Tasya Prameswari hanya ingin Dicky, putranya bisa kembali ceria seperti dulu, namun sebuah kecelakaan merenggut kesehatan anak itu dan menghancurkan keharmonisan rumah tangganya bersama Setyo Wirayudha.
Sang mertua hanya mau membiayai pengobatan Setyo, namun tidak dengan Dicky. Tak ada yang mau menolong Tasya namun di tengah keputusasaan, Radit Kusumadewa datang membawa solusi. Pria kaya dan berkuasa itu menuntut imbalan: Tasya harus mau melayaninya.
Pilihan yang sulit, Tasya harus melacurkan diri dan mengkhianati janji sucinya demi nyawa seorang anak.
Bagaimana jika hubungan yang dimulai dari transaksi kotor itu berubah menjadi candu? Bagaimana jika Tasya merasakan kenyamanan dari hubungan terlarangnya?
Note: tidak untuk bocil ya. Baca sampai habis untuk mendukung author ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu Pikir Aku Apa?
Tasya pikir, semua masalah hidupnya sudah selesai. Ia hanya harus fokus membayar hutang pada Radit serta mengurus suami dan anaknya yang sakit, namun ternyata cobaan hidupnya tidak semudah itu. Panggilan dari rumah sakit membuat jantungnya hampir copot, ponsel yang ia pegang pun hampir jatuh dari tangannya, untung saja sandwich dan susu yang Radit berikan sudah ia habiskan.
"Sya, ada apa?" Radit begitu peka melihat perubahan ekspresi wajah Tasya saat menerima telepon dari rumah sakit. Ia kembali bertanya pada Tasya yang nampak putus asa. "Siapa yang meneleponmu?"
"Da-ri rumah sakit, Pak." Tasya mulai terisak, bahunya berguncang hebat saat air mata dengan cepat keluar dari bola mata indahnya. "Kondisi Dicky tiba-tiba drop dan menurun drastis. Dokter harus segera mengoperasinya kembali."
"Tenangkan dirimu dahulu." Radit memegang kedua bahu Tasya dan menenangkannya namun Tasya tak bergeming.
Tangan Tasya gemetar, air mata terus mengalir tak bisa ia tahan lagi. Ia takut kehilangan Dicky, amat takut. "Pak, apa boleh aku meminjam uang Bapak lagi? Aku... bersedia tidur dengan Bapak untuk membayarnya. Bisa tolong aku lagi, Pak? Aku akan lakukan apapun, Pak, apapun. Tolong selamatkan Dicky, aku mohon."
"Kamu tenang dulu, oke? Panik tak akan menyelesaikan masalah." Radit mengeluarkan sapu tangannya lalu memberikan pada Tasya. "Hapus air matamu dan tenangkan dirimu dahulu."
"Aku tak bisa, Pak. Dicky saat ini sedang berjuang melawan... maut. Bagaimana aku bisa tenang?" Tasya menatap Radit dengan tatapan paling hancur yang pernah dilihat pria itu. Ia nampak begitu putus asa. "Aku mohon selamatkan Dicky, Pak. Aku mohon." Tasya lalu berlutut, ia merendahkan dirinya demi Dicky.
"Sya, apa yang kamu lakukan?" Radit membantu Tasya berdiri. "Bukan begini caranya, Sya!"
"Dicky harus dioperasi sekarang-"
"Aku tahu. Aku yang akan membayar semua biayanya, oke?"
"Bapak serius?" Secercah harapan timbul dalam diri Tasya.
"Aku tak pernah berbohong dengan ucapanku. Kita ke rumah sakit sekarang namun aku minta kamu hapus air matamu dan tenangkan diri. Aku tak mau karyawan lagi melihatmu dalam keadaan kacau seperti ini, oke?" Radit menyambar tas dan kunci mobil miliknya. "Ayo, kita berangkat sekarang!"
.
.
.
Tasya berjalan bolak-balik di depan ruang operasi dengan cemas. Berkat Radit, Tasya bisa membayar biaya operasi Dicky untuk kedua kalinya. Bukan itu saja, Radit bahkan sejak tadi menemani Tasya, menunggu sampai operasinya selesai.
"Operasi Dicky berhasil, kondisinya kini kembali stabil namun belum bisa dijenguk." Dokter yang mengoperasi mengabarkan berita baik untuk Tasya.
Tasya menghela nafas lega sambil mengucap syukur karena Dicky berhasil diselamatkan. Ia mengucapkan terima kasih beberapa kali pada dokter dengan wajah yang kini penuh harap.
Tasya menghampiri Radit yang sibuk bekerja dengan ponsel dan laptop miliknya sejak tadi, lalu duduk di sampingnya. "Pak, operasinya berhasil, Bapak dengar bukan? Semua ini berkat Bapak. Terima kasih banyak, Pak."
"Syukurlah kalau operasinya berhasil. Aku senang mendengarnya. Kamu bisa lega sekarang, setidaknya Dicky dalam keadaan stabil." Radit mengalihkan pandangannya dari layar laptop. Ia sedang fokus bekerja sampai tak melihat dokter yang mengoperasi Dicky berbicara pada Tasya.
"Entah bagaimana nasib Dicky kalau aku tidak bertemu dengan Pak Radit." Tasya tersenyum tipis, namun tak bisa menepis kesedihan yang terpancar dari matanya. "Malam ini, aku akan membayar semua kebaikan Bapak."
Radit menatap Tasya dengan lekat. Keningnya nampak berkerut. "Membayar? Apa maksud kamu?" Radit terlalu fokus bekerja, pikirannya masih dipenuhi proyek bisnis sehingga tidak langsung paham maksud Tasya apa.
"Aku akan melayani Bapak. Aku akan membayar semua kebaikan Bapak dengan tubuhku seperti-"
Radit kini paham kemana arah pembicaraan Tasya. "Stop, Sya!" Wajah Radit nampak serius. Ia tak menyukai apa yang Tasya katakan.
"Tapi, Pak, aku akan menepati janjiku untuk-"
"Aku bilang cukup! Kamu tak perlu meneruskannya lagi." Sekarang wajah Radit memerah karena menahan amarah. "Kamu tak perlu membayar apapun padaku."
"Mengapa tak perlu membayar, Pak? Aku berhutang pada Bapak. Bapak tidak mau aku-"
"Kamu pikir aku apa? Rentenir? Setan? Atau Iblis, hah?" Radit menatap Tasya dengan tatapan serius. "Aku memang brengsek tapi aku masih punya hati, Sya. Aku bukan iblis yang akan menyuruhmu melayaniku di saat kondisimu seperti ini."
Radit menggenggam tangan Tasya yang sangat dingin. Ia lalu menyentuh pipi Tasya dengan lembut untuk meredam amarah yang mulai menguasainya. "Maaf kalau aku marah sama kamu. Aku hanya tak mau kamu berpikir seperti itu."
Tasya tertegun. Ucapan Radit berhasil membuat hatinya kembali menghangat dan jantungnya berdegup kencang, ditambah sentuhan lembut telapak tangan Radit yang hangat di wajahnya membuat rasa aneh yang menelusup ke dalam hati Tasya semakin banyak saja. Tasya bahkan lupa kalau dirinya adalah istri orang.
Seolah tersadar akan apa yang dilakukan bisa beresiko membuat Tasya menjauh nantinya, Radit mengubah strategi. Ia tiba-tiba tersenyum licik. "Aku mau kamu melayaniku dengan kesadaran penuh. Ya... tak harus hari ini, masih banyak hari dan cara lain. Sekarang, kamu fokus saja pada Dicky. Jika kamu butuh biaya, kabari aku."
Radit menarik tangannya dari wajah Tasya. Ia berusaha menahan dirinya. Ada perasaan tak rela dan marah saat melihat Tasya nampak menderita namun ia tak mau Tasya menjauh darinya.
Tak jauh beda dengan Radit, sikap Radit yang menarik tangannya secara tiba-tiba membuat Tasya seolah merasakan ada sesuatu yang hilang. Sebuah kehangatan dan perhatian serta dukungan yang amat ia perlukan saat ini.
"Aku lapar, bagaimana kalau kita makan siang dahulu?" usul Radit, mencairkan suasana canggung di antara keduanya.
"Makan siang?" Tasya mengeluarkan ponsel miliknya dan terkejut. "Sudah makan siang ternyata. Ya ampun, aku tak mengerjakan pekerjaan kantor sama sekali. Aku-"
"Tenanglah, jangan panik." Radit mengeluarkan ponsel miliknya lalu menunjukkan layar ponselnya. "Aku sudah mengerjakan pekerjaanmu."
"Pak Radit mengerjakan pekerjaanku, tapi aku-"
"Hoam." Radit meregangkan tubuhnya. "Kita makan siang dimana? Selain lapar, aku juga pegal duduk di kursi ruang tunggu ini. Ayo, kita pergi sekarang!"
.
.
.
Tasya menatap pintu ruangan Radit yang tertutup rapat. Berkat Radit, ia hanya perlu merevisi sedikit pekerjaannya, semua sudah Radit kerjakan.
"Entah bagaimana nasib Dicky kalau tak ada Bapak." Tasya tersenyum tipis. "Saat ini, hanya Pak Radit yang bisa menolongku. Selain tubuhku, entah dengan apa aku bisa membayar semua kebaikannya."
Tasya yang sedang melamun, terkejut saat pintu ruangan Radit terbuka. Radit pun heran melihat Tasya masih duduk di kursinya. "Loh, kamu belum pulang, Sya?"
"Aku habis merapikan pekerjaanku, Pak. Ada beberapa revisi yang harus kulakukan," jawab Tasya. Sebenarnya Tasya tak enak hati jika pulang ontime. Setengah hari kerja lebih ia habiskan menunggui operasi Dicky, tak tahu diri namanya jika masih berani pulang ontime.
"Aku sudah suruh kamu pulang cepat loh, Sya. Jangan pikirkan pekerjaan. Kamu harus punya waktu untuk istirahat. Memang benar kalau kamu khawatir dengan anakmu tapi kamu harus lebih memperhatikan kesehatanmu juga." Radit bukan mengomeli Tasya, ia hanya terlalu peduli dan baik. Tasya bisa melihat semua itu dan ia bersyukur memiliki atasan sebaik Radit.
"Tak apa, Pak. Oh iya, besok Bapak tak perlu bawa sarapan ya. Aku akan buatkan sarapan enak buat Bapak." Tasya hanya ingin membalas sedikit saja kebaikan Radit padanya.
"Serius?"
"Iya, Pak."
"Baiklah kalau begitu. Buatkan yang enak ya!" Radit tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tasya tersenyum kecil. Entah mengapa ia tak merasa apa yang Radit lakukan adalah perbuatan lelaki centil. Ia merasa seolah dirinya sudah berteman akrab dengan Radit sejak lama.
"Pak, apa kita sudah pernah bertemu sebelumnya? Mengapa... aku merasa seperti sudah mengenal Bapak sebelumnya ya?"
****
huhhh emaknya setyo pngen tak jitak
dari dulu keluarga Kusumadewa anggota keluarganya pada sengklek 🤣 tapi aku suka, keliatan nya jadi hangat ..antara anak dan ortu gak ada jaim nya 🤣