NovelToon NovelToon
Malam Terlarang Dengan Om Asing

Malam Terlarang Dengan Om Asing

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cinta Beda Dunia / Hamil di luar nikah
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nofiya Hayati

Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.

"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"

"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."

Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.

Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.

Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29

Senja menunggu jawaban itu dengan wajah setengah penasaran, setengah waspada. Seolah satu kata saja bisa menggeser posisi mereka ke wilayah yang belum siap ia pijak.

Sagara membuka mulut, lalu menutupnya kembali. Kata 'Mas' sempat nyaris lolos.

Hampir saja.

Tapi pikirannya lebih cepat daripada lidahnya. Ia teringat alasan pernikahan ini. Teringat garis tipis yang sejak awal ia pasang sendiri. Teringat kemungkinan yang tak pernah ia ucapkan, bahwa suatu hari, Senja mungkin akan mencintai lelaki lain. Lelaki seusianya. Lelaki yang bisa ia genggam tanpa rasa sungkan, tanpa bayang-bayang 'Om' yang kaku seperti dia.

Dan jika hari itu tiba, Sagara tahu, ia harus mundur dengan hormat tanpa menuntut apa pun.

Ia menarik napas pelan. “Untuk sementara,” katanya akhirnya, nada suaranya kembali netral, terkendali. “Panggil saja seperti biasa.”

Senja mengernyit. “Biasa itu… Om?”

“Iya.”

“Oh.” Senja menunduk sedikit. Ada sesuatu di nadanya yang nyaris terdengar… kecewa, meski ia sendiri mungkin tidak menyadarinya. “Aku kira Om mau bilang panggilan lain.”

Sagara melirik sekilas. “Kamu berharap apa?”

Senja tersedak ludahnya sendiri. “Nggak---nggak berharap apa-apa,” katanya cepat, lalu menambahkan dengan suara lebih kecil, “cuma… ya, penasaran.”

Sagara mengangguk pelan, seolah memahami lebih dari yang ia tunjukkan. Suasana di dalam mobil kembali hening. Beberapa menit berlalu. Lampu merah membuat mereka berhenti. Pantulan cahaya merah jatuh di kaca depan.

Senja menatap lurus ke depan, tapi pikirannya berlari ke mana-mana. “Om,” katanya tiba-tiba.

“Hm?”

“Kalau… misalnya nanti aku keterlaluan,” ucap Senja hati-hati, memilih kata seperti sedang berjalan di lantai licin, “atau bikin Om nggak nyaman… Om bilang ya.”

Sagara menoleh, kali ini lebih lama. “Kamu nggak bikin aku nggak nyaman,” katanya.

“Terus kenapa Om sering kelihatan jaga jarak?”

Pertanyaan itu polos. Tidak menuduh, tidak menekan. Justru itu yang membuatnya menghantam lebih dalam.

Lampu hijau menyala. Mobil kembali melaju.

“Ada jarak yang memang harus dijaga,” jawab Sagara akhirnya, suaranya rendah, tenang. “Supaya kamu tetap merasa aman.”

Senja mengernyit pelan. “Aman dari siapa?”

Sagara tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras sebentar. “Dari aku,” katanya jujur.

Senja menoleh cepat. “Om nggak pernah bikin aku takut.”

“Aku tahu.” Nada Sagara tetap stabil. “Justru karena itu aku harus hati-hati.”

Senja terdiam beberapa detik, lalu bertanya pelan, “Karena aku… sekarang istri Om?”

Sagara mengangguk tipis. “Iya.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan, “Status itu bikin segalanya jadi lebih mudah… tapi juga lebih berbahaya kalau aku lengah.”

Kalimat itu membuat Senja tercekat. “Oh,” ucapnya lirih. Kali ini bukan bingung, tapi mengerti.

Senja menatap jalan di depan mereka, lalu kembali melirik Sagara. “Om selalu ngomong soal jaga jarak,” katanya pelan. “Tapi… Om juga selalu ada buatku.”

Sagara menghela napas perlahan. “Itu dua hal yang berbeda.”

“Buat aku nggak,” jawab Senja jujur. “Kalau Om nggak peduli, Om nggak akan repot jemput aku. Nggak akan marah waktu Jelita ngomong sembarangan. Nggak akan---” Ucapannya terhenti, merasa terlalu jauh.

Sagara menekan pedal gas sedikit lebih halus. “Aku melakukan itu karena tanggung jawab.”

Senja tersenyum kecil. “Tanggung jawab juga bentuk peduli, kan?”

Sagara terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mobil melaju, bahunya tampak sedikit turun, seolah kalimat Senja membuka celah kecil di pertahanannya.

“Kamu masih muda,” katanya akhirnya, lebih lirih. “Duniamu masih panjang. Aku nggak mau jadi alasan kamu berhenti melihat kemungkinan lain.”

Senja mengernyit. “Om mikir aku nikah sama Om karena terpaksa?”

“Bukan.” Sagara menggeleng. “Aku mikir kamu nikah karena kamu kuat. Dan orang kuat tetap berhak memilih.”

Kalimat itu membuat Senja menelan ludah. “Kalau suatu hari aku milih tetap di sini?”

Sagara tidak langsung menjawab. Matanya tetap ke jalan, tapi suaranya berubah lebih dalam.

Kalau itu keputusanmu,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan tenang,

“pastikan itu benar-benar pilihanmu.”

Senja menoleh. “Maksud Om?”

“Aku nggak mau kamu memilih apa pun karena aku, bukan karena merasa aman. Bukan karena terbiasa. Apalagi karena merasa berhutang.”

Kalimat itu membuat dada Senja terasa sesak.

“Kamu harus berdiri bebas dulu,” katanya lagi. “Tanpa aku di depan, di samping, atau di belakangmu.”

Senja terdiam. “Dan kalau setelah itu… aku tetap memilih Om?”

Sagara baru meliriknya. Singkat, tapi penuh arti. “Baru saat itu,” katanya pelan, “aku percaya keputusanmu bukan hutang budi, tapi perasaan.”

Senja akhirnya kembali me topik awal. “Soal panggilan tadi...”

Sagara melirik sekilas. “Iya.”

“Om bilang panggilan ‘Om’ terlalu resmi.” Senja menahan senyum. “Tapi Om juga belum jawab.”

Sagara terdiam beberapa detik. Untuk pertama kalinya, ia hampir terjebak oleh ucapannya sendiri. “Hm,” gumamnya. “Panggilan itu… seharusnya datang dari rasa nyaman. Bukan karena kewajiban.”

Senja mengangguk pelan. “Berarti aku boleh tetap ‘Om’ dulu?”

“Boleh,” jawab Sagara tanpa ragu. Lalu, sangat pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, ia menambahkan. “Sampai suatu hari kamu memanggil dengan alasan yang berbeda.”

Tak lama kemudian, Senja tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Berarti… Om itu tipe yang ribet ya.”

Sagara mendengus pelan. Hampir tak terdengar. “Bisa jadi.”

“Itu jawaban dosen,” canda Senja.

“Dan kamu mahasiswi,” balas Sagara datar.

Senja meliriknya, lalu tertawa lebih lepas. Tawa tanpa merasa canggung.

Sagara mendengarnya. Dan tanpa sadar, bahunya sedikit mengendur. Di balik wajah tenangnya, dadanya berdenyut pelan.

Ia tahu, menjaga jarak dengan istrinya sendiri melelahkan. Menahan diri dari sesuatu yang sah bukan perkara mudah. Sekali lengah, sagara akan kehilangan kendali hasratnya, seperti waktu itu, di gunung. Untuk sekarang, ia lebih memilih Senja merasa aman, daripada merasa dimiliki terlalu cepat.

Mobil terus melaju, membawa mereka pulang. Dua orang yang terikat janji, namun masih belajar berjalan berdampingan, tanpa saling mendahului,

tanpa saling menekan, pelan… dan penuh kehati-hatian.

Mobil akhirnya masuk jalan menuju rumah. Sinar senja menyusup lewat kaca, jatuh lembut di wajah Senja. Sagara melirik sekilas, lalu buru-buru kembali menatap jalan. Dadanya terasa sesak oleh pikiran yang tak ia ucapkan.

'Mas' bukan sekadar panggilan. Itu janji.

Dan ia belum siap berjanji, jika suatu hari ia harus belajar melepaskan.

Mobil berhenti di halaman rumah. Mesin dimatikan.

“Kita sudah sampai,” kata Sagara.

Senja mengangguk, membuka pintu. Sebelum turun, ia menoleh kembali. “Om.”

“Hm?”

“Terima kasih… sudah jemput aku.”

Sagara menatapnya sejenak, lalu mengangguk kecil. “Itu tugasku.”

Senja turun dari mobil, menutup pintu dengan hati-hati.

Sagara tetap duduk di sana beberapa detik lebih lama dari yang perlu, menatap ke depan, merasakan denyut di dadanya yang belum sepenuhnya reda.

"Jaga jarak...," katanya pada diri sendiri.

"Kalau tidak, kamu yang akan paling dulu jatuh karena menyukainya terlalu mudah."

Dan kali ini ia tidak yakin bisa berdiri dengan utuh.

*

*

*

Lampu kamar Senja sudah redup. Ia berbaring menyamping, satu tangan refleks bertengger di perutnya yang belum tampak besar, tapi cukup nyata untuk terus diingat.

Janin di dalamnya bergerak pelan. Bukan tendangan, lebih seperti geli kecil yang membuat Senja tersenyum tanpa sadar.

“Tenang,” bisiknya lirih. “Hari ini ayahmu baik.”

Di kamar sebelah, Sagara belum tidur.

Ia duduk di tepi ranjang, punggung sedikit membungkuk, handuk masih melingkar di leher. Kepalanya menengadah, menatap langit-langit seolah di sana ada jawaban.

Hari ini ia menjemput istrinya. Hari ini ia mengajar istrinya. Hari ini ia menahan diri lebih keras dari yang seharusnya dilakukan seorang lelaki yang sah.

Di detik pikirannya yang menerawang, tiba-tiba ketukan kecil terdengar. Sagara menoleh cepat. Ia berdiri, membuka pintu.

Senja berdiri di sana, mengenakan piyama longgar, rambutnya dikuncir rendah asal-asalan. Wajahnya tampak canggung dan sedikit pucat.

“Om…” Suaranya lebih kecil dari tadi.

“Ada apa?” Nada Sagara otomatis berubah waspada.

Senja ragu, lalu menelan ludah. “Aku… mual lagi.”

Sagara langsung menegakkan tubuh. “Tunggu,” katanya singkat.

Ia mengambil segelas air dan biskuit tawar dari meja kecil di kamarnya, sudah ia siapkan sejak sore, kebiasaan yang tak pernah ia komentari.

Senja menerima gelas itu dengan dua tangan. “Makasih…”

Ia minum pelan, lalu meringis. “Kayaknya bayinya nggak suka aku capek.”

Sagara refleks menatap perut Senja.

Hanya sepersekian detik, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Namun, dadanya berdenyut keras, teringat di dalam tubuh kecil Senja ada bagian dari dirinya yang sedang tumbuh.

“Kamu terlalu memaksa diri,” katanya.

“Ini baru hari pertama,” Senja mengerucutkan bibir. “Kalau hari pertama aja aku manja, nanti Om makin ribet.”

Sagara mendengus pelan. “Aku sudah ribet.”

Senja tersenyum kecil. “Iya juga.”

Mualnya mereda. Senja menghela napas lega, lalu tanpa sadar menepuk-nepuk perutnya. “Tuh, udah tenang.”

Sagara memperhatikan gerakan itu lebih lama dari yang ia sadari. Ada rasa hangat yang naik ke dadanya. Rasa yang berbahaya.

“Om,” Senja tiba-tiba menatapnya. “Malam ini… Om masih tidur di kamar ini?” Pertanyaannya polos. Terlalu polos untuk efeknya.

Sagara terdiam setengah detik lebih lama dari seharusnya. “Iya.”

“Oh.”

Entah kenapa nada Senja terdengar… lega, tapi juga kecewa, karena tak bisa dipungkirinya, ia nyaman berada di dekat Sagara.

Senja berbalik hendak pergi, lalu berhenti. “Om…”

“Hm?”

“Kalau… aku mimpi buruk?” tanyanya ragu. “Boleh panggil Om?”

Sagara menatapnya lama. Terlalu lama.

“Boleh,” jawabnya akhirnya. “Kamu panggil saja.”

Senja mengangguk, lalu melangkah mundur satu langkah. “Terus kalau Om yang mimpi buruk?”

Sagara mengangkat alis. “Aku jarang mimpi.”

“Jawaban dosen,” Senja nyengir. “Datar.”

Sagara mendengus lagi. “Tidur. Kamu capek.”

“Iya.” Senja tersenyum.

Di kamar Senja, ia menyentuh perutnya lagi. “Ayahmu ribet,” bisiknya geli.

Janin di dalamnya bergerak kecil seolah setuju.

Sementara di kamar Sagara, ia berdiri mematung beberapa detik, lalu menghembuskan napas berat, duduk di ranjang, menutup wajah dengan satu tangan.

“Ini bahaya,” gumamnya lirih.

Karena hari ini ia sadar, bukan hanya Senja yang harus ia lindungi, tapi juga dirinya sendiri. Dan entah sejak kapan, menahan diri dari perempuan yang mengandung darah dagingnya sendiri

menjadi ujian paling berat yang pernah ia jalani.

Bersambung~~

1
Najwa Aini
Ya harus lahh
Najwa Aini
Wahh hebat..eh aku ralat. tidak hebat.
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
Mia Camelia
kasian senja, udh mulai di bully😂😂😂
Ayuwidia
Astaghfirullah, kejam banget omongannya
Ayuwidia
Sunyi itu malah lebih mengerikan dari pada ucapan kasar
Nofi Kahza
ada banyaakkk
partini
tuan saga apa ga bisa kasih bodyguard bayangan buat istrimu dia hamil loh sesuatu bisa terjadi apa lagi banyak yg ga suka be smart dong pak dosen jangan lemot
partini: ah suka yg kehujanan dulu baru beli payung ok ok
total 2 replies
Ayuwidia
Sagara suami siaga, meski tidak banyak kata, atau aksi yg bisa dilihat oleh mata
Ayuwidia
Betul
Ayuwidia
Aku pingin kuliah di sana, tapi cuma bisa bermimpi tanpa berkeinginan untuk mewujudkan
Ayuwidia: udahhh 🤭
total 2 replies
Ayuwidia
Nggak kebayang gimana sulitnya Sagara menahan gejolak rasa pingin itu
Nofi Kahza: ngilu mbook...😆
total 1 replies
Najwa Aini
ngopi ☕..yak tapi diminum nanti. siang masih puasa
Nofi Kahza: makasih kaka sayangku../Kiss/
total 1 replies
Najwa Aini
Aku kawal. bener..jangan sampai Senja ku kenapa².
Najwa Aini
Top Markotop deh Sagara..👍
Najwa Aini
setuju.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
Najwa Aini: Benar juga...tapi energiku masih habis sekarang
total 2 replies
Najwa Aini
Saat² penyiksaan bagi Sagara dimulai..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..
Najwa Aini
Gak suka sama jelita. tapi gak setuju juga dia diperlakukan kayak gitu
Najwa Aini
Slam ini nama grup band luar negeri yg sempat aku suka dulu
Najwa Aini
definisi antara ada dan tiada, mungkin si pandi ini ya
Najwa Aini
eaa..eaa..dermawan kok ke amarah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!