NovelToon NovelToon
Sumpah Di Atas Luka

Sumpah Di Atas Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Slice of Life / Teen Angst / Penyesalan Suami / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Romantis
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Peachy

Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar dari balik samudra

Pesawat jet pribadi milik keluarga Vance membelah awan kelabu yang menyelimuti langit Inggris saat mereka memasuki wilayah udara Britania Raya. Setelah berminggu-minggu menghabiskan waktu di bawah hangatnya mentari French Riviera, kepulangan mereka disambut oleh cuaca khas London yang sejuk dan rintik hujan tipis yang membasahi aspal landasan pacu. Namun, dinginnya cuaca di luar sama sekali tidak mencerminkan kehangatan yang meledak-ledak di dalam dada Brixton dan Alana.

Selama perjalanan melintasi Benua Eropa, Brixton hampir tidak bisa melepaskan pandangannya dari Alana. Ia memperlakukan istrinya seolah-olah Alana terbuat dari kristal yang paling langka dan rapuh di dunia. Setiap kali Alana bergerak sedikit saja, Brixton akan segera bertanya apakah ia membutuhkan bantal tambahan, air mineral, atau mungkin sesuatu yang bisa meredakan rasa mualnya yang mulai muncul sesekali.

Leo, yang duduk di kursi bayinya, tampak sangat senang kembali ke rumah. Ia memegang mainan pesawat kecil sambil mengoceh tidak karuan, sesekali menunjuk ke luar jendela ke arah bangunan-bangunan tua London yang mulai terlihat di bawah mereka.

"Kau siap memberitahu mereka?" bisik Brixton sambil menggenggam tangan Alana erat saat roda pesawat menyentuh landasan.

Alana tersenyum, meski ada sedikit rona gugup di wajahnya. "Aku siap. Tapi aku sedikit khawatir dengan reaksi Ibuku. Kau tahu bagaimana beliau sangat protektif setelah apa yang terjadi pada persalinan Leo dulu."

Brixton mencium punggung tangan Alana. "Jangan khawatir. Aku yang akan menghadapinya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, bahkan ibumu sendiri, membuatmu merasa cemas."

Kepulangan mereka ke kediaman utama keluarga Vance disambut dengan perayaan kecil yang hangat. Kedua orang tua Brixton dan orang tua Alana sudah menunggu di ruang tamu utama yang megah, dengan perapian yang menyala hangat untuk mengusir hawa dingin London.

Tuan Hendrawan, ayah Alana, adalah yang pertama menyambut mereka. Ia tampak jauh lebih sehat dan bugar, matanya berbinar saat melihat Leo yang langsung merangkak ke arahnya.

"Cucuku yang hebat! Kau sudah semakin besar dalam beberapa minggu saja," seru Tuan Hendrawan sambil mengangkat Leo ke udara.

Ibu Alana, Nyonya Hendrawan, segera menghampiri Alana dan memeluknya erat. Sebagai seorang ibu, ia memiliki insting yang sangat tajam. Ia menatap wajah Alana lamat-lamat, menyadari ada perubahan pada rona pipi putrinya dan bagaimana Alana secara tidak sadar meletakkan tangannya di atas perutnya sendiri.

"Alana, kau tampak... berbeda," gumam Ibunya dengan nada selidik yang lembut.

Brixton melirik Alana, memberikan kode lewat tatapan mata bahwa inilah saatnya. Ia melangkah maju, berdiri di samping Alana, dan merangkul bahunya dengan posesif.

"Ayah, Ibu... kami membawa sesuatu dari Prancis," Brixton memulai. Suaranya terdengar berat namun penuh kebanggaan. "Sesuatu yang lebih berharga daripada semua suvenir yang kami beli di sana."

Ia mengangguk pada Alana. Alana kemudian mengeluarkan sebuah bingkai foto kecil yang berisi hasil USG pertama yang mereka lakukan secara mendadak di sebuah klinik di Nice sebelum pulang.

"Leo akan segera menjadi seorang adik," ucap Alana pelan namun jelas.

Suasana ruangan itu seketika hening selama beberapa detik sebelum akhirnya meledak dalam kegembiraan. Orang tua Brixton bersorak dan segera memeluk menantu mereka. Ayah Alana tertawa keras sambil menepuk-nepuk bahu Brixton dengan bangga.

Namun, di tengah keriuhan itu, Nyonya Hendrawan tetap diam. Wajahnya yang semula ceria berubah menjadi pucat. Ia tidak ikut bersorak; sebaliknya, ia justru menatap Alana dengan pandangan yang dipenuhi kecemasan yang mendalam.

Setelah euforia awal mereda dan mereka semua duduk di ruang makan untuk menikmati teh sore, Nyonya Hendrawan akhirnya tidak bisa lagi menahan apa yang mengganjal di hatinya.

"Alana... Brixton..." Ibu Alana memulai, suaranya terdengar gemetar. "Tentu saja Ibu sangat bahagia mendengar akan ada anggota keluarga baru. Tapi... bukankah ini terlalu cepat? Leo baru saja berumur satu tahun. Tubuhmu, Alana... kau belum pulih sepenuhnya dari trauma persalinan Leo yang hampir merenggut nyawamu dan Ayahmu."

Wajah Alana sedikit tertunduk. Ia tahu ketakutan ibunya beralasan. Persalinan Leo memang sangat berat, dipicu oleh stres luar biasa karena kondisi ayahnya saat itu.

"Jarak kehamilan yang terlalu dekat bisa sangat berbahaya, Nak," lanjut Nyonya Hendrawan, matanya mulai berkaca-kaca. "Ibu tidak ingin kehilanganmu. Ibu takut jantungmu dan rahimmu belum siap memikul beban seberat ini lagi dalam waktu sesingkat ini. Kenapa kalian tidak menunggu sedikit lebih lama?"

Suasana di meja makan mendadak menjadi canggung dan tegang. Ayah Alana mencoba menenangkan istrinya, namun Nyonya Hendrawan tetap pada kekhawatirannya. Alana merasa sedikit bersalah, namun sebelum ia sempat menjawab, Brixton sudah mengambil alih pembicaraan.

Brixton meletakkan cangkir tehnya dengan tenang. Ia menatap ibu mertuannya dengan tatapan yang sangat jujur, lembut, namun penuh dengan ketegasan seorang pria yang tahu tanggung jawabnya.

"Ibu," panggil Brixton lembut. Ia meraih tangan ibu mertuanya melintasi meja. "Saya mengerti sepenuhnya apa yang Ibu khawatirkan. Sebagai suaminya, saya adalah orang pertama yang paling merasa takut jika terjadi sesuatu pada Alana. Percayalah, pikiran tentang keselamatannya adalah hal pertama yang muncul di kepala saya saat pertama kali melihat hasil tes itu."

Brixton menarik napas panjang, menoleh sejenak ke arah Alana dengan tatapan memuja sebelum kembali menatap Nyonya Hendrawan.

"Tapi Ibu harus tahu satu hal. Alana yang sekarang bukanlah Alana yang dulu saat mengandung Leo. Kali ini, tidak akan ada stres. Tidak akan ada kesedihan yang menghimpitnya. Saya sudah berkonsultasi dengan tim dokter spesialis terbaik di London bahkan sebelum kami mendarat tadi. Mereka akan memantau Alana setiap minggu. Saya akan menyiapkan fasilitas medis terbaik di rumah ini."

Suara Brixton menjadi semakin dalam dan menenangkan. "Ibu, dulu saya adalah sumber penderitaannya. Tapi sekarang, saya adalah pelindungnya. Saya tidak akan membiarkan Alana mengangkat satu gelas pun jika itu membuatnya lelah. Saya akan memastikan asupan nutrisinya, waktu istirahatnya, dan kebahagiaan mentalnya terjaga dengan sempurna. Kehamilan ini adalah anugerah, bukan beban. Dan saya berjanji dengan nyawa saya sendiri, Alana akan melewati ini dengan jauh lebih sehat dan bahagia daripada sebelumnya."

Nyonya Hendrawan menatap Brixton. Ia melihat ketulusan yang belum pernah ia lihat sebelumnya di mata menantunya itu. Ia melihat seorang pria yang benar-benar telah berubah—seorang pria yang kini meletakkan keselamatan istrinya di atas segalanya, termasuk di atas ambisi bisnisnya sendiri.

"Kau sungguh-sungguh, Brixton?" tanya Ibunya dengan suara yang mulai melunak.

"Sungguh-sungguh, Ibu. Jika dokter mengatakan Alana harus beristirahat total di tempat tidur selama sembilan bulan, maka saya akan duduk di sampingnya selama sembilan bulan itu. Saya tidak akan membiarkan sejarah buruk itu terulang kembali. Kali ini, semuanya akan berjalan dengan indah."

Mendengar keyakinan Brixton, perlahan-lahan ketegangan di wajah Nyonya Hendrawan luruh. Ia menarik napas lega dan akhirnya tersenyum kecil. Ia menggenggam balik tangan Brixton.

"Maafkan Ibu jika terlalu cemas. Ibu hanya terlalu mencintai putri Ibu satu-satunya ini."

"Saya tahu, Ibu. Dan saya sangat berterima kasih karena Ibu sudah menjaga dan membesarkan Alana dengan sangat baik hingga ia menjadi wanita sehebat sekarang," jawab Brixton dengan rendah hati.

Alana merasa beban di pundaknya terangkat sepenuhnya. Ia menatap Brixton dengan rasa cinta yang semakin membuncah. Kekhawatiran ibunya yang besar saja bisa ditenangkan oleh suaminya, apalagi keraguannya sendiri. Ia merasa sangat aman berada di bawah perlindungan Brixton.

Sore itu pun berlanjut dengan diskusi yang jauh lebih menyenangkan. Mereka mulai merencanakan renovasi kecil untuk kamar bayi kedua di sayap mansion yang sama dengan kamar Leo. Orang tua Brixton juga ikut menimpali dengan rencana-rencana liburan keluarga besar nanti setelah anak kedua lahir.

Saat malam mulai turun dan suasana rumah sudah mulai tenang, Brixton dan Alana membawa Leo kembali ke kamar mereka. Brixton membantu Alana mengganti pakaiannya dengan baju tidur yang nyaman, sementara Leo sudah tertidur pulas di boks bayinya.

"Terima kasih untuk tadi, Brixton," ucap Alana sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya saat mereka duduk di sofa di depan perapian kamar.

"Untuk apa?"

"Untuk meyakinkan Ibuku. Aku tahu beliau sangat keras kepala kalau sudah menyangkut keselamatanku, tapi kau bisa menenangkannya dengan begitu mudah."

Brixton membelai rambut Alana, mencium puncak kepalanya. "Aku tidak hanya menenangkannya, Alana. Aku mengatakan yang sebenarnya. Aku memang akan menjagamu dengan segenap kemampuanku. Jarak kehamilan ini memang dekat, tapi cinta kita jauh lebih kuat untuk menanggungnya."

Brixton kemudian berlutut di depan Alana, menempelkan telinganya di perut Alana yang masih rata. "Halo, Kecil. Ini Papa. Jangan buat Ibumu terlalu lelah, ya? Kami semua menunggumu di sini."

Alana terkekeh, mengusap rahang tegas suaminya. "Dia masih sangat kecil, Brixton. Belum bisa mendengarmu."

"Dia bisa merasakannya melalui hatimu," balas Brixton sambil mendongak, menatap Alana dengan mata yang penuh dengan binar cinta. "Aku merasa hidupku benar-benar baru dimulai sekarang. Memiliki kau, Leo, dan calon adik Leo... ini adalah kekayaan yang tidak akan pernah bisa ditukar dengan saham apa pun di dunia."

Malam itu, di bawah langit London yang dingin, kehidupan di dalam mansion Vance terasa sangat hangat. Tidak ada lagi keraguan yang tersisa. Meskipun tantangan fisik mungkin akan menghadapi Alana di bulan-bulan mendatang karena jarak kehamilan yang dekat, ia tahu bahwa ia tidak akan pernah menghadapinya sendirian. Ia memiliki Brixton—pria yang telah membuktikan bahwa kata-katanya bukan sekadar janji kosong, melainkan sebuah sumpah yang akan ditepati hingga napas terakhir.

Mereka tertidur dengan tangan yang saling bertautan, membiarkan mimpi indah membawa mereka menuju masa depan di mana suara tawa dua anak akan memenuhi rumah mereka. Sumpah di atas luka itu kini benar-benar telah menjadi sebuah legenda lama, digantikan oleh kenyataan tentang cinta yang mampu menyembuhkan segalanya, bahkan ketakutan seorang ibu sekalipun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!