Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 KHSC
Kamar tidur utama Arjuna Bhaskara sore itu terasa seperti pusat badai yang tenang. Nareswari duduk di depan meja rias yang mewah, di bawah lampu kristal yang memantulkan cahaya berkilauan. Ia mengenakan jilbab silk berwarna soft lilac yang serasi dengan gaun barunya.
Setelah insiden penolakan gaun Paris, Juna secara mengejutkan menelepon penata busana lain dan memesan gaun khusus yang memenuhi kriteria Nares: panjang, berlengan penuh, dan memiliki leher tinggi, tetapi tetap menggunakan bahan sutra Indonesia yang elegan dan potongan A-line yang anggun.
Penata rias, seorang profesional yang mahal, bergerak dengan hati-hati. Ia menerapkan riasan yang sangat minimalis, membiarkan kulit sehat Nares yang sawo matang bersinar, hanya menonjolkan mata teduhnya dengan sedikit eyeliner dan lipstik nude yang lembut. Nares sama sekali tidak terlihat seperti wanita yang mencoba menjadi orang lain; ia terlihat seperti versi dirinya yang paling murni, tetapi diselimuti kemewahan.
Juna berdiri di ambang pintu, bersandar kaku, mengamati proses itu. Ia sudah mengenakan setelan tuksedo yang sempurna. Pandangan Juna yang intens membuat penata rias gugup, tetapi Nares merasa tatapan itu lebih ditujukan pada dirinya sendiri, pada fakta bahwa ia membiarkan kekacauan ini terjadi di kamarnya.
“Perhiasannya mana?” tanya Juna tiba-tiba.
Nares menoleh. “Bu Melati bilang sudah disiapkan di dalam kotak, di lemari.”
Juna berjalan, membuka kotak velvet hitam di dalam brankas. Ia mengeluarkan kalung berlian yang menakjubkan, sederhana namun harganya tak terbayangkan.
“Kau harus memakainya. Kita tidak ingin tamu berpikir Bhaskara Corp sedang bangkrut,” kata Juna.
Nares mengenakan kalung itu. Ia melihat dirinya di cermin. Untuk pertama kalinya, ia melihat seorang wanita yang ia kenal—Nareswari—diposisikan dalam bingkai yang sama sekali berbeda—Nyonya Bhaskara.
Saat penata rias selesai, ia mundur, menatap hasil kerjanya dengan kagum. “Sempurna, Nyonya. Sungguh alami. Anda adalah kecantikan yang berbeda dari yang biasa kami tangani.”
Nares berdiri. Ia berjalan mendekati Juna, sedikit ragu. Ia harus mencium tangan suaminya, ritual yang ia lakukan di setiap pertemuan formal.
Nares mengangkat tangan Juna, dan mencium punggung tangannya dengan hormat. Juna tidak menarik tangannya. Sentuhan itu, meskipun formal, mengirimkan gelombang kejut yang berbeda pada Juna daripada sentuhan tak sengaja kemarin. Sentuhan ini adalah pengakuan di depan publik.
Juna menatapnya, matanya tajam. “Ingat perannya, Nareswari. Jawab seperlunya. Jangan pernah bicara tentang kontrak itu pada siapa pun. Dan jangan pernah, sekali pun, tampak gugup. Tunjukkan pada mereka kau adalah pemilik tempat itu.”
Nares mengangguk. “Aku mengerti. Terima kasih, Juna.”
Juna kemudian meraih pinggang Nares. Sentuhan itu terasa dingin dan kaku, murni posesif, bukan romantis.
“Ayo, istriku. Saatnya pertunjukan,” bisik Juna di telinga Nares, memancarkan aura bahaya dan kekuasaan.
***
Lobi Grand Ballroom di hotel bintang lima penuh sesak dengan tokoh bisnis, politisi, dan sosialita Ibukota. Udara dipenuhi dengan gemerlap berlian, kilauan satin, dan aroma parfum berat yang saling bersaing. Ini adalah lingkungan yang Juna kuasai, tetapi lingkungan yang Nares asing.
Saat Juna dan Nares memasuki ruangan, semua mata tertuju pada mereka. Juna, yang tampan dan karismatik, selalu menjadi pusat perhatian. Namun malam itu, perhatian tertuju pada Nares. Gadis muda yang menjadi misteri selama dua minggu ini, yang berhasil menaklukkan CEO paling eligible di Asia.
Nares berjalan di samping Juna, tangannya diselipkan di lengan suaminya. Nares tidak terlihat gugup. Ia berjalan dengan punggung tegak, matanya fokus, dan senyumnya sopan. Ia memancarkan ketenangan seorang wanita yang tahu nilainya, bukan seorang pendatang baru yang panik. Juna harus mengakui, Nares adalah sandiwara yang sempurna.
Mereka langsung dikerumuni. Nares harus menjabat tangan banyak orang, mendengarkan ucapan selamat yang sinis dan pujian yang palsu. Ia menjawab semua pertanyaan dengan singkat, cerdas, dan sopan, menjaga batasan emosionalnya, persis seperti yang Juna perintahkan.
“Selamat, Juna. Istrimu cantik sekali, tapi kelihatannya sangat muda,” kata seorang investor veteran.
“Terima kasih. Istri saya adalah lulusan terbaik di angkatannya. Kecantikan adalah bonus, tapi kecerdasan yang utama,” jawab Juna dengan cepat, kalimat yang secara halus menaikkan nilai Nares di mata para pebisnis.
Nares merasakan genggaman Juna di lengannya mengeras. Juna tidak sedang berakting. Juna sedang melindunginya.
***
Di tengah kerumunan, Larasati muncul. Ia mengenakan gaun merah menyala, tampak luar biasa, memancarkan aura drama queen. Ia didampingi oleh seorang pengusaha properti senior, yang ia kenal sebagai sekutu.
Laras berjalan mendekati Juna dan Nares, senyumnya tidak mencapai matanya.
“Arjuna. Senang melihatmu. Dan Nareswari… kau terlihat berbeda. Gaunmu sangat sopan,” Laras memulai, nadanya penuh sarkasme.
“Larasati. Kau terlihat cantik, seperti biasa,” balas Juna dingin, mempertahankan senyum palsu yang ia kuasai.
Laras mengabaikan Juna dan fokus pada Nares. “Aku dengar kau sudah pindah ke kamar Juna. Cepat sekali, ya? Aku pikir pernikahan kalian murni masalah bisnis. Aku bahkan sempat mendengar desas-desus bahwa pernikahan ini hanya akal-akalan Juna untuk mengambil alih hak waris dari Pak Harjo.”
Nares terkejut. Laras menyerang tepat pada titik terlemah mereka: keabsahan pernikahan mereka. Kerumunan di sekitar mereka menajamkan telinga.
“Laras, jaga batas bicaramu,” Juna memperingatkan, suaranya mengandung ancaman.
Laras tidak peduli. Ia menatap Nares dengan pandangan menantang. “Aku kenal Juna. Dia tidak mungkin menikah hanya karena cinta. Jadi, Nareswari, jujur saja. Berapa lama kontrakmu? Setahun? Dua tahun? Aku harap kau menggunakan uang yang kau dapat dengan bijak.”
Nares menarik napas, siap membalas dengan kata-kata yang sopan namun mematikan. Namun, sebelum ia sempat berbicara, Juna melangkah maju.
Juna melepaskan tangannya dari lengan Nares, lalu memegang wajah Nares dengan kedua tangannya, memaksanya menatap Juna.
"Dengar, Laras, dan kalian semua yang mendengar," Juna berbicara dengan suara yang lantang dan jelas, menarik perhatian seluruh ballroom.
“Pernikahan ini bukan kontrak waktu, atau sandiwara. Ini adalah pernikahan yang kami rencanakan untuk masa depan. Dan aku tidak peduli dengan desas-desus. Aku sudah mengambil Nareswari sebagai istriku, bukan hanya untuk memenuhi syarat waris, tetapi karena ia adalah satu-satunya wanita yang bisa membawa ketenangan dalam hidupku.”
Pengakuan itu membuat semua orang terdiam, termasuk Nares. Juna, yang selalu dingin dan logis, menggunakan kata "ketenangan"—sebuah emosi.
Larasati tampak marah. “Ketenangan? Juna, jangan konyol. Dia gadis desa yang kau beli untuk kontrak!”
Juna mengabaikan Laras. Ia menatap Nares, tatapannya kini bukan akting, melainkan penuh gejolak emosi.
“Dan dengar baik-baik, Nareswari adalah Nyonyaku, pemilik segala hal yang kubangun, dan dia akan memberiku keturunan yang akan mewarisi Bhaskara Corp,” kata Juna, lalu ia melakukan hal yang paling mengejutkan:
Juna mencium Nares di depan ratusan pasang mata.
Ciuman itu berbeda dari yang pertama. Ciuman pertama dingin dan penuh amarah. Ciuman ini hangat, menuntut, dan penuh pernyataan kepemilikan yang mendominasi. Ini adalah ciuman publik, ciuman sang CEO untuk menegaskan kekuasaannya dan mengumumkan kepada dunia bahwa wanita ini miliknya, dan tidak ada lagi ruang untuk mantan kekasih atau desas-desus.
Nares terkejut, seluruh tubuhnya menegang, tetapi ia membalas ciuman itu dengan pasrah, menyadari bahwa ia sedang membantu suaminya memenangkan pertempuran image paling penting dalam hidupnya.
Ciuman itu berlangsung singkat, tetapi terasa seperti keabadian. Ketika Juna menarik diri, ia menatap mata Nares, seolah-olah meminta pengampunan atas keterusterangan emosionalnya.
Larasati menatap pemandangan itu, wajahnya pucat pasi, dan ia berbalik, meninggalkan ballroom dalam kemarahan yang membara. Kerumunan segera bubar, berbisik-bisik, tetapi tidak ada lagi yang berani meragukan pernikahan Juna dan Nareswari.
Juna kembali menggenggam tangan Nares, tetapi kini genggamannya lebih longgar, dan ia merasakan telapak tangannya sedikit berkeringat.
“Selamat, Nyonya Bhaskara. Kau baru saja sukses dalam debut pertamamu,” bisik Juna di telinga Nares, suaranya sedikit bergetar.
****
Di dalam mobil Juna, keheningan terasa memekakkan telinga. Nares bersandar di kursi, masih memproses ciuman publik yang menggelegar itu.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Nares, suaranya hampir tak terdengar.
Juna mengemudi dengan cepat, tatapannya fokus pada jalan raya. “Aku harus menutup mulut Larasati dan semua orang. Satu-satunya cara adalah dengan pernyataan yang tidak bisa dibantah: janji keturunan. Itu membuat pernikahan kita tampak permanen.”
“Tapi, Juna, kau melanggar kontrak kita! Kau bilang kita tidak akan pernah… dan kau juga menyebut ketenangan! Kau bilang kau membenci perasaan!” Nares menuntut.
Juna memukul setir mobil dengan frustrasi. “Aku terpaksa, Nareswari! Kata-kata itu keluar begitu saja. Dan ketenangan? Ya, aku menyebutnya. Karena sejak kau masuk ke rumahku, dan terutama setelah kau tidur di kamarku, aku merasakan ketenangan. Itu adalah efek samping yang tidak kuharapkan dari kontrak ini.”
“Efek samping?”
“Ya! Aku tahu kau mendoakanku setiap pagi. Aku tahu kau akan merawatku saat aku sakit. Aku tahu kau akan memastikan aku tidak terlihat bodoh di hadapan publik. Itu memberiku ketenangan, Nareswari. Itu adalah alat yang kau berikan padaku. Jangan menganggapnya lebih dari itu,” Juna berbohong, meyakinkan dirinya sendiri.
Nares menatap Juna. Ia tahu Juna berbohong. Mata Juna, meskipun terlihat marah, menunjukkan kebingungan yang tulus. Juna tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri di depan Nares, dan itu membuatnya marah.
“Dan tentang keturunan yang kau sebutkan di depan umum?” Nares bertanya, suaranya berubah menjadi lebih serius.
Juna terdiam lama. Ia menghentikan mobilnya di garasi penthouse.
Juna mematikan mesin, menoleh, menatap Nares dengan tatapan yang sangat intens. Udara di dalam mobil terasa panas.
“Itu hanya pernyataan strategis, Nareswari. Tapi, jika orang-orang seperti Laras terus mengusik, kita mungkin harus membuat pernikahan ini lebih meyakinkan secara legal dan moral,” Juna berbisik, lalu ia menyentuh bibirnya, mengingat sentuhan mereka yang baru saja terjadi.
“Aku tidak memaksamu. Kontrak tetap berjalan. Tapi, kau adalah Nyonya Bhaskara sekarang. Sandiwara kita sudah dimulai. Dan di depan umum, kita adalah suami dan istri yang akan segera memiliki pewaris. Kau harus menjalani peran itu, Nareswari. Selama kita di luar kamar,” Juna mengakhiri, membuka pintu mobil, dan berjalan cepat menuju lift, meninggalkan Nares dengan pertanyaan besar dan sebuah cincin berlian yang berkilauan di jarinya.
Nares duduk sejenak di dalam mobil, memegang kalung berliannya. Ia baru saja dicium di depan umum oleh pria yang menyangkal perasaannya, pria yang menganggap ketulusannya sebagai efek samping, tetapi pria yang baru saja menempatkan dirinya sebagai istrinya yang sah dan permanen di mata dunia. Kontrak itu kini bukan hanya antara mereka berdua, tetapi sudah menjadi komitmen yang disaksikan oleh seluruh Ibukota.
***
Nares masuk ke kamar dan melihat Juna sudah berdiri di samping tempat tidur. Juna telah membuka dasinya, tetapi jasnya masih menempel.
“Kau harus tidur. Kita harus segera melupakan apa yang terjadi malam ini,” kata Juna, suaranya tegang.
“Aku tidak bisa melupakannya, Juna. Kau menciumku di depan umum,” Nares membalas.
“Itu akting. Dan itu sukses. Sekarang kau aman,” kata Juna.
Nares berjalan mendekati sofa, mengambil bantalnya.
Juna menatapnya. Ia merasa ingin menarik Nares ke pelukannya, tetapi ia melawan dorongan itu. Ia benci betapa ia menginginkan ketenangan Nares.
“Tunggu,” kata Juna, suaranya sedikit memerintah. “Malam ini, kau tidur di tempat tidur.”
Nares berhenti. “Tapi… kontrak kita?”
“Aku tidak bisa tidur di lantai lagi, Nareswari,” Juna mengaku, matanya sedikit memohon. “Aku sudah terbiasa dengan suara do’amu dan kehadiranmu. Kau boleh tidur di sana. Di sisi sana. Aku akan tidur di sini. Kita akan memasang bantal di tengah sebagai batas. Tapi kau harus tidur di tempat tidur. Aku tidak ingin ada orang yang melihatmu tidur di sofa. Itu akan merusak image kita.”
Nares mengangguk, menyadari bahwa Juna akhirnya menyerah pada kebutuhan manusiawinya, dan ia menutupi penyerahan itu dengan alasan strategis.
Nares berbaring di sisi tempat tidur yang jauh. Juna mematikan lampu, dan berbaring membelakanginya. Di antara mereka, ada bantal yang berfungsi sebagai tembok pertahanan Juna. Namun, di dalam hati mereka, bantal itu terasa tipis, goyah, dan siap roboh kapan saja.
Bersambung....