Hidup Arga yang sempurna bersama istrinya, Nabila, hancur seketika saat mantan kekasihnya, Siska, kembali sebagai istri pemilik perusahaannya.
Siska yang ambisius menawarkan satu syarat gila. "Jadilah pemuas nafsuku, atau kariermu tamat!"
Arga menolak mentah-mentah demi kesetiaannya. Namun, murka sang Nyonya Besar tak terbendung. Dalam semalam, Siska memutarbalikkan fakta dan memfitnah Arga atas tuduhan pelecehan seksual.
Di bawah bayang-bayang penjara dan cemoohan publik, mampukah Arga bertahan? Ataukah Nabila, sang istri sah, sanggup membongkar kelicikan Siska dan menyelamatkan suaminya dari kehancuran?
Kita simak kisah kelanjutannya di Novel => Jebakan Sang CEO Wanita.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 30
Malam itu, gedung Airborne Group berdiri seperti monumen kaca yang sunyi di tengah hutan beton Jakarta. Sebagian besar lampu di lantai-lantai bawah sudah dipadamkan, menyisakan keremangan yang mencekam. Namun, di lantai paling atas, di ruangan Direktur Eksekutif, sebuah bayangan masih bergerak di balik tirai tipis.
Arga Mandala berdiri di lobi bawah. Ia menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam. Setelah konfrontasi Nabila dengan Siska tadi siang, Arga menerima pesan singkat dari ponsel Siska. Isinya singkat namun mengandung urgensi yang tidak bisa ia abaikan.
"Datanglah ke kantorku malam ini sendirian jika kau ingin surat pengakuan sabotase keuangan itu benar-benar aku serahkan kepadamu. Jika tidak, tekan tombol 'kirim' ke kepolisian adalah hal terakhir yang akan aku lakukan sebelum fajar."
Arga tahu ini adalah jebakan. Namun, ia juga tahu bahwa selama Siska masih memegang kendali atas bukti-bukti digital yang ia manipulasi, hidupnya dan Nabila tidak akan pernah benar-benar tenang. Ia harus mengakhiri ini sekarang. Di tempat segalanya dimulai.
Arga keluar dari lift dan melangkah menyusuri lorong panjang menuju ruangan Siska. Suasana kantor yang sepi membuat setiap detak langkah sepatunya terdengar seperti dentuman jam kematian. Ia mendorong pintu ganda itu.
Ruangan itu hanya diterangi oleh lampu meja yang redup dan kerlap-kerlip lampu kota dari jendela kaca raksasa. Siska sedang berdiri di dekat meja bar mini, memegang gelas kristal berisi cairan amber.
Ia tidak lagi mengenakan pakaian formal seperti siang tadi. Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna perak yang tipis dan jubah luar yang sengaja tidak diikat.
"Kau datang, Arga," ucap Siska, suaranya terdengar tenang namun bergetar oleh sesuatu yang lebih gelap dari sekadar kemarahan. "Aku tahu kau tidak akan membiarkan istrimu yang tercinta itu terseret ke dalam kasus korupsi yang kubuat untukmu."
"Hentikan semua ini, Siska," Arga melangkah maju, namun tetap menjaga jarak. "Nabila sudah menunjukkan siapa kau di depan Pak Roy. Semuanya sudah berakhir. Serahkan bukti itu dan pergilah dari hidup kami."
Siska tertawa, suara tawa yang terdengar sangat hampa. Ia meletakkan gelasnya dan berjalan mendekati Arga dengan gerakan yang sangat lambat, seolah-olah sedang menari dalam khayalannya sendiri.
"Berakhir? Tidak, Arga. Ini baru saja mencapai puncaknya," Siska berdiri tepat di depan Arga. "Kau tahu, posisi Direktur Utama itu masih tersedia. Pak Roy sedang dalam perawatan medis, dia tidak akan bisa menghentikanku jika aku sudah memegang kendali. Aku bisa menghapus semua tuduhanmu dalam satu kedipan mata."
Siska kemudian melakukan sesuatu yang membuat Arga tersentak. Dengan gerakan yang sengaja, ia melepaskan jubah luarnya, membiarkannya jatuh ke lantai marmer yang dingin, hanya menyisakan gaun tidur tipis yang hampir tidak menutupi lekuk tubuhnya.
"Layani aku malam ini, Arga," bisik Siska, suaranya kini penuh dengan desakan obsesif yang mengerikan. "Lupakan Nabila. Lupakan moralitas membosankanmu. Berikan aku apa yang seharusnya menjadi milikku sejak sepuluh tahun lalu. Jika kau melakukannya, surat pengangkatan Direktur Utama itu akan ada di tanganmu besok pagi. Kau akan menjadi pria paling berkuasa di gedung ini, bersamaku."
Arga menatap Siska dengan tatapan yang dipenuhi dengan rasa muak yang tak terlukiskan. "Kau benar-benar sudah kehilangan akal sehatmu, Siska. Kau pikir aku bisa dibeli dengan tubuhmu? Setelah semua yang kau lakukan pada anak kita? Setelah semua teror yang kau berikan pada istriku?"
"Anak itu adalah kesalahan!" teriak Siska, matanya mulai berkilat gila. "Tapi kau adalah takdirku! Nabila tidak bisa memberimu apa yang aku miliki! Aku punya kekuasaan, aku punya uang, dan aku punya sejarah bersamamu yang tidak akan pernah bisa dia hapus!"
Siska mencoba memeluk Arga, menyentuhkan tubuhnya yang gemetar karena emosi pada dada Arga. "Sentuh aku, Arga... Ingatlah bagaimana dulu kita saling memiliki. Jangan biarkan wanita kelas bawah itu menang."
Arga mendorong bahu Siska dengan keras hingga wanita itu terhuyung ke belakang. "Cukup! Jangan pernah kau sebut nama Nabila dengan mulut kotormu itu! Nabila adalah segalanya yang tidak akan pernah bisa kau miliki. Kejujuran, ketulusan, dan harga diri."
Siska tidak menyerah. Kegilaannya telah mencapai titik didih. Ia kembali menyerbu ke arah Arga, kali ini dengan paksaan yang lebih agresif. Ia merangkul leher Arga, mencoba mencium bibir pria itu dengan paksa, seolah-olah dengan satu ciuman ia bisa memantrai Arga untuk kembali kepadanya.
"Kau mencintaiku, Arga! Mengakuilah!" Siska meronta, jemarinya mencengkeram kemeja Arga hingga beberapa kancingnya terlepas.
"Lepaskan aku, Siska!"
"Tidak! Kau milikku!"
Dalam sebuah gerakan refleks yang didorong oleh kemarahan, rasa muak, dan akumulasi penderitaan selama berminggu-minggu, Arga menepis tangan Siska dengan sangat keras. Saat Siska kembali mencoba menerjang, tangan kanan Arga melayang, sebuah tamparan keras mendarat di pipi Siska.
PLAAAK!
Suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas. Siska terlempar ke samping, tubuhnya menghantam meja kayu mahoni sebelum akhirnya jatuh tersungkur di atas lantai marmer.
Keheningan yang mematikan seketika menyelimuti ruangan.
Arga berdiri mematung, napasnya memburu, tangannya masih terasa panas. Ia tidak pernah bermaksud melakukan kekerasan fisik, namun Siska telah mendorongnya melampaui batas kemanusiaan.
Siska tetap terdiam di lantai selama beberapa saat. Rambutnya berantakan menutupi wajahnya. Perlahan, ia mengangkat kepalanya. Ada bekas merah yang sangat kontras di pipinya yang pucat, dan sedikit darah menetes dari sudut bibirnya yang pecah.
Namun, ia tidak menangis. Ia justru mulai tertawa. Sebuah tawa kecil yang perlahan-lahan berubah menjadi tawa histeris yang memenuhi ruangan.
"Kau menamparku..." Siska berbisik, suaranya terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Ia menatap Arga dengan tatapan yang sudah tidak lagi mengandung cinta, melainkan kebencian murni yang sangat pekat.
Siska merangkak bangun, menggunakan meja sebagai tumpuan. Ia berdiri dengan tubuh yang sedikit limbung, namun matanya terkunci pada mata Arga dengan intensitas yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Kau baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu, Arga Mandala," ucap Siska, suaranya kini sangat rendah, hampir seperti desisan ular.
Ia melangkah mendekat, namun kali ini tidak untuk memeluk. Ia berhenti tepat di depan Arga, menatapnya dengan senyum miring yang mengerikan. "Kau lebih memilih harga dirimu dan istrimu yang suci itu daripada aku? Baik."
Siska menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan, lalu menjilat darahnya sendiri. "Kau baru saja menandatangani surat kematianmu sendiri, Arga. Mulai detik ini, aku tidak akan memintamu kembali. Aku akan menghancurkanmu sampai tidak ada satu pun bagian dari dirimu yang tersisa untuk dipeluk oleh Nabila. Aku akan meratakan hidupmu dengan tanah, dan aku akan memastikan kau melihat istrimu hancur perlahan-lahan di depan matamu sendiri."
"Keluar dari sini sekarang," Siska menunjuk ke arah pintu dengan jari yang gemetar. "Nikmatilah sisa-sisa malam terakhirmu sebagai orang bebas. Karena besok, badai yang sebenarnya akan datang, dan aku berjanji... kau akan memohon padaku untuk membunuhmu."
Arga menatap Siska untuk terakhir kalinya. Ia tidak melihat lagi wanita yang pernah ia cintai sepuluh tahun lalu. Ia hanya melihat sesosok monster yang diciptakan oleh ambisi dan obsesi yang menyimpang.
"Lakukan sesukamu, Siska," jawab Arga dengan suara yang sangat tenang. "Kau bisa menghancurkan karierku, kau bisa memfitnahku, tapi kau tidak akan pernah bisa menghancurkan jiwaku. Karena tidak seperti kau, aku punya seseorang yang akan tetap menggenggam tanganku bahkan saat dunia runtuh."
Arga berbalik dan berjalan keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi. Setiap langkahnya menjauh dari ruangan itu terasa seperti pelepasan beban yang sangat berat, namun ia juga tahu bahwa ancaman Siska bukanlah sekadar gertakan.
Saat pintu lift tertutup, Arga bersandar di dinding besi lift yang dingin. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Nabila.
"Nabila... kau benar. Semuanya harus diselesaikan sekarang. Besok pagi, kita temui pengacara kita dan Pak Roy. Tidak ada lagi negosiasi. Tidak ada lagi belas kasihan."
Di dalam ruangannya, Siska Roy masih berdiri di posisi yang sama. Ia menatap telapak tangannya, lalu menatap pantulan dirinya di jendela kaca yang gelap. Ia meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan ke nomor yang sudah lama tidak ia hubungi.
"Halo, ini Siska. Kirimkan semua berkas korupsi palsu itu ke Kejaksaan besok pagi jam delapan tepat. Dan siapkan saksi palsu yang sudah kita bayar. Aku ingin Arga Mandala ditangkap di depan istrinya sendiri."
Siska menjatuhkan ponselnya ke lantai hingga layarnya retak. Ia berjalan menuju dinding yang penuh foto Arga, mengambil salah satu foto dan merobeknya menjadi dua bagian.
"Jika aku tidak bisa memilikimu dalam cahaya, Arga... maka kita berdua akan membusuk dalam kegelapan," gumamnya, matanya menatap kosong ke arah kegelapan Jakarta.
Bayangan Siska berdiri sendirian di puncak menara kekuasaannya yang mulai goyah, sementara di kejauhan, sirine ambulan atau mungkin mobil polisi terdengar sayup-sayup, menandakan bahwa perang besar yang sesungguhnya baru saja dimulai.
...----------------...
Next Episode...
Pengen nonjok mulutnya Siska sampai bonyok Gedeg banget melihat tingkah laku manusia satu ni ..memaksa kemauannya sendiri yg kelewat batas wajar 😤😏
semoga Arga bisa melawan dan menghadapi Siska si wanita gatal demi rumah tangga nya dgn Nabila 🥰