Lin Feng, pendekar tampan berilmu tinggi, menjadi buronan kekaisaran setelah difitnah membunuh seorang pejabat oleh Menteri Wei Zhong. Padahal, pembunuhan itu dilakukan Wei Zhong untuk melenyapkan bukti korupsi besar miliknya. Menjadi kambing hitam dalam konspirasi politik, Lin Feng melarikan diri melintasi samudra hingga ke jantung Kerajaan Majapahit.
Di tanah Jawa, Lin Feng berusaha menyembunyikan identitasnya di bawah bayang-bayang kejayaan Wilwatikta. Namun, kaki tangan Wei Zhong terus memburunya hingga ke Nusantara. Kini, sang "Pedang Pualam" harus bertarung di negeri asing, memadukan ilmu pedang timur dengan kearifan lokal demi membersihkan namanya dan menuntut keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perburuan tujuh pedang naga part 1
Malam itu, lereng Gunung Penanggungan diselimuti keheningan yang mistis. Lin Feng tertidur pulas di balai bambu, namun jiwanya kembali ditarik ke dalam dimensi yang sangat ia kenali. Kabut asap belerang dan tanah yang berdenyut kembali menyambutnya.
Namun, kali ini suasananya berbeda. Langit yang biasanya jingga kini berubah menjadi kelabu gelap, dan hawa di udara terasa sangat mencekam. Sang Hyang Antaboga muncul dari perut bumi, namun raut wajah sang naga purba itu tampak tegang.
"Lin Feng, bangunlah dari tidurmu yang damai," suara Antaboga menggelegar, namun ada nada peringatan yang serius di dalamnya. "Badai dari timur jauh sedang bergerak melintasi lautan."
Lin Feng menunduk hormat, merasakan kegelisahan sang naga. "Ada apa, Sang Penjaga? Apa yang membuatmu tampak cemas?"
"Tujuh bayangan kematian sedang menuju ke sini," tutur Antaboga. "Mereka adalah tujuh pendekar pedang dari negeri seberang pulau—negeri matahari terbit. Mereka bukan pendekar biasa; mereka adalah pemburu pusaka yang jiwanya telah dikotori oleh haus darah. Dan yang paling berbahaya adalah pemimpin mereka."
Antaboga menggerakkan tubuhnya, menciptakan bayangan di langit sukma yang menunjukkan sosok seorang pria dengan baju zirah hitam dan sebilah pedang yang mengeluarkan aura ungu yang sangat pekat.
"Dia membawa Pedang Yamata no Orochi," lanjut Antaboga. "Itu adalah pedang naga jahat, antitesis dari kekuatanku. Jika aku adalah pembangun dan penjaga, Orochi adalah penghancur sejati."
Lin Feng menatap bayangan pedang itu dengan ngeri. Ia bisa merasakan hawa jahat yang memancar bahkan hanya dari bayangan sukmanya.
"Lin Feng, dengarkan baik-baik," suara Antaboga menggema, lebih berat dan penuh peringatan. "mereka kesini dengan satu tujuan: kepalamu dan pedang yang kau genggam."
Lin Feng mengerutkan kening. "Kenapa mereka mengincar pedang ini, Sang Penjaga? Apakah ini tentang kekuasaan di Trowulan lagi?"
"Bukan," jawab Antaboga, suaranya menciptakan riak di udara. "Ini jauh lebih besar dari sekadar takhta manusia. Di dunia ini, tersebar Tujuh Pedang Naga yang masing-masing menyimpan fragmen kekuatan purba. Siapa pun yang berhasil mengumpulkan ketujuhnya akan memiliki kekuatan untuk mengubah tatanan dunia sesuka hati mereka. Dan sekarang, target pertama mereka adalah kau, pembawa Pedang Naga Bumi."
"Orochi adalah pedang yang haus darah," lanjut sang naga. "Semakin banyak luka yang ia hasilkan, semakin kuat penggunanya. Namun, ada harga yang harus dibayar. Jika penggunanya tidak memiliki mental yang sekuat baja, delapan kepala Orochi akan membisikkan kegelapan ke telinganya hingga jiwanya tertelan sepenuhnya. Musuh yang kau hadapi bukan lagi manusia, melainkan budak dari nafsu penghancur Orochi."
Antaboga mendekatkan matanya yang merah delima ke arah Lin Feng. "Mereka telah memulai perburuan ini. Mereka akan menghancurkan apa pun yang menghalangi jalan mereka untuk mendapatkan Pedang Naga Bumi. Kau adalah benteng pertama yang harus menahan ambisi mereka. Jika satu saja pedang naga jatuh ke tangan mereka, keseimbangan dunia akan mulai runtuh."
Lin Feng tersentak bangun dari mimpinya. Napasnya tersengal, dan ia merasakan Pedang Naga Bumi di sampingnya berdenyut kencang, seolah-olah sedang menantang hawa jahat yang datang dari arah timur.
Ia bangkit, melangkah keluar gubuk dan menatap langit malam yang mulai memerah di ufuk timur.
"Tujuh Pedang Naga... dan target pertamanya adalah aku," bisik Lin Feng. Ia tahu, ketenangannya di tanah Jawa telah berakhir. Sebuah perang antar-pusaka dunia kini telah dimulai di depan matanya.