Terlahir dengan kutukan yang memakan usia, Boqin Tianzun terpaksa menempuh jalan berdarah demi melawan waktu yang kian menipis. Di tengah pengkhianatan keluarga dan dunia yang memuja kekuatan, ia merajut rencana keji untuk merangkak ke puncak tertinggi.
Bagi sang iblis berbakat, nyawa hanyalah pion catur dan cinta hanyalah teknik manipulasi, kecuali untuk satu jiwa yang tersisa. Di ambang batas kematian, ia bersumpah akan menaklukkan takdir dan menghancurkan siapa pun yang menghalangi langkahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jerat Halus di Balik Cahaya
Setelah menyerap tumpukan Batu Qi dan pil hasil jarahan dari Song Yi, tubuh Boqin Tianzun kini memancarkan aura yang jauh lebih padat. Di dalam Dantiannya, kristal energinya tidak lagi sekecil debu, melainkan sudah sebesar kelereng yang berpendar keemasan.
Inti Qi Level 3.
Hanya dalam hitungan hari, ia melompati level yang biasanya membutuhkan waktu satu tahun bagi murid biasa. Namun, Boqin tahu bahwa ia tidak bisa terus bersembunyi di paviliunnya. Untuk menjadi seratus besar, ia harus membangun reputasi dan pengaruh.
Pagi itu, Boqin berjalan menuju Paviliun Kitab, tempat para murid berkumpul untuk mempelajari teknik bela diri. Kehadirannya langsung memicu bisik-bisik. Kasus Song Yi telah membuatnya dikenal sebagai Anak Pemimpin Sekte yang Beruntung tapi Berbahaya.
Di tengah kerumunan, seorang murid wanita cantik berjubah biru langit sedang dikelilingi oleh banyak pengikut. Ia adalah Lin Xia, putri dari salah satu Tetua berpengaruh dan berada di peringkat 105. Kecantikannya setara dengan keangkuhannya.
Saat Boqin berjalan melewatinya, Lin Xia sengaja menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra.
"Aroma darah dan obat-obatan murah," ucap Lin Xia dengan suara yang cukup keras untuk didengar semua orang. "Hanya karena kau beruntung menyingkirkan Song Yi, bukan berarti kau pantas menginjakkan kaki di Paviliun Kitab ini, Boqin Tianzun. Kau tetaplah cacat yang hidup di atas belas kasihan ayahmu."
Langkah Boqin terhenti. Namun, alih-alih menyerang dengan kekerasan seperti sebelumnya, ia justru diam. Ia memutar tubuhnya perlahan, lalu menatap Lin Xia bukan dengan amarah, melainkan dengan tatapan yang dalam, sayu, dan penuh kesedihan yang dibuat-buat—tatapan seorang pria yang memikul beban dunia di pundaknya.
"Kau benar, Nona Lin," ucap Boqin dengan suara rendah yang sedikit bergetar, memberikan kesan melankolis yang sempurna. "Dunia ini memang tidak adil. Ada mereka yang lahir dalam cahaya seperti dirimu, dan ada mereka yang harus merangkak di dalam kegelapan hanya untuk melihat fajar besok pagi."
Boqin tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak tulus namun mengandung kepedihan mendalam. "Aku tidak berharap kau mengerti. Semoga cahayamu tidak pernah padam."
Tanpa menunggu balasan, Boqin berbalik dan melanjutkan perjalanannya. Ia membiarkan Lin Xia mematung di tempatnya.
Lin Xia terdiam. Ia sudah terbiasa dengan pria yang menjilatnya atau pria yang marah saat ia hina. Namun, reaksi Boqin benar-benar di luar dugaannya. Kata-kata Boqin tidak terdengar seperti pembelaan diri, melainkan seperti sebuah kebenaran yang menyakitkan.
"Apa... apa maksudnya tadi?" gumam Lin Xia. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menusuk hatinya, sebuah emosi yang jarang ia rasakan.
Boqin Tianzun, yang berjalan menjauh, sedikit melirik melalui sudut matanya. Ia melihat perubahan ekspresi di wajah Lin Xia. Di dalam pikirannya yang dingin, Boqin sedang menghitung.
Dia adalah wanita yang terbiasa dipuja, pikir Boqin. Hinaan tidak akan membuatnya tertarik, kemarahan hanya akan membuatnya jijik. Tapi kerapuhan yang bermartabat? Itu adalah racun yang akan menarik rasa penasarannya.
Boqin tidak ingin membunuh Lin Xia. Ia menyadari bahwa untuk menguasai sekte, ia butuh faksi. Lin Xia, dengan status ayahnya sebagai Tetua, adalah alat politik yang sempurna. Jika ia bisa membuat wanita ini jatuh cinta dan bergantung padanya, maka ia akan memiliki tameng dan mata-mata di kalangan elit sekte tanpa perlu mengangkat pedang.
Selama beberapa jam berikutnya di Paviliun Kitab, Boqin tidak mempelajari teknik tinggi. Ia justru sengaja memilih kitab-kitab tua yang berdebu tentang pengobatan dan emosi. Ia memposisikan dirinya di sudut jendela di mana cahaya matahari menyinari wajah pucatnya, membuatnya tampak seperti seorang jenius yang sedang sekarat namun tetap gigih.
Setiap kali Lin Xia melirik ke arahnya—dan wanita itu melakukannya berkali-kali karena rasa penasaran—Boqin akan berpura-pura terbatuk kecil dan menyeka bibirnya dengan kain putih yang sudah ia beri sedikit noda merah (darah hewan yang ia siapkan).
"Dia... dia benar-benar sedang sakit parah?" bisik Lin Xia pada temannya, matanya kini penuh dengan rasa iba.
Boqin menutup kitabnya dengan tenang. Jaring laba-labanya sudah terpasang. Ia akan membuat Lin Xia merasa bahwa dialah satu-satunya cahaya yang bisa menyelamatkan Boqin dari kegelapan.
"Jatuh cintalah padaku, Nona Lin," bisik Boqin di dalam hati. "Karena saat kau menyerahkan hatimu, kau juga menyerahkan seluruh otoritas ayahmu ke dalam genggamanku."