NovelToon NovelToon
Luka Yang Menyala

Luka Yang Menyala

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Mereka merampas segalanya dari Galuh Astamaya.

Harga dirinya, keluarganya, dan bahkan tempat tinggalnya.

Ketika keadilan tak berpihak padanya, dan doa hanya berbalas sunyi.

Galuh memilih jalan yang berbeda. Ia tidak lagi mencari keadilan itu.

Ia menciptakannya sendiri ... dengan tangan yang pernah gemetar. Dengan hati yang sudah remuk. Kini dalam dirinya, luka itu menyala, siap melalap orang-orang yang telah menghancurkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Jika di Korea, Freya Bianca alias Galuh mengisi hari-harinya dengan belajar disiplin, membaca buku, dan pengendalian diri, maka di Indonesia, tepatnya di Jakarta ... Lingga Buana memilih jalan sebaliknya.

Gelar Sarjana Hukum kini tersemat di namanya. Foto wisuda terpajang rapi di media sosialnya, dipenuhi ucapan selamat dan pujian. Namun di balik citra itu, Lingga justru semakin tenggelam.

Ia tak lagi mendatangi tempat prostitusi. Terlalu berisiko, terlalu banyak mata. Kini ia memilih cara yang lebih 'aman'.

Sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta ... jauh dari rumah orang tuanya, jauh dari pengawasan, jauh dari nama keluarga Buana. Tempat itu ia sewa bukan hanya untuk tempat tinggal, melainkan untuk tempat mengabur nafsu birahi.

Malam itu, Lingga berdiri di depan jendela besar, memandangi lampu kota yang berkilau. Ponselnya bergetar.

Wanita malam: Aku sudah di bawah.

"Lekas naik," balasnya singkat.

Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Seorang wanita masuk dengan langkah ragu, membawa tubuhnya sebagai komoditas.

Lingga menatap tanpa senyum, tanpa sapaan. "Peraturannya sudah jelas," katanya dingin. "Tidak banyak bicara. Tidak banyak tanya. Langsung pada pekerjaanmu."

Wanita itu mengangguk cepat.

Bagi Lingga, ini bukan tentang kenikmatan lagi ... melainkan pelarian. Cara untuk membungkam bayangan Galuh yang terus muncul setiap kali ia sendirian. Meski ditepis puluhan kali pun, bayangan Galuh tetap hadir. Bukan membuat ia menyesal dan merasa bersalah, melainkan Lingga merasa belum puas meniduri Galuh.

Lingga duduk di sofa, menuangkan minuman keras, meneguk tanpa menikmati. Dan wanita malam itu mulai membuka pengait celananya. Menurunkan, lalu mengeluarkan benda pusaka miliknya. "Puaskan aku!" perintahnya dengan suara berat.

"Baik, Tuan." Wanita malam mulai melakukan tugasnya.

Di meja, ijazah hukum tergeletak begitu saja ... sebuah simbol ironi.

Lingga belajar tentang keadilan ... namun hidup dalam kebohongan. Ia paham hukum ... namun terus melanggar batas nurani.

Jauh dari sana, di negeri lain, Freya Bianca sedang membangun dirinya dengan sabar ... lapis demi lapis, dengan pengetahuan dan kendali.

Sementara Lingga Buana, meski bergelar sarjana hukum, justru memilih tenggelam dalam pelarian yang sama ... hanya berpindah tempat, bukan arah.

Dan tanpa ia sadari, setiap langkah menjauh dari rumah orang tuanya ... adalah langkah mendekat ke titik di mana tak ada lagi yang bisa melindunginya.

_____

Rumah besar di Cisaat itu terasa hangat oleh cahaya lampu kuning dan aroma teh sore. Zainal Buana duduk di ruang keluarga, bersandar tenang di kursi empuknya ... wajah seorang lelaki yang merasa masa depannya masih panjang dan penuh kuasa.

Di hadapannya, Lastri Rukmiati duduk anggun, senyum puas tak lepas dari bibirnya. Sementara Pitaloka Buana, putri bungsu mereka, terlihat antusias, matanya berbinar seolah sedang membayangkan dunia yang lebih besar.

"Jadi sudah mantap nih, Yah?" tanya Lastri lembut namun penuh perhitungan. "Setelah masa jabatan Ayah sebagai dewan selesai, Ayah mau maju mencalonkan diri sebagai kepala provinsi?"

Zainal mengangguk pelan. "Itu langkah paling logis. Jaringan sudah ada, dukungan politik juga banyak, kepercayaan masyarakat sudah kita dapat ... hanya tinggal menunggu waktu saja."

Pitaloka mencondongkan tubuhnya, tak bisa menyembunyikan kegembiraan. "Berarti kekuasaan Ayah tidak akan terbatas, ya, Bunda?" katanya ceria.

Lastri tersenyum lebar, lalu menatap putrinya dengan mata penuh ambisi yang diwariskan. "Tentu, Nak," jawabnya tanpa ragu. "Bukan hanya kekuasaan. Tapi kekayaan dan jaringan bisnis kita juga akan semakin luas."

Zainal ikut tersenyum. Ia mengangkat cangkir tehnya, seolah sedang bersulang dalam diam. "Dengan menjadi  gubernur," katanya tenang, "Kita tidak lagi sekadar ikut arus. Kita yang menentukan arah. Semuanya akan ada di dalam genggaman Ayah."

Pitaloka tertawa kecil, jelas membayangkan kehidupan yang lebih megah, lebih berpengaruh. Tak satu pun dari mereka membicarakan cara ... yang penting adalah hasil.

Di ruangan itu, rencana besar disusun dengan suara lembut dan senyum keluarga. Tak ada kata etika. Tak ada kata pertanggungjawaban.

Yang ada hanya ambisi yang diwariskan dari ayah ke anak, dari kekuasaan ke kekuasaan.

Pembicaraan keluarga itu terhenti ketika suara sepeda motor sport terdengar memasuki halaman. Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi.

Lastri menoleh ke arah pintu. "Sepertinya itu Safwan sudah datang."

Nama itu langsung membuat Pitaloka berdiri. Wajahnya berseri, senyum antusias tak ia sembunyikan sedikit pun. Ia merapikan rambutnya sekilas sebelum melangkah cepat ke ruang depan. Diikuti kedua orang tuanya.

Begitu pintu dibuka, Safwan Haidar berdiri di sana dengan pakaian kasual rapi dan senyum ramah yang terlatih. Tak ada yang tersisa dari wajah muram lelaki yang dulu pernah mencintai Galuh ... yang ada kini hanyalah sosok tenang, penuh kontrol.

"Selamat sore, Pak, Bu," sapanya sopan sambil sedikit menunduk.

Zainal mengangguk singkat, menilai dengan mata seorang politisi. "Sore juga, Safwan. Kamu mau mengajak Pitaloka keluar ya?"

"Iya, Pak," jawab Safwan. "Saya mau mengajak Pitaloka keliling kebun teh."

Pitaloka langsung menghampirinya.

"Aku sudah siap," katanya ceria. "Ayo!"

Safwan tersenyum. "Iya, ayo. Ibu, Pak Dewan ... kami pergi dulu."

Zainal berseru. "Hati-hati!"

Lastri memperhatikan mereka dengan ekspresi puas. Di matanya, Safwan adalah pasangan yang pantas ... berlatar baik, pembawaan tenang, dan mudah dibentuk. "Jangan pulang terlalu malam," pesan Lastri lembut.

Pitaloka mengangguk cepat. "Iya, Bunda."

Mereka melangkah keluar bersama. Pitaloka berbicara riang sepanjang jalan, sementara Safwan mendengarkan dengan sabar. Namun sesekali, pandangannya menerawang ... seolah bayangan masa lalu masih sesekali menyelinap, meski tak pernah ia sebutkan.

Di balik senyum sopannya, ada satu nama yang tetap diam di kepalanya. Nama yang tak lagi hidup di dunia mereka ... atau setidaknya, itulah yang ia yakini.

Di rumah besar itu, Zainal kembali duduk dengan tenang.

Lastri meminum tehnya. "Yah ... kalau hubungan Pita dan Safwan langgeng sampai menikah, apakah Ayah setuju?"

Zainal mengusap dagunya. "Ayah sih setuju-setuju saja kalau Pita-nya mau. Lagian keluarga-nya Safwan kan orang berada juga. Tanah orang tuanya di mana-mana. Dan yang paling penting, Pak Lurah Komar tahun ini akan mencalonkan diri menjadi bupati. Jadi ... sah-sah saja kalau Pita dan Safwan menikah."

Lastri kembali meneguk teh-nya. "Syukurlah kalau Ayah setuju. Soalnya Bunda lihat ... Pita begitu cinta pada Safwan. Dari dulu malahan. Sejak dia masih duduk di bangku SMP. Tapi waktu itu, Safwan-nya malah lebih tertarik pada si Galuh. Untungnya, gadis miskin tak tahu diri itu sudah mati. Jadi, anak kita bisa leluasa mengejar lelaki yang ia cintai."

"Haha ..." Zainal tertawa lebar. "Untung aku bergerak cepat melenyapkan dia dan keluarganya."

Tak ada satu pun dari mereka yang merasa bersalah. Seolah kejahatan itu adalah hal yang kecil.

_______

Di sebuah kafe kecil di sudut kota, musik lembut mengalun, pengunjung sibuk dengan urusan masing-masing. Namun di salah satu meja pojok, percakapan yang terjadi jauh dari kata biasa.

Seorang wanita berpakaian seksi duduk bersilang kaki, kacamata hitam masih bertengger di wajahnya meski ruangan tertutup.

Di depannya, seorang lelaki berkepala plontos menyesap kopinya dengan tenang, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan. Ia meletakkan cangkir perlahan. "Bagaimana?" tanyanya tanpa basa-basi. "Apa kau sudah melakukan apa yang kuperintahkan?"

Wanita itu menyunggingkan senyum tipis. Ia mencondongkan tubuh sedikit, merendahkan suara. "Sudah," jawabnya mantap. "Kamera tersembunyi sudah terpasang di apartemen anak dewan itu. Sudutnya aman. Kamar dan ruang utama terekam jelas."

Lelaki plontos itu mengangguk pelan. Tak ada keterkejutan di wajahnya, hanya kepuasan dingin. "Bagus," katanya singkat.

"Tuan besar tinggal memantaunya," balas si wanita.

Si lelaki mengangguk, lalu ia meraih ponselnya, menatap layar sejenak. "Nanti semua ini akan aku sampaikan pada Tuan besar."

Wanita itu berdiri, merapikan jaketnya. "Siap," jawabnya singkat. "Kalau ada perintah lanjutan, aku menunggu."

"Oke."

Mereka berpisah tanpa saling menoleh kembali ... seperti dua orang asing yang tak pernah berbagi rahasia apa pun.

1
partini
potong aja burung nya ,kan bagus nafsu membara tapi tidak bisa
Ama Apr: haha iya
total 1 replies
partini
hemmmm tuh lobang ndowerr ya Thor 🤣🤣🤣🤣
Ama Apr: haha, kayaknya sih kk
total 1 replies
partini
waduh
Ama Apr: 😵😵😵 Wkwk
total 1 replies
partini
lanjut
Ama Apr: Siap, makasih kk Parti😘
total 1 replies
partini
tadi dapat notif belum ku buka
Ama Apr: makasih kk🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!