NovelToon NovelToon
Romantic Scent

Romantic Scent

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: Reviie Aufiar

Rona gadis cantik yang memiliki keberanian dibanding gadis lain, memilih menikmati hidup damai dan menjalankan usaha yang ditinggalkam kedua orangtuanya. Adakalanya setiap sore ia menikmati pemandangan indah berbukitan di belakang desanya dan menemukan sosok lelaki tampan jatuh tepat pada pelukkannya. Aroma tubuh lelaki itu berhasil memikatnya, dan siapa kah lelaki tersebut? dan apakah yang terjadi padanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reviie Aufiar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. Hilang sebelum sempat dimiliki

Hampa merasuki pikirku, kehilangan satu dan datang satu. Perpisahan bukan sebuah akhir dari kehampaan itu sendiri. Angin musim kali ini lebih hangat dari musim dingin lalu. Segala hal sudah aman terkendali dari pasokan anggur yang dikubur di dalam kendi gudang bawah tanah, pengemasan anggur dari dua puluh tahun lalu. Peternakan sapi yang kini berkembang pesat begitu juga dengan ekspor susunya.

Gadis itu melangkah maju melewati bukit dengan menggunakan kuda mustang yang telah lama ia incar sudah berhasil dijinakkan dalam dua musim. Musim kali ini musim semi. Tatapan Rona seolah kosong bertunggangan kuda memasuki rawa yang jarang sekali didatangi warga desa.

Rona melepas sepatunya dan membiarkan kaki itu ia rendam kedalam danau kecil hasil aliran sungai yang ada di belakang bukit. Rona membiarkan kuda mustang itu meminum air danau tersebut.

Rona merebahkan tubuhnya di pohon yang berada didekatnya. Angin sore itu kian menghangat karena terik cahaya yang semakin naik ke puncaknya. Kilauan paparan cahaya ke danau seakan menimbulkan gemerlap kelip membuatnya tanpa seperti cermin yang bisa memantulkan cahayanya. Dedaunan mulai menghijau dan ada pula yang akan menguning.

Jika diingat kejadian kala itu Rona yang ceria menjadi lebih serius dan selektif memilih waktu dibandingkan bersantai. Hari-hari yang membuatnya tampak sibuk bahkan ia jarang sekali menunggangi kuda pemberian lelaki yang meninggalkannya itu.

Emily sadar akan sikap Rona yang sedikit berubah seiring waktu. Namun banyak hal yang tidak dapat dielakkan seperti kedatangan Nathan kembali ke kediaman White.

Pada musim itu lelaki itu datang dengan gagahnya, jauh dari ingatan Emily yang dulu. Garis wajah Nathan sangat terpancar jelas, bentuk hidung mancung dengan sempurna serta sorot mata yang tak lagi ia kenali.

Nathan ditemani oleh kepala pelayan Rumah tersebut mengajaknya berkeliling kediaman tersebut menuju ruang tamu utama. Nathan memandang sekeliling yang tak banyak berubah, beberapa furniture lama masih terpampang di sana beberapa lagi bercampur dengan model terbaru. Namun semua itu tak membuat ruangan itu tampak seperti ruangan jadul.

“Maaf sebentar tuan, saya akan memanggilkan nona pertama. Silahkan nikmati waktu anda.” Kepala pelayan meminta pelayan dari dapur mengantarkan minuman.

Emily mendengar kabar lelaki itu langsung bergegas turun dari ruang kerjanya menuju ruang tamu utama.

Rona yang sudah duduk bersama Nathan di ruang tamu tersebut, keheningan tampak dari kedua wajah itu. Dengan langkah tegas Emily duduk diantara mereka. Terlihat Nathan menikmati hidangan teh tersebut.

“Apa kabar dari mu?” Emily memulai percakapan yang terdengar sedikit canggung.

Rona menatap tatapan mata Emily kepada Nathan begitu juga sebaliknya.

“Aku baik. Bagaimana dengan kalian berdua, pasti sulit bukan?” Tanyanya perlahan takut menyinggung kedua wanita yang dulunya adalah teman masa kecilnya.

“Kami baik-baik saja Nathan. Sepertinya kau tumbuh besar jauh lebih baik dari kami berdua.” Rona mulai menggoda Nathan dan ujung matanya sedikit melirik Emily.

“Aku cukup baik dan aku cukup senang mengingat kalian juga baik-baik saja disini.” Pungkasnya dengan lirih sedikit senduh namun tegas.

Jelas sekali tatapan mata itu tertuju pada Emily yang hanya menatap secangkir tehnya dan memandangi wajahnya lewat pantulan teh tersebut.

“Aku cukup senang mengingat kau mengingat kami Nathan.” Tegas namun sangat menyinggung.

Seolah kata-kata Rona menegaskan isi hati Emily yang masih mengatur kata untuk berucap pada lelaki yang telah lama menjadi mantan tunangan masa kecilnya tersebut.

Sekilas Rona menyadari tatapan demi tatapan diam mereka yang saling merekah jadi satu, seperti rindu yang berhasil menemukan tumpuannya. Menemukan sosok yang telah lama hilang dan redup kini bersinar cerah seakan nestapa merestui untuk kali ini pertemuan ini menjadi duri sekaligus penawar dari rindu itu sendiri.

“Silahkan dinikmati tehnya. Ini dari perkebunan kecil kami di Utara.” Emily sedikit mengganti topik pembicaraan yang mengarah ke masa lalu.

“Baiklah Emily, senang sekali bertemu denganmu.” Nathan menatap gadis itu yang selalu menghindari tatapannya.

Rona yang menyadari kecanggungan lama dan kebingungan diantara mereka. Tangan Emily yang sedikit gemetar memegang cangkir, tatapan Nathan yang enggan berpaling dari gadis itu namun ujung bibir tak kunjung berkata-kata.

“Karena pekerjaanku masih banyak sekali, aku harus undur diri saat ini. Kakak bisakah kakak ajak Nathan untuk berkeliling rumah kita? Sepertinya dia sudah lama tidak melihat-lihat.” Rona langsung bergerak dari kasur dan mempersilahkan mereka memiliki waktu panjang untuk membahas baik itu masa lalu ataupun masa kini.

Langkah kaki Rona sangat tegas meninggalkan rumah tamu itu dan menepuk kepalanya di antara lorong menuju ruang kerjanya.

“Aku bisa gila kalau begini terus!” Sekali lagi Rona menepuk kepalanya sambil berjalan ke ruang kerjanya.

Ketukan pintu tak membuat Rona bergeming mengerjakan pekerjaanya yang sangat-sangat menumpuk. Seolah waktu sedang mengejar-ngejar dirinya. Hampa perasaannya hampa tak kunjung membaik. Ia kira segala sesuatunya akan membaik setelah malam berlalu berganti pagi yang semakin memburu.

“Nona…Nona, saya datang.” Rose sedikit berteriak pada majikan mudanya tersebut dengan wajah sedikit cemberut.

“Astaga apa? Ada apa Rose?” Tanya Rona menatap pelayannya itu dengan sedikit tertawa.

“Saya menyiapkan makan siang anda, tolong jangan lupa dimakan ya.” Rose membereskan beberapa berkas berserakan dan jatuh di lantai ke dalam tempat sampah.

“Baiklah, pelayanku.” Rona kembali memakai kacamatanya dan mengikat rambutnya ke atas dan memakan cemilan terlebih dahulu sebelum makan besar.

“Saya sudah selesai membereskan ruangan anda nona. Sebentar lagi saya akan mengambil piring kotornya.” Langkah tegas Rose membawa keranjang keluar ruangan tersebut.

Rona yang merasa penat melepas kacamatanya dan beralih ke jendela lalu menatap dua orang yang sedang berjalan santai di taman kecil milik keluarga mereka.

“Ah rindunya, aku akan sangat rindu.” Mengingat kenangannya bersama Dean pada malam-malam sebelumnya.

Langkah kaki Emily melambat, tatapannya menatap ke arah bawah lalu kembali menatap kearah depan, hembusan angin angin menerbangkan jepitan bunga yang sedari tadi bersemayam di rambutnya.

Emily berlari dan hampir tersandung gaunnya, tangan Nathan meraih pinggang gadis itu. Tatapan mereka berdua akhirnya bertemu jadi satu. Nathan menatap dalam ke dalam mata gadis itu.

Wajah Emily merona sama merahnya dengan warna bunga-bunga mawar yang berada di taman tersebut. Air mancur mendadak hidup dan berhasil menyiprat ke arah mereka berdua. Emily yang kaget dengan tangan natan yang menyiraminya air. Ingatan bahagia waktu kecil dahulu seakan terulang kembali.

Tangan kecil Emily menyipratkan air itu ke tubuh Nathan. Lelaki itu mengenakan kemeja putih langsung basah seketika karena ulah usil mereka berdua.

Nathan menangkap Emily dan menyemplungkannya ke air mancur tersebut sama seperti dahulu. Gelak tawa dari bibir gadis itu sangat cantik. Senyum simpul dari garis wajah Emily baru terlihat.

“Ah cantik sekali.” Ucap Nathan pada Emily yang saat ini berada di atas gadis tersebut.

Emily menjatuhkan Nathan tepat di sebelahnya dan tertawa. Air mancur tersebut baru setengah terisi namun mereka berdua telah basa.

Sampai disaat Nathan dan Emily duduk berdua di pinggir air mancur tersebut, Nathan mengambil tangan Emily dan menggenggamnya dengan seksama tanpa kata menyenderkan kepalanya di bahu kecil gadis itu.

Degupan jantung Emily tidak beraturan.

“Maafkan aku telah meninggalkanmu, banyak hal yang harus ku capai selama ini sehingga membutuhkan waktu lama. Maafkan kau terlambat datang.” Nathan tak berharap Emily mengatakan apapun dia hanya berharap seperti ini dalam waktu yang lama.

Rindu seakan menghantutkan, kesusahan, keresahan dan rasa sabar dari pertemuan akhirnya berujung pada pertemuan itu sendiri.

Telah lama Nathan menantikan momen kecil mereka berulang, dengan banyak kata dan hal yang ingin diceritakan pada gadis yang disadari pundaknya tersebut.

Nathan sasar butuh waktu lama, butuh banyak waktu untuk menjelaskan perlahan, untuk menyampaikan rasa dan untuk menjelaskan semuanya. Tak perlu terburu-buru. Saat ini keheningan ini menghangatkan, kicauan burung telah menyadarkan mereka dari keheningan.

“Hacummmm…” Emily gemetar kedinginan.

“Maafkan aku, kita terlalu lama diluar untuk waktu yang lama. Ayo masuk.” Nathan memapah Emily.

Seorang pelayan berlari membawakan handuk untuk mereka berdua.

Rona hanya menatap kebahagiaan mereka yang baru sempat mekar dari kuncupnya. Sama seperti bunga. Tumbuh dari kuncup datang dalam waktu lama lalu mekar.

“Apakah aku akan bahagia juga? Seperti mereka walaupun butuh waktu lama? Haruskah aku menunggu?” Tanya Rona dalam hati yang sedang kacau tersebut.

Dadanya seakan diobrak abrik, rasa sakit sekaligus kesal menghantuinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!