Menurut Azalea Laire, dirinya mempunyai bapak kolotnya minta ampun. Jaman sekarang masih saja dijodoh-jodohkan, mana pakai ada ancaman segala, dimana kalau tidak mau dijodohkan, dirinya akan ditendang bukan lagi dari keluarga, tapi di depak dari muka bumi.
Azalea geram di tagih perjodohan terus oleh bapaknya, sehingga dia punya niat buat ngelabrak pria yang mau dijodohkan olehnya agar laki-laki itu ilfeel dan mundur dari perjodohan. Tapi eh tapi, ketika Azalea merealisasikan niat itu yang mana dia pergi ke desa untuk menemui sang jodoh, ternyata dia melakukan kesalahan.
Ternyata jodoh dia adalah Lurah.
Terus kira-kira masalah apa yang udah dibikin oleh Azalea? Kira-kira masalah Azalea ini bikin geram atau malah bikin cengar-cengir?
Nyok kita pantengin aja ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zenun smith, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepakat Berteman
Seperti biasa, sebelum tidur Azalea menyempatkan diri bermain game. Kamar yang ia tempati sekarang terasa sangat nyaman, membuatnya betah tanpa keluhan. Azalea sempat heran, mengapa kamar singgah di tempat ini fasilitasnya sebagus ini?
Tanpa ia tahu, itu sebenarnya adalah kamar pribadi Hagia yang biasa digunakan saat pria itu menginap untuk urusan sanggar. Lalu, ke mana Hagia malam ini? Tentu ia tidak pulang.
Keberadaan Azalea di sini membuatnya otomatis memilih tetap tinggal. Hagia akhirnya menumpang di kamar rekannya, Si Cong, yang letaknya tidak jauh dari sana. Mungkin posisi Si Cong saat ini adalah impian banyak gadis, bisa menginap sedekat itu dengan sang ketua.
Di tengah kesibukan memantau pekerjaan kantor yang terbengkalai lewat telepon, tiba-tiba perut Azalea terasa sakit. Ia sempat keluar kamar menuju parkiran untuk mengambil sesuatu di mobil. Setelah kembali, ia langsung berbaring dan meminum obat.
Tak lama kemudian...
Tok, tok!
Azalea beranjak membuka pintu. Ternyata di sana berdiri Hagia sambil membawa air hangat.
"Ini air hangat untuk kompres perut kamu."
Azalea terkejut. "Kok Kakak tahu aku sakit perut?"
"Tadi saya lihat kamu jalan sambil memegangi perut, ekspresi mukamu juga seperti menahan sakit."
Azalea pun berterima kasih. Ia berkata bahwa ada dua ucapan terima kasih yang ingin ia sampaikan. Hagia mengernyit heran, mengapa harus dua?
"Yang pertama, terima kasih untuk air hangatnya. Yang kedua, terima kasih sudah menginjak kakiku! Huhu..." Azalea tiba-tiba menangis bombay.
Sontak Hagia panik. Ia langsung refleks berjongkok untuk memeriksa kaki Azalea yang katanya terinjak. Namun sedetik kemudian Azalea malah cengengesan dan menyuruh Hagia bangun.
"Ehehe, maaf ya, aku cuma bercanda. Kata aku sih, bercanda itu obat sakit. Tapi beneran, terima kasihnya memang ada dua. Yang satunya lagi terima kasih karena Kakak sudah peka."
Hagia tersenyum canggung. "Peka dalam hal apa?"
"Peka dengan kesusahan orang lain. Aku nggak bilang apa-apa, tapi tiba-tiba Kakak tahu aku sakit dan langsung bawain perhatian seperti ini."
Hagia menarik napas panjang, menormalkan detak jantungnya yang sempat berpacu cepat karena panik tadi.
"Kamu ini bisa saja, Lea. Kalau saya lihat orang butuh bantuan, pasti saya bantu." gumam Hagia sambil menggelengkan kepala.
Hagia tidak langsung pergi. Ia menyandarkan bahunya di kusen pintu, melipat tangan di dada. "Kalau memang bercanda itu obat, berarti sekarang kamu sudah sembuh dong? Harusnya air hangat ini tidak perlu lagi?"
Azalea dengan cepat memeluk botol air hangat itu ke perutnya. "Eits, jangan ditarik lagi. Ini kan obat pendukung. Bercanda itu obat mental, kalau ini obat fisiknya."
Hagia tertawa kecil "Oke, masuk akal. Lagipula saya sudah terlanjur dicap peka sama kamu. Jadi tanggung kalau tidak tuntas bantuannya."
"Nah, gitu dong. Kak Hagia kalau ketawa gitu kan jadi kelihatan seperti manusia," celetuk Azalea.
"Memang selama ini kamu melihat saya seperti apa?"
"Pangeran."
Mendengar itu, Hagia jadi salah tingkah lagi. Ia menyadari bahwa selama ini tembok formalitas yang ia bangun justru membuat orang segan. Tapi Azalea dengan mudahnya mendobrak tembok itu hanya dengan candaan konyol.
"Azalea, sebenarnya saya jarang punya teman perempuan yang berani bercanda kayak kamu."
"Oh ya? Berarti aku spesial dong?"
"Bisa dibilang begitu. Jadi karena malam ini saya sudah tahu rahasia kalau kamu tukang prank, dan kamu sudah tahu kalau saya ternyata peka, bagimana kalau kita buat kesepakatan?"
"Kesepakatan apa?"
"Mulai detik ini, kita resmi jadi teman. Artinya kamu boleh protes kalau saya terlalu kaku, dan saya boleh... ya, mungkin sekali-sekali membalas candaan kamu supaya lebih akrab."
Azalea tertawa lebar, lalu menyodorkan jari kelingkingnya dengan semangat. "Deal. Tapi syaratnya kalau nanti aku butuh bantuan atau mau curhat, Kakak nggak boleh pakai bahasa formal yang bikin aku merasa lagi di kantor ya?"
Hagia menyambut kelingking itu dengan kelingkingnya sendiri. "Deal. Sekarang masuk dan istirahat. Jangan sampai pasien saya ini malah makin sakit karena kelamaan berdiri di pintu."
"Siap bos!" Azalea sampai membentangkan hormat kepada Hagia, yang praktis membuat Hagia tambah gemes.
Dari sinilah mereka berteman baik tanpa
embel-embel formalitas.
...****...
Dua hari telah berlalu.
Janji Hagia untuk menyelesaikan masalah lusa kemarin kini tiba waktunya. Selama dua hari itu, Hagia bergerak dalam diam demi melindungi Azalea. Ia ingin menyudahi gangguan Adi secara permanen, agar Azalea tidak perlu lagi menghadapi keabsurd-an Adi sendirian.
Azalea sempat mengira kesibukan Hagia dengan ponselnya hanyalah urusan sanggar atau pekerjaan kantor biasa. Namun ia tidak tahu bahwa Hagia sedang berjuang untuknya dengan caranya sendiri. Hagia adalah tipe pria yang jika sudah bertekad melindungi seseorang, ia akan melakukannya hingga tuntas. Ia tidak hanya ingin mengusir Adi, tapi ingin memastikan pria itu tidak punya celah sedikit pun untuk kembali mengusik hidup Azalea.
Secara diam-diam, Hagia ternyata telah mendatangi rumah orang tua Adi. Dari sana, ia mengantongi sebuah kebenaran yang akan ia gunakan sebagai kartu as di saat krusial seperti sekarang.
Kini Hagia dan Azalea sudah berada di kediaman Pak Lurah. Mereka sengaja bertamu saat jam santai agar pembicaraan lebih leluasa dibandingkan di kantor desa. Hagia menjadi jembatan yang menghubungkan Azalea dengan pihak berwenang di desa tersebut.
Tak hanya itu, untuk memastikan rencananya berjalan sempurna, Hagia juga mendatangkan...
.
.
Bersambung.