NovelToon NovelToon
My Dangerous Assistant

My Dangerous Assistant

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita perkasa / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:18.5k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

"Tugasmu sederhana: seduh kopi hitamku tepat pukul tujuh pagi, dan pastikan aku tidak mati hari ini."

Bagi Adinda Elizabeth (23), William Bagaskara adalah tiket keluar dari kemiskinan. Pria itu arogan, dingin, dan menyebalkan. Namun, Adinda tahu bagaimana cara mematahkan leher lawan secepat ia menyeduh kopi.

Bagi William (28), Adinda adalah anomali. Seorang gadis kecil yang berani menatap matanya tanpa rasa takut, sekaligus satu-satunya orang yang rela berdarah demi melindunginya.

Di tengah intrik bisnis yang kejam dan teror yang mengintai, sebuah kontrak kerja berubah menjadi pertaruhan hati. Bisakah sang CEO angkuh luluh pada gadis yang dibayarnya untuk terluka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pertama Yang Cukup Memuaskan

Jam tiga pagi. Dapur rumah kontrakan tua di Cipete itu sudah menyala terang benderang, membelah kesunyian lingkungan yang masih terlelap. Aroma bawang putih goreng, irisan serai, dan cabai rawit merah yang disiram minyak panas memenuhi udara, menciptakan sensasi pedas yang menggugah selera sekaligus menusuk hidung.

Adinda Elizabeth berdiri di depan kompor gas bertekanan tinggi yang baru dibelinya kemarin. Rambutnya diikat cepol tinggi, kencang dan rapi, tanpa ada satu helai pun yang lolos. Ia mengenakan apron hitam bertuliskan "Dapur Gerilya" yang disablon manual oleh Arthur semalam. Di tangannya, spatula besi bergerak lincah membalik ratusan potong ayam yang sedang digoreng setengah matang.

Ini bukan sekadar memasak. Bagi Adinda, ini adalah operasi taktis.

"Ayam kloter satu, tiriskan," gumamnya pada diri sendiri. Tangannya bergerak cepat menyaring ayam, menaruhnya di nampan stainless, lalu memasukkan kloter kedua dengan presisi yang menakutkan. Tidak ada gerakan yang sia-sia. Efisiensi adalah kunci.

Di sudut ruangan, Arthur yang biasanya bangun siang terlihat mengantuk tapi semangat. Dia sedang memasukkan nasi hangat ke dalam rice cooker jumbo berkapasitas 20 liter.

"Gila lo, Din," komentar Arthur sambil menguap. "Gue belum pernah liat orang goreng ayam kayak lagi ngerakit bom. Serius banget mukanya."

Adinda menoleh sekilas, matanya tajam namun ada binar antusiasme di sana. "Logistik adalah jantung pertempuran, Thur. Kalau makanan telat, pasukan—maksud gue pelanggan—bakal ngamuk. Kita nggak boleh kalah sebelum perang dimulai."

Hari ini adalah debut "Dapur Gerilya". Mereka berhasil mendapatkan slot booth di acara bazaar festival musik indie di Parkir Timur Senayan. Target pasarnya jelas: ribuan anak muda yang lapar, haus, dan butuh asupan energi cepat di tengah terik matahari Jakarta.

Pukul sembilan pagi, venue acara sudah mulai dipadati pengunjung. Matahari bersinar terik tanpa ampun, memantul di aspal panas.

Booth "Dapur Gerilya" terlihat mencolok di antara tenant lainnya. Arthur mendesainnya dengan gaya industrial-grunge. Menggunakan rangka besi hitam, spanduk kain blacu yang dicoret cat semprot merah neon, dan tumpukan peti kayu bekas sebagai meja saji.

"DAPUR GERILYA: SERANGAN RASA TIB-TIBA!" begitu bunyi slogan di spanduk mereka.

Siska dan Reni, yang bertugas di garda depan, sudah siap dengan outfit kasual yang modis. Mereka bertugas menarik massa dan memegang kasir. Arthur menjadi runner serbaguna, sementara Adinda adalah komandan dapur yang tersembunyi di balik sekat kain hitam.

"Oke, tim," Adinda mengumpulkan mereka sejenak sebelum gerbang utama dibuka. "Ingat SOP. Senyum, sapa, cepat. Maksimal penyajian 45 detik per mangkuk. Jangan panik kalau antrean panjang. Fokus satu per satu. Mengerti?"

"Siap, Komandan!" jawab teman-temannya serempak sambil tertawa, namun mata mereka memancarkan tekad yang sama.

Lima belas menit pertama, suasana masih tenang. Hanya ada satu dua orang yang lewat, melirik booth mereka dengan penasaran.

Namun, begitu jam makan siang tiba, "perang" yang sesungguhnya dimulai.

Aroma Sambal Matah khas Adinda—perpaduan bawang merah, serai, daun jeruk, dan terasi bakar yang disiram minyak kelapa panas—ternyata menjadi senjata pemusnah massal. Angin membawa aroma itu ke tengah kerumunan penonton konser, memancing perut-perut yang lapar untuk mendekat.

"Kak, pesen Ayam Sambal Matah dua!"

"Satu yang Telur Asin, minumnya Mojito Leci!"

Pesanan mulai berdatangan. Awalnya satu-satu, lalu menjadi lima, dan tiba-tiba menjadi puluhan sekaligus.

Di balik sekat dapur sempit seluas 2x2 meter itu, Adinda berubah menjadi mesin.

Panas dari kompor dan udara Jakarta yang mencapai 34 derajat Celsius membuat keringat mengucur deras di pelipis dan punggungnya. Tapi Adinda tidak peduli. Dia masuk ke dalam "zona"-nya. Zona yang sama saat dia sedang baku tembak atau bela diri, di mana waktu terasa melambat dan fokusnya menajam.

Tangan kirinya mengambil mangkuk kertas (rice bowl). Tangan kanannya menyendok nasi.

Detik berikutnya, ia menyendok ayam goreng tepung yang renyah.

Detik selanjutnya, siraman sauce telur asin yang creamy dan foamy.

Terakhir, taburan daun kari kering sebagai garnish.

Set. Set. Set. Selesai.

"Order 045, siap!" seru Adinda, meletakkan mangkuk di jendela saji.

Arthur dengan sigap menyambarnya dan memberikannya ke pelanggan.

"Gila, rame banget!" teriak Siska di bagian kasir, suaranya hampir kalah oleh dentuman bass dari panggung musik. "Stok nasi tinggal dikit di warmer depan!"

"Arthur! Ambil cadangan nasi di termos belakang! Reni, bantu plating Mojito, es batunya jangan pelit!" perintah Adinda tegas tanpa berhenti mengaduk sambal matah baru.

Adinda tidak merasa lelah. Justru sebaliknya, ia merasa hidup.

Setiap kali ia mendengar seruan pelanggan yang berkata, "Wih, enak banget nih ayamnya!" atau "Gila, sambalnya nampol!", ada ledakan dopamin di otak Adinda.

Ini berbeda dengan kepuasan saat melumpuhkan musuh. Saat menjadi bodyguard, kepuasan Adinda didapat dari "tidak adanya kejadian buruk". Jika hari tenang, berarti dia sukses.

Tapi di sini, kepuasan itu nyata dan positif. Dia menciptakan sesuatu. Dia memberi makan orang. Dia membuat orang tersenyum dengan karyanya. Dan yang paling penting, dia melakukan ini semua dengan tangannya sendiri, dengan modalnya sendiri, tanpa bayang-bayang nama besar Bagaskara.

Pukul dua siang, antrean di depan booth Dapur Gerilya mengular sampai menghalangi jalan.

"Mbak, saya mau lima porsi!"

"Mas, jangan abis dulu dong!"

Adinda mengelap keringat di dahinya dengan lengan baju. Tangannya mulai terasa pegal karena terus-menerus mengaduk dan mengangkat wajan, tapi adrenalin membuatnya terus bergerak.

"Din! Ayam tinggal sepuluh porsi!" lapor Arthur panik tapi senang. "Gimana nih? Masih banyak yang antre!"

Adinda mengecek stok di coolbox. Kosong.

"Kita sold out," putus Adinda sambil tersenyum miring. Senyum kemenangan. "Bilang ke antrean belakang, maaf kita habis. Tawarkan pre-order buat event minggu depan kalau mereka mau."

Arthur langsung berlari ke depan, mengambil spanduk kecil bertuliskan LUDES TERJUAL / SOLD OUT dan menempelkannya di meja kasir.

Terdengar suara kecewa "Yaaah..." dari para pelanggan yang tidak kebagian, tapi itu justru menjadi bukti kesuksesan mereka.

Siska dan Reni langsung merosot duduk di kursi plastik, mengipasi diri dengan kardus bekas. Wajah mereka merah padam kepanasan, makeup sudah luntur, tapi senyum mereka lebar sekali.

"Gila..." desah Siska. "Kakiku mau copot. Tapi seru banget!"

Adinda mematikan kompor. Suara desis gas berhenti. Hening sejenak di dapur kecil itu, hanya terdengar napas mereka yang memburu.

Adinda melepas apronnya yang kotor oleh minyak dan noda saus. Dia keluar dari dapur, bergabung dengan teman-temannya. Dia mengambil sebotol air mineral dingin, meneguknya sampai habis tak bersisa.

"Kita berhasil," kata Adinda pelan, lalu tertawa. "Kita beneran berhasil."

Matahari mulai terbenam di ufuk barat, melukis langit Senayan dengan warna ungu kemerahan. Acara musik masih berlangsung riuh, tapi booth Dapur Gerilya sudah bersih dan rapi.

Mereka berempat duduk melingkar di atas terpal di belakang booth, menghitung hasil "jarahan" hari ini.

Siska, sebagai bendahara, menghitung lembaran uang tunai dan merekap transaksi QRIS di ponselnya. Jari-jarinya menari di atas kalkulator.

Adinda memperhatikan dengan jantung berdebar. Dia tidak berharap untung besar di hari pertama, yang penting modal kembali.

"Oke," kata Siska, menatap teman-temannya dengan mata melotot. "Kalian siap denger angkanya?"

"Berapa? Jangan bikin deg-degan!" seru Arthur.

"Total omzet kotor kita hari ini..." Siska menahan napas. "Lima juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah."

Hening.

Arthur melongo. Reni menutup mulutnya tak percaya. Adinda terdiam, kalkulasi cepat berjalan di kepalanya.

Modal bahan baku sekitar dua juta. Sewa booth satu juta. Operasional lima ratus ribu.

"Itu... profit bersih kita sekitar dua juta lebih," gumam Adinda. "Dalam satu hari?"

"DUA JUTA!" teriak Arthur histeris, langsung memeluk Arthur dan Reni. "Kita kaya, Men! Kita pebisnis sukses!"

Adinda tertawa melihat tingkah teman-temannya. Rasa hangat menjalar di dadanya.

Dua juta rupiah.

Bagi William Bagaskara, uang segitu mungkin hanya harga sebotol wine murah atau sekali makan siang. Uang segitu tidak ada artinya di neraca keuangan Bagaskara Corp yang triliunan.

Tapi bagi Adinda, dua juta rupiah ini adalah uang paling berharga yang pernah ia pegang. Uang ini bukan pemberian. Uang ini bukan gaji karena melindungi nyawa orang kaya. Uang ini adalah hasil keringatnya memotong bawang, hasil tangannya menggoreng ayam, dan hasil keberaniannya untuk berdiri di atas kaki sendiri.

Adinda mengambil selembar uang seratus ribuan dari tumpukan itu. Ia menatap gambar Soekarno-Hatta di sana.

"Ini awal," bisik Adinda dalam hati.

Di tengah hiruk pikuk festival itu, untuk pertama kalinya dalam sebulan, bayangan William tidak muncul menghantui pikirannya. Sepanjang hari ini, ia terlalu sibuk, terlalu lelah, dan terlalu bangga untuk meratapi nasib.

Adinda menatap langit senja Jakarta.

"Lihat aku, Tuan Bagaskara," batinnya. "Aku bisa hidup tanpamu. Aku bisa bahagia tanpamu. Dan aku akan membangun kerajaanku sendiri, satu mangkuk ayam dalam satu waktu."

"Woy, bengong aja! Ayo rayain! Kita beli sate taichan!" ajak Arthur sambil menarik lengan Adinda.

Adinda tersenyum lebar, mengangguk mantap. "Ayo! Traktiran bos Adinda!"

Mereka berjalan beriringan menembus kerumunan, tertawa lepas, meninggalkan booth kosong yang menjadi saksi bisu kebangkitan seorang Adinda Elizabeth.

1
Narimah Ahmad
mulai
gina altira
Edward yang mendewakan kekuasaan, kasta dan harta. di hatinya ga ada Cinta dan kasih sayang sebagai ayah.
gina altira
semoga tidak ada lagi yang aneh dengan pasangan DINDA DAN WILLIAM
Humaira izzatunisa
luar biasa
Joretah Isabella Khael
Terus terang, ini adalah cerita terbaik yang pernah saya baca di sini. Saya sungguh jatuh cinta dengan cerita mu author. Terima kasih sudah membuat karya semenarik ini. Saya penikmat dan peminat karyamu dari Sabah, Malaysia. Dan buat pertama kali saya meninggalkan jejak komen pada cerita yang ku baca di Audiotoon ini. Semangat terus berkarya kakak author🙏😊
Azizah az: setuju kk, baru Nemu ini cerita
total 2 replies
gina altira
Edward terlalu meremehkan William,
Nurhartiningsih
ada ya orang tua sejahat itu
Doni Yan
bagus dan seru
Fatimah Wijanarko
sikit banget thor
lanjut thor
gina altira
bentar banget Thor, double up dong please 😍😍
Ridho Meram
Next, seru banget
gina altira
seruuu,, betul jgn kasih celah itu bapaknya William
gina altira
Semoga William sudah mengantisipasi segalanya, kasihan teman" Adinda. mereka ga tau apa"
gina altira
akhirnya,
Ridho Meram
Next…
Dede Dedeh
sweet nya......
gina altira
tuh kan,, cinta mereka itu tulus tanpa embel"
dewi
kereeen Thor ceritanya....
lanjuuut
Nurhartiningsih
akan ada bahaya apa lagi di hidup Dinda?
Nurhartiningsih
semangat dinda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!