Sekolah internasional terkenal dijakarta yang bernama Grand Imperial Academy, sedang disibukan dengan kedatangan siswa-siswi baru, yang sedang melakukan masa orientasi.
Anaya menjadi salah satu siswi baru di Grand Imperial Academy, ia bersekolah disana karena ada kedua abang kandungnya dan juga abang sepupunya yang bersekolah disana dan sudah menjadi siswa kelas 12 yang merupakan panitia orientasi juga.
Helga si Ketua OSIS yang tak pernah terlihat senyumannya sedikitpun menjadi icaran banyak siswi di Grand Imperial Academy.
Namun senyum Helga mulai muncul saat ia mulai tertarik dengan Anaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NLiRa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEPUTUSAN
"Udah sana mandi, ganti baju. Sebentar lagi Floella datang" sambung Mahesa.
"Siap abang" ucap Anaya semangat dan langsung berlari menuju kamarnya.
"Gue gak siap kehilangan dia" ucap Mahesa yang menatap punggung Ana yang mulai menghilang.
"Dalam artian apapun, gue gak mau" sambung Mahesa dengan wajah sendu.
"Gak ada yang mau kehilangan dia Hes" sahut Farraz.
"Ana terlalu berharga untuk kita semua, itu sebabnya kita akan selalu buat dia bahagia tanpa harus mengekang dia" ucap William serius yang membuat Mahesa dan Farraz mengalihkan pandangan mereka ke William.
"Kita gak pernah mengekang Ana, Wil" ucap Mahesa.
"Duduk dulu, kita bahas ini dikit" ucap William yang menuju ke sofa dan diikuti oleh Farraz dan Mahesa..
"Menurut lo berdua, bagaimana tentang Helga?" tanya William serius.
"Gak, gue gak suka, gue gak setuju. Gue gak mau pacaran, meskipun sama Helga." ucap Mahesa cepat dengan tatapan tajam.
"Walaupun Ana suka? " tanya William lagi.
"Gak mungkinlah Wil" bantah Mahesa.
"Dimeja makan tadi pagi, jelas itu kejujuran Ana" ucap William lagi.
"Itu cuma reflek Wil, jangan anggap serius" ucap Mahesa kekeh.
"Reflek bisa dibilang sebuah kejujuran juga Hes" jawab Farraz yang sedaritadi diam.
"What?, Raz, lo setuju Ana dengan Helga. Lo dukung, lo mau Ana pacaran? " tanya Mahesa bertubi-tubi yang tak habis pikir.
"Kita gak bisa denial Hes, meskipun interaksi antar Ana dan Helga belum cukup banyak, tapi kita bisa lihat tatapan mata Ana saat melihat Helga" ucap Farraz.
"Dan gue udah ngerasain itu dari semalam saat kita di Brew Lab. Helga sigap ngasih air mineral untuk Ana saat Ana tersedak dan di situ mata Ana mulai berbinar menatap Helga" ucap Farraz yang memang dari semalam sudah memperhatikan Ana.
"Gak Raz, itu cuma bentuk terimakasih Ana mungkin" bantah Mahesa lagi.
"Wil, Raz dengerin gue. Gue gak mau Ana lupa sama kita saat dia udah punya pacar, gue gak mau dia yang akan menghabiskan waktunya full dengan pacarnya, gue gak mau kehilangannya Ana yang selalu manja sama gue dan gue gak mau lihat Ana yang nangis karena cowok"ucap Mahesa panjang lebar.
"Gue juga gak mau Hes, tapi gimana kalau Ana juga suka sama Helga? " tanya Farraz dengan nada yang sedikit tinggi.
"Gue bakal bawa Ana pergi, gue bakal pindahin dia ke Bandung dan dia bakal sekolah disana" ucap Mahesa kekeh.
"Hes, lo gila" ucap William yang tak habis pikir dengan jawaban Mahesa.
"Gue paham maksud lo, tapi gak gini juga dong" sambung William.
"Gue tau lo bakal dukung Helga kan?, karena dia sahabat lo" ucap Mahesa yang mulai emosi.
"Terus Helga bukan sahabat lo?" tanya William yang mulai ikut emosi.
"Kita sama-sama kenal Helga, Hes. Dia gak pernah dekat dengan perempuan manapun, tapi dia berani jujur suka sama Ana di depan kita langsung" ucap William.
"Dan cara lo mau pindahin Ana ke Bandung itu terlalu jahat untuk Ana dan gue yakin papa mama gak akan setuju" sambung William.
"Gue bakal bujuk papa dan mama, Wil. Gue gak mau adik gue nangis keren cowok nantinya" ucap Mahesa lagi.
"Lalu bagaimana dengan kemo Ana? " tanya Farraz dengan tenang.
"Gue bakal temanin dia" jawab Mahesa cepat.
"Terus lo mau biarin Ana kemo tanpa ditemani sama gue, William, mama dan papa? " tanya Farraz lagi.
"Please Hes, kita biarkan Ana bahagia jika emang Helga pilihannya" ucap Farraz pada Mahesa.
"Lo abang dia, lo yang paling protect sama dia, kenapa sekarang lo ngedukung banget Ana untuk punya pacar? dan emang Ana gak bahagia kalau cuma sama kita" ucap Mahesa dengan menatap tajam ke arah Farraz.
"Karena ini demi Ana" bentak Farraz yang sudah tersulut emosi.
"Ana bahagia sama kita dan itu sangat terlihat jelas, tapi disaat nanti lo sama Retta dan gue mau jalanin hubungan gue dengan Naina, lalu bagaimana dengan Ana? " tanya Farraz yang membuat Mahesa terdiam.
"Lo takut Ana gak manja lagi sama kita, itu juga yang gue takutkan Hes. Tapi setelah sepanjang jalan tadi gue berpikir, kita gak bisa larang kebahagiaan Ana yang lainnya kalau itu ada di Helga" ucap Farraz.
"Dan lo tau, gue dukung ini karena yang suka sama Ana itu Helga, buka cowok lain. Gue udah kenal Helga dan gue yakin dia bakan bantu kita jagain Ana, dia bakal bantuin kita untuk tetap semangatin Ana untuk sembuh" ucap Farraz dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kita tau, Ana sering mengeluh saat kemo bahkan kita semua bohongin dia tentang stadium penyakit dia sekarang. Gue mau adik gue sembuh Hes, gue mau dia bahagia karena gue yakin Ana juga suka dengan Helga. Gue buang ego gue untuk kebahagiaan dia karena gue gak mau kehilangan dia"ucap Farraz dengan air mata yang sudah mengalir saat membayangkan perkataan dokter terakhir kali.
"Lalu bagaimana kalau Helga buat Ana sakit hati, buat Ana nangis? " tanya Mahesa yang akhirnya melunak.
"Kalau sampai Helga ngelakuin itu, gue yang bakal ngasih pelajaran sama dia, bahkan gue bakal bunuh dia sekaligus" ucap William.
"Turunin ego lo, demi Ana" ucap Farraz pelan.
Mahesa mengusap wajahnya kasar, hal yang ia takutkan dari dulu kini akan terjadi. Dari dulu mereka takut membayangkan jika suatu saat Ana memiliki pacar, mereka hanya takut kehilangan Anaya yang selalu manis dan manja pada mereka.
"Gue gak mau kehilangan dan kekurangan waktu dengan Ana" ucap Mahesa pelan.
"Hes, seperti gue yang selalu bisa bagiin waktu gue ke Ana dan ke Flo, seperti itu juga yang akan Ana lakukan jika dia sudah memiliki pacar nantinya" ucap William yang memegang baju Mahesa.
"Dan kalau emang nantinya Helga yang benar-benar jadi pacar Ana, gue yakin dia gak akan jauhin Ana dari kita" sambung William.
"Kita bakal ngobrol sama Helga nanti di markas" ucap Farraz.
"Termasuk tentang penyakit Ana? " tanya Mahesa.
"Ya" jawab Farraz singkat.
"Tapi Ana gak bakal suka kalau ada orang lain yang tau tentang penyakit dia, dia gak mau orang kasian sama dia" ucap Mahesa.
"Tapi gue gak mau kalau Helga maju mendekati Ana tanpa tau tentang Ana, dan nanti setelah dia tau dia bakal mundur, gue gak mau Ana sakit" ucap Farraz.
"Kita akan minta Helga untuk merahasiakan ini dari Ana" sambung Farraz.
Saat sedang asik ngobrol, ponsel William berbunyi.
"Papa ngirim pesan" ucap William.
"Apaan? " tanya Farraz.
"Papa nyuruh kita ke kantor sekarang" ucap William yang sudah melihat isi pesan dari Andreas.
"Oh iya gue lupa, papa udah bilang ini semalam" ucap Mahesa yang menepuk jidatnya.
"Bilang apa? " tahya William.
...****************...
...****************...
Hai udah lama author gak up cerita, so kali ini author up cerita baru yang bertemakan anak sekolah lagi. mohon dukungannya, maaf kalau banyak kata yang typo. Jangan lupa Like, Comment dan Sarannya. Jujur saran dari kalian bisa menjadi motivasi bagi author untuk buat jalan cerita. Makasih semuanya, selamat menikmati...
...****************...
...****************...