NovelToon NovelToon
White Dream With You?

White Dream With You?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Misteri / Horror Thriller-Horror / Horor / Spiritual / Romantis
Popularitas:624
Nilai: 5
Nama Author: Cokocha

Judul: White Dream With You

Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Kalkulasi Di Tengah Intimidasi

Satu bulan telah berlalu sejak Rendra pertama kali menginjakkan kaki di Gedung TKJ. Kini, rutinitas di SMK Pamasta sudah terasa biasa, kecuali satu hal: obsesi Rendra terhadap Vema yang semakin menjadi-jadi.

Siang itu, kantin sekolah sedang di puncak keramaian. Bau soto ayam bersaing dengan aroma gorengan panas. Di meja paling pojok—wilayah kekuasaan anak-anak Akuntansi yang ingin ketenangan—Rendra duduk termenung. Di depannya, semangkuk bakso sudah mulai dingin, lemaknya mengental di pinggiran mangkuk.

"Heh, itu bakso kalau bisa ngomong, dia bakal protes karena cuma diaduk-aduk dari tadi," celetuk Netta sambil menggebrak meja pelan. Ia duduk di depan Rendra, disusul Bagas yang membawa tiga gelas es teh manis.

"Masih mikirin si rambut pendek itu?" Bagas menaruh gelas-gelas itu dengan bunyi klotak yang keras. "Udah sebulan lho, Ren. Kamu tiap istirahat bukannya makan malah kayak orang lagi audit laporan keuangan yang nggak balance."

Rendra menghela napas, ia membetulkan rambut belah tengahnya yang sedikit lepek karena hawa panas Surabaya. "Kalian nggak ngerasa aneh nggak sih? Sebulan ini aku perhatiin, Vema makin sering dipanggil anak-anak kelas dua belas TKJ ke belakang lab. Terus dia selalu bawa tas jahitan ibunya yang beda-beda tiap hari."

Netta menyeruput es tehnya, matanya menyipit tajam. Sebagai bendahara yang teliti, ia punya insting detektif yang kuat. "Aku juga denger gosip dari anak-anak cewek, Ren. Katanya Vema itu jarang banget jajan di kantin. Dia selalu di kelas atau di lab. Dan yang paling aneh... setiap jam tiga sore, dia kayak Cinderella versi horor. Langsung lari ke gerbang seolah kalau telat sedetik aja dia bakal berubah jadi labu."

​"Nah, bener!" Rendra menyambar ucapan Netta. "Kemarin aku sempat kirim pesan, nanya soal tugas. Dia cuma balas: 'Jangan chat sekarang, rumah lagi ramai.' Padahal itu jam delapan malam. Masa rumah ramai tiap malam?"

​Bagas tertawa remeh, tapi matanya menunjukkan rasa penasaran. "Mungkin bokapnya lagi latihan band, Ren. Kan katanya musisi. Namanya juga band, pasti berisik."

​"Tapi Bagas, Vema itu pucatnya nggak wajar," sela Rendra dengan suara rendah, condong ke depan meja. "Kemarin aku sempat nggak sengaja pegang tangannya pas mau balikin pulpen. Tangannya dingin banget. Dinginnya beda, kayak kamu pegang es batu tapi nggak basah."

Netta terdiam sejenak, wajah ceriwisnya berubah serius. "Ren, jujur ya. Aku sempat lewat depan rumahnya kemarin pas pulang naik angkot. Rumahnya sih kelihatan normal, ada tumpukan kain tas di teras. Tapi aura rumahnya itu... gimana ya? Gelap. Padahal lampu terasnya nyala semua."

"Kalian sadar nggak?" Rendra membuka buku catatannya—buku yang seharusnya berisi jurnal akuntansi, tapi di halaman belakang penuh dengan coretan pengamatannya. "Setiap kali dia habis antar tas ke anak TKJ, besoknya dia pasti pakai jaket atau syal kecil. Kayak mau nutupin sesuatu di leher atau lengannya."

"Maksudmu... dia dipukulin?" tanya Bagas, nada bicaranya mulai tidak enak.

"Bukan. Bukan kayak bekas luka pukul," Rendra menggeleng lemah. "Tandanya kayak... memar biru keunguan, tapi polanya aneh. Kayak bekas cengkeraman tangan tapi jarinya panjang banget."

Suasana di meja itu mendadak sunyi. Suara riuh kantin seolah menjauh. Netta bergidik ngeri, mengusap lengannya sendiri. "Duh, jadi merinding. Masa iya di sekolah kita yang isinya cuma dua jurusan ini ada hal-hal kayak gitu?"

"Kita harus cari tahu, Ren," ucap Netta akhirnya, matanya berkilat penuh tekad. "Besok kan ada pertandingan basket persahabatan antara Akuntansi lawan TKJ. Semua orang bakal fokus ke lapangan. Itu waktu yang pas buat kita—atau kamu—buat narik Vema bicara jujur. Dia nggak bisa terus-terusan jadi people pleaser buat hal-hal yang ngebahayain dia sendiri."

Rendra menatap lapangan basket yang terlihat dari kantin. Di seberang sana, di selasar Gedung TKJ, ia melihat Vema sedang berjalan sendirian sambil mendekap tas hitam di dadanya. Vema sempat menoleh ke arah kantin, mata mereka bertemu sekejap sebelum Vema membuang muka dengan cepat.

"Aku bakal cari tahu," bisik Rendra pada dirinya sendiri. "Walaupun aku harus masuk ke gedung itu lagi."

...****************...

Pagi itu, SMK Pamasta tidak seperti biasanya. Riuh rendah teriakan siswa dari arah lapangan basket sudah terdengar sampai ke koridor lantai dua Gedung Akuntansi. Poster-poster buatan tangan dengan tulisan "Accounting Pride" dan "TKJ Tech Titans" tertempel di tiap sudut pilar. Hari ini adalah pembukaan perlombaan antar kelas sekaligus ajang pembuktian gengsi antara dua jurusan besar di sekolah itu.

Namun, di dalam kelas X Akuntansi 1, Sarendra masih bergeming di bangkunya. Di depannya tergeletak buku besar yang seharusnya sudah ia selesaikan, tapi fokusnya buyar. Sebulan terakhir, setiap kali ia memejamkan mata, yang ia lihat hanyalah gurat pucat di wajah Vema dan memar aneh yang sempat ia lihat sekilas.

"Ren! Malah bengong. Ayo ke bawah, bentar lagi tim kita main lawan XI TKJ 2!" Netta tiba-tiba muncul di depan meja Rendra.

Hari ini Netta tampil beda. Ia memakai ikat kepala berwarna pink menyala dengan tulisan nomor kelas mereka. Di tangannya ada botol air mineral besar. Sebagai bendahara kelas, dia juga merangkap jadi seksi sibuk yang memastikan semua atlet kelas mereka tidak dehidrasi.

"Bentar, Net. Tanggung, tinggal dikit lagi balance nih," dalih Rendra sambil mengerjakan tugas Akutansi Keuangan

"Halah, alasan! Kamu itu cuma deg-degan mau ketemu Vema di lapangan kan?" Netta menarik kursi di depan Rendra, menatap cowok itu dengan intens. "Denger ya, Sarendra. Aku tahu kamu orangnya pemalu dan posturmu bungkuk kayak nanggung beban seberat dosa, tapi hari ini kamu harus tegak. Di lapangan nanti, semua anak TKJ bakal ngumpul. Itu kesempatanmu buat deketin Vema tanpa kelihatan mencolok."

Bagas masuk ke kelas dengan kaos olahraga yang sudah basah kuyup oleh keringat. "Ren! Gawat, si Riko dari kelas XII TKJ jadi kapten tim lawan. Tadi pas aku lewat, dia nanya-nanya soal anak Akuntansi yang sering 'nyasar' ke gedungnya. Kayaknya dia ngerasa kamu lagi ngincer sesuatu."

Rendra terdiam. Jantungnya berdegup lebih kencang, tapi bukan karena takut pada pertandingan basket. Ia takut karena Riko adalah orang yang sama yang menerima tas hitam dari Vema sebulan lalu.

"Riko itu... dia nggak cuma jago basket kan?" tanya Rendra pelan.

"Dia itu penguasa gedung belakang, Ren," jawab Bagas sambil meneguk es teh milik Rendra yang tersisa. "Dan denger-denger, dia itu salah satu 'pelanggan' tetap ibunya Vema. Entah apa yang dia beli, tapi dia kayak punya ikatan khusus sama keluarga itu."

Rendra akhirnya menutup buku akuntansinya dengan bunyi debrak yang cukup keras. Ia berdiri, mencoba meluruskan punggungnya meski tetap terasa sulit.

"Ayo ke bawah."

Mereka bertiga turun menuju lapangan. Suasana di bawah jauh lebih panas. Di tribun sebelah kanan, siswi-siswi Akuntansi bersorak dengan yel-yel yang rapi dan terorganisir. Sementara di tribun sebelah kiri, didominasi oleh cowok-cowok TKJ yang membawa drum bekas dan memukulnya dengan bertenaga, menciptakan suara gaduh yang mengintimidasi.

Rendra mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan. Akhirnya, ia menemukannya. Vema duduk di bangku cadangan tim TKJ, mengenakan rompi olahraga berwarna biru tua. Rambut pendeknya tertutup sebagian oleh handuk kecil. Ia sedang menunduk, tangannya sibuk memilin-milin kabel earphone yang tidak tersambung ke mana pun—kebiasaan barunya saat sedang cemas.

Yang membuat Rendra merasa sesak adalah posisi Vema. Ia duduk tepat di belakang Riko yang sedang melakukan pemanasan. Riko sesekali menoleh ke arah Vema, membisikkan sesuatu yang membuat Vema mengangguk kaku tanpa berani membalas tatapan pria itu.

"Net, Gas... lihat itu," bisik Rendra.

"Iya, aku lihat," sahut Netta dengan nada geram.

"Vema kayak bukan teman setim mereka, lebih kayak... asisten? Atau pelayan? Masa dia yang disuruh pegangin semua botol minum anak-anak kelas dua belas itu?"

Rendra merasakan amarah yang jarang ia rasakan sebelumnya. Ia merasa dunianya yang selama ini hanya berisi angka-angka dan keteraturan, kini mulai dimasuki oleh ketidakadilan yang nyata. Selama sebulan ini, ia mencoba bersabar, mencoba berpikir positif bahwa Vema hanya sedang membantu orang tuanya. Namun melihat Vema diperlakukan seperti itu di depan umum, sesuatu di dalam diri Rendra pecah.

"Aku nggak akan cuma nonton," gumam Rendra.

"Eh, mau ngapain kamu?" Bagas menahan lengan Rendra.

"Aku mau jadi bagian dari pertandingan ini. Bagas, cadangan tim kita masih ada yang kurang satu kan? Biar aku yang gantiin posisi cadangan terakhir," ucap Rendra mantap.

Netta dan Bagas melongo. Rendra, cowok yang biasanya menghindari kontak fisik dan lebih suka duduk di pojok kelas, kini menawarkan diri untuk masuk ke tengah medan perang melawan raksasa-raksasa TKJ.

"Ren, kamu gila? Mereka itu mainnya kasar!" seru Netta.

"Aku tahu," jawab Rendra sambil menatap tajam ke arah Vema di kejauhan. "Tapi itu satu-satunya cara supaya aku bisa ada di dekat mereka tanpa dicurigai. Aku mau dengar apa yang mereka bicarakan ke Vema."

Rendra pun mulai mengganti sepatu ketsnya dengan sepatu olahraga yang sudah agak usang. Sambil mengikat tali sepatunya, ia terus menatap ke arah tribun seberang. Hari ini, ia bukan hanya akan bertanding melawan jurusan TKJ, tapi ia akan mulai bertanding melawan rasa takutnya sendiri demi mengungkap apa yang sebenarnya disembunyikan oleh gadis berambut pendek itu.

1
Kustri
alur'a bikin penasaran
ada apa dgn vema
lanjuuut...
cokocha
bagus banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!