih murah! Itu namanya Mas sengaja mau menjebak aku!"

"Kondisi kamu kritis semalam, Yu. Saya nggak mau kamu berisik sama pasien lain," jawab Rangga enteng, yang makin membuat Ayu ingin melempar bantal ke arahnya.

Melihat Ayu yang sudah sangat kesal dan hampir meledak, Rangga akhirnya melunakkan suaranya. Ia duduk di kursi kayu di hadapan Ayu.

"Oke, oke. Saya kasih keringanan kalau kamu memang belum mau jadi istri saya," ujar Rangga dengan senyum miring yang sulit ditebak.

"Utang kamu tetap ada, tapi bunganya begini, selama kamu masa pemulihan dan seterusnya, setiap hari kamu harus masak untuk saya. Hanya untuk saya."

Ayu mengernyit curiga. "Maksudnya?"

"Tiap hari saya akan datang ke sini. Kamu harus pastikan ada makanan yang siap di meja buat saya. Anggap saja itu cicilan bunga dari utang sepuluh juta kamu," jelas Rangga.

"Gimana? Lebih masuk akal buat kamu daripada jadi istri saya sekarang?"

Ayu terdiam, menimbang-nimbang. Memasak adalah keahliannya, dan itu jauh lebih baik daripada harus menikah mendadak dengan pria yang selama ini ia hindari. Namun, ia baru sadar kalau itu artinya Rangga akan muncul di depan matanya setiap hari.

"Cuma masak kan? Nggak ada syarat aneh-aneh lagi?" tanya Ayu memastikan.

"Cuma masak. Tapi jangan coba-coba kasih makanan hambar kayak di rumah sakit tadi," jawab Rangga sambil berdiri, bersiap pamit. "Saya mulai datang besok sore. Jangan lupa, jangan buka kedai dulu sebelum luka kamu kering."

Rangga sudah berada di ambang pintu, namun ia tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik badan.

"Saya pergi dulu ya," ucap Rangga pelan. "Cepat sembuh, Sayang... calon istriku."

Ayu hampir saja melompat dari duduknya kalau saja kakinya tidak sakit. "Mas Rangga! Kamu... benar-benar ya"

"Siapa juga yang mau jadi istri kamu? Jangan ngarang!"

Rangga hanya terkekeh pelan melihat reaksi emosional Ayu yang menurutnya sangat menggemaskan. Ia tidak membantah, justru malah memberikan kedipan mata singkat sebelum benar-benar keluar.

Setelah itu, ia menghampiri Nenek Tari yang berdiri di dekat pintu depan. Rangga menyalami tangan Nenek Tari dengan penuh takzim.

"Nek, Rangga pamit dulu ya. Jaga kesehatan juga, Nenek jangan sampai kecapekan urus Ayu. Kalau ada apa-apa, langsung telepon saya," pesan Rangga dengan nada yang sangat sopan, jauh berbeda saat ia menjahili Ayu tadi.

"Iya, Den. Hati-hati di jalan. Nenek titip doa biar usaha Den Rangga makin lancar," jawab Nenek Tari sambil tersenyum tulus.

1
kalea rizuky
gemes deh kalian
kalea rizuky
q uda kirim bunga lanjut banyak ya thor
kalea rizuky
lanjut donkk
Evi Lusiana
waduh rangga puny saingan y thor
Evi Lusiana
klo pura² sakit aj trs biar ayu kwatir dn perhatian sm km rangga🤭
Evi Lusiana
knp d bkin ribet sih yu,hrsny km trimakasih sm rangga
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Ayu membatalkan pertunangan dan pergi harusnya Rangga benci ke Ayu dan ngga mau lihat Ayu lagi dong
ᄂ⃟ᙚRisa Virgo Always Beau
Padahal orang yang di suruh mengantar motornya Ayu sudah bilang kalau gratis tapi malah Ayu datang ke bengkel dan memberikan uang ke Rangga sebagai biaya perbaikan sepeda motor dan ganti sparepart
Evi Lusiana
rangga laki² baik bertahun² sjak dia gk lg nersm ayu dia hny fokus kerja tp tdk maen perempuan
Aidil Kenzie Zie
bicara dari hati ke hati
Evi Lusiana
ini yg nmany jodoh gk akn kmn y thor
Aidil Kenzie Zie
move on Rangga kalau nggak kejar lagi cinta itu
Aidil Kenzie Zie
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!