Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Setelah beberapa hari beristirahat dan tinggal di rumah lama milik Edgar, Alyssa dan Niko perlahan merasa lebih baik. Keberadaan sahabat lamanya itu sedikit demi sedikit menguatkan mental Alyssa setiap hari. Ia tak mendapatkan kabar apa pun tentang mantan suaminya, meski hatinya sangat ingin mendatanginya.
Ia sangat merindukan Junior, namun ia tahu ia tak lagi bisa memeluk atau mencium pria itu seperti dulu.
"Sesuai permintaanmu, aku mengecek mantan suamimu," ujar Edgar sambil menunjukkan sebuah foto di ponselnya.
Di foto itu terlihat Junior dan Maureen duduk bersama di sebuah restoran. Keduanya tersenyum, tampak bahagia menikmati waktu kencan mereka.
"Mereka masih bisa bersenang-senang!" Alyssa menangis tersedu. Edgar segera menjauhkan ponselnya lalu memeluk Alyssa erat-erat. "Sementara aku menderita di sini! Sementara aku hancur sejak dia meninggalkanku!"
"Tangisi saja," hibur Edgar sambil mendekap Alyssa yang terus meluapkan rasa cemburu dan sakit hatinya.
"Aku tidak mau memikirkan mereka lagi! Kepalaku sakit memikirkan mereka terus!" Alyssa menunjuk dirinya sendiri. "Aku ingin hidupku berputar untuk diriku dan anakku… bukan untuk Junior, bukan untuk Maureen! Tapi bagaimana caranya?"
Edgar menghela napas panjang. Ia selalu mendengar tangisan Alyssa. Ia ingin menguatkan, ingin meyakinkan, tetapi ia tahu luka itu tak bisa sembuh secepat itu. Alyssa mencintai dengan sungguh-sungguh, dan perasaan seperti itu tak bisa hilang begitu saja.
Namun Alyssa akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya. Ia merasa tak enak terus tinggal di rumah Edgar, Edgar yang menanggung kebutuhan mereka, dari uang hingga makanan.
Setelah menangis cukup lama, Alyssa meminta bantuan Edgar untuk membereskan barang-barang mereka. Rumah itu telah menjadi tempat berlindung yang hangat bagi mereka. Jika bisa memilih, Alyssa ingin tetap tinggal di sana. Tempat itu tenang, dan Niko tampak bahagia bermain di halaman mengejar capung dan kupu-kupu pemandangan yang selalu membuat Alyssa tersenyum.
"Kamu siap menjelaskan semuanya pada orang tuamu?" tanya Edgar sambil merapikan barang-barang. "Kamu bilang mereka sangat menyukai Junior, kan?"
Alyssa mengangguk pelan.
"Aku memang harus pulang. Aku sudah terlalu merepotkanmu," katanya sambil menggaruk tengkuknya gugup.
"Tidak apa-apa," jawab Edgar sambil mengusap kepala Niko yang sedang memakan kue buatan mereka pagi tadi. "Enak, kan?"
"Enak banget, Paman!"
"Ayo, Edgar," ajak Alyssa. Ia ingin segera menceritakan semuanya pada ibunya.
Mereka berangkat menuju rumah keluarga Asveil. Letaknya tak jauh dari kawasan rumah junior. Di perjalanan, Niko tertidur di pelukan Alyssa. Edgar menatap Alyssa dengan tatapan penuh keyakinan, seolah memberi harapan.
Mereka berhenti di depan gerbang. "Sepi sekali," gumam Alyssa. Tak ada mobil lain, bahkan para pengawal pun tak terlihat.
"Mungkin semuanya di dalam," jawab Edgar. "Kamu siap? Mereka tidak akan marah padamu, kan?"
"Tentu saja tidak," jawab Alyssa, mencoba meyakinkan diri. "Aku tidak bersalah. Aku hanya ingin mereka melihat Niko dan mendengar penjelasanku."
Ia harus berpegang pada kebenarannya. Ia tak akan mengorbankan dirinya demi kebahagiaan Junior dan Maureen.
"Oh ya," tambah Edgar, "minggu depan aku ke Amerika. Kita tidak akan sering bertemu."
Keceriaan Alyssa langsung meredup. Ia sangat membutuhkan Edgar. Ia bergantung padanya. Bagaimana jika depresinya kambuh? Bagaimana dengan Niko?
"Tenang, aku akan kembali," ujar Edgar lembut sambil mengusap rambut Alyssa. "Aku hanya perlu bekerja. Kamu tahu, hidup harus terus berjalan."
Benar. Bahkan sahabat terdekat pun suatu hari akan melangkah menjauh untuk menjalani hidupnya sendiri.
Keluarga… impian terbesar Alyssa adalah memberi Niko keluarga yang utuh dan sehat.
Namun kenyataannya tak demikian. Tinggal di bawah satu atap bersama Junior tak pernah benar-benar menjadikan mereka sebuah keluarga. Niko tumbuh tanpa sosok ayah, sementara Alyssa menjalani hidup tanpa peran seorang suami. Bahkan, mereka harus berbagi rumah dengan perempuan lain.
Karena itu, menandatangani surat perceraian, meski terasa menghancurkan, mungkin adalah keputusan terbaik yang bisa ia ambil.
Kini, Niko tak lagi menyebut-nyebut ayahnya seperti dulu.
Dan itu menghancurkan hati Alyssa.
Edgar tersenyum. "Ayo masuk."
Namun begitu pintu dibuka, suara keras ibunya menggema.
"Berani-beraninya kamu kembali ke rumah ini?!"
Dunia Alyssa seakan runtuh. Sebelum sempat bicara, tamparan keras mendarat di pipinya.
"Karena kamu, nama keluarga kita hancur!" teriak ibunya.
"Mama--"
"Apa kamu pikir mudah punya anak sepertimu?!"
Ayah Alyssa turun dan mencoba menenangkan istrinya, namun suaranya dingin. "Kita bicara nanti. Suruh temanmu pergi."
"Mama--"
"Jangan panggil aku begitu! Aku tidak punya anak sepertimu!"
Niko mendengar semuanya.
Alyssa berlutut. Memohon. Menjelaskan. Tapi tak ada yang mendengar.
"Kamu mempermalukan keluarga kita!" teriak ibunya lagi.
"Anak ini anak Junior," Alyssa bersikeras.
"Pembohong!" tangis ibunya pecah. "Aku tak mau melihatmu lagi!"
Ayahnya memalingkan wajah.
Saat itu Alyssa sadar, ia benar-benar sendirian.
Ia kehilangan suami, sahabat, dan kini… orang tuanya.
"Edgar…" suaranya pecah. "Aku tidak punya siapa-siapa lagi."
Edgar segera mendekat dan memeluknya.
"Kita pergi," ucapnya tegas.
Di dalam mobil, Edgar menggenggam tangan Alyssa. "Kalian akan tinggal kembali di rumah lamaku. Aku tidak akan meninggalkanmu. Kita akan bangkit. Jangan biarkan kebencian menguasai hatimu. Kesuksesan adalah balas dendam terbaik."
Kata-kata itu menancap dalam hati Alyssa.
Ia berhenti menangis.
Ia harus berubah.
Segalanya harus berubah.